Laki-laki hanya mencintai satu kali, sisanya hanya menjalani hidup. Ada yang mengatakan seperti itu. Damien tidak tau apakah itu benar, namun perjalanan hidupnya kali ini benar-benar diluar prediksi dan rencana.
Dia kehilangan istri dan keluarga kecilnya juga terancam pecah, namun di saat yang hampir bersamaan, ternyata semua bencana yang dia alami mengantarkan dia bertemu kembali ke sosok wanita yang dulu sangat dia idam-idamkan sepenuh jiwanya untuk menjadi pasangan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shelly Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelusuri Jejak.
Bab 19.
“Selamat pagi, mbak Ika”.
“Selamat pagi pak Damien, ada yang bisa saya bantu?”
Damien tersenyum sedikit ke arah Ika, salah satu Front Office yang pagi ini bertugas di perusahaan tempat Lidya bekerja.
“ Maaf, saya ingin bertemu dengan rekan sekerja istri saya, hmmh.. Mbak Maya atau Mas Bondan. “
“ Bapak sudah ada temu janji dengan mereka?”
“ Belum sempat mbak, saya ada keperluan mendadak sedikit hari ini ke mereka. “
“Oh, begitu..” Jawab Ika.
“Saya coba hubungi mereka di ruangan mereka ya pak. Silahkan duduk dulu di lobbi tamu ya pak. “
“Oke, terima kasih. “ Jawab Damien dan lalu beranjak pergi menuju Lobbi tamu, tempat dimana kursi-kursi dan meja di sediakan untuk para tamu BOUSCH n GENÈVE.
Sementara duduk disana untuk menunggu, Damien kembali membuka hapenya, lalu mulai mengecek dan membalas beberapa pesan klien yang ditujukan kepadanya.
Kurang lebih 10 menit kemudian, seseorang menghampiri Damien, dan itu adalah Bondan.
“Halloo Bos, apa kabar ?” , sapa Bondan kepada Damien sambil tersenyum lebar.
Damien berdiri dan membalas sapaan Bondan sambil ikut tersenyum lebar, dan mengulurkan tangannya untuk menjabat uluran tangan Bondan.
“Alhamdulillah , sukses terus ya mas ?”, Jawab Damien ke Bondan.
“Aamiin..hehee”. Jawab Bondan sambil terkekeh.
“Ada apa nih mas, pagi-pagi mo ketemu saya dan rekan-rekan, jangan-jangan mau traktir kita-kita nih...hehee”, tanya Bondan masih terkekeh.
“Boleeehh, atur aja waktunya nanti sama Mas Bondan...” Jawab Damien sekenanya, masih sambil tersenyum.
Mata Bondan melebar, lalu dia bersuara kembali ,”Waahh , berarti kesini mau ajak kita mengenai proyek besar ya”.
Damien kali ini tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
“Bukan Mas... ini mas, mau tanya ya, sebentar... “ Jawab Damien sambil melambaikan tangannya ke arah salah satu bangku disamping bangku yang baru saja diduduki dia.
“Ayo mas duduk dulu, saya mo tanya sesuatu...”
Sambil tetap tersenyum, Bondan menghampiri bangku yang di tunjuk Damien, lalu duduk disana.
Damien pun ikut duduk disana, di sebelah Bondan. Dan setelah berdehem sejenak, dia bertanya dengan nada sedikit pelan dan lebih serius kepada Bondan.
“Mas... hari ini Lidya masuk kantor ga?”.
“Loh, belum Bos, saya pikir malah Bos tau, kirain mbak Lidya memang mo perpanjang libur nya”. Jawab Bondan kepada Damien dengan nada pelan dan sedikit terkejut.
Damien diam sejenak, lalu meneruskan,
“ Jadi... sudah beberapa hari ini Lidya masih belum bisa dihubungi saya, tidak pulang juga kerumah.”
“Saya dan Mamanya sedang berusaha mencari tahu, dimana dia. Masalahnya, hapenya tidak aktif... jadi saya kesini, mungkin baik mas atau mbak Maya atau teman nya yang lain tau info lebih lanjut mengenai istri saya.” Jawab Damien dengan sedikit muram sekarang.
Bondan masih diam mendengarkan.
“Kalau dari sistem absen kantornya, Lidya sudah tidak masuk sejak kapan ya mas ?”, tanya Damien lagi kepada Bondan.
Bondan menegakkan kepalanya sedikit ke atas, mengingat-ingat.
“Kalau ga salah, sejak hari mulai masuk kantor ya Bos... tanggal 2 atau 3 Januari kemarin deh.”
Bondan kini mengubah cara duduk nya, sedikit condong lebih dekat kearah Damien.
“Beneran nih Bos, situ juga ga tau dimana istri Bos ?, ingat-ingat Kalau ga salah, mamanya juga pernah telpon untuk nanyain dimana mbak Lidya waktu itu.” Bondan menjawab dengan lebih serius .
“Tapi waktu mamanya telpon, mbak Lidya emang udah ga masuk hari itu, sih...”
Kini giliran Damien yang terdiam.
“itu tanggal berapa ya, kira-kira... pas mamanya telpon ?”
“Tanggal 3 kayaknya , pokoknya ga jauh dari tanggal mulai masuk deh”jawab Bondan kembali mengingat-ingat.
Damien mengangguk pelan, berarti sesuai urutan kejadian yang dia alami saat itu.
“Sebelum ketahuan dia ga masuk, ada hal-hal lain ga, kira kira mas ? ...mungkin dia kasih pesan online atau apa, ke kantor ?” Tanya Damien kembali.
“Wah, apa ya... ? Sebentar, saya ingat-ingat dulu.... “ kali ini Bondan benar-benar serius. Dia berpikir keras.
“ Ga ada kayaknya... oh, dia sempat kirim email ke alamat email perusahaan, lapkeu salah satu klien kita.”
“Oh ya ? Kirim nya di tanggal berapa ? “ Damien bertanya balik.
“Sebentar..” Jawab Bondan lalu mulai mengambil hapenya yang dia simpan di dalam saku celananya.
Damien diam menunggu, sementara Bondan membuka hapenya dan menggerakkan jari-jarinya menelusuri layar hape.
“Tanggal 2 januari, 01.30 AM.
Dini hari ya , Bos ?. Lidya biasa kirimkan email di jam segitu ?”
Sahut Bondan sambil mengulurkan hapenya kepada Damien.
Damien menolehkan kepalanya, mencoba melihat isi layar hape Bondan.
Terlihat layar hape sudah masuk ke kolom email, menunjukkan email masuk yang beralamat ke email perusahaan, dikirim dari email yang dia tau adalah milik istrinya, Lidya.
“Boleh saya foto kiriman email nya, mas Bondan? Untuk dokumentasi aja. “
“Oh... saya aja yg kirim ke Bos, minta no WA nya Bos ya, kalau saya yang foto kan lebih jelas dilihatnya nanti. “ Jawab Bondan.
“Oke, tolong di Screen shot ya Mas...Ini WA saya “jawab Damien sambil mengulurkan hapenya ke arah Bondan.
Bondan melihat ke dalam layar hape Damien, lalu mengetikkan nomor hape Damien di hapenya sendiri.
Setelah di simpan, dia langsung memfoto email terakhir yang dikirimkan Lidya, lalu saat itu juga mengirimkan kepada Damien lewat nomor hape yang baru saja dia simpan.
“Sudah ya Bos, coba di cek” kata Bondan kepada Damien.
Damien langsung mengecek, benar... sudah ada kiriman foto dari nomor yang belum dia simpan.
“Oke, terima kasih ya mas. Saya simpan nomor WA nya juga ya mas.”
“Silahkan Bos... kalau ada hal-hal lain yang perlu ditanyain , langsung info aja ke WA saya.” Jawab Bondan menenangkan.
Damien mengucapkan terima kasih kembali sambil memasukkan hapenya ke dalam saku celana.
“Kalau mbak Maya, hari ini masuk ga, mas ?”
“Oh, ada kok...masuk, tapi tadi dia lagi bikin laporan dulu, jadi saya yang duluan datang kesini”
“Oo oke, kira-kira saya bisa ketemu juga dengan mbak Maya ga ya, sekarang ? “.
“Bisa aja, sebentar saya yang gantian pergi ke atas dulu ya, nanti saya info ke Maya kalau Bos mo bicara sebentar..” Jawab Bondan segera sambil berdiri bersiap-siap untuk beranjak pergi ke lantai atas tempat ruangan dia bekerja.
Damien pun ikut berdiri sambil mengangsurkan telapak tangannya untuk menjabat telapak tangan Bondan.
“Siap..terima kasih ya Mas untuk informasinya “
“sama-sama Bos...semoga, eh... mbak Lidya bisa bertemu kembali secepatnya dengan Bos dan keluarga ya..” Jawab Bondan berusaha menekan nada suara nya yang terdengar sedikit kikuk saat mengatakan hal itu.
Damien hanya tersenyum mengangguk. Dan setelah saling mengucapkan salam perpisahan, Bondan beranjak pergi dari ruang tunggu, sementara Damien duduk kembali ke atas bangku nya.
Dan kini dia menunggu Maya, salah satu rekan kerjanya Lidya dengan diam.