Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Langit mulai meredup saat Giana melangkah tanpa arah di tepi jalan. Angin sore berembus pelan, membawa dingin yang perlahan merayap ke tubuhnya. Ia memeluk Cayden lebih erat, mencoba melindungi bayi itu dari udara yang semakin tidak bersahabat.
Langkahnya tidak pasti, seolah ia berjalan hanya karena tidak tahu harus berhenti di mana. Giana benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana. Ia tidak punya tujuan ataupun tempat untuk kembali. Semuanya terjadi terlalu cepat.
Beberapa jam lalu, ia masih berada di kamar hangat itu, masih menggendong Cayden dengan perasaan yang mulai ia anggap sebagai kebahagiaan kecil di tengah luka yang belum sembuh. Namun kini, ia berada di luar, di tengah jalan yang asing, hanya dengan pakaian seadanya, sebuah tas berisi pakaian dan seorang bayi dalam pelukannya.
“Ke mana kita harus pergi, Cayden?” gumamnya seraya menatap Cayden yang terlelap dalam gendongannya. Beruntung hari ini Cayden tidak rewel sehingga tidak begitu menyulitkannya.
Giana menelan ludah pelan. Matanya mulai terasa panas.
Ia tidak memiliki apa pun, bahkan uang satu lembarpn tidak ia miliki. Bahkan, satu-satunya ponsel yang ia miliki tertinggal di kamar itu.
Langkahnya akhirnya melambat hingga berhenti di bawah sebuah tiang lampu jalan yang mulai menyala. Cahaya kekuningan itu jatuh tepat di atasnya, menciptakan bayangan panjang di trotoar yang sepi.
Giana menunduk, menatap wajah Cayden yang terlelap tenang. Bayi itu tidak mengetahui apa pun yang sedang terjadi, tidak mengerti bahwa hidup mereka baru saja berubah dalam sekejap. Dan justru karena itulah, dada Giana terasa semakin sesak.
“Aku harus bagaimana sekarang, Cayden?” bisiknya lirih. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang mulai mendesak keluar. Namun kali ini, ia tidak sekuat itu. Air matanya jatuh perlahan, satu per satu, tanpa suara.
Ia berdiri di sana, di tengah dunia yang terasa begitu luas dan asing, dengan satu-satunya hal yang ia miliki hanyalah bayi dalam pelukannya, satu-satunya alasan ia masih bertahan.
Sementara itu, di rumah besar yang kini terasa berbeda, Cameron baru saja tiba. Langkahnya saat memasuki rumah terasa sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, sebuah perasaan janggal yang sejak tadi mengganggunya, seolah ada sesuatu yang tidak beres.
Ia melepas jasnya sambil berjalan masuk ke ruang tamu.
Di sana, Bianca dan Regina terlihat tengah berbincang santai. Suasana di rumah itu tampak normal dan tidak ada yang aneh.
Cameron hanya melirik sekilas, lalu menyapa singkat.
Bianca menoleh dan tersenyum tipis. “Kau sudah pulang. Kemarilah dan mengobrol bersama kami,” ujarnya menepuk-nepuk sisi tempat duduknya.
Cameron hanya mengangguk dan tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung melangkah menuju tangga. Pikirannya tidak tenang sejak tadi, kepalanya terus dipenuhi oleh Giana dan juga Cayden.
Ia harap, kegelisahan itu hanyalah perasaannya saja dan begitu ia masuk ke dalam kamar, semuanya akan baik-baik saja. Namun, begitu ia membuka pintu kamar, hanya kekosongan yang menyambutnya.
Cameron mengernyit. Ia melangkah masuk, tatapannya menyapu seluruh ruangan. Tempat tidur itu terlihat rapi, tetapi barang-barang yang seharusnya ada kini tidak terlihat.
Sebuah rasa dingin menjalar di dalam dirinya.
“Giana?” panggilnya. “Kau di mana? Di mana Cayden?”
Tapi, sebanyak apa pun ia mencoba memanggilnya, tetap tidak ada jawaban. Lalu, ia keluar dari kamar, langkahnya mulai lebih cepat. Ia memeriksa ruangan lain, menyusuri lorong, bahkan menuju beberapa sudut rumah, namun hasilnya sama.
ia tidak menemukan Giana maupun Cayden di manapun. Perasaan janggal itu kini berubah menjadi kekhawatiran.
Cameron berbalik dan turun dengan langkah cepat. Ia kembali ke ruang tamu, tatapannya langsung tertuju pada Bianca dan Regina.
“Ada di mana Giana dan bayinya?” tanyanya tanpa basa-basi, seakan sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Bianca tidak terlihat terkejut, seolah ia sudah tahu pertanyaan itu pasti akan ditanyakan oleh putranya.
Bianca meletakkan cangkir teh yang sedang dipegangnya, lalu menatap Cameron selama beberapa detik.
“Ibu sudah mengusirnya keluar dari rumah ini,” jawabnya tenang.
Cameron terdiam. Untuk sepersekian detik, tubuhnya seolah kehilangan reaksi. Lalu perlahan, lututnya terasa lemas.
“Apa?” tanyanya tak percaya. “Kenapa Ibu mengusirnya? Kenapa Ibu tidak memberitahuku lebih dulu?”
Bianca mengedikkan bahu santai. “Memangnya itu perlu? Ibu hanya melakukan apa yang seharusnya. Wanita itu tidak seharusnya berada di rumah ini, karena keberadaannya di sini mengganggu ketenangan calon menantuku.”
Cameron menatap ibunya, matanya mulai mengeras.
“Atas dasar apa Ibu mengusirnya?” tanyanya lagi sekalipun Bianca sudah menjelaskan alasannya.
Bianca tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah map dari meja di sampingnya, lalu menyodorkannya kepada Cameron.
“Atas dasar apa katamu?” ulang Bianca, berdiri dan menatap Cameron tajam. “Atas dasar karena aku tidak akan membiarkan seseorang menipu keluarga ini,” katanya dingin.
Cameron terdiam, sementara regina yang sedari tadi hanya menonton tampak mendekati Cameron dan memeluk lengannya dengan manja.
“Apa istimewanya dia, Sayang? Dia itu penipu, kau sudah tertipu olehnya. Sadarlah, Cameo. Ibumu sudah melakukan hal yang benar, yaitu mengusirnya dari rumah ini,” katanya ikut membenarkan pernyataan Bianca demi mendapatkan perhatian dari calon ibu mertuanya.
Cameron menoleh dan menepis tangan Regina dari lengannya.
“Bacalah itu, Cameo. Kau pikir Ibu tak akan tahu? Sejak kapan kau menjadi begitu lugu?”
Cameron menerima map itu, dan tanpa membacanya pun, ia sudah tahu hasil tes paternitas itu. Ia sudah salah langkah, tidak mempertimbangkan hal kecil ini.
Ia kemudian meletakkan kembali map itu ke meja tanpa membacanya lalu menoleh pada Bianca. “Tapi tetap saja, Ibu tidak bisa mengusir cucu Ibu sendiri,” kata Cameron lirih lalu berbalik dari sana dengan cepat.
Bianca tampak bertanya-tanya, meskipun Cameron berkata dengan sangat pelan, tetapi ia bisa mendengarnya dengan jelas. “Apa katanya tadi? Cucu?”