NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amnesia

Aroma antiseptik yang menusuk tajam merobek kesadaran Rain, disusul pendar lampu neon putih yang menyilaukan dari plafon balai pengobatan kampus. Di ranjang sebelah, hanya dipisahkan oleh tirai yang tersingkap separuh, Ayyara masih terlelap. Selang infus menancap di punggung tangannya yang pucat.

Dokter menyatakan kondisi mereka stabil, meski punggung Rain sempat dihantam tiang lampu jalan saat ledakan itu terjadi.

​"Bro! Lo beneran sudah sadar? Asli, lo bikin gue jantungan, Rain!" Niko, sahabat karibnya, menghambur mendekat dengan wajah lega yang tak disembunyikan.

​Rain berusaha duduk, namun kepalanya berdenyut hebat. "Nik... gue mimpi atau gimana?" suaranya parau, nyaris habis. "Mereka bilang ini tahun 2014. Gue cek TV, gue cek kalender di HP... semuanya bilang 2014. Ini gila, Nik!"

​Rain benar-benar dirundung kebingungan. Ia sempat bangkit dan mondar-mandir dengan langkah limbung, mencoba mengonfirmasi waktu yang terasa mustahil baginya, sampai akhirnya rasa lelah mengalahkan segalanya. Ia terduduk lesu di tepi ranjang.

​Niko terdiam di ujung kasur. Ini adalah kali kedua ia menyaksikan sahabatnya bertingkah seaneh ini. Pertama kali terjadi pada 2012 lalu, setelah mereka bermain futsal. Rain pingsan selama beberapa hari, dan saat bangun, ia sibuk menanyakan tanggal dengan raut wajah syok yang sama.

​Tanpa banyak tanya lagi, Niko mulai menceritakan kejadian kemarin. Untuk meyakinkan Rain, ia menunjukkan rekaman CCTV serta video amatir dari ponsel saksi di lokasi kejadian.

​Dalam video itu, terlihat Rain dan Ayyara sedang menerima panggilan telepon secara bersamaan. Wajah mereka tampak tegang—seperti sedang mengoordinasikan sesuatu yang sangat krusial. Mereka berlari mencari area lapang, seolah-olah sudah memprediksi titik ledakan dan berusaha menghindarinya.

​"Dia... siapa, Nik? Gue bener-bener nggak kenal," tanya Rain sambil menatap sosok gadis di ranjang sebelah.

​Niko terbelalak. "Ayyara? Lo sakit jiwa, ya? Dia itu partner kerja lo. Cewek yang tadi lo lihat di video itu ya dia!"

​Karena kondisi mentalnya yang masih terguncang, dokter meminta Rain menginap satu malam lagi. Kejutan bagi Rain belum berakhir; saat ia menanyakan keberadaan Naila, Niko justru memberikan jawaban pahit. Rain ternyata sudah memutuskan Naila secara sepihak pada 2012 lalu, sesaat setelah ia siuman dari pingsan pertamanya.

​Niko selalu penasaran apa alasan sebenarnya. Naila dan Rain sudah berpacaran sejak kelas 2 SMA tanpa pertengkaran berarti. Namun, Rain tak pernah memberi penjelasan logis.

Ia hanya pernah menjawab singkat sekali waktu: "Siapapun pacar Naila saat ini, pada akhirnya yang akan dia pilih tetap Zayn, sahabatnya."

​Meskipun terdengar tidak masuk akal bagi Niko, lama-kelamaan ia berhenti bertanya.

Terlebih saat itu Rain sedang kesulitan membiayai neneknya di pusat lansia.Uang kuliah yang diberikan sang nenek justru ia alihkan untuk biaya perawatan medis terbaik. Rain akhirnya mengambil pinjaman mahasiswa dan bekerja paruh waktu demi bertahan hidup.

​Malam itu, Rain sesekali memandangi ranjang Ayyara. Ini sudah malam ketiga, tapi kenapa dia belum sadar juga? batinnya gelisah.

​Hari berganti. Rain akhirnya diizinkan pulang. Sebelum pergi, ia sempat berpamitan dengan ayah Ayyara dan Bian, adik laki-lakinya, yang masih menunggu dengan raut cemas di depan ruang perawatan.

​Rumah Rain tampak rapi sekaligus sepi saat ia tiba diantar Niko. Ingatannya tentang tahun 2012 masih menyisakan sosok nenek yang selalu ada di rumah. Meski mulai pikun, Rain tak menyangka kondisinya akan memburuk secepat itu hingga ia sendiri lupa kapan tepatnya ia mengirim sang nenek ke pusat perawatan.

Ayah dan ibunya sudah sibuk dengan keluarga baru masing-masing; tak ada ruang bagi Rain di sana.

​Di kesunyian kamarnya, Rain menemukan sebuah buku catatan di laci meja. Jantungnya berdegup kencang saat membuka lembar demi lembar. Itu adalah jurnal hariannya—berisi rangkuman aktivitas harian, serta sebuah buku lain yang berisi strategi menghadapi hidup.

​Ia kemudian membuka galeri ponselnya, mencari jejak yang tertinggal selama rentang waktu yang terlupakan. Isinya adalah ratusan foto acak yang penuh dengan coretan rumus. Ada pula foto-foto candid Ayyara, gadis yang mengalami insiden bersamanya. Foto mereka saat istirahat atau sekadar makan malam bersama setelah menyelesaikan tugas.

​Rain memeriksa log percakapan. Hanya obrolan dengan Ayyara yang tidak pernah ia hapus sejak 2012. Meskipun isi pesan mereka belakangan ini hanya seputar koordinasi teknis, jadwal kerja, dan kata-kata penyemangat, segalanya terasa janggal. Sejanggal isi diari dan buku panduan hidup yang baru saja ia baca.

​Seolah-olah, Rain yang hidup selama dua tahun terakhir adalah orang yang berbeda—seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang besar.

Rain perlahan mencoba beradaptasi dengan lubang besar dalam ingatannya. Ia memaksakan diri berangkat kuliah meskipun rasanya seperti melompati beberapa semester sekaligus. Di sela waktu luang, ia meneliti setiap inci buku diari yang ia temukan. Tulisan-tulisan itu terasa seperti data ingatan yang diunduh secara paksa ke otaknya, namun ia kesulitan memvisualisasikan kejadiannya.

​Pikirannya terus berputar pada satu hal: mungkinkah teori tentang perjalanan waktu antara dirinya dan Ayyara dari masa depan itu nyata? Ataukah ia hanya sedang kehilangan kewarasan? Rain tahu, jika ia mencari tahu hal ini secara terbuka, orang-orang akan menganggapnya gila. Apalagi dalam buku itu sudah tertera peringatan keras: Jangan menyebarkan isinya kepada siapapun.

​Lima hari kemudian, saat sedang berada di tengah perkuliahan, sebuah kabar datang memecah konsentrasinya: Ayyara telah siuman.

​Namun, saat Rain dan Niko sampai di bangsal, suasana justru kacau balau. Ayyara tersentak mundur hingga punggungnya menempel erat pada sandaran ranjang.

Matanya membelalak ketakutan saat melihat teman-teman kuliah yang datang menjenguk.

​"Kalian... kalian siapa?" suara Ayyara bergetar hebat.

​Teman-temannya mencoba menjelaskan tentang tugas kampus dan jadwal ujian yang terlewat, namun Ayyara justru menggeleng kuat-kuat dengan air mata yang mulai menderas. "Kuliah? Tugas apa? Aku... aku seharusnya masuk sekolah hari ini! Aku harus belajar untuk Ujian Nasional!"

​Niko nyaris terjatuh karena syok. "Gila... Rain amnesia, sekarang Ayyara juga? Dan dia pikir dia masih anak SMA?"

​Rain berdiri mematung di sudut ruangan. Ia menyaksikan satu-satunya orang yang menurut catatan jurnalnya adalah rekan seperjuangan dari masa depan, kini terjebak dalam kondisi yang sama—atau bahkan lebih parah—darinya.

​Mata Ayyara tak sengaja beradu dengan mata Rain. Rain berharap ada percikan pengakuan atau sedikit saja binar familier di sana, mengingat betapa intensnya kerja sama mereka dalam foto-foto yang ia lihat di ponselnya. Namun, Ayyara hanya menatapnya dengan pandangan kosong dan asing.

​Meski kondisi mentalnya kacau, keluarga Ayyara merasa sangat lega. Bagi mereka, melihat Ayyara akhirnya membuka mata setelah koma adalah keajaiban, terlepas dari ingatannya yang tertinggal di masa SMA. Karena peraturan kos putri yang sangat ketat terhadap tamu pria, keluarga memutuskan agar Ayyara tetap di rumah sakit hingga benar-benar pulih dan siap menghadapi dunia luar.

​Di balik dinding putih rumah sakit yang dingin, Ayyara bergelut dengan badai batin. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa ia telah "melompati" waktu sejauh itu. Namun, ia mencoba bertahan, terutama saat menyadari sebuah fakta yang mencengangkan: ia ternyata berhasil menjadi mahasiswa di kampus bergengsi yang dulu bahkan tak berani ia impikan.

​"Beberapa bulan lagi aku akan kembali ke kota ini dengan beasiswa," janji Bian, berusaha menguatkan kakaknya sambil menggenggam jemari Ayyara. "Begitu aku di sini, aku akan membantumu menemukan kembali ingatanmu yang hilang. Kakak hanya perlu bertahan sampai aku datang."

​Dukungan juga mengalir dari teman-teman kuliah Ayyara yang sangat suportif. Mereka tahu betapa keras perjuangan Ayyara membiayai kuliah dan hidup mandiri selama ini. Mereka berjanji akan membantu Ayyara beradaptasi kembali dengan ritme kampus dan pekerjaannya.

​Di antara kerumunan itu, ada Rain. Lelaki itu hanya menyapa singkat dan memperkenalkan diri sebagai rekan kerja yang juga menjadi korban dalam insiden yang sama. Rain sengaja menjaga jarak dan bersikap formal. Ia tahu, di balik wajah asing itu, mereka berdua sebenarnya sedang mencari potongan teka-teki yang hilang di periode waktu yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!