NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Bedah Tanpa Bius

Malam di Kota Ironforge semakin larut. Suara gong penanda jam malam baru saja berbunyi di kejauhan, Dung... Dung..., mengirimkan getaran rendah yang merambat melalui dinding kayu Penginapan Tikus yang rapuh.

Di dalam Kamar Nomor 4, Yang Chen duduk bersila di tengah ruangan.

Dia telah memindahkan tong kayu yang pecah ke sudut, membersihkan lantai, dan meletakkan satu-satunya sumber cahaya—lilin lemak murah yang apinya bergoyang gelisah—di depannya.

Di samping lilin itu, tergeletak kotak beludru merah yang terbuka. Di dalamnya, Inti Rock Python (Ular Sanca Batu) berdenyut pelan.

Bola kristal seukuran telur ayam itu berwarna cokelat tanah dengan urat-urat merah samar di dalamnya. Urat-urat itu bergerak seperti cacing hidup, memancarkan aura berat yang membuat udara di sekitar kotak itu terasa padat dan menyesakkan.

Yang Chen menatap benda itu.

"Dantian Buatan..." bisiknya.

Di kehidupan sebelumnya, ini adalah teknik sampah yang hanya dipakai oleh kultivator putus asa yang Dantian-nya hancur dalam perang. Kebanyakan dari mereka mati karena penolakan tubuh (rejection), atau gila karena sisa jiwa binatang buas mengambil alih pikiran mereka. Tingkat keberhasilannya di bawah 1%.

Tapi Yang Chen bukan kultivator biasa. Dia adalah mantan Kaisar yang mengerti struktur jiwa sampai ke level atom.

"Masalahnya bukan tekniknya," analisisnya dingin. "Masalahnya adalah wadahnya."

Tubuh Zhao Wei masih terlalu lemah. Meskipun tulang-tulangnya sudah diperkuat tadi malam, organ dalamnya—usus, lambung, pembuluh darah—masih lunak seperti tahu. Jika dia memasukkan energi Earth seberat gunung ini ke dalam perutnya, dia bisa meledak dari dalam.

Dia butuh persiapan bedah.

Yang Chen merogoh sakunya. Dia mengeluarkan pisau belati yang dia "pinjam" (curi secara halus saat kekacauan di kandang kuda kemarin, dia tidak mengembalikannya pada Jenderal Feng, melainkan menukarnya dengan pisau buah di meja makan istana tanpa ada yang sadar).

Dia memanaskan bilah pisau itu di atas nyala lilin.

Api menjilat logam dingin itu. Ujung pisau berubah warna menjadi biru, lalu perlahan memerah.

Yang Chen membuka jubahnya, menelanjangi dada dan perutnya yang kurus.

Di bagian bawah perutnya, tepat tiga inci di bawah pusar (titik Qihai), kulitnya masih terlihat memar keunguan—bekas pukulan Pangeran Pertama yang menghancurkan Dantian aslinya.

"Di sinilah kuburannya," gumam Yang Chen. "Dan di sinilah rahim barunya."

Dia tidak akan menelan Inti Monster itu lewat mulut. Asam lambung akan merusak struktur energinya sebelum sampai ke Dantian. Dia harus memasukkannya langsung.

Secara manual.

Yang Chen menarik napas dalam-dalam. Dia tidak punya alkohol untuk sterilisasi. Dia tidak punya kain kasa bersih. Dia hanya punya tekad.

Tangan kanannya memegang pisau yang membara.

Tanpa ragu sedetik pun, dia menempelkan ujung pisau panas itu ke kulit perut bawahnya.

Cesssss!

Bau daging hangus langsung memenuhi ruangan sempit itu. Asap putih tipis naik.

"Hnnggh!"

Rahang Yang Chen mengeras seperti batu. Matanya terbelalak, tapi tangannya stabil. Sangat stabil.

Dia menekan pisau itu lebih dalam. Membelah kulit. Membelah lapisan lemak tipis. Membelah otot perut.

Darah mulai mengalir, tapi sebagian langsung terbakar oleh panas pisau, menutup pembuluh darah kecil (kauterisasi) agar dia tidak mati kehabisan darah.

Dia membuat sayatan vertikal sepanjang lima sentimeter.

Sakitnya luar biasa. Rasanya seperti perutnya sedang dirobek oleh cakar beruang api. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik. Napasnya memburu, hah... hah... hah..., tapi dia tidak berteriak. Berteriak menghabiskan energi.

Dia meletakkan pisau berdarah itu di lantai.

Sekarang bagian terburuknya.

Dia memasukkan jari telunjuk dan tengah tangan kirinya ke dalam luka menganga itu.

Dia meraba-raba di dalam perutnya sendiri. Sensasi hangat, basah, dan licin dari organ dalamnya sendiri terasa aneh di ujung jarinya. Dia mendorong ususnya ke samping, mencari ruang kosong di mana Dantian aslinya dulu berada.

Dia menemukannya. Sebuah rongga kosong yang dikelilingi oleh sisa-sisa jaringan meridian yang putus.

"Siap," desisnya.

Tangan kanannya mengambil Inti Rock Python dari kotak.

Benda itu terasa berat dan dingin di tangannya, kontras dengan perutnya yang terbakar panas.

"Masuklah, dan jadilah bagian dari Rajamu."

Yang Chen menjejalkan bola kristal seukuran telur itu ke dalam luka sayatan di perutnya.

Lubangnya sempit. Benda itu besar.

Dia harus menekannya paksa. Kulit di sekitar luka meregang hebat, hampir robek lebih lebar.

Slurrp.

Dengan suara basah yang mengerikan, Inti Monster itu meluncur masuk ke dalam rongga perutnya.

BUM!

Detik itu juga, dampaknya terasa.

Bukan rasa sakit fisik, tapi rasa berat. Rasanya seperti dia baru saja menelan sebuah bola timah seberat seratus kilogram. Tubuh Yang Chen langsung terbungkuk ke depan, dahinya menghantam lantai kayu.

Gedebuk!

Gravitasi di dalam perutnya kacau. Inti Monster itu memancarkan aura Earth (Tanah) yang kuat, menarik segala sesuatu di sekitarnya. Darah, cairan tubuh, bahkan Qi sisa di udara, semuanya tersedot ke arah pusarnya.

"Arghhh!"

Yang Chen mengerang panjang, berguling di lantai sambil memegangi perutnya yang berdarah.

Inti itu "hidup". Ia tidak suka berada di dalam tubuh manusia. Ia berontak. Ia mulai berputar di dalam perut Yang Chen, menggesek-gesek dinding organ dalamnya yang lunak.

Dan kemudian, serangan mental datang.

HISSSSSSS!

Suara desisan ular raksasa meledak di dalam kepala Yang Chen.

Bukan suara fisik, tapi proyeksi jiwa.

Di dalam alam bawah sadarnya yang gelap, Yang Chen melihatnya. Seekor Ular Sanca Batu raksasa, sebesar rumah, melingkar di depannya. Sisiknya terbuat dari granit kasar, matanya kuning menyala penuh kebencian.

Ini adalah Remnant Will (Sisa Kehendak) dari binatang buas itu.

"MANUSIA... LEMAH..." suara itu bergema, purba dan buas. "BERANI... MEMAKANKU..."

Ular raksasa itu membuka mulutnya lebar-lebar, siap menelan kesadaran Yang Chen yang saat itu berwujud seperti nyala api kecil yang redup.

Jika Yang Chen hanyalah Zhao Wei, jiwanya akan padam seketika. Dia akan mati otak, dan tubuhnya akan bermutasi menjadi monster setengah manusia setengah ular.

Tapi nyala api kecil itu... tiba-tiba berubah warna.

Dari merah redup menjadi Emas Keunguan.

Wujud Yang Chen di alam mental itu membesar. Dia bukan lagi bocah kurus. Dia memproyeksikan bayangan masa lalunya: Seorang Kaisar yang duduk di atas Takhta Tulang Naga, mengenakan jubah bintang, dengan tatapan yang bisa menghancurkan galaksi.

"Binatang melata," suara Yang Chen menggema, jauh lebih keras, jauh lebih dominan daripada desisan ular itu. "Kau berani bicara di hadapan Kaisar ini?"

Ular raksasa itu tersentak. Insting hewaninya merasakan bahaya. Bahaya yang jauh lebih besar daripada predator mana pun yang pernah dia temui di hutan.

"Tunduk!" perintah Yang Chen.

Tangan raksasa yang terbuat dari cahaya emas turun dari langit mental, mencengkeram leher ular batu itu.

Krak!

Ular itu meronta, mendesis, membelitkan tubuhnya, mencoba menghancurkan tangan cahaya itu. Tapi sia-sia. Di alam mental ini, kekuatan fisik tidak berlaku. Yang berlaku adalah Hierarki Jiwa.

Dan Jiwa Yang Chen berada di puncak rantai makanan.

"Jadilah fondasiku. Jadilah budakku. Itu adalah kehormatan terbesarmu," kata Yang Chen dingin.

Dia meremas tangan cahayanya.

PYAR!

Wujud ular raksasa itu hancur berkeping-keping menjadi butiran cahaya kuning.

Di dunia nyata, tubuh Yang Chen yang sedang kejang-kejang di lantai tiba-tiba berhenti bergerak.

Matanya terbuka.

Bola matanya yang tadinya hitam, kini memiliki cincin kuning tipis di sekeliling pupilnya—tanda penyatuan dengan elemen Tanah.

Dia berhasil menaklukkan jiwa ular itu.

Tapi urusan fisik belum selesai. Inti Monster itu sekarang diam, tapi luka di perutnya masih menganga.

Yang Chen duduk kembali dengan susah payah. Darah masih mengalir dari perutnya, membasahi celananya.

"Sekarang... Integrasi."

Dia memusatkan pikirannya ke Inti Monster yang kini bersarang di rongga Dantian-nya. Dia menggunakan sisa-sisa energi jiwa ular yang baru saja dia hancurkan tadi sebagai "lem".

Dia memerintahkan energi itu untuk keluar dari inti, membentuk benang-benang energi halus.

Benang-benang energi kuning itu menjulur keluar dari inti, seperti akar pohon yang mencari tanah. Mereka menusuk ke dalam jaringan daging Yang Chen di sekitar Dantian. Mereka menyambung kembali meridian yang putus. Mereka menjahit organ dalam yang luka.

Rasa sakitnya berubah. Dari rasa robek menjadi rasa gatal yang membakar.

Akar-akar energi itu merambat terus, menembus dinding perut, hingga mencapai kulit luar.

Di depan mata kepalanya sendiri, Yang Chen melihat luka sayatan di perutnya mulai bergerak. Daging bertemu daging. Kulit bertemu kulit.

Cahaya kuning samar bersinar dari balik kulitnya saat jaringan itu menyatu kembali dengan kecepatan yang tidak wajar.

Dalam lima menit, luka sayatan lima sentimeter itu tertutup rapat.

Tidak ada jahitan. Hanya ada garis parut tipis berwarna merah muda yang terlihat samar di perut bawahnya.

Yang Chen menghembuskan napas panjang.

"Selesai..."

Dia meletakkan tangannya di atas perutnya.

Dia bisa merasakannya.

Bukan kehampaan seperti sebelumnya. Di dalam sana, ada sesuatu yang berputar. Lambat. Berat. Kokoh.

Itu bukan Dantian gas seperti manusia biasa. Itu adalah Dantian Padat. Sebuah reaktor nuklir mini berbasis elemen tanah.

Yang Chen mencoba menarik napas.

Whusss...

Kali ini, dia tidak hanya menghirup udara. Dia merasakan partikel-partikel kecil energi di udara—terutama energi bumi yang merembes dari lantai dan dinding tanah. Energi itu tersedot masuk melalui pori-porinya, mengalir melalui meridian yang baru disambung, dan berkumpul di perutnya.

Inti Monster itu menyerap energi itu, memurnikannya, dan menyimpannya.

"Kekuatan..."

Yang Chen mengepal tangannya.

Aura kuning tipis melapisi kulitnya. Kulitnya tiba-tiba berubah warna menjadi sedikit gelap, teksturnya mengeras seperti batu.

Teknik Bawaan: Kulit Batu (Stone Skin).

Ini adalah hadiah dari Inti Rock Python. Dia tidak perlu mempelajarinya. Itu sekarang menjadi insting biologisnya.

Dia memukul lantai kayu di sampingnya dengan kepalan tangan itu.

BRAK!

Papan lantai kayu jati yang keras itu hancur berantakan, meninggalkan lubang seukuran kepalan tangan. Serpihan kayu beterbangan.

Dan tangan Yang Chen? Tidak ada lecet sedikitpun. Tidak ada rasa sakit.

Kekuatan fisiknya telah melonjak dari "Manusia Lemah" menjadi setara dengan kultivator Body Tempering Tingkat 3 Puncak—hanya dalam satu malam. Dan pertahanannya setara dengan Tingkat 5.

Yang Chen tertawa. Awalnya pelan, lalu semakin keras, hingga bergema di ruangan sempit itu.

"Hahahaha! Akhirnya! Akhirnya aku punya cakar!"

Dia berdiri. Dia merasa berat, tapi stabil. Kakinya menapak di lantai dengan otoritas baru. Dia bukan lagi daun yang ditiup angin. Dia adalah batu karang.

Namun, perutnya kembali berbunyi. Kali ini bukan sekadar lapar.

Inti Monster butuh bahan bakar untuk mempertahankan integrasinya dengan tubuh manusia. Dan bahan bakar terbaik adalah... daging. Banyak daging.

Kue kacang merah dan sup sumsum tadi siang sudah tidak ada artinya. Dia butuh protein hewani dalam jumlah masif.

"Besok," kata Yang Chen, matanya berkilat kuning dalam kegelapan. "Besok aku akan pergi ke Pegunungan Kabut di utara kota. Sudah waktunya untuk berburu."

Dia tidak akan membeli daging di pasar lagi. Dia butuh daging monster yang mengandung Qi. Dan dia butuh menguji tubuh barunya dalam pertarungan sungguhan.

Arc Kota Ironforge telah memberinya modal. Sekarang saatnya masuk ke Arc Alam Liar.

Yang Chen meniup lilin di depannya.

Phhh.

Ruangan menjadi gelap gulita, tapi mata Yang Chen masih bersinar seperti mata predator di malam hari.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!