NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:878
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skandal darah biru

Di dalam kamar pribadi yang redup, aroma dupa mawar bercampur dengan sisa kehangatan yang masih terasa di udara. Elias berbaring dengan napas yang mulai teratur, sementara Wisya dengan rambut yang sedikit berantakan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang pangeran, mendengarkan detak jantungnya yang ritmis.

Wisya memainkan jemarinya di atas kulit Elias, suaranya terdengar manja namun terselip nada ingin tahu.

"Apa semuanya berjalan sesuai rencanamu Pangeran?" Wisya mendongak sedikit, menatap dagu Elias.

"Bukankah kau bilang pertapaanmu di gunung itu membutuhkan waktu ? Kenapa kau sudah kembali secepat ini?"

Elias terdiam sejenak, jemarinya bergerak lembut mengusap helaian rambut Wisya, namun tatapannya tak tertuju pada wanita itu. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang dihiasi ukiran kuno, seolah menembus dinding istana menuju sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Benar..." jawab Elias, suaranya berat dan rendah.

"Harusnya memang begitu. Tapi Guru sendiri yang menyuruhku kembali ke istana. Dia bilang, waktuku di sana sudah cukup."

Wisya mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban yang terasa menggantung itu. "Hanya itu? Tidak biasanya Guru melepaskan muridnya sebelum benar-benar tuntas."

Elias hanya menghela pelan napasnya . " Kita ikuti saja apa perkataan guru Wisya..."

Teringat akan sesuatu membuat Wisya seketika terbangun dan menatap Elias dengan penuh semangat . " Aku punya berita bagus pangeran..."

" Hmm... katakan " Elias mendengarkan dengan saksama saat Wisya mulai bercerita dengan nada bangga.

"Kau tahu pangeran ? Aku telah berhasil membuat nama Sedra semakin tercela di mata semua orang . Mengenakan topeng itu dan berpura-pura menjadi Sedra jauh lebih mudah dari yang kukira..." Wisya terkekeh sinis, matanya berkilat penuh kemenangan.

 "Aku menyusup ke tengah kerumunan, memicu sedikit percikan, dan dalam sekejap... kekacauan pecah. Mereka semua tertipu, mengira Sedra-lah dalang di balik pertumpahan darah itu. Ha..ha.. sekarang tidak hanya di wilayah Utara saja dia akan di buru . Aku akan pastikan dimanapun dia berada hidupnya tidak akan pernah tenang !"

Wisya tertawa penuh kemenangan di depan Elias . Namun Elias hanya memasang raut wajah datar , dia tak ikut tertawa tak seperti biasanya .

"Hentikan semuanya Wisya..." potong Elias tiba-tiba.

"Tarik dirimu untuk sementara, jangan sentuh Sedra atau melakukan aksi apa pun atas namanya."

Wisya sontak terdiam. Keningnya berkerut dalam, menatap Elias dengan tatapan bingung sekaligus curiga. "Apa? Kita sudah sejauh ini, pangeran . Kenapa tiba-tiba berhenti saat kekacauan ini baru saja dimulai?"

Elias membuang muka, otaknya berputar cepat mencari alasan. Ia tak boleh membiarkan Wisya tau tentang persyaratan rahasia yang diberikan oleh Guru . Jika Wisya sampai tau , maka rencana besarnya bisa saja berantakan.

"Situasinya berubah Wisya . "jawab Elias dingin, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Penjagaan di Selatan sedang diperketat. Jika kau terus bergerak sekarang, identitasmu bisa terbongkar dan itu akan merusak posisi kita di kerajaan."

Elias menarik napas panjang. Itu alasan yang cukup masuk akal, meski sebenarnya ia hanya punya satu tujuan ,ia tak ingin Sedra mati sekarang . Elias butuh Sedra tetap bernapas sampai kekuatan itu sempurna dalam tubuhnya .

Elias hanya bergumam samar, membiarkan keheningan mengambil alih. Ada satu bagian yang ia kunci rapat-rapat di dalam benaknya sebuah rahasia yang bahkan Wisya, orang terdekatnya, tidak boleh tahu.

Pikiran Elias melayang kembali ke puncak gunung yang dingin, saat sang Guru berdiri membelakanginya setelah pertapaan pertamanya selesai . Kata-kata itu kembali terngiang, berputar-putar di kepala Elias seperti kutukan yang tak kunjung hilang.

"Kekuatan Sedra itu lahir dan mengalir bersama darahnya...Jika kau ingin kekuatan itu menjadi sempurna di tanganmu, maka kau harus menyatu dengannya Pangeran."

Elias mengepalkan tangannya di bawah selimut. Sedra , Nama itu adalah kunci sekaligus racun bagi ambisinya.

.......

Wisya menatap dalam mata Elias dengan penuh menyelidik . Dia dapat merasakan jika ada yang tidak beres dengan pangerannya kali ini seperti ada sesuatu yang Elias sembunyikan darinya .

" Apa hanya itu alasannya pangeran ? Atau sebenarnya kau masih memiliki perasaan dengan mantan kekasihmu itu ! "

Elias tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. Ia mengecup kening Wisya dengan dingin. " Mana mungkin sayang ! Hatiku hanyalah milikmu seorang , jadi jangan berpikir yang bukan bukan . Tidurlah..., Masih banyak yang harus kita selesaikan besok."

Elias kembali menatap langit-langit. Di kepalanya, ia sudah mulai menyusun rencana. Jika Sedra adalah kuncinya, maka mau tak mau dia harus mengamankan wanita itu kembali .

***

Julian menyandarkan punggungnya dengan malas pada sandaran singgasana yang dingin. Di depannya, seorang pejabat tua terus mengoceh tentang pajak dan distribusi pangan.

"Pangeran, jika kita tidak segera menyesuaikan anggaran untuk wilayah Barat..."

"Cukup !" potong Julian tanpa mengalihkan pandangan dari kuku jarinya.

"Simpan laporan membosankanmu itu untuk besok. Kepalaku sudah ingin pecah mendengarnya."

Pejabat itu terbungkam, membungkuk rendah dengan wajah pucat. Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara gaduh dari pintu besar aula. Sederet prajurit masuk dengan langkah tegap, menyeret beberapa orang pria yang terikat rantai.

"Lapor, Pangeran!" teriak sang komandan prajurit sambil memberi hormat. "Kami membawa para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat di wilayah perbatasan."

Julian menegakkan duduknya sedikit, matanya menyipit melihat kondisi tawanan itu. Wajah mereka berlumuran sisa makanan busuk dan lumpur kering.

"Bau apa ini? Menjijikkan sekali," ujar Julian sambil menutup hidungnya dengan punggung tangan.

"Maaf, Pangeran. Warga sangat marah saat identitas mereka terbongkar. Mereka melemparinya sepanjang jalan menuju istana ." jawab prajurit itu.

Julian terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada datar "Apa pangeran Cakra yang telah menangkap mereka ? ''

Prajurit itu menjawab dengan bangga . " Benar pangeran Julian, Pangeran Cakra sendiri yang melacak tempat persembunyian mereka di perbatasan."

Mendengar nama itu, rahang Julian mengeras. Ia mencengkeram lengan singgasana hingga urat-urat di tangannya menonjol.

"Cakra lagi..." desis Julian sangat pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Selalu saja dia yang tampil sebagai pahlawan di mata rakyat."

"Apa Anda mengatakan sesuatu, Pangeran?" tanya si pejabat tua dengan ragu.

Julian berdiri tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu tersentak. "Tidak ada! Apa kalian masih ingin aku melihat sampah-sampah ini lebih lama ! "

Ia menunjuk para koruptor itu dengan wajah penuh kebencian. "Seret mereka sekarang juga! Masukkan ke penjara bawah tanah yang paling dalam. Pastikan mereka tidak melihat cahaya matahari sampai aku sendiri yang memutuskan hukuman mati untuk mereka!"

"Baik, Pangeran!"

Prajurit segera menyeret para tawanan yang mulai mengerang ketakutan. Julian kembali duduk, namun kali ini tatapannya jauh lebih tajam dan penuh amarah yang tertahan.

.....

Julian melangkah lebar menyusuri lorong istana, jubahnya berkibar menyapu lantai marmer. Pikirannya kalut, seolah-olah bayangan Cakra yang duduk di singgasana terus menghantuinya.

"Jika ini terus berlanjut, rakyat akan memuja Cakra sampai ke langit. Ayahanda pun pasti akan langsung menyuruh bedebah itu naik takhta dengan segera . " batin Julian geram. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Saat Julian baru saja menyentuh gagang pintu kamar pribadinya, sebuah bayangan muncul dari balik pilar. Seorang pria dengan pakaian serba hitam membungkuk dalam. Itu adalah pengawal rahasianya.

"Mohon maaf atas kelancangan saya Pangeran Julian.." bisik pengawal itu, suaranya gemetar.

Julian menoleh dengan tatapan tajam. "Kau tahu aku sedang tidak ingin diganggu ! Apa ini sepenting itu?"

"Sangat penting, Pangeran. Namun, saya tidak berani mengatakannya di sini. Informasi ini sangatlah sensitif... Jika sampai ada telinga lain yang mendengar maka nyawa saya akan menjadi taruhannya ."

Julian terdiam sejenak, melihat kegelisahan di mata orang kepercayaannya itu. Ia kemudian mendorong pintu kamarnya lebar-lebar. "Masuklah ! Jangan ada satu detail pun yang kau lewatkan."

Setelah pintu terkunci rapat, si pengawal mendekat dan berbisik dengan suara rendah, menceritakan pengamatannya selama berhari-hari di sebuah desa terpencil.

"Pangeran Cakra... dia diam-diam telah mengikat janji suci. Dia menikah dengan

seorang gadis desa jelata."

" Apaa ! " pekik Julian

Mata Julian membelalak. Untuk beberapa detik, ia mematung, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun, keheningan itu pecah oleh tawa kecil yang perlahan berubah menjadi tawa penuh kemenangan.

"Menikah? Dengan gadis desa?" Julian mendengus geli, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. " Permaisuri macam apa yang dia cari di lumpur desa? Ck... seleranya benar-benar lebih buruk dari yang kubayangkan."

Julian mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar pengawal itu segera menyingkir.

"Pergilah. Pastikan mulutmu tetap tertutup sampai waktunya tiba. Kau akan mendapatkan imbalanmu."

Setelah pengawal itu menghilang, Julian berjalan menuju cermin besar. Ia merapikan jubah kebesarannya dengan gerakan yang sangat angkuh, menatap pantulan dirinya yang kini tampak jauh lebih bercahaya.

"Ini benar-benar menarik!" gumam Julian pada bayangannya sendiri.

"Aku sudah memutar otak mencari cara untuk menjatuhkannya, tapi ternyata si bodoh itu justru menggali lubangnya sendiri."

Julian tertawa dingin, membayangkan wajah ayahnya, sang Raja Agung saat mendengar kabar ini.

"Menikahi seorang gadis dengan kasta yang jauh berbeda... itu bukan hanya skandal Cakra..., Itu penghinaan terhadap seluruh silsilah darah biru kerajaan! Ayahanda tidak akan pernah membiarkan noda seperti itu duduk di atas takhta. Kehancuranmu sudah di depan mata saudaraku."

Bersambung..

🐅🐅🐅🐅

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!