Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Benih di Balik Musim Gugur
London meninggalkan kesan yang mendalam di hati Arumi. Pertemuan dengan pembaca internasional, pengakuan atas karyanya, dan momen intim bersama Adrian di bawah langit Inggris yang abu-abu telah mengukuhkan satu hal: ia bukan lagi bayangan siapa pun. Namun, sekembalinya mereka ke Jakarta, sebuah perasaan aneh mulai menghinggapi Arumi.
Awalnya ia mengira itu hanya jet lag biasa. Rasa lelah yang berlebihan, pusing yang datang tiba-tiba di pagi hari, dan keengganannya menyentuh kopi hitam—padahal kopi adalah bahan bakar utamanya saat menulis.
"Kamu pucat sekali, Arumi," ujar Adrian suatu pagi di dapur rumah baru mereka. Adrian sedang mengoles selai ke roti gandumnya, namun matanya tak lepas dari Arumi yang hanya mengaduk-aduk teh jahenya dengan lesu.
"Mungkin aku hanya kelelahan setelah tur buku itu, Mas. Terlalu banyak wawancara dan perjalanan jauh," jawab Arumi lemas.
Adrian meletakkan pisaunya, berjalan mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Arumi. "Tidak panas, tapi kamu tampak tidak bersemangat. Bagaimana kalau kita ke dokter hari ini? Aku tidak ingin penulis favoritku jatuh sakit sebelum novel ketiganya selesai."
Arumi tertawa kecil. "Mas berlebihan. Aku hanya butuh istirahat."
Namun, istirahat tidak membantu. Sore harinya, saat Arumi mencoba duduk di perpustakaan barunya untuk melanjutkan draf bab kedua, aroma parfum kayu cendana Adrian yang biasanya ia sukai mendadak terasa begitu menyengat dan mual. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening.
Adrian, yang baru saja pulang kantor dan mendengar suara dari kamar mandi, segera menghampiri. Ia memijat tengkuk Arumi dengan cemas. "Cukup. Kita ke rumah sakit sekarang. Tidak ada bantahan."
Di ruang tunggu rumah sakit, Arumi merasa sangat gugup. Ia melihat sekeliling, banyak pasangan yang sedang menggendong bayi atau ibu-ibu dengan perut buncit yang tersenyum bahagia. Sebuah pikiran melintas di benaknya, sebuah percakapan di hotel London tempo hari tentang "suara tawa di perpustakaan".
"Ibu Arumi Pramoedya?" panggil perawat.
Mereka masuk ke ruang periksa. Dokter Maya, seorang wanita paruh baya yang ramah, melakukan pemeriksaan singkat dan meminta Arumi melakukan tes urin serta darah.
Tiga puluh menit kemudian, mereka kembali dipanggil masuk. Dokter Maya menatap layar komputernya, lalu beralih menatap pasangan di depannya dengan senyum lebar.
"Selamat, Pak Adrian, Ibu Arumi. Hasil tesnya positif. Ibu Arumi sedang hamil enam minggu."
Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Arumi merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ia menoleh ke arah Adrian. Pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal itu kini tampak mematung. Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka, seolah-olah ia baru saja mendengar berita bahwa seluruh saham perusahaannya hilang—tapi kali ini dengan binar yang berbeda.
"Hamil?" bisik Adrian, suaranya parau.
"Iya, Pak. Janinnya sehat, detak jantungnya sudah mulai terasa meski masih sangat lemah. Ibu Arumi perlu menjaga asupan nutrisi dan jangan terlalu stres dengan pekerjaan menulisnya," jelas Dokter Maya.
Keluar dari ruang dokter, Adrian masih diam seribu bahasa. Ia menuntun Arumi menuju mobil dengan sangat hati-hati, seolah-olah Arumi adalah porselen langka yang bisa pecah kapan saja. Begitu mereka masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, Adrian menyandarkan kepalanya di setir.
"Mas? Mas kecewa?" tanya Arumi ragu, menyentuh bahu Adrian.
Adrian mendongak. Arumi tertegun melihat mata suaminya yang merah dan berkaca-kaca. Adrian menarik Arumi ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan sangat lama.
"Kecewa? Arumi... aku merasa seperti orang paling beruntung di dunia," bisik Adrian. "Terima kasih. Terima kasih karena telah memberikan kehidupan nyata dalam pernikahan kita. Aku tidak pernah membayangkan sebuah 'kontrak' akan membawaku sampai ke titik ini."
Kabar kehamilan Arumi menyebar seperti api di musim kemarau di kalangan keluarga. Ratna menelepon dari Yogyakarta sambil menangis haru, sementara Siska mengirimkan sebuah paket besar berisi perlengkapan bayi bermerek—meskipun Arumi baru hamil enam minggu.
"Rum, aku akan jadi tante paling keren sedunia! Aku sudah mulai melukis untuk kamar bayimu nanti," tulis Siska dalam pesannya.
Namun, tidak semua pihak menyambutnya dengan murni kebahagiaan tanpa drama. Di kantor pusat Pramoedya Group, Om Bram kembali bersuara. Dalam sebuah pertemuan keluarga informal, ia menyatakan kekhawatirannya.
"Anak ini akan menjadi pewaris tunggal. Kita harus memastikan tidak ada celah hukum jika suatu saat terjadi sesuatu. Arumi adalah orang luar yang masuk lewat skandal penggantian," ujar Om Bram dingin.
Adrian, yang saat itu sedang menggendong Arumi dengan posesif di sampingnya, hanya tersenyum tipis. "Om Bram, jangan khawatir soal pewaris. Aku sudah menyiapkan dokumennya.
Tapi satu hal yang perlu Om tahu: anak ini tidak lahir dari skandal. Dia lahir dari cinta yang jauh lebih kuat daripada silsilah keluarga yang Om agungkan."
Arumi merasa bangga. Ia tidak lagi merasa perlu membela diri; Adrian telah menjadi benteng yang tak tertembus baginya.
Bulan-bulan pertama kehamilan diisi dengan perubahan dinamika di rumah baru mereka. Adrian menjadi jauh lebih protektif. Ia bahkan menyewa seorang ahli gizi untuk memastikan makanan Arumi sempurna. Setiap malam, Adrian akan duduk di lantai perpustakaan, berbicara pada perut Arumi yang masih rata.
"Dengar, Nak. Ibumu adalah penulis hebat. Dia kuat, pintar, dan dia menyelamatkan ayahmu dari kegelapan. Kamu harus tumbuh seperti dia," gumam Adrian.
Arumi mengusap rambut Adrian, merasa haru. "Mas, dia belum bisa dengar."
"Dia bisa merasakannya, Arumi. Dia tahu ayahnya sangat menunggunya."
Di tengah kebahagiaan itu, Arumi terus menulis novel ketiganya. Kali ini, ceritanya tentang seorang anak yang mencari arti rumah.
Karakter-karakternya lebih lembut, narasi-narasinya penuh dengan harapan. Penjualan novel keduanya di London pun meledak, membawa royalti yang membuat Arumi benar-benar mandiri secara finansial.
Suatu sore, Arumi menerima kunjungan dari Pandu. Pandu datang membawa kabar tentang rilis film di Amerika Serikat.
"Rum, hidupmu benar-benar seperti dongeng sekarang. Penulis sukses, istri CEO, dan sebentar lagi jadi ibu," ujar Pandu kagum.
"Jangan lupa satu hal, Ndu," Arumi tersenyum manis. "Aku tetaplah Arumi yang sama, yang dulu kamu marahi karena telat kirim naskah.
Perbedaannya hanya satu: sekarang aku tidak lagi takut menghadapi hari esok."
Malam itu, saat mereka duduk di balkon rumah menghadap taman yang mulai ditumbuhi bunga kamboja, Adrian memberikan sebuah hadiah kecil. Bukan perhiasan, melainkan sebuah jurnal kulit kosong.
"Untuk apa ini, Mas?"
"Catatlah perjalananmu sebagai ibu. Mulai dari hari ini,Biarkan dia tahu betapa luar biasanya perjalanan ibunya dari seorang 'pengganti' hingga menjadi jantung dari keluarga ini."
Arumi memeluk jurnal itu erat. Ia menyadari bahwa novel hidupnya belum selesai. Masih ada banyak bab yang harus ditulis, banyak konflik ringan yang akan dihadapi, dan banyak tawa yang akan dibagikan.