Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN SANG PANGERAN PASIR
Setelah badai pengkhianatan yang dipicu oleh hasutan Rendra mereda, suasana di kantor pusat Raffansyah Group jauh lebih tenang. Fajar Iskandar yang semula datang dengan api amarah, kini duduk lemas di sofa ruang kerja Fardan. Rasa malu yang begitu besar sempat membuatnya ingin membubarkan perusahaannya sendiri dan menghilang dari hadapan sepupunya.
"Aku tidak pantas berada di sini, Fardan. Aku hampir saja menghancurkanmu hanya karena percaya pada mulut manis ayahku," ucap Fajar dengan kepala tertunduk.
Fardan menepuk bahu sepupunya itu dengan mantap. "Lupakan soal itu, Fajar. Kita semua bisa tertipu oleh orang yang kita sayangi. Jangan tutup perusahaanmu. Justru ini saatnya kita menunjukkan bahwa aliansi Iskandar dan Raffansyah tidak bisa dipatahkan oleh siapapun. Kita akan bekerja sama sebagai mitra."
Fajar menatap Fardan dengan haru, lalu mengangguk setuju. Setelah menyelesaikan pertemuan dengan beberapa klien penting yang sempat beralih, Fajar mengajak Fardan makan siang di sebuah kafe bergaya klasik yang tidak jauh dari kantor. Di sana, mereka mulai mengobrol dengan santai seperti masa-masa kuliah dulu.
"Selama aku di luar negeri, rasanya sepi sekali. Hidup di sana sangat mekanis. Kerja, pulang, tidur. Tidak ada yang benar-benar menarik," cerita Fajar sembari menyeruput kopi hitamnya.
Fajar kemudian teringat pada serangan siber yang membongkar borok ayahnya tempo hari. "Omong-omong, siapa orang jenius di belakangmu yang bisa meretas sistemku dengan begitu elegan? Aku benar-benar ingin bertemu dengannya."
Fardan tertawa kecil, ia menyandarkan punggungnya di kursi. "Kau tidak akan percaya jika aku memberitahumu. Dia adalah anakku, Ghifari."
"Anakmu?" Fajar terbelalak hingga hampir menjatuhkan sendoknya. "Kau sudah punya anak? Dan kau bilang dia yang meretasku? Fardan, jangan bercanda. Aku tahu kau jenius, tapi melahirkan peretas dalam waktu sesingkat itu adalah hal yang mustahil."
Fardan tersenyum bangga. "Alisha dan aku sudah kembali bersama. Kami memiliki putra berusia lima tahun yang kecerdasannya berada di luar nalar manusia biasa. Dia jarang bermain seperti anak kecil lainnya. Teman setianya hanyalah tablet canggih dan buku-buku tebal tentang algoritma."
Fajar segera menarik lengan jas Fardan dengan antusias. "Ayo! Bawa aku menemuinya sekarang. Aku ingin melihat keponakanku yang katanya 'super computer' dalam wujud manusia itu."
Karena bertepatan dengan jam istirahat sekolah, Fardan akhirnya menyetujui ajakan Fajar. Mereka meluncur menuju sekolah elit tempat Ghifari menuntut ilmu. Fardan sengaja parkir agak jauh agar bisa memantau anaknya dari kejauhan melalui pagar tanaman yang tertata rapi.
"Lihat itu," tunjuk Fardan ke arah lapangan bermain.
Fajar mengernyitkan dahi. Di kejauhan, ia melihat seorang bocah laki-laki kecil dengan seragam rapi sedang berlari-lari kecil di taman bunga. Di sampingnya ada seorang gadis kecil berambut ikal dengan pita merah yang sibuk berteriak kegirangan.
"Fardan, kau sedang mengerjaiku ya?" tanya Fajar sembari menunjuk ke arah bocah itu. "Katanya jenius dingin yang anti sosial? Itu dia sedang mengejar kupu-kupu kuning bersama seorang anak perempuan. Dia terlihat sangat... normal. Bahkan sangat lucu saat tersandung akar pohon tadi."
Fardan tertegun. Ia sendiri hampir tidak percaya melihat Ghifari yang biasanya bicara tentang hukum termodinamika kini sedang memutar-mutarkan jaring plastik kecil di udara demi menangkap seekor kupu-kupu.
"Ghifari!" panggil Fardan dari balik pagar.
Bocah itu berhenti berlari. Ia menoleh, lalu setelah menyadari ayahnya datang, ia segera merapikan seragamnya dan berjalan mendekat dengan langkah yang kembali kaku dan berwibawa. Bella, gadis kecil itu, mengikuti di belakangnya dengan wajah penuh peluh.
"Selamat siang, Ayah. Ada keperluan apa Anda datang di luar jam kepulangan resmi?" tanya Ghifari saat sudah berada di depan Fardan. Suaranya kembali datar dan sangat sopan.
Fajar melongo mendengar gaya bicara bocah itu. Ia segera berjongkok agar tingginya sejajar dengan Ghifari. "Halo, Jagoan! Kenalkan, namaku Fajar. Aku sepupu ayahmu."
Ghifari menatap Fajar dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang melakukan pindai keamanan. "Oh, jadi Anda Om Fajar yang sempat kehilangan kendali atas server perusahaannya sendiri kemarin pagi? Senang bertemu dengan Anda secara fisik."
Wajah Fajar seketika memerah karena malu. "Wah, jadi benar kau yang melakukannya?"
"Itu hanya langkah preventif, Om. Tapi sepertinya Ayah sedang memaksaku melakukan eksperimen sosial hari ini," jawab Ghifari sembari melirik Bella yang berdiri di sampingnya.
"Ayah lihat kau sangat asyik mengejar kupu-kupu tadi, Ghifari. Bukankah kau bilang itu membuang energi?" goda Fardan.
Ghifari berdehem, mencoba menyembunyikan rasa malunya. "Secara teknis, benar. Namun, Putri Bella di sini bersikeras bahwa kupu-kupu tersebut adalah utusan dari kerajaan peri yang harus diselamatkan. Aku hanya membantunya dalam misi evakuasi agar ia berhenti menangis dan mengganggu konsentrasiku saat membaca buku arsitektur."
Bella menarik ujung baju Ghifari. "Ghifari, ayo main lagi! Tadi pangerannya belum berhasil tangkap peri kuningnya!"
"Peri kuning itu adalah Eurema hecabe, Bella. Dan dia tidak punya pesan dari kerajaan manapun," koreksi Ghifari dengan nada serius.
Fajar tertawa terbahak-bahak mendengar perdebatan itu. "Fardan, anakmu ini benar-benar unik! Dia bicara seperti profesor tapi penampilannya seperti pangeran kecil di tengah taman."
"Om Fajar, apakah Anda ke sini hanya untuk mengobservasi kegiatanku? Jika tidak ada hal mendesak tentang enkripsi data, aku harus kembali ke kotak pasir. Sistem drainase istana kami butuh perbaikan sebelum penyiram taman otomatis menyala," ucap Ghifari dengan sangat dewasa.
Fardan mengelus rambut anaknya. "Tidak, Ayah hanya ingin mengenalkan Om Fajar. Kembalilah bermain, Ghifari. Ingat pesan Ayah, nikmati waktu bermainmu."
"Baiklah, Ayah. Permisi, Om Fajar. Semoga sistem keamanan Anda hari ini jauh lebih baik dari kemarin," sindir Ghifari sebelum berbalik dan mengikuti Bella kembali ke kotak pasir.
Fajar berdiri dan menatap punggung kecil keponakannya itu dengan rasa kagum yang tak henti. "Dia luar biasa, Fardan. Kau benar-benar memiliki harta yang sangat berharga. Pintar, namun di sisi lain, dia tetaplah anak kecil yang terpaksa jadi pangeran demi teman perempuannya."
Fardan mengangguk setuju. "Itu berkat Alisha. Dia yang selalu menjaganya tetap membumi. Sekarang kau percaya kan kalau dia memang jenius?"
"Sangat percaya. Bahkan aku merasa sedikit terintimidasi oleh bocah lima tahun," sahut Fajar jujur.
Mereka pun meninggalkan sekolah dengan perasaan ringan. Di balik kecerdasan yang menakutkan, ternyata Ghifari masih memiliki sisi kemanusiaan yang tumbuh berkat kehadiran teman sebaya seperti Bella. Fardan merasa bersyukur, karena meski dunia luar penuh dengan muslihat bisnis, di dalam taman sekolah itu, putranya sedang belajar tentang sesuatu yang tidak ada dalam bahasa pemrograman: persahabatan dan imajinasi.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Fardan tidak menyadari bahwa di kejauhan, ada seseorang yang terus memantau setiap gerak-gerik mereka dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Bayangan masa lalu belum sepenuhnya menghilang, dan kebahagiaan keluarga kecil ini akan segera diuji kembali oleh sosok yang selama ini bersembunyi di balik layar.
jgn cari gara2 gani.