Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah isyarat
Suasana festival yang semula riuh rendah mendadak sunyi senyap, seolah waktu berhenti berputar saat pintu kereta kencana perlahan terbuka. Sebuah sepatu bot kulit berkualitas tinggi menapak ke tanah desa yang berdebu. Sosok Raja Indra turun dengan wibawa yang meluap, membuat udara di sekitar alun-alun terasa berat dan menyesakkan.
Sontak, seluruh warga dan para pejabat yang hadir mematung dengan wajah pucat pasi. Terutama mereka yang menyimpan rahasia busuk dan rencana pengkhianatan; keringat dingin mulai membasahi dahi mereka saat menatap sosok penguasa tertinggi Kerajaan Selatan itu.
"Aku hanya kebetulan lewat ." suara Raja Indra menggema, memecah keheningan yang mencekam. Matanya yang tajam menyapu barisan kursi kehormatan dengan tatapan dingin.
"Aku tidak tahu jika ada pesta semeriah ini di wilayahku sendiri. Tapi sepertinya... aku tidak diundang?"
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong. Para pejabat dan penguasa wilayah saling lempar tatap penuh ketakutan, tak berani mengeluarkan suara.
Di sudut keramaian, Cakra tampak berpikir keras. Rahangnya mengeras saat melihat ayahnya berada di sana, namun netranya tetap waspada memantau situasi. Ia tahu, kehadiran ayahnya bisa menjadi berkah sekaligus bencana bagi penyamarannya.
Sementara itu, Nayan terpaku. Ingatannya melesat ke masa lalu saat ia masih berada di istana Utara.
" Raja Agung Kerajaan Selatan? " batin Nayan.
"Benar... dia adalah sahabat karib Yang Mulia Raja Seno. Aku pernah melihatnya saat beliau berkunjung ke istana dulu." Nayan segera menundukkan kepalanya lebih dalam, berusaha menyembunyikan wajah di balik helai rambut dan kain kusamnya. Jika Raja Indra mengenalinya, habislah sudah.
Kepala desa yang tadinya sombong kini tampak salah tingkah luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat, lidahnya kelu tak tau harus bicara apa di hadapan sang penguasa tertinggi. Dengan suara terbata-bata, ia menghampiri Raja Indra.
"Ma-maafkan hamba, Yang Mulia Raja Agung! Sebuah kehormatan yang tak terlukiskan... hamba benar-benar tidak menyangka... silakan, Yang Mulia, hamba persilakan duduk di kursi utama," ucap kepala desa sambil membungkuk sedalam mungkin, mencoba menutupi rasa ngerinya.
Raja Indra melangkah maju dengan tenang, namun setiap langkahnya seolah menghitung detak jantung para pengkhianat di sana.
Raja Indra tidak segera duduk. Ia justru berhenti tepat di depan deretan kursi kehormatan, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit menyentuh sandaran kursi kayu jati yang diukir indah. Matanya beralih ke arah hidangan mewah yang tersaji di atas meja—kontras dengan kondisi rakyat di pinggiran desa.
"Kursi ini cukup nyaman untuk seorang kepala desa," gumam Raja Indra datar, namun nadanya mengandung ancaman yang nyata.
"Bahkan lebih mewah daripada kursi penasihatku di ibukota."
Kepala desa itu hampir tersungkur. "I-itu... itu hanya bentuk penghormatan bagi para tamu, Yang Mulia..."
"Begitukah?" Raja Indra membalikkan badan, jubah kebesarannya berkibar menyapu debu. Tatapannya kini tertuju ke arah kerumunan, tempat Nayan dan Cakra berdiri .
"Lalu, siapa tamu yang begitu istimewa hingga kau merasa tidak perlu melaporkan perayaan sebesar ini ke istana?"
Kepala desa benar-benar mati kutu dicecar pertanyaan sang Raja. Dalam kepanikannya, dia pun segera mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin menyudutkannya.
.....
Raja Indra dan Permaisuri pun akhirnya duduk di kursi kehormatan. Meski tampak tenang, sang Raja sebenarnya sedang menjaga sikap agar tidak terlihat curiga. Hal ini sesuai dengan rencana awalnya bersama Cakra , mereka ingin memberantas oknum-oknum korup itu sampai ke akar-akarnya tanpa sisa, sehingga mereka tidak boleh bertindak gegabah yang bisa membuat lawan waspada.
Di samping Permaisuri Suhita, Putri Rani tampak sangat pandai mencari muka.
"Bunda Ratu...," bisik Rani dengan nada lirih .
"sungguh aku tak tega melihat ini. Bagaimana mungkin pesta semeriah ini diadakan di atas penderitaan rakyat perbatasan?" Rani bahkan sengaja meneteskan air mata buayanya demi menarik simpati sang Permaisuri.
Suhita tersenyum lembut. "Putri Rani, hatimu sungguh mulia. Aku tidak keliru menilaimu selama ini."
Rani pun mengulas senyum tipis. Matanya mulai menyapu sekeliling, mencari keberadaan Cakra yang ia yakini pasti ada di sekitaran sini .
" Di mana pangeran Cakra? Aku sangat merindukannya. Ini adalah kesempatan bagus agar aku bisa bertemu dengannya.." batin Rani.
Sementara itu di tengah kerumunan, Cakra sedikit menyembunyikan wajahnya agar tidak mencolok.
"Nayan... tetaplah di sini. Aku akan pergi sebentar," bisik Cakra.
"Lagi? Kau akan ke mana, Cakra?" tanya Nayan heran.
Cakra berusaha memutar otak mencari alasan yang tepat. Tiba-tiba, ia memegangi perutnya dan berakting seolah sedang menahan sakit. "Hmm... i-itu... perutku sedang tidak enak."
Nayan pun seketika mengerti dan membiarkannya pergi.
Cakra segera melipir di sela-sela kerumunan, bergerak mendekati panggung. Saat itulah, netra sang Raja berhasil menemukannya. Cakra memberikan kode halus kepada sang ayah untuk menemuinya di tempat tersembunyi setelah acara selesai. Raja Indra yang paham langsung memberikan isyarat setuju.
Namun, tanpa mereka sadari, Rani memperhatikan interaksi rahasia tersebut.
"Jadi itu Cakra. Penampilannya sungguh berubah drastis. Pantas saja tidak ada yang mengenalinya di sini, bahkan aku pun hampir tidak mengenali wajahnya . " batin Rani.
Sambil menatap Cakra, Rani tersenyum licik. Sebuah rencana mulai tersusun di kepalanya.
***
Elias memulai pertapaannya di bawah bimbingan sang Guru. Di pegunungan yang sunyi itu, hawa dingin mulai menyelimuti saat proses transfer energi dimulai.
"Ingatlah, Pangeran..." sang Guru membuka suara, memecah keheningan.
"Energi yang bersemayam di dalam pedang Sedra itu sangat dahsyat. Kau tidak akan bisa menyerap seluruh kekuatannya ke dalam tubuhmu sekaligus."
Guru itu terdiam sejenak, sorot matanya tampak menerawang, seolah ada rahasia besar yang sedang ia timbang untuk diungkapkan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Guru?" sergah Elias tak sabar.
"Aku tidak ingin kekuatan yang setengah-setengah. Aku ingin menjadi yang terkuat, tak terkalahkan!" ucap Elias dengan menggebu-gebu.
Guru itu menatap Elias dengan intens, tatapan yang membuat nyali siapa pun bisa menciut.
"Untuk mencapai ambisi itu, kau harus melakukan sebuah pengorbanan, Pangeran."
Elias mengerutkan alisnya, tampak ragu namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia tetap diam, menunggu sang Guru melanjutkan penjelasannya.
"Kekuatan Sedra itu lahir dan mengalir bersama darahnya..." lanjut sang Guru dengan nada rendah yang mencekam.
"Jika kau ingin kekuatan itu menjadi sempurna di tanganmu, maka kau harus menyatu dengannya Pangeran."
Mata Elias seketika membelalak. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari arah pembicaraan gurunya.
"Maksud Guru... aku dan Sedra, kami harus...?"
Bersambung......
🖤🖤🖤