NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23 Dia juga berjuang

Aula utama kediaman besar Kakek Douglas kini sunyi, meninggalkan atmosfer berat. Kini keluarga ini pindah ke ruang kerja lagi.

Arthur Douglas duduk di balik meja kayu besarnya yang kokoh. Di depannya, Reigan dan Hana berdiri berdampingan. Kakek Arthur menatap cucunya datar. "Rowand sudah melaporkan soal pelayan itu. Kasus racun ini sudah bersih, pelayan itu mati karena sianida sebelum sempat bicara."

"Bukan hanya dia, Kakek," potong Reigan, suaranya rendah penuh dengan penekanan. "Ada dua penyusup malam ini."

Gerakan tangan kakek Arthur yang hendak memutar gelas wiskinya terhenti sekilas. Sepasang netra setajam elang milik pria tua itu melebar sedetik. Sebuah reaksi terkejut yang sangat langka karena dia mengira situasi sudah terkendali sepenuhnya—sebelum akhirnya ia kembali menguasai diri dengan ketenangan pasti.

"Dua penyusup?" Arthur mengulanginya dengan intonasi berat, menyadari tim keamanannya telah kecolongan gelombang kedua.

"Ya, tapi yang satu ini berhasil kami lumpuhkan tanpa membunuhnya. Dia masih hidup sebelum sempat menelan kapsul racunnya," jawab Reigan kaku.

Arthur tidak langsung mengejar informasi tentang tawanan baru itu. Pandangan pria tua itu justru bergeser, melewati bahu lebar cucunya dan mendarat tepat pada sosok Hana yang sejak tadi berdiri diam tanpa emosi.

"Hana," panggil Arthur, suaranya melunak dengan wibawa seorang kepala keluarga. "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka?"

Cih. Reigan membuang muka.

Sebuah dengusan muak yang cukup keras lolos dari bibir Reigan. Pria itu merasa jengkel setengah mati dengan pertanyaan kakeknya. Reigan muak karena beliau pasti tahu Hana itu kuat dan mematikan di lapangan, jadi pertanyaan basa-basi seperti itu terdengar sangat tidak diperlukan di tengah obrolan.

Hana tersenyum hangat. Wanita ini selalu berbeda raut wajahnya saat bicara dengan kakek atau Nico. "Saya baik-baik saja, Kakek. Sepertinya Reigan yang perlu dikhawatirkan juga."

Reigan melirik tajam. Itu seperti sebuah bentuk meremehkan.

"Reigan? Ada apa dengan dia? Dia tidak sanggup melawan musuh?" tanya Kakek Arthur berpindah kini menoleh pada cucunya dengan heran.

"Bukan, Kek." Hana tersenyum menenangkan. "Berkat Reigan, kita jadi bisa membereskan penyusup dengan mudah. Jadi sepertinya Kakek harusnya bertanya juga pada dia."

Rupanya Hana tidak ingin memonopoli kakeknya.

Mendengar jawaban diplomatis dan cerdas itu, Kakek Arthur tersenyum tipis penuh kebijaksanaan seorang tetua klan. Pria tua itu menyukai bagaimana Hana bisa menyeimbangkan ego cucunya. Beliau melirik pada Rowand yang juga terkesima dengan kalimat Hana.

Reigan yang sempat terkejut dengan kalimat Hana, menoleh ke arah lain ketika kakeknya melihat padanya.

"Ya. Dia juga sudah berjuang. Cucuku memang harus hebat," ujar Kakek Arthur.

Tepat setelah kalimat bangga beliau meredam ketegangan ego di udara, pintu kayu ganda ruang kerja diketuk dua kali dengan ketukan pendek. Atas isyarat anggukan dari Rowand, pintu tersebut terbuka, memunculkan sosok Marco dan Nico yang melangkah masuk dengan langkah tegap yang kaku.

Kedua orang kepercayaan Reigan itu segera membungkuk hormat secara formal kepada Kakek Arthur dan Rowand, sebelum akhirnya melangkah mendekati posisi Reigan.

"Bagaimana?" sergah Reigan langsung pada intinya. "Apa semuanya aman?"

Marco menegakkan tubuhnya, menjawab dengan nada rendah yang tegas.

"Aman, Bos. Jalur belakang kediaman Tuan Besar Arthur sudah kami amankan total secara senyap. Musuh kedua dari Tim B sudah kami seret keluar dari gedung utama tanpa memicu alarm pengamanan atau menarik perhatian para tetua klan di bawah."

Nico ikut menimpali, menjelaskan posisi tawanan saat ini.

"Saat ini tawanan sudah kami kunci di dalam mobil logistik steril milik kita yang terparkir di jalur evakuasi belakang. Borgol sudah terpasang dan rahangnya sudah dikunci dengan penyangga besi agar dia tidak bisa menggigit lidah atau menelan kapsul racun cadangan."

Nico melirik Hana sekilas dengan binar hormat yang kaku, sebelum kembali fokus pada Reigan dan Kakek Arthur.

"Kami diperintahkan untuk segera bergerak malam ini juga. Atas perintah Anda sebelumnya, kami akan membawa tawanan ini keluar dari area kediaman Tuan Besar menuju lantai bawah tanah kompleks apartemen pribadi Anda, Bos."

"Kalian akan membawa Tawanan ke apartemen mu?" tanya Kakek Arthur.

"Ya, agar interogasi bisa dilakukan secara steril di wilayah kita," sahut Reigan.

Kakek mengangguk samar, rahangnya mengunci rapat tanda ia puas dengan efisiensi kerja cucu dan kedua bawahannya.

Menaruh tawanan di dalam mobil logistik sementara waktu adalah pilihan terbaik untuk menghindari benturan wewenang dengan tim pengamanan internal rumah Kakek Arthur.

Reigan menegakkan tubuh tegapnya. "Urusan di sini sudah selesai, Kakek. Kami pergi sekarang untuk mengurus bajingan ini."

"Baiklah. Reigan, jaga Hana," pesan Kakek Arthur.

Semua mata melihat ke arah Hana yang berdiri disamping Reigan dengan tatapan menyelidik.

Apakah wanita itu masih butuh dilindungi?

Lagi-lagi kalimat yang sama. Melindungi Hana. Namun respon Reigan tidak lagi seperti tadi. Dia merespon kalimat dengan jawaban singkat, "Ya."

Justru kepatuhan ini membuat Hana melirik pria itu. Ini persis seperti dia muncul pertama kali di ruang makan paviliun kakek Arthur Douglas. Namun kali ini dengan nuansa yang berbeda. Jawaban Reigan terdengar tulus. Bukan hanya kepatuhan semata.

"Terima kasih, Kakek. Kami pamit pulang."

"Iya, Hana. Hati-hati dijalan."

***

Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan hanya diterangi cahaya redup dari dasbor, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat sempit dan intim.

Reigan duduk di balik kemudi. Di sampingnya, Hana bersandar kaku pada jok kulit mahal, menatap lurus ke kaca depan yang tembus pandang ke arah jalanan aspal yang sepi.

Marco dan Nico sudah bergerak lebih dulu dengan mobil logistik, membawa tawanan Tim B melalui jalur yang berbeda menuju lantai bawah tanah apartemen.

Keheningan merayap cukup lama didalam mobil Reigan. Pria itu sesekali melirik melalui sudut matanya, memperhatikan profil samping wajah Hana yang terpahat kokoh tanpa emosi.

Namun, pandangan Reigan perlahan turun ke bawah. Ke arah pangkuan wanita itu. Ke arah tangan yang ditemukan Nico tadi.

Di atas kain gaun malamnya, sepasang tangan Hana terlipat kaku. Di bawah temaram lampu jalanan yang sesekali menerobos kaca mobil, Reigan bisa melihat guratan memar kemerahan yang mulai membiru di sekitar pergelangan dan punggung tangan Hana. Jejak itu dia dapat dari hantaman brutal saat wanita itu melumpuhkan agen lapangan tadi.

Reigan mendengus kaku. Tangannya yang memegang setir mengetat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Sret.

Tanpa peringatan, Reigan melepaskan satu tangannya dari kemudi, merogoh laci dasbor di tengah mereka dengan gerakan cepat.

Hana mengerjap. Sedikit terkejut. Sebuah salep dilemparkan begitu saja ke pangkuan Hana.

Sepasang mata bulatnya bergerak turun, menatap obat di pangkuannya dengan datar, lalu beralih melirik Reigan dengan sorot menyelidik.

"Apa ini?" tanya Hana menatap salep itu dengan curiga. Dia tidak segera menyentuh obat itu.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!