Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Seperti Melakukan Kesalahan”
“Kenapa… gak pernah dibalas?”
Nayla terdiam.
Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.
Ia menunduk, jemarinya kembali saling bertaut.
“Maaf…” ucapnya pelan.
Zain tidak langsung menanggapi.
“Aku… bukan gak baca,” lanjut Nayla, suaranya hampir tak terdengar. “Cuma… bingung mau balas apa.”
Hening.
Nayla menggigit bibirnya pelan.
“Dan… aku gak terlalu nyaman ngobrol sama orang yang… belum dekat,” tambahnya jujur.
Zain mengangguk kecil.
Bukan jawaban yang buruk.
Tapi juga bukan yang benar-benar ia harapkan.
“Jadi sekarang?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Nayla sedikit mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka akhirnya bertemu.
Dan untuk sesaat—
ia kembali kehilangan kata-kata.
“Aku…”
Nayla menarik napas pelan.
“Aku gak terbiasa,” lanjutnya akhirnya, suaranya masih pelan. “Apalagi… kalau langsung diajak dekat.”
Zain terdiam, memperhatikan.
Nayla kembali menunduk.
“Bukan karena kamu… cuma aku emang gitu,” tambahnya, seolah takut disalahpahami.
Hening lagi.
Namun kali ini tidak terlalu menekan.
Zain menyandarkan punggungnya, lalu menghela napas ringan.
“Aku kira… aku diabaikan,” ucapnya jujur.
Nayla hanya terdiam
Sudut bibir Zain terangkat tipis.
“Untuk selanjutnya bagaimana?” tanya Zain dengan tatapan tenang.
Nayla langsung mengalihkan pandangan.
“Ya… enggak tahu,” jawabnya pelan.
Hening.
Zain tidak langsung membalas.
Ia justru menurunkan suaranya, lebih lembut dari sebelumnya.
“Kalau kamu gak nyaman… kita gak usah buru-buru.”
Nayla sedikit terdiam.
“Kamu gak perlu berubah cepat cuma karena ini,” lanjutnya.
Pelan.
Tanpa tekanan.
Nayla menoleh sedikit, meski masih ragu.
“Aku gak terlalu pandai mulai percakapan,” ujar Zain jujur. “Tapi… aku bisa belajar.”
Deg.
Nayla terdiam.
“Aku juga gak masalah kalau kamu banyak diam,” tambahnya. “Yang penting… kamu tetap di situ.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa—
mengenai sesuatu di dalam diri Nayla.
Perlahan, Nayla mengangkat wajahnya.
Menatap Zain, untuk pertama kalinya… tanpa buru-buru mengalihkan pandangan.
“Aku…”
Nayla menelan ludahnya pelan.
“Aku gak pandai juga,” lanjutnya lirih. “Buat mulai… atau nerima orang baru.”
Zain mengangguk, seolah memang sudah menduga.
“Gak apa-apa,” jawabnya tenang.
Nayla sedikit mengangkat wajahnya.
Tatapannya masih ragu, tapi tidak lagi sepenuhnya menghindar.
“Aku sering butuh waktu lama,” tambah Nayla, jujur. “Kadang… malah terlalu lama.”
Zain tersenyum tipis.
“Aku gak lagi kejar waktu,” ucapnya pelan.
Hening.
Namun kali ini terasa berbeda.
Lebih ringan.
“Kalau kamu butuh waktu… ya ambil aja,” lanjutnya. “Aku di sini aja dulu.”
Deg.
Kalimat itu sederhana.
Tapi membuat dada Nayla terasa hangat… sekaligus sesak.
Ia tidak terbiasa dengan seseorang yang tidak menuntut.
“Kenapa… aku?” tanya Nayla tiba-tiba, nyaris berbisik.
Zain terdiam sejenak.
Matanya menatap Nayla, tidak menghindar.
“Karena kamu gak banyak bicara,” jawabnya jujur.
Nayla sedikit mengernyit.
“Dan… kamu tetap di situ,” lanjutnya pelan. “Gak berusaha jadi orang lain.”
Nayla terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menghindar ke mana.
“Aku lebih nyaman sama yang… gak ribut,” tambah Zain ringan.
Sudut bibir Nayla bergerak sedikit.
Hampir tersenyum.
Namun ia cepat-cepat menunduk lagi.
“Kalau… aku gak berubah gimana?” tanyanya pelan.
Zain tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
“Ya gak apa-apa,” ucapnya akhirnya.
Sederhana.
Tanpa syarat.
Nayla terdiam.
Jari-jarinya yang sejak tadi gelisah… perlahan berhenti bergerak.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasa… tidak perlu pergi ke mana-mana.
**
Setelah pertemuan singkat itu, akhirnya Nayla benar-benar memutuskan untuk membuka hati.
Sebetulnya, ia cukup tersentuh.
Meski… tetap ada rasa khawatir di dalam dirinya.
Saat ini, Nayla bersama Oma dan Arkan sedang dalam perjalanan pulang.
Pukul 16.50, mobil mereka sudah memasuki gerbang.
Keluarga Nayla sempat bertanya-tanya kenapa ia tidak menginap.
Padahal, jujur saja, sudah lama Nayla tidak pulang ke rumah.
Namun, demi menghindari berbagai pertanyaan dan desakan keluarga… ia memilih untuk tidak berlama-lama.
Setelah Nayla menjelaskan bahwa Arkan belum bisa ditinggal, mereka hanya mengangguk-angguk, meski masih terlihat sedikit heran.
Arkan sedari tadi cemberut.
Ia sudah ngambek sejak dari rumah Nayla. Seolah merasa tidak lagi diprioritaskan.
Namun anehnya, ia juga masih enggan berpisah.
Wajahnya memang ditekuk, tapi sejak tadi tangannya tetap memegang ujung baju Nayla.
Saat Nayla mencoba menggandeng tangannya, Arkan malah menolak.
Tapi genggamannya pada baju Nayla… tidak dilepas.
Nayla hanya bisa menghela napas pelan.
Oma yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
“Aneh,” ucapnya heran sambil melenggang pergi.
“Titip Arkan ya, Nay,” lanjutnya sebelum naik ke mobil.
Tak lama, mobil Oma pun pergi.
Ia langsung kembali mengurus pekerjaannya yang sempat tertunda.
Padahal usianya sudah tidak muda lagi…
tapi semangatnya mencari uang tetap membara, batin Nayla sambil menatap jauh mobil yang ditumpangi Oma.
Saat berbalik dan berjalan menuju pintu, Nayla sesekali merayu Arkan.
Namun Arkan tetap cemberut… lucu, tapi keras kepala.
Langkah Nayla terhenti.
Seseorang berdiri tak jauh dari sana.
Menatap mereka.
Seolah sudah menunggu sejak tadi.
“Dari mana?” tanyanya pelan.
Nayla menelan ludah.
Tatapannya tajam.
Auranya dingin.
Membuat Nayla gugup… seperti tertangkap melakukan kesalahan.
Ia menghembuskan napas pelan.
“Emm… tadi habis dari kampungku. Ada urusan keluarga. Arkan juga gak mau ditinggal… Oma ikut kok,” ucapnya hati-hati.
Pria itu melangkah maju.
Satu langkah.
Membuat Nayla refleks mundur sedikit.
“Bukan soal itu.”
Suaranya lebih tegas.
“Kamu ngapain pulang? Urusan keluarga apa?” tanyanya penuh selidik.
Arkan yang sedari tadi diam… perlahan bersembunyi di balik Nayla.
Ia tahu.
Papanya sedang marah.