Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menepati Janji
Cakra menatap tumpukan karung-karung goni yang menggunung di sudut gudang. Ia melangkah mendekat, merobek salah satu karung dengan ujung pedangnya . Butiran padi kualitas terbaik tumpah ke lantai . Padi yang seharusnya mengisi perut rakyat Selatan yang kini sedang berjuang melawan kelaparan.
"Lihat ini Riu !" desis Cakra, suaranya bergetar karena menahan amarah.
"Rakyatku memakan akar pohon di hutan, sementara tikus-tikus ini menimbun gunung emas dan padi di sini."
Cakra segera berbalik ke arah komandan pasukannya yang sedang bersiap.
"Kumpulkan seluruh hasil rampasan ini!" perintah Cakra lantang. "Hitung setiap keping emas dan padi yang ada di lumbung ini. Jangan sampai ada satu pun yang tertinggal atau masuk ke kantong pribadi kalian!"
"Siap, Pangeran! Ke mana kami harus membawanya?" tanya sang Komandan sembari memberi hormat.
"Bawa ke balai kota di perbatasan. Bagikan padi-padi ini kepada rakyat yang membutuhkan atas nama Raja Indra. Katakan pada mereka bahwa keadilan telah kembali." tegas Cakra.
"Dan emas-emas itu... masukkan ke kas negara untuk membangun kembali desa-desa yang terbengkalai. Pastikan pengawalannya ketat, aku tidak mau hasil curian ini dicuri kembali oleh penyamun lain di jalan!"
Setelah para prajurit bergerak dengan sigap mengangkut karung-karung padi tersebut, Cakra menghela napas panjang, mencoba membuang sisa ketegangan dari tubuhnya. Ia menyeka sisa debu coklat di dahinya dan menoleh ke arah Riu.
"Ayo, Riu. Tugas kita di sini benar-benar selesai. Biarkan mereka yang mengurus sisanya," ujar Cakra sambil berjalan menuju kudanya.
Riu menyusul di sampingnya. "Kita kembali ke istana sekarang, Pangeran?"
Cakra menggeleng . " Tidak.., Ada janji yang harus segera kutepati Riu ."
Riu seketika mengerutkan dahinya " Apa maksudmu pangeran ? Apa ini soal Nayan . Apa yang ingin kau lakukan padanya ? Menikahinya ? Apa kau tidak pernah memikirkan kedepannya pangeran . Bagaimana gadis seperti itu bisa masuk ke dalam istana . " Riu sedikit emosional .
" Riu.. keputusasaan ku ini sudah bulat ! Dan aku sama sekali tidak perduli dengan status Nayan . " Cakra melayangkan tatapan tajamnya pada Riu .
Riu terdiam sejenak, menatap dari samping pangerannya yang tampak sangat serius. "Kau benar-benar yakin dengan keputusan ini pangeran ? Menikahinya sebagai pengembara? Atau kau akan mengatakan pada Nayan tentang siapa dirimu yang sebenarnya ."
"Aku ingin dia mencintaiku sebagai pria biasa, bukan karena mahkota yang aku pakai. Aku ingin pernikahan ini murni. Setelah janji suci itu terucap dan dia sah menjadi istriku . barulah aku akan membawanya ke istana dan mengungkap siapa aku sebenarnya."
Cakra naik ke atas pelana kuda, menatap ke arah jalur hutan yang menuju ke gubuk.
"Aku hanya berharap..." gumam Cakra nyaris seperti bisikan . "bahwa saat dia tahu siapa aku yang sebenarnya, dia tidak akan merasa dikhianati."
Riu hanya bisa menghela napas, mengikuti pangerannya yang mulai memacu kuda menembus kabut pagi. Di dalam kepalanya, Riu hanya bisa berdoa semoga rencana ini tidak berakhir menjadi sebuah bencana bagi mereka berdua .
***
Nayan bergerak dalam sunyi yang mencekam. Jemari yang biasa dia gunakan untuk menggenggam senjata, kini sedikit gemetar saat memasukkan pakaian lusuhnya ke dalam kain bungkusan. Setiap gerakannya terasa berat, seolah udara di dalam gubuk itu menahannya untuk tetap tinggal.
"Cakra dan Riu belum kembali.." bisik Nayan pada kesunyian, matanya melirik ke arah dipan kayu. "Dan Ana sedang tidur pulas. Ini satu-satunya kesempatanku."
Nayan mengedarkan pandangan, menyapu setiap sudut gubuk yang selama ini melindunginya. "Terima kasih, Cakra.." gumamnya dengan suara parau.
Air mata Nayan akhirnya luruh juga. "Kau memberiku rasa aman yang selama ini hanya jadi mimpi bagi seorang pembunuh sepertiku. Kau membuatku merasa punya keluarga."
Dengan langkah yang diseret beban batin, ia menghampiri Ana. Nayan berlutut, menatap wajah damai gadis kecil itu dengan perasaan hancur. Ia membungkuk, mencium puncak kepala Ana dengan penuh kasih sayang.
"Cakra pasti akan menjagamu, Ana . " bisiknya pelan.
Namun, saat Nayan baru saja berdiri dan hendak melangkah keluar, sebuah tangan mungil tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya. Nayan tersentak.
"Kakak... jangan pergi ! " suara Ana terdengar serak, matanya hanya terbuka setengah karena kantuk. "Tetaplah di sini bersama ku..."
Nayan mematung. Keinginan kuatnya untuk lari seolah luruh seketika. Jiwa Sedra yang dingin biasanya akan melepaskan tangan itu tanpa ragu, namun kali ini ia merasa lumpuh oleh rasa sayang yang asing.
Belum sempat Nayan menjawab, tiba-tiba suara gedoran keras menghantam pintu gubuk.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Keluar! Hei, siapa saja yang ada di dalam, keluar sekarang!" teriak seorang pria dari luar, diikuti riuh rendah suara banyak orang.
Nayan refleks meraba belati di balik pinggangnya. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya sedikit. Di luar, terlihat sekelompok warga desa membawa obor dengan wajah penuh kecurigaan.
"Jadi benar, ada perempuan asing di sini!" seru seorang pria tua yang memimpin rombongan.
"Kami mendapat laporan kalau ada gadis tanpa asal-usul tinggal satu atap dengan dua pria tanpa ikatan pernikahan. Benar-benar merusak moral desa kita!"
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Nayan, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.
"Tidak penting siapa yang bicara!" sahut seorang wanita di belakang kerumunan.
"Yang jelas, kabar soal gadis liar yang tinggal di gubuk ini sudah menyebar. Kami tidak mau desa kami kena sial karena perbuatan zina kalian!"
Nayan mengepalkan tangannya. Dia tak tau ini ulah siapa . Tapi yang jelas orang itu pasti telah memiliki dendam pribadi padanya .
"Kalian salah paham!" ujar Nayan tegas. "Dua pria yang tinggal di sini adalah orang baik. Mereka menolongku saat aku hampir mati di hutan . "
"Halah! Mana ada pria baik-baik membawa gadis yang tidak jelas asal usulnya ke dalam rumahnya jika bukan untuk berbuat kotor . " cibir salah satu warga.
"Keluar sekarang! Kita bawa masalah ini ke kepala desa sebelum gubuk ini kami bakar!"
Ana yang kini sudah bangun sepenuhnya, berlari ke arah Nayan dan memeluk pinggangnya dengan erat sambil menangis ketakutan. "Kakak... ada apa? Kenapa mereka terlihat marah sekali kak ?"
Nayan berdiri tegak, memposisikan dirinya di depan Ana sebagai pelindung. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan warga yang mulai terprovokasi.
"Jangan takut, Ana," bisik Nayan, meski hatinya berkecamuk.
Bersambung....
🦋🦋🦋🦋