Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Bertemu Lagi
Ipah kemudian mengantar Ustadzah ke kamar mandi yang tak jauh dari kamar Collins. Ketika ia menunggu, terdengar seseorang memberi salam.
"Assalamualaikum!"
Ipah menoleh ke pintu. "Waalaikumsalam."
Nana berdiri di pintu depan yang terbuka. Ia membawa sesuatu di tangan. "Katanya Kak Bara sudah pulang dari rumah sakit ya. Ini ada bubur sum-sum. Apa Kak Bara boleh makan ini? Lukanya bagaimana, Kak?"
"Lukanya sudah dijahit. Eh, mungkin nanti dia makan."
Ternyata berita tentang Bara yang ditussuk perampok sudah menyebar di kalangan warga sekitar. Nana mengetahui itu hingga membawakannya makanan.
Aida pun mendengar dari kamar mandi, ada seseorang yang membawakan Collins makanan. Ia tertegun. Ternyata banyak yang menyukai pria itu sehingga tak salah berita itu kalau Collins memang pastilah tampan.
Terlintas ide di kepala Ipah. Ia malah berteriak memanggil adik angkatnya itu untuk bangun. "Bara ... ada yang cariin!"
Collins cepat terbangun dengan suara lengkingan Ipah. Malah Aida sempat berpikir bahwa Ipah mendukung gadis yang membawa makanan itu.
Pria itu mengucek mata dan turun pelan-pelan dari ranjang. Masih dirasa nyeri di perut dan lengan ketika bergeser turun. Ia membuka pintu. "Siapa?"
Berdiri Nana yang tampak malu-malu di hadapan. Collins terkejut dan merasa dijebak karena ada Ipah di sana. Namun diluar dugaan, Kakak angkatnya itu meraih bawaan Nana dan memaksa gadis itu untuk pamit. "Tuh, lihat. Masih sakit 'kan? Terima kasih makanannya ya, tapi Bara harus istirahat."
Nana memperhatikan wajah Collins yang masih nampak belum sehat. "Oh, i-iya. Permisi, Kak Bara. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Collins pelan. Wajahnya nampak pucat. Rambutnya berantakan. Pandangannya juga tak fokus. Ia melihat saja saat Ipah mengantar Nana ke pintu depan. Ipah melirik ke belakang berharap Collins bertemu Aida.
Ketika Collins hendak menutup pintu, ia mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka orang. "Enyak ... aku mau minum, Nyak, tolong ...."
Pria itu keluar lagi dan terkejut dengan sosok di kamar mandi yang ternyata berbeda dari perkiraan. "M-mbak ustadzah?"aya Collins terbelalak.
Aida terlihat bingung. Ia mendengar Collins keluar hingga dia buru-buru keluar. Saat bertemu, ia malah kehilangan keberanian. "Eh, mau minum ya ...?" ucapnya sedikit panik dan menunduk malu.
Collins terpana. Baju kebaya muslim yang berwarna abu-abu itu sangat cantik dikenakan wanita itu hingga ia tak sengaja bergumam, "Cantik ...."
"Eh? Apa?"
"Eh, bukan." Collins menggelengkan kepala. 'Apa yang aku bicarakan. Uh, boddoh!' "Eh, maksudku ...." Beberapa saat ia tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menerangkannya sehingga mereka terdiam sesaat.
"Oh, minum ya." Aida teringat permintaan Collins sebelumnya. Ia berusaha memecah kesunyian. Wanita itu bergerak ke dapur. "Dapur ke sini, ya?" Aida menggerakkan tongkatnya.
"Eh ...." Collins menyadari Aida tak bisa melihat hingga ia mengejarnya. "Ti-tidak perlu. Biar aku ambil sendiri saja."
Langkah Aida terhenti. Ia membiarkan Collins mengambil sendiri karena ia sendiri tak tahu di mana dapurnya, walau dapur itu ada di depan mata.
Collins mengambil gelas dan mengeluarkan air dari mesin dispenser. Ia meminumnya sambil melirik Aida. Adakah wanita ini datang untuk dirinya?
"Eh, Abang katanya terluka? Baru pulang dari rumah sakit ya? Gak parah, 'kan?" Aida tak dapat lagi membendung pertanyaan. Cecaran pertanyaan itu memperlihatkan bagaimana ia cemas dengan keadaan CoIlins sekarang. Ia tak bisa melihat, karena itu ia hanya bisa mengukur keadaan Collins dari suaranya yang terdengar sedikit lemah.
"Ah ... sudah tidak apa-apa." Collins berusaha menenangkan.
"Yang bener, Bang?" Dahi Aida berkerut. Ia kesal karena tak tahu seperti apa keadaan sang pria saat ini.
"Iya, tidak apa-apa." Collins merapikan rambutnya. Ia sedikit senang karena wanita itu menanyakan keadaannya. "Aku hanya perlu minum obat saja."
Padahal saat ini Aida mati-matian menahan air matanya agar tak menetes.
"Apa kamu datang untuk ...." Pelan-pelan Collins sadar, Aida tengah mencoba pakaian yang dijahit pada Ipah. "Ah, nyobain baju ya." Ia sedikit kecewa dan meletakkan gelas di atas meja.
"Eh ...." Aida meremmas pinggiran bajunya. Ia berpikir keras. Ia tak boleh melepaskan kesempatan yang ada, karena itu ia harus mencoba. "Kalau Abang sudah sehat, apa bisa anter aku cari kontrakan?"
"Kontrakan?" Alis Collins bertaut. Ia menoleh.
"Bara, kenape elu keluar!?" Suara lantang Enyak dari pintu depan membuat keduanya menoleh. Baru kali ini Collins mendengar Enyak berteriak di dalam rumah. Ternyata Enyak masuk bersama Ipah dan babe.
"'Kan Mpok yang panggil?" Terang Collins bingung.
Enyak menoleh pada Ipah yang tersenyum nakal. Ia mencubit pipi anak gadisnya itu dengan gemas. "Elu tuh ye ... adek lu tuh masih sakit, lu suruh temuin tamu. Die belum boleh turun dari tempat tidur, tau kagak lu! Lu gak liat ape, mukanye masih pucet kayak begitu!!"
Omelannya membuat Aida makin merasa bersalah. Ia menunduk merasa ikut dimarahi.
Babe melihatnya. "Udah, Nyak. Malu ame tamu," ucapnya melihat perubahan Aida.
Enyak malah makin marah ketika dinasehati suaminya. "Elu juga! Kalo kagak ade yang nolongin Bara, anak Enyak bisa mati di tengah jalan, tau kagak lu?" Terlihat matanya berkaca-kaca.
Babe yang merasa bersalah berusaha untuk menenangkan istrinya, tapi wanita itu makin kesal saja. Ia memukul punggung sang suami berkali-kali karena geram. "Buat ape lu jadi ketua RT tapi ngorbanin anak lu sendiri, hah? Buat ape?"
"Maaf, Nyak, maaf. Gak lagi-lagi babe begitu," sesal Babe. Ia menghela napas. Diakui ini salahnya, karena kurang koordinasi dalam tim.
Ipah cekikikan melihat kedua orang tuanya bertengkar karena Enyak sangat cerewet kalau sedang marah.
Hanya Collins yang merasa tak enak hati. Gara-gara dirinya, kedua orang tua angkatnya itu bertengkar. "Udah, Nyak, udah ....Babe gak salah, kok." Ia berusaha melerai keduanya.
Namun itu tidak bisa menghentikan kemarahan Enyak. Wanita itu meraih lengan Collins dengan kasar. "Elu juga!"
"Aduh!" Collins menahan perih sambil memicingkan mata kala Enyak menarik lengannya yang terluka.
Terlihat ekspresi wajah Enyak yang sedih sekaligus khawatir, tapi tetap saja ia terus melampiaskan kemarahannya. "Elu harusnye di kamar, Bara, jangan keluar-keluar !!"
"Iya, Nyak." Collins terdengar pasrah. Ia dibawa Enyak ke kamar.
Aida tentu saja terlihat bingung dan serba salah. Ia juga penasaran, separah apa sebenarnya luka yang diderita Collins.
Ya, tubuh Collins diperban di bagian perut dan lengan, tapi itu tertutupi pakaian.
"Kamu mau ngontrak ya, Ustadzah?" tanya Ipah tiba-tiba. Ternyata ini mendengar percakapan terakhir Aida dengan Collins.
"Eh ...." Aida terkejut.
"Sudah, sama aku aja. Aku bantu cariin."
"Itu di sebelah toko babe ade kontrakan kosong, Pah. Coba deh lu ke sana." Babe memberi tahu.
"Campur, Be?" tanya Ipah dengan melebarkan matanya.
"Enggak. Untuk perempuan aje, kok."
"Oh, ya udeh." Ipah menoleh pada Aida. "Ayo, aku anterin. Kita lihat dulu kontrakannya."
"Itu punya Bu hajjah Sopia. Lu ke rumahnye gih. Tanya," imbuh Babe lagi.
"Oh, gitu." Ipah kembali menoleh pada Aida dan menyentuh bahunya. "Ustadzah bajunya gak ada masalah, 'kan? Kalo gitu, ustadzah ganti baju dulu, baru kita ke sana."
"Eh, jadi ngerepotin ...." Aida bersyukur keluarga Collins sangat baik dan berusaha membantunya. Ia sampai tak tahu lagi harus berkata apa pada mereka. "Terima kasih."
Bersambung ....