NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bentrokan

Tiba-tiba bulu halus burung itu mengembang, matanya membelalak, garis pandangnya perlahan bergeser.

Kepalanya berpaling, melihat keluar jendela mengabaikan meja itu.

...Udara menjadi berat, keheningan terasa mencekik Rifana dengan keras, tubuhnya merinding mengikuti pandangan burung itu

Sesuatu, ada sesuatu di luar.

makhluk itu berbalik, dengan kesiapan minim melesat pergi, menyisakan deru angin mengguncang ruangan itu.

Sekejap, keberadaannya menghilang dari tempatnya.

Rifana tertegun, baru saja hidupnya berada di tenggorokannya, sekarang makhluk itu menghilang tanpa jejak.

...

Seakan tak pernah ada apapun disana.

Rifana bahkan akan percaya jika seseorang mengatakan dirinya berhalusinasi.

Namun, bulu yang berserakan di lantai mengatakan sebaliknya.

'Apa apaan itu?' Matanya bahkan tak bisa menangkap apapun, meski terjadi tepat di hadapannya.

Rifana merangkak keluar dari persembunyiannya 'Itu pasti mutasi burung tingkat tinggi' Dia berusaha keras mencari alasan, ketidaktahuan adalah hal terburuk yang ditakutinya.

Dengan adanya Superhuman, Rifana tentu saja mengantisipasi munculnya monster dengan level yang lebih tinggi.

Tak perlu menyebutkan titan itu, pada tahap ini burung itu bisa saja membantai shelter yang dibangun para survivor.

Pertemuan sial seperti ini sudah terjadi sebelumnya, dan dia benar-benar beruntung makhluk-makhluk itu pergi setelah mengamatinya sebentar.

Dia menenangkan dirinya sendiri dan memutuskan untuk mengendap menuruni tangga.

Langkahnya patah, saat kakinya bergetar.

'Gua harus pergi!' Namun, sebelum Rifana melakukannya.

Dentuman mengerikan dari luar, membuat dia bergidik terdiam.

Kepalanya menoleh tanpa sadar, jendela itu telah hancur sepenuhnya '...?' Langkahnya terhenti, kesunyian telah pergi sepenuhnya digantikan oleh kekacauan mengerikan yang bergema di telinga Rifana.

Bruak...

Suara kehancuran terus berkumandang, Rifana dengan langkah tertatih menghampiri jendela yang kini telah rusak.

Suara tabrakan berulang kali terdengar dari luar, sesuatu yang keras.

Dia bersembunyi di sudut, matanya mengintip ke luar di mana semua itu terjadi.

Drum..

Sangat tidak terduga, dengan cahaya remang yang menyinari bumi sosok gelap terlempar dengan keras menabrak rumah di seberang Rifana.

Bangunan itu runtuh setelah bentrokan keras, pilar besar yang menopang pondasinya patah dan terjatuh di tanah.

makhluk kembali berdiri.

Dengan sedikit tenaga, ia melebarkan sayap perkasanya, kukunya mencengkram patahan pilar.

Tanpa aba-aba, sayapnya terangkat sedikit dan "woshh" Dia menghilang dari tempat itu.

'Mutan tadi' Rifana mengintip melalui jendela, menyaksikan seluruh adegan itu.

Burung itu muncul di langit, cakarnya mencengkram pilar beton yang keras.

Matanya penuh kebencian, sayapnya mengepak mengitari langit yang terpecah, seolah mencari sesuatu.

Kecepatan burung itu, sama sekali tak bisa dilihat oleh mata telanjang Rifana.

Itu berada di tingkat yang lebih tinggi darinya saat ini, dengan perawakannya burung itu memancarkan aura dominasi aneh ke sekelilingnya.

Burung itu melambat.

Dengan bantuan sayapnya dia melayang di langit, dengan angkuh menatap rendah ke bumi, cahaya retakan di langit mengekspos wujudnya yang sebenarnya.

Dengan paruh bengkok yang berlumuran darah, sayapnya membentang sepanjang enam meter dengan bulu lusuh penuh bercak hitam.

Dia berputar di langit sebelum menukik turun dengan kecepatan suara.

Rifana jatuh, dalam kesadarannya sebuah rumah di kejauhan telah roboh ditimpa pecahan pilar beton.

Burung itu, bermanuver kembali ke langit.

Debu berterbangan menutupi kehancuran yang terjadi, dan dari kehampaan sebuah raungan mengerikan terdengar di seluruh tempat.

"Rarghhh.." Dari balik reruntuhan, sosok baru terungkap kulit gelapnya berkilau dengan aneh memantulkan kembali cahaya retakan.

Debu puing perlahan menyebar, sebuah ekor panjang melesat menerbangkan batuan besar ke langit.

Menyaksikan kadaan yang semakin kacau, Rifana berusaha bangun, namun kakinya tak memiliki tenaga.

Burung itu bereaksi dengan cepat, sayapnya turun dan naik menghindari benda yang dilemparkan padanya.

Serangan yang meleset membuat makhluk dibalik bayangan rumah itu mengamuk.

Sosoknya yang besar menghilangkan seluruh indra Rifana untuk sesaat 'Yang lainnya!' Dia tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun.

Dengan tubuh lebih dari lima meter, buaya mutan itu memiliki panjang hampir dua puluh meter hanya dengan berdiam diri.

Ekornya dilapisi bilah bilah tajam alami yang tercipta dari mutasi lanjutan tingkat tinggi.

Tubuhnya memiliki sesuatu yang tak pernah Rifana duga, gumpalan-gumpalan hijau menonjol dari dalam layaknya organ tubuh.

Benda itu memancarkan sinar lemah yang berdenyut seolah hidup 'Sialan!' Rifana dibuat khawatir, selama perjalanannya kemari memang tak ada gangguan yang terjadi.

Namun, ada banyak kejanggalan.

Salah satunya adalah itu.

Dia memaksa tubuhnya, dan berdiri.

Matanya fokus ke jalanan yang kosong dan memang benar 'itu!' ada di seluruh jalanan selama ini.

...

Tubuh Rifana lemas, dia mengabaikan itu selama ini.

Mulai dari rumahnya, hingga kemari benda itu tersebar di berbagai tempat, gumpalan hijau yang berdenyut. Menempel layaknya parasit.

Rasa takut mulai mengambil alih dirinya.

Ini Wilayahnya! Tubuh Rifana menegang dalam sekejap, adrenalin tinggi mengambil alih dirinya.

Bergerak, atau mati.

Dia berbalik tas dipunggungnya tak ditutup dengan rapih, menumpahkan setengah isinya.

Rifana tak menghiraukannya, menuruni tangga dia menyelinap pergi dari rumah.

Tep.. Tep.. Bruak..

Suara langkahnya disamarkan oleh kekacauan, dia berlari melompati pagar besi pendek di belakang, langkahnya tak karuan.

Tubuhnya hanya tahu satu hal saat ini.

Bahaya! Tempat ini! Sangat berbahaya!

Langkahnya terus dipercepat, pertarungan di belakangnya semakin sengit saat lemparan berulang si buaya mengenai sayap burung itu.

Rifana tak tau apa yang terjadi di belakang, hanya pekikan dan raungan intens yang bisa didengarnya.

'Gua harus pergi!'

...

Burung itu memekik marah, kehilangan keseimbangan tak menghentikan dirinya.

Dengan sayap yang terluka, ia melesat.

Berputar menukik dengan paruh berdarahnya, menciptakan efek ilusi spiral aneh yang terdistorsi.

makhluk itu menerobos turun, putarannya semakin cepat meningkatkan daya hancurnya.

Buaya mutan di bawahnya tidak menghindar, matanya bersinar dengan cahaya kehijauan yang aneh.

Dia merobek organ hijau acak dari tubuhnya dan melemparkannya pada pusaran spiral itu, dengan kehendak aneh, organ hijau kecil itu berdenyut, ukurannya membengkak menghalangi burung itu untuk menyerang langsung.

Dengan putaran secepat itu, mutan burung tak dapat berhenti. Dia terus menerobos hingga akhirnya menabrak gumpalan itu.

Splash..

Organ hijau diledakan, cairan hijau korosif menyelimuti burung itu.

Jeritan kesakitan merenggut nyawanya dengan cepat, bulunya terbakar saat dagingnya meleleh, paruh berdarahnya telah patah.

Ia meronta kesakitan, mati.

...

Dengan adrenalin yang dipicu hingga batasnya Rifana terus berlari kembali, jalanan kosong membuatnya merinding setiap saat.

Gumpalan-gumpalan hijau menempel di berbagai tempat, entah apa gunanya.

Langkahnya tertatih-tatih.

Rifana kacau, diselimuti oleh rasa takut. Dia hanya bisa berlari untuk saat ini, rasa janggal masih memeluknya entah darimana.

'Sedikit lagi!' Dia sudah setengah jalan, nafasnya tak beraturan, udara masuk dan keluar terlalu cepat membuatnya sesak nafas.

Ha.. Ha...

Keringat dingin bocor dari tubuhnya, langkahnya terhenti.

Matanya menangkap sesuatu.

Jalurnya tak lagi kosong, sosok gelap merangkak mundur, bentuknya aneh.

Diselimuti sisik gelap, makhluk itu bergerak ke arah Rifana menyeret sesuatu.

Rifana menatap makhluk itu, tubuhnya mulai kehilangan tenaga saat adrenalinnya perlahan habis.

Saat sosoknya menjadi jelas, notifikasi sistem mengganggunya.

[Misi Diperbarui!]

Rifana berdiri dengan waspada, dia hanya melihat panel sistem dari sudut matanya.

Satu kakinya bertumpu ke belakang, golok di tangannya diarahkan kedepan, mengincar makhluk itu.

[Ditemui! Keturunan Mutan Spesial : Abomination Crocodile]

makhluk itu, kini menyadari keberadaan Rifana.

Rahangnya terbuka melepas sesuatu yang diseretnya, dia merangkak dengan gesit menyerbu Rifana.

Lupakan tentang sistem, Rifana tak bisa teralihkan sekarang.

Jika tidak, mati.

Bentrokan tak terhindarkan, ekor setajam pedang ditebaskan kearah leher Rifana 'Ugh' Dengan sekuat tenaga, dia menahan ekor itu dengan goloknya.

Tnk...

'Sangat kuat!' Kibasan ekor itu mendorong mundur Rifana, tangannya gemetar mati rasa.

makhluk reptil itu tak memberikan Rifana kesempatan, gerakannya semakin cepat dan mengancam.

Dengan dorongan dari ekornya, reptil itu menerkam Rifana mencakar pergelangan tangannya demgan keras.

Daging dirobek dari tangannya, darah mengalir keluar darinya. Sekali lagi, ekor tajam itu melesat tepat di wajah Rifana.

Tangannya lemas terangkat keatas, mencoba menangkis, dan.

Clank...

Golok itu terlepas dari genggamannya, membentur luka di pelipisnya kembali terbuka.

Rifana terlempar kebelakang.

Berguling di aspal yang dingin seluruh tubunya mati rasa, tenaganya perlahan berangsur habis.

Tergeletak tanpa daya, golok itu kini terlempar jauh kebelakang.

Reptil itu mengeluarkan geraman mengejek menatap Rifana yang terbaring tanpa daya, potongan daging di cakarnya dilepas dengan bantuan ekornya.

Ekor itu melemparkan daging Rifana kedalam mulut reptil itu.

...

Layaknya camilan, makhluk itu menghampiri Rifana.

'Jadi ini akhirnya?' Rifana putus asa menatap pergelangan tangannya, pulang seputih susu terlihat dengan jelas.

Kondisinya setelah ledakan adrenalin adalah yang terburuk, semua rasa sakit dan semua emosi, membeludak masuk ke tubuhnya.

Gelombang penyiksaan lain akan menghampirinya 'Persetan..' Dia tak bisa menahan diri untuk mengutuk.

Nafasnya tersengal-sengal saat makhluk itu di hadapannya.

Dia hanya bisa bergerak sekali lagi, setelah itu dia akan pingsan 'Apa bedanya dengan kematian' Satu gerakan tambahan hanya meberinya sedikit waktu lain untuk menyesal.

makhluk itu mengangkat ekornya.

Dan.

"Ah.." Diambang kesadarannya Rifana mendengar sesuatu, langkah kaki cepat menghampirinya dari suatu tempat.

Pandangannya melewati reptil itu, di belakangnya.

Seseorang berlari.

"Menghindar!!!" Suara teriakan di mengejutkan keduanya, tanpa sadar Rifana mengerahkan seluruh tenaganya.

Stab.. Ekor tajam itu menusuk m tepat di samping luka Rifana, pelipisnya berdarah hebat.

Swish...

Bang..

Kesadaran Rifana memudar...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!