Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Namun, hal aneh terjadi. Tubuh Hao Qi tidak bergeming sedikit pun. Ia duduk sekokoh batu karang.
"Hah?"
Lin Tao mencoba menariknya lagi dengan tenaga penuh, namun hasilnya nihil.
Hao Qi menghela napas pendek. Ia mengangkat tangan kanannya dengan santai, lalu meletakkan telapak tangannya di atas tangan Lin Tao yang mencengkeram kerahnya.
"Lin Tao, kita ini seorang mahasiswa yang berpendidikan. Tidak pantas rasanya menggunakan kekerasan di dalam ruang kelas," ucap Hao Qi dengan nada lembut yang dipaksakan.
"Omong Kosong! Lepaskan tanganmu, Sampah!"
Hao Qi tersenyum lebar. Jari-jarinya perlahan mencengkeram punggung tangan Lin Tao.
"Krek..."
Suara pelan tulang yang tertekan terdengar samar.
"Argh!!"
Lin Tao tiba-tiba menjerit melengking. Wajahnya pucat pasi. Ia merasa seolah tangannya sedang dijepit oleh mesin pres hidrolik. Rasa sakit yang tajam menjalar dari punggung tangannya hingga ke bahu.
"Lepas! Lepaskan! Sakit! Tanganku mau patah!" jerit Lin Tao sambil berlutut di lantai kelas, berusaha mengurangi tekanan pada tangannya.
Dua teman Lin Tao yang tadinya berdiri di belakang langsung tersentak kaget. Mereka maju untuk memukul Hao Qi.
"Hei! Lepaskan Kakak Tao!" teriak salah satu temannya sambil mengayunkan tinju ke arah wajah Hao Qi.
"Wush!"
Hao Qi tidak panik. Ia menggeser kepalanya ke samping dengan gerakan yang sangat minim namun akurat. Tinju itu meleset jauh.
"Brak!"
Tanpa berdiri dari kursinya, Hao Qi mengangkat kaki kanannya dan menendang pelan perut teman Lin Tao tersebut.
"Ugh!"
Pemuda berbadan besar itu langsung terpelanting ke belakang, menabrak meja di belakangnya hingga terguling ke lantai sambil memegangi perutnya.
Teman Lin Tao yang satu lagi langsung membeku di tempat. Nyalinya ciut seketika melihat temannya yang berbadan besar dijatuhkan hanya dengan satu tendangan santai dari posisi duduk.
"Nah, sudah kubilang jangan pakai kekerasan," ucap Hao Qi dengan senyum ceria. Ia lalu melepaskan cengkeramannya dari tangan Lin Tao.
Lin Tao buru-buru menarik tangannya. Ia memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah dan gemetar hebat. Ia menatap Hao Qi dengan tatapan horor, seolah baru saja melihat hantu.
"K-kau... apa yang kau lakukan?!"
"Aku hanya memintamu melepaskan cengkeramanmu, Tuan Muda Lin. Tanganmu sendiri yang terlalu lemah," jawab Hao Qi santai sambil merapikan kerah kausnya.
"Kriet..."
Pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar. Seorang pria paruh baya berkacamata tebal dan membawa setumpuk buku tebal melangkah masuk. Itu adalah Profesor Wang.
"Ada keributan apa ini? Kenapa kalian bergelimpangan di lantai kelas saya?!" tegur Profesor Wang dengan suara baritonnya yang tegas.
Seluruh mahasiswa langsung duduk tegak di kursi masing-masing.
Lin Tao yang masih berlutut di lantai buru-buru berdiri. Ia menatap Profesor Wang, lalu menunjuk Hao Qi dengan jarinya yang gemetar.
"P-Profesor! Hao Qi memukul kami! Dia menyerang saya dan teman saya tiba-tiba!" adu Lin Tao dengan wajah memelas.
Profesor Wang menaikkan alisnya. Ia menatap Hao Qi yang duduk dengan tenang, mencatat sesuatu di bukunya dengan senyum tipis. Lalu ia menatap dua teman Lin Tao yang salah satunya masih memegangi perut.
"Hao Qi menyerang kalian bertiga? Anak yang biasanya jadi bulan-bulanan kalian ini bisa menjatuhkan kalian berdua?" Profesor Wang mendengus pelan, jelas tidak percaya.
"Itu benar, Profesor! Tanganku hampir dipatahkannya!"
"Cukup, Lin Tao. Jangan membuat alasan yang konyol. Duduk di kursi kalian sekarang," perintah Profesor Wang tegas.
"Tapi, Prof—"
"Duduk! Atau kalian semua keluar dari kelas saya. Dan ngomong-ngomong soal presentasi, saya sudah membaca bagian milik Hao Qi semalam. Sangat rapi. Sayangnya, karena kalian bertiga tidak mengirimkan apa-apa, nilai kelompok kalian saya batalkan, kecuali Hao Qi."
"Apa?!"
Lin Tao membelalakkan matanya. Hukuman itu sangat fatal untuk nilainya. Ia menatap tajam ke arah Hao Qi dengan penuh kebencian, namun Hao Qi hanya membalasnya dengan mengangkat bahu dan tersenyum tanpa dosa.
Lin Tao dan kedua temannya akhirnya kembali ke kursi mereka di barisan belakang dengan perasaan menahan malu yang luar biasa. Sepanjang kelas berlangsung, Lin Tao tidak berani menatap ke arah depan.
Dua jam pelajaran berlalu dengan cepat.
Hao Qi menutup buku catatannya saat Profesor Wang keluar kelas. Ia merasa sangat puas. Menghadapi orang-orang sombong tanpa rasa takut ternyata memberikan sensasi kebebasan yang luar biasa.
"Hei, Hao Qi."
Zhou Ming yang duduk di seberang meja memanggilnya dengan suara berbisik setengah takjub.
"Ada apa, Zhou Ming?" Hao Qi menoleh sambil tersenyum.
"Kau... kau gila ya? Bagaimana kau bisa sekuat itu? Lin Tao dan si beruang besar itu kau buat tidak berdaya tanpa berdiri dari kursi!"
"Hanya kebetulan, Zhou Ming. Aku belakangan ini sering mengangkat galon air di restoran tempatku bekerja paruh waktu. Jadi tenagaku sedikit bertambah," Hao Qi tertawa renyah, memberikan alasan yang paling masuk akal.
"Bukan main. Mulai sekarang, sepertinya tidak akan ada lagi yang berani menyuruh-nyuruhmu di kelas ini," Zhou Ming mengacungkan jempolnya.
Hao Qi mengangguk pelan. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas selempangnya lalu berdiri.
"Aku harus pergi dulu, Zhou Ming. Ada urusan yang harus kuselesaikan siang ini."
"Kau mau kemana? Tidak makan siang di kantin?"
"Tidak, aku mau ke pasar grosir di distrik timur."
"Pasar grosir? Mau beli apa kau ke sana?"
"Hanya mencari beberapa barang murah," Hao Qi tersenyum misterius.
Di dalam benaknya, rencana selanjutnya sudah tersusun rapi. Ia memiliki modal sepuluh ribu Yuan tunai. Pasar grosir adalah surga bagi pedagang sepertinya. Jika sebuah korek api gas seharga satu Yuan bisa ditukar dengan emas murni, barang modern apa lagi yang bisa ia jual ke alam kultivasi dan alam fantasi?
Hao Qi melangkah keluar dari ruang kelas. Langkahnya ringan dan penuh percaya diri. Dunia barunya sebagai pedagang lintas alam baru saja benar-benar dimulai.