NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. JEBAKAN TAK TERDUGA DARI KAMAR MANDI.

Suasana kamar terasa sunyi, hanya terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. Alvaro tetap fokus pada kitabnya, mengira Ayini akan keluar mengenakan daster atau piyama seperti biasanya.

Namun, saat ia melirik sekilas, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Ayini keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan selembar handuk putih yang melilit tubuhnya.

Bahunya yang putih bersih terlihat jelas, dan rambutnya yang basah dibiarkan terurai dengan tetesan air yang jatuh ke tulang selangkanya.

Alvaro membeku. Kitab di tangannya hampir saja merosot. Wajahnya yang biasanya teduh seketika berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

 Matanya membelalak, syok yang ia rasakan kali ini seribu kali lebih dahsyat daripada saat debat di taman tadi sore.

"A-A-Ayini! Apa yang kamu lakukan? Kenapa keluar seperti itu?" teriak Alvaro sambil langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Ia berbalik membelakangi istrinya dengan gerakan panik.

Ayini berjalan mendekat dengan wajah polos, meski di dalam hatinya ia tertawa melihat reaksi suaminya.

 "Baju Ayini lupa kebawa tadi, Gus. Masih di lemari. Lagian kan kita udah sah, Mas Alvaro kenapa malu sih? Tadi katanya mau nunggu umur dua puluh, sekarang liat gini aja udah gemeteran," goda Ayini dengan nada nakal, ia berdiri tepat di belakang punggung Alvaro.

"Ayini! Cepat pakai bajumu! Astagfirullah... Astagfirullah..." Alvaro terus meracau, jantungnya dag-dig-dug sangat keras sampai ia merasa dadanya sakit.

Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.

"Gus... beneran nggak mau?" bisik Ayini tepat di telinga Alvaro, membuat sang Gus merasa imannya benar-benar sedang berada di ujung tanduk.

Alvaro tidak tahan lagi. Ia melompat dari ranjang dan langsung berlari menuju pintu kamar dengan mata yang masih setengah tertutup.

"Saya... saya mau iktikaf di masjid sampai subuh! Jangan tunggu saya!" teriak Alvaro sambil membanting pintu kamar dari luar.

Ayini terdiam sejenak, lalu tawa bar-bar-nya meledak memenuhi kamar. Ia berguling-guling di kasur sambil memegangi perutnya.

"Ya Allah! Gus Alvaro beneran mau pingsan kayaknya tadi! Hahaha! Lucu banget liat Gus Kulkas berubah jadi Gus Setrikaan!"

Namun, di masjid yang sunyi, Alvaro bersujud sangat lama. Ia memohon kekuatan agar bisa menahan gejolak hatinya.

Ia tahu, Ayini hanya sedang menggodanya karena kesal, tapi bagi pria dewasa seperti dirinya, godaan itu adalah ujian yang sangat berat.

"Sabar, Alvaro... sabar... dia masih kecil," gumamnya pada diri sendiri sambil terus berdzikir, mencoba mendinginkan suhu tubuhnya yang mendadak naik drastis malam itu.

Pagi harinya di Ndalem, suasana terasa sangat canggung—setidaknya bagi Gus Alvaro.

Ia kembali dari masjid dengan mata yang sedikit merah karena tidak tidur semalaman.

 Sementara itu, Ayini tampak segar bugar, bahkan bersenandung kecil sambil membantu Umi Ayisah menata meja makan.

Umi Ayisah, yang memiliki insting tajam seorang ibu, memperhatikan putranya yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk bubur kacang hijaunya tanpa nafsu makan.

"Alvaro, kamu sakit? Wajahmu pucat sekali, tapi telingamu merah," tanya Umi Ayisah sambil meletakkan piring berisi pisang goreng.

"Tidak apa-apa, Umi. Hanya kurang tidur karena banyak wirid semalam," jawab Alvaro pelan, menghindari tatapan mata Ayini yang sedang menahan tawa di samping Umi.

"Banyak wirid atau banyak lari dari kenyataan, Mas?" celetuk Ayini jahil.

Alvaro tersedak air tehnya. Umi Ayisah menyipitkan mata, merasa ada yang tidak beres.

Setelah sarapan selesai dan Alvaro pergi ke kantor pesantren, Umi segera menarik tangan Ayini ke dapur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!