Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Di Ambang Kepergian
Pagi itu datang terlalu cepat.
Bella terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Cahaya matahari baru saja menyusup tipis dari balik tirai apartemen Livia, meninggalkan semburat keemasan yang lembut di dinding kamar. Namun keindahan pagi itu sama sekali tidak berhasil menenangkan dadanya yang sejak semalam terus berdebar.
Hari ini.
Hari ia pergi.
Bella duduk perlahan di tepi ranjang, tangannya otomatis bergerak ke perut yang masih datar. Sentuhan itu selalu membuat hatinya sedikit lebih tenang, seolah ada pengingat bahwa kini ia tidak sendiri lagi.
“Aku akan jaga kamu,” bisiknya hampir tanpa suara.
Kalimat itu bukan sekadar janji.
Itu adalah keputusan.
Ia berdiri pelan, bergerak lebih hati-hati daripada biasanya. Rasa mual pagi itu masih datang, tapi tidak separah kemarin. Setelah membersihkan diri, Bella mengenakan blouse longgar berwarna krem dan cardigan tipis yang membuat tubuhnya terasa lebih nyaman.
Di ruang tengah, koper kecilnya sudah berdiri tegak di dekat sofa.
Livia menoleh saat mendengar langkah kaki Bella.
“Kamu udah bangun?”
Bella mengangguk sambil memaksakan senyum kecil.
“Udah siap?”
Pertanyaan itu membuat Bella terdiam sesaat.
Siap?
Tidak ada manusia yang benar-benar siap meninggalkan hidupnya.
Namun ia harus.
“Aku harus siap,” jawabnya pelan.
Livia mendekat lalu memeluknya erat.
Pelukan itu hangat.
Terlalu hangat sampai hampir membuat pertahanan Bella runtuh.
“Kamu boleh batal kalau hati kamu masih ragu,” bisik Livia.
Bella memejamkan mata.
Dalam hitungan detik, wajah Dominic kembali muncul di kepalanya. Senyumnya. Tatapannya dulu. Suara lembutnya saat memanggil istri kecil.
Namun bayangan itu segera tertimpa adegan malam di hotel.
Dan hati Bella kembali mengeras.
“Kalau aku tinggal,” katanya pelan, “aku akan terus terluka.”
Livia tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Bella lebih erat.
—
Di sisi lain kota, Dominic baru saja sampai di rumah setelah malam yang hampir tanpa tidur.
Matanya memerah, rahangnya tegang, dan pikirannya kacau.
Sejak tadi malam ia terus mencoba menghubungi Bella.
Tidak ada jawaban.
Bahkan Livia pun tidak mengangkat teleponnya.
Dominic berjalan mondar-mandir di ruang tengah seperti orang kehilangan arah.
Rumah itu terlalu sepi.
Setiap sudut terasa menyimpan jejak Bella.
Buku yang masih tersusun di rak.
Selimut yang biasa dipakai istrinya saat tertidur di sofa.
Mug kecil favorit Bella yang masih berada di meja dapur.
Hal-hal kecil yang dulu ia anggap biasa, kini terasa menyesakkan.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari seseorang yang bekerja di kantor travel tempat Dominic punya koneksi bisnis.
> Mr. Dominic, maaf mengganggu. Saya rasa Anda perlu tahu, ada pemesanan tiket atas nama Mrs. Bella Dominic untuk penerbangan pagi ini ke Sydney.
Dunia Dominic seolah berhenti.
Matanya terpaku pada layar.
Jantungnya berdegup begitu keras.
Bella pergi?
Hari ini?
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil kunci mobil dan berlari keluar rumah.
—
Perjalanan menuju bandara terasa seperti siksaan.
Lampu merah terasa terlalu lama.
Jalanan pagi yang mulai ramai membuat Dominic beberapa kali mengepalkan setir begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.
Pikirannya dipenuhi satu hal.
Jangan sampai terlambat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu benar-benar merasa takut.
Takut kehilangan seseorang yang selama ini ia pikir akan selalu ada.
—
Sementara itu, Bella berdiri di terminal keberangkatan dengan koper kecil di sampingnya.
Bandara pagi itu cukup ramai. Suara pengumuman penerbangan bercampur dengan suara roda koper yang bergesekan di lantai, langkah kaki orang-orang, dan percakapan samar dari berbagai arah.
Namun di tengah semua keramaian itu, Bella merasa sangat sendirian.
Tangannya menggenggam paspor dan tiket dengan sedikit gemetar.
Ini nyata.
Ia benar-benar akan pergi.
Livia yang mengantarnya sampai pintu keberangkatan memeluk Bella untuk terakhir kali.
“Kabari aku begitu sampai.”
Bella mengangguk sambil menahan air mata.
“Makasih buat semuanya.”
Livia mengusap sudut matanya sendiri.
“Kamu harus kuat.”
Bella menatap sahabatnya lama, lalu tersenyum tipis.
“Aku akan kuat.”
Bukan hanya untuk dirinya.
Tapi untuk bayi yang sedang ia lindungi.
Setelah pelukan terakhir itu, Bella melangkah menuju antrean boarding gate.
Setiap langkah terasa berat.
Bukan karena ia ingin kembali.
Namun karena ia tahu, langkah ini adalah perpisahan dengan kehidupan yang pernah sangat ia cintai.
—
Di saat Bella hampir menyerahkan tiket pada petugas, sebuah suara yang begitu familiar menggema di belakangnya.
“Bella!”
Tubuhnya langsung membeku.
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Ia mengenali suara itu.
Terlalu mengenalinya.
Perlahan, sangat perlahan, Bella menoleh.
Di antara kerumunan orang, Dominic berdiri dengan napas terengah, rambut sedikit berantakan, wajahnya penuh kepanikan.
Matanya langsung menemukan Bella.
Dan di sorot mata itu, ada sesuatu yang belum pernah Bella lihat sebelumnya.
Ketakutan.
Dominic berjalan cepat mendekat.
“Jangan pergi.”
Suara pria itu lebih rendah sekarang, nyaris seperti permohonan.
Bella mematung.
Semua keberaniannya yang tadi ia bangun perlahan terasa goyah.
Namun hanya sesaat.
Ia menguatkan dirinya.
Tatapannya kembali dingin.
“Menepi, Dom.”
Dominic menggeleng.
“Aku nggak bisa.”
Bella menghela napas panjang.
“Ini bukan tempat buat drama.”
Dominic tidak peduli dengan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.
Ia berdiri tepat di depan Bella, menatap wanita itu seolah takut jika ia berkedip, Bella akan benar-benar hilang.
“Kamu mau ke mana?”
Bella tersenyum tipis.
Senyum yang terasa lebih seperti luka.
“Pergi.”
“Kapan balik?”
Pertanyaan itu membuat Bella terdiam sejenak.
Lalu ia menjawab dengan suara tenang yang justru jauh lebih menyakitkan.
“Aku nggak tahu.”
Wajah Dominic berubah.
Ada sesuatu yang runtuh di sana.
“Bella, jangan hukum aku kayak gini.”
Bella menatapnya lama.
Tatapannya tenang.
Namun matanya mulai memanas.
“Hukuman?” ulangnya pelan. “Kamu pikir ini hukuman buat kamu?”
Ia menarik napas.
“Ini cara aku menyelamatkan diriku.”
Kalimat itu menghantam Dominic jauh lebih keras daripada bentakan.
Pria itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Bella benar-benar serius.
Dan yang paling menakutkan…
Ada kemungkinan ia tidak bisa menghentikannya.
END BAB 16 🔥😭
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹