NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa ini Kiamat? (3)

"Mati, mati, matilah"

Suara serak penuh dendam itu membentak dengan keras, Rifana bergegas ke kamarnya di lantai dua untuk mengintip.

Setelah menciptakan celah kecil di salah tirai jendela kamarnya, dia mengintip keluar dengan hati-hati.

Takut akan keberadaannya terungkap pada makhluk-makhluk itu dia tak ingin mengambil risiko.

Dan saat matanya memandang ke luar, keadaan menjadi tegang.

Suara teriakan yang pecah bisa Rifana dengar di luar.

Keheningan absolut pecah saat sebuah ledakan kembali terdengar dari luar, Rifana mengendap dan mengintip melalui jendelanya.

Benar saja, kondisi di luar sangat kacau.

Melalui jendela kamarnya yang terletak di lantai dua, Rifana dapat melihat sejauh beberapa blok. Di balik kegelapan, sesuatu bergerak dengan cepat, siluet aneh dari "sesuatu" yang bahkan tak pernah Rifana lihat muncul dibalik kegelapan.

'Jadi siapa itu' Dalam kondisi seperti ini, orang gila mana yang bertindak begitu berani.

Dia mengamati dalam diam, tanpa sadar melihat ke bawah saat merasa sesuatu telah bergerak.

'Lah..' Rifana tertegun 'Lu ini tikus atau kecoa sih' Itu mengejutkannya, makhluk yang dicekik olehnya dengan kabel masih hidup dalam derita.

Tikus itu mengerang beberapa kali, namun suaranya begitu lemah 'Kenapa lu ga mati aja coba' Melihat tikus itu Rifana menggelengkan kepalanya tanpa daya.

"Yah, mari lihat situasi dulu" Mengesampingkan tikus itu, pandangannya menyapu seluruh blok namun dia tak dapat menemukan apapun "Sepertinya arahnya dari blok 3 di samping, sial itu titik buta kecuali gua buka jendela ga akan keliatan apapun"

Sumber suara itu masih meraungkan beberapa kata, sepertinya mereka sedang bertarung.

"Argh... Mati, mati mati!"

Suara marah itu berulang kali mengutuk monster di yang menyerangnya.

"Kalian harus matii!!" Suara itu menjadi serak setelah ratusan teriakan, nadanya semakin lama semakin panik; tampaknya hal yang buruk telah datang.

Rifana tak dapat melihat apapun, terlebih dia mengintip melalui celah kecil dibalik tirai jadi visinya memang tidak begitu bagus.

"Makan nih bajingan!" Teriakan itu bergema penuh keputusasaan, bersamaan dengannya ledakan lain terdengar. Rifana dapat mendengarnya dengan jelas sekarang 'itu kaca'

Teriakan dan suara kaca yang pecah membuat segalanya semakin sulit.

Dia berpindah ke sudut lain dan melihat pantulan cahaya dari kaca mobil; Itu "Api!" Nyala api yang terang dipantulkan melalui kaca mobil, secara samar Rifana bisa melihat sosok manusia yang memegang botol kaca di tangannya.

Pria itu melemparkan botol kaca yang berkobar di tangannya ke arah makhluk aneh di sekelilingnya, sayangnya dia telah dikepung.

Semua teriakan itu, dan semua cahaya itu telah mendatangkan lebih banyak makhluk untuk menyerangnya.

Saat botol terakhir dilempar.

Botol kaca itu pecah, terbentur di kepala salah satu makhluk, cairan di dalamnya terciprat ke segala arah dan dengan cepat tersulut oleh api yang menyebabkan kebakaran massal.

"Molotov?" Rifana dapat mencium bau terbakar dan bensin yang segar dari jarak ini, jadi dia membuat tebakan yang logis.

Makhluk-makhluk itu melolong kesakitan, namun mereka masih bergerak dengan putus asa.

Pria itu sepertinya tak akan selamat, ini dugaan yang logis dari pikiran Rifana saat ini, namun bagaimana dia sempat memikirkannya?

Semuanya jelas.

Bahkan dari pantulan kaca, dapat terlihat setidaknya ada selusin makhluk aneh yang mengelilinginya.

Perlawanan itu tak berlangsung lama, pria itu kalah dengan cepat, teriakan dendamnya berubah menjadi jeritan penyiksaan yang menyakitkan.

"Arhh...." Suara teriakan terakhir dari orang itu begitu melengking hingga memekakkan telinga Rifana.

Meskipun tak melihatnya secara langsung, Rifana dapat membayangkan dengan jelas apa yang terjadi, melalui pantulan lusinan makhluk merobek sesuatu mencabik ya tanpa ampun.

'Ugh..' Perutnya mual, ingin muntah. Namun tak ada apapun di dalamnya yang menyebabkan rasa sakit yang mengerikan.

"Huft.. Huft... Sial, gua ga siap buat hal itu" Dia menyeka mulutnya, mendengarkan jeritan kematian dalam jarak yang begitu dekat membuatnya merasa sakit.

Melihat reaksi tubuhnya, Rifana merasa beruntung. Dia menunda makan hingga saat ini, jika saja dia makan sebelumnya mungkin bau muntah dan suaranya akan memancing sesuatu datang.

Dia menutup celah tirai dan menuruni tangga, perutnya keroncongan, dia harus makan sesuatu meskipun sedikit.

Berjalan di tengah kegelapan ia menyusup ke dapur dan membuka lemari es dengan perlahan.

Tanpa adanya listrik semua barang elektronik tak akan berguna sekarang, Rifana mengeluarkan stok makanannya dan memilahnya untuk disimpan di tempat lain.

Setelah minum segelas air, dan makan beberapa buah. "Mending gua makan ini sekarang, kalau terus disimpen bakal membusuk dalam beberapa hari"Sebagian besar makanan yang disimpannya adalah makanan yang dapat dimakan langsung seperti sosis dan roti, jadi jika ditinggalkan terlalu lama itu akan membusuk.

Dia harus meluangkan waktunya untuk pergi mencari persediaan nanti, mungkin makanan kalengan akan lebih baik.

Rifana mengisi perutnya sebelum memutuskan apapun, bertindak dengan perut kosong hanya akan membuatnya mengalami kecerobohan yang fatal.

Setelah semua itu dia kini merasa bingung, mengapa dia bisa begitu tenang. Tak seharusnya dia yang "Normal"akan tenang di situasi seperti ini.

Saat dia merapihkan stok makanannya, rintihan menyiksa terdengar tak jauh darinya.

Rifana mendengar ini menatap kosong ke luar, ini akan berbahaya.

 "Tikus itu.."

Dia tak ingin ada masalah lain datang mengetuk pintunya sekarang, jadi lebih baik Rifana menutup mulut bajingan itu secepatnya.

Hanya dengan mengingat adegan sebelumnya, sudah jelas jumlah monster di lingkungan ini sangat banyak.

Tak mungkin dia diam saja saat ada bajingan berisik yang mungkin memanggil bencana menyerbu rumahnya, keputusan cepat harus diambil, namun apa?

Rifana mencari semua barang yang akan berguna baginya di rumah ini. Semua barang yang sekiranya bisa dia gunakan saat kiamat, dia berpikir.

'Skenario ini belum pasti, tapi semoga aja ini cuma kiamat monster' Rifana berharap itu terjadi 'Karena kalau ini skenario kiamat campuran, gua ga yakin bakal bisa bertahan'

Bagaimanapun ini wajar, dia hanyalah seorang introvert yang kerjaannya mengurung diri di rumah selama bertahun-tahun.

Olahraga? Jangan menanyakannya, dengan kondisi fisiknya bisa dibilang dia setengah cacat, kondisi fisiknya sangat lemah.

Yang dilakukannya selama ini hanyalah membaca komik dan novel, itulah mengapa dia cukup familiar dengan hal hal seperti ini.

Sebenarnya di punya tebakan, namun dia tak yakin. Kejadian di novel tak bisa jadi sangat berbeda jika itu terjadi di dunia nyata.

Apalagi dengan skenario cerita kiamat, Rifana hanya bisa berdoa untuk keselamatannya. Dengan kondisi fisiknya yang buruk, tidak mungkin dia bisa bertahan.

Kecuali tebakannya tentang kekuatan super benar adanya.

'Yah siapa yang tau, dunia itu kejam' Bisa saja manusia akan benar-benar punah, dan tak akan ada yang menyadarinya.

Dalam sudut pandang yang lebih jauh, manusia tak berbeda jauh dari debu di alam semesta.

Rifana hanya bisa meyakinkan dirinya sendiri, hanya kekuatan dan kecerdasan yang dapat membantunya di saat krisis seperti ini.

"Oke tenang, gua pasti bisa" Berusaha menenangkan dirinya sendiri dia menepuk pipinya beberapa kali.

Dia menggenggam pisau daging dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar, Rifana bergumam mencoba menenangkan diri.

'Ayo.. '

Dengan gugup dia membuka pintu secara perlahan.

'Maut tak datang menjemputmu? Maka aku akan membantunya'

Senyum canggung terbentuk di sudut mulutnya, entah mengapa dia merasa senang sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!