Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana kencan buta
Sudah satu jam aku mengitari lintasan lari di taman kota, sementara teman-teman sekantorku yang lain sudah menyerah dan kini sibuk mengerumuni gerobak cilok serta es doger di pinggir lapangan. Keringat membasahi kaus olahragaku, namun aku sengaja tidak berhenti. Aku butuh kelelahan fisik ini untuk meredam kebisingan yang mulai berdenyut di kepalaku.
Perusahaan memang mewajibkan agenda olahraga bersama setiap dua minggu sekali—sebuah upaya "sehat bersama" yang ironisnya selalu berakhir dengan wisata kuliner kaki lima. Namun bagiku, lintasan lari ini adalah ruang pelarian.
Aku melirik jam tangan digital di pergelangan kiriku. Pukul 08:30 pagi.
Aku hafal polanya. Tinggal menunggu hitungan jam—atau mungkin sore nanti—ponselku akan bergetar hebat. Mereka akan menelepon dengan nada suara yang dikondisikan seceria mungkin, lalu perlahan menjatuhkan bom berita: rencana pernikahan Bian dan Cinta. Aku tahu persis, tanggal resepsi mereka adalah tanggal yang sama dengan hari ini, tepat dua bulan mendatang.
Setelah berita itu tersebar, pertanyaan mereka kepadaku selalu seragam, seperti kaset rusak yang diputar ulang. "Ra, kamu sudah ada calon? Apa mau Ibu, Bude, atau Bibi kasih referensi? Ada anak teman Bapak, kerjanya mapan, orangnya sopan..."
Aku merinding ngeri bahkan hanya untuk sekadar mengingatnya. Di kehidupan sebelumnya, pertanyaan itu adalah awal dari tumpukan ekspektasi yang menyesakkan.
Masih ada waktu dua jam lagi sebelum kami diwajibkan berganti pakaian kasual untuk lanjut bekerja. Hari Jumat di kantor kami adalah hari kebugaran dan relaksasi sebelum menyambut libur akhir pekan. Hari ini pun manajemen seolah mengharamkan lembur; semua orang bersiap untuk pulang tepat waktu.
"Ayyara!" teriak sebuah suara yang menyamai langkah lariku.
Mili muncul di sampingku dengan napas yang sedikit memburu. Ia menatapku dengan heran. "Ra, kok badanmu tetap wangi normal sih? Padahal olahraganya gila-gilaan begini. Apa rahasianya?"
"MyGlicr8%," jawabku singkat sembari mengatur napas. "Ada di banyak drug store kok."
Mili langsung merengek, matanya berbinar penuh harap. Ia mengajakku menemaninya mencari produk itu sekarang juga, mumpung masih ada waktu sebelum jam masuk kantor dimulai. Aku mengangguk, menyetujui ajakannya dengan senang hati. Hitung-hitung, ini cara yang bagus untuk menghindari kerumunan teman kantor yang pasti akan mulai membahas gosip di pinggir lapangan.
Sesampainya di gerai kosmetik terdekat, rencanaku untuk sekadar menemani gagal total. Mili langsung "khilaf". Ia mulai menjelajahi rak demi rak, membandingkan produk, dan mencicipi berbagai tester, sementara aku hanya bisa berdiri di sampingnya sembari mengamati pantulan diriku di cermin besar toko.
Di balik deretan botol parfum dan skincare, aku bertanya-tanya: apakah aroma tubuhku bisa tetap tenang saat badai telepon dari rumah itu datang nanti sore? Ataukah aku harus mulai memikirkan "rencana darurat" agar namaku tidak terus-menerus muncul dalam katalog perjodohan Siska?
"Eh, kalian ngapain keluyuran di jam kerja?"
Sebuah suara yang sangat kukenal menginterupsi perdebatan kecil kami di depan rak kosmetik. Wajah Mili seketika masam, sementara aku menoleh dengan perasaan campur aduk.
"Niko?"
Niko pun tampak tak kalah kaget. Ia mengerjap, lalu bergantian menatapku dan Mili. "Ayyara? Kamu kenal adik gue?"
Aku tertegun. Jadi Mili, rekan kerjaku yang ceria ini, adalah adik kandung Niko? Dunia ternyata jauh lebih sempit daripada lipatan waktu yang sedang kujalani.
Sembari menunggu Mili membayar belanjaannya, aku berbincang singkat dengan Niko. Raut wajahnya berubah cemas saat menanyakan apakah aku bisa menghubungi Rain dalam dua hari terakhir. Rupanya, Rain sedang dalam mode menghilang dan mengabaikan semua pesannya.
Niko mendesakku untuk menelepon Rain saat itu juga. Meski awalnya mencoba menolak, aku akhirnya menyerah karena desakannya yang keras kepala.
Panggilan tersambung. "Halo," suaraku terdengar sedikit ragu saat menyapa Rain di seberang sana. Aku menanyakan kabar dan kesibukannya, lalu menjelaskan bahwa aku tidak sengaja bertemu Niko.
Rain langsung paham. "Niko yang suruh kamu telepon, ya?"
Aku terkekeh kikuk. "Aku cuma mau tanya kabar, Rain. Kita sudah agak lama tidak bicara."
Niko tiba-tiba menimpali dengan suara keras agar terdengar di telepon, "Besok akhir pekan jam tiga sore! Wajib dateng, Nge- rayain ulang tahun gue!"
Di seberang sana, aku bisa mendengar Rain mengeluh panjang. Ia bergumam bahwa ia sangat menghindari pesta "kekanak-kanakan" Niko dan meyakinkan bahwa kami hanya akan merasa malu jika bergabung. Sekarang aku tahu alasan sebenarnya kenapa Rain memilih bungkam di saat menerima chat niko.
Hari Jumat berlalu dengan cepat. Sore harinya, saat aku baru saja merebahkan badan di kos, "bom" yang kutunggu benar-benar meledak. Telepon dari rumah masuk. Ibu dan para saudara mengabarkan rencana pernikahan Bian dan Cinta secara bergantian.
Mereka bahkan memperkenalkan calon pasangan masing-masing lewat panggilan video.
Hampir saja aku keceplosan membahas detail latar belakang calon mereka—aku lupa bahwa di lini masa ini, aku seharusnya belum mengenal mereka sedalam itu.
Malamnya, aku tidak bisa tidur. Pikiranku berputar hebat. Daripada terus-menerus disodori calon pilihan saudara atau dijebak kencan buta yang tak jelas, lebih baik aku mencari sendiri orang yang bisa kubawa sebagai pendamping di pesta pernikahan Bian nanti.
Sabtu pagi, aku mengambil langkah nekat dengan menghubungi Siska, sang agen perjodohan, siska teman sma ku juga. Aku menyebutkan kriteria yang baru saja kucari secara daring—tidak perlu terlalu spesifik sesuai hati, yang penting dia pria yang bisa berkompromi untuk diajak ke kondangan.
"Carikan yang standar saja, Sis. Usia minimal 24 tahun, lajang, dan punya pekerjaan tetap," kataku padanya.
Aku jujur mengakui posisinya saat ini: aku tidak sedang mencari asmara yang menggebu, aku hanya ingin menenangkan kegaduhan keluargaku.
Sore harinya, notifikasi dari Siska muncul. Kencan buta. Minggu, pukul 13.00.
Minggu tiba. Aku menyadari bahwa aku tidak memiliki satu pun gaun yang pantas untuk berkencan; lemari bajuku hanya berisi pakaian kerja yang ku rasa tak cocok dengan kedan kencan. Aku memutuskan untuk pergi ke butik dan mampir ke salon di dekatnya. Setidaknya, aku harus menghargai orang yang telah meluangkan waktu untuk bertemu denganku.
Aku memilih gaun yang anggun namun tetap membawa kardigan sebagai cadangan. Rencananya, setelah kencan buta selesai, aku akan langsung menuju acara ulang tahun Niko.
Aku sempat menghubungi Mili untuk mengonfirmasi undangan kakaknya.
Mili kembali menyumpahi Niko yang selalu bertingkah seperti anak kecil setiap tahun.
"Bawa kaos hitam saja, Ra. Koleksi kaos Kak Niko semuanya hitam," saran Mili di telepon. "Atau kalau mau lebih simpel, bawakan sesuatu yang beraroma green tea. Dia suka rasa 'rumput' itu. Oh ya, siap-siap bawa masker ya, jaga-jaga kalau ulahnya bikin kita malu sampai ingin tutup muka!"
Pukul 13.00 tepat, aku sudah duduk manis di kafe yang dijanjikan, menunggu teman kencan butaku. Tidak ada rasa gugup yang berlebihan. Aku hanya berharap kami cukup cocok, agar aku tidak perlu lagi menjalani sesi-sesi membosankan dengan calon-calon lain di masa depan.
Siapakah pria yang dikirim Siska untuk menemuiku siang ini? Aku hanya berharap dia bukan bagian dari anomali waktu yang lain. Gumamku...
Tak sampai sepuluh menit menunggu, laki-laki itu datang. Ia melangkah dengan percaya diri, lalu menarik kursi di hadapanku sembari memperkenalkan diri sebagai Zayn.
Kami mulai memesan makanan, mencoba memecah kekakuan dengan berbagi cerita yang mengalir ringan. Ada sensasi aneh saat menatapnya. Jika usia asliku dikalkulasikan dengan pengalaman time travel, mentalku sebenarnya sudah hampir menyentuh angka 40. Melihat pria berusia 24 tahun di hadapanku ini terasa seperti sedang berbicara dengan seorang remaja yang baru mekar.
Zayn mengaku jujur bahwa kehadirannya di sini adalah rencana dadakan. Siska menghubunginya tiga puluh menit yang lalu untuk menggantikan kandidat bernama Dany yang mendadak berhalangan. Dan itu alasan ia sedikit telat kali ini. Tak disangka, kami berasal dari almamater yang sama; Zayn adalah kakak tingkatku saat di universitas dulu.
Obrolan kami terus mengalir selama tiga puluh menit berikutnya, hingga sebuah pemandangan di dekat pintu masuk kafe membuat jantungku mencelos. Mataku tak sengaja beradu pandang dengan Rain yang baru saja masuk. Ia tampak sedang menyapu pandangan ke seluruh ruangan, mencari meja yang nyaman untuk diduduki.
Kami berdua sama-sama mematung. Rain menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—mungkin karena melihatku yang tampil sangat rapi, jelas sedang berada di tengah sebuah kencan buta.
Keadaan menjadi semakin rumit saat seorang wanita dengan penampilan sangat anggun melangkah masuk dari arah pintu. Ia tampak meyakinkan diri bahwa Rain adalah pria yang ingin ia temui. Wanita itu menyapa Rain dengan sedikit canggung. Namanya Devanka.
Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Zayn dan Devanka saling menatap dengan ekspresi yang jauh lebih terkejut, sangat kikuk, seolah mereka memiliki sejarah yang belum tuntas. Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Zayn bahkan sudah bersiap mengajakku pindah ke meja lain untuk menghindari situasi ini.
Tepat saat Devanka hendak memilih meja di pojok ruangan, Rain justru mengeluarkan suara yang membuatku ingin menghilang dari muka bumi.
"Zayn? Kenapa tidak duduk bersama saja? Meja ini cukup untuk berempat," ujar Rain tenang.
Kalimat "Kenapa tidak duduk bersama saja" itu membuatku malu setengah mati. Bagaimana tidak? Rain mengenal Zayn. Ini bencana. Bisa-bisa reputasiku sebagai Ayyara yang memegang prinsip no marriage di usia 34 tahun terbongkar telak karena ketahuan sedang menjalani kencan buta yang payah ini.