Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Senyum di Balik Lensa Gisel
Setelah pelukan erat yang membuat Raka hampir kehilangan napas karena malu sekaligus haru, Gisel kembali ke kursinya dengan wajah berseri-seri. Pengumuman berlanjut. Juara kedua disebutkan, hingga akhirnya nama Hana dipanggil sebagai juara pertama. Namun, Gisel menyadari sesuatu; Hana tidak tampak senang. Gadis itu maju ke panggung sendirian, tanpa ada wali murid yang mendampingi atau bersorak untuknya.
Sesi formal berakhir, dan kini tiba saatnya sesi foto bebas. Gisel, dengan energi yang seolah tidak ada habisnya, langsung mengambil alih komando.
"Ayo cepat! Kita foto di sana, latar belakang taman sekolah bagus!" seru Gisel sambil mengatur kamera ponselnya. "Diego, Kak Alya, ayo sini!"
Mereka berlima—Dewa, Gisel, Raka, Alya, dan si kecil Diego—berdiri berjajar. Tentu saja, yang paling bersemangat adalah Gisel. Ia bertindak bak fotografer profesional sekaligus sutradara galak.
"Mas Dewa! Raka! Kalau kalian nggak senyum, kita ulang terus fotonya sampai memori HP ini penuh!"
"Jangan!" jawab Dewa dan Raka kompak, ngeri membayangkan harus berpose berjam-jam di bawah komando Gisel. Akhirnya, dengan terpaksa namun tulus, keduanya memamerkan senyum tipis yang langka.
Alya tertawa kencang melihat pemandangan langka papa dan kakak laki-lakinya yang "tunduk" pada ibu sambung mereka. Diego pun ikut meloncat kegirangan di tengah-tengah mereka.
Di ujung taman, di balik kerumunan orang, Hana berdiri terpaku. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Hana adalah teman Raka sejak Sekolah Dasar dan mereka mulai menjalin kasih sejak kelas 2 SMA. Ia tahu persis betapa dingin dan tertutupnya Raka dulu. Namun hari ini, Hana merasa sangat bahagia; ia melihat Raka bisa kembali tersenyum dan tertawa lepas.
Hana tahu, kehadiran ibu baru telah mengubah "istana es" itu menjadi sebuah rumah yang hangat, meskipun Hana sendiri harus merayakan keberhasilannya hari ini dalam kesunyian..
Setelah sesi foto "paksa" yang membuat Dewa dan Raka pegal karena harus terus tersenyum, Gisel menurunkan ponselnya. Matanya yang jeli menyapu area taman, dan saat itulah ia menangkap sosok Hana yang berdiri sendirian di pojok lorong, memeluk piala juara satunya dengan tatapan yang tampak kosong dan sepi.
Tanpa aba-aba, Gisel menyerahkan ponselnya ke arah salah satu guru yang lewat. "Pak, tolong fotoin kami sekali lagi ya! Sebentar!"
Gisel berlari kecil ke arah Hana. "Hana! Sini, Manis! Kok malah bengong di situ?"
Hana kaget bukan main saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh Gisel. "Eh, Tante—maksud saya, Ibu... saya nggak apa-apa kok..."
"Nggak apa-apa gimana? Juara satu kok fotonya sendirian? Nggak estetis tahu! Ayo, masuk ke barisan!" Gisel menarik Hana paksa masuk ke tengah-tengah formasi keluarga Dewa.
Dewa membelalakkan mata, semakin bingung. "Gisel, siapa lagi ini? Kenapa dia ikut foto?" tanya Dewa dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, namun Gisel mengabaikannya.
"Udah, Mas! Diem aja, pasang muka gantengnya! Hana, kamu berdiri di antara Raka sama Alya ya," titah Gisel.
Raka? Jangan ditanya lagi. Cowok itu sudah seperti patung yang hampir retak karena menahan malu sekaligus detak jantung yang menggila. Hana berdiri tepat di sampingnya, bahu mereka bersentuhan tipis. Raka bisa mencium aroma parfum Hana yang lembut, membuatnya semakin salah tingkah dan tidak berani menoleh.
"Ayo, semuanya senyum! Satu... dua... tiga!" seru Pak Guru yang memegang kamera.
Cekrek!
Sebuah foto abadi tercipta. Dewa yang tampak gagah meski bingung, Gisel yang nyengir paling lebar, Alya dan Diego yang ceria, serta Raka dan Hana yang berpose kaku namun dengan rona merah yang sama di wajah mereka.