NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Hari Minggu tiba dengan cuaca yang sangat cerah, namun bagi Agus, langit yang biru bersih itu seolah sedang mengintimidasi dirinya. Sejak fajar menyingsing, ia sudah gelisah. Ia membantu ibunya menimba air lebih banyak dari biasanya agar bisa mandi dengan sangat bersih. Ia menggosok kulit lengannya dengan sabun batangan berkali-kali, menggunakan sikat cuci baju yang kasar untuk memastikan sisa-sisa debu semen yang sudah mengendap berbulan-bulan di pori-porinya bisa hilang sepenuhnya. Namun, noda hitam di bawah kuku dan kapalan di telapak tangannya adalah saksi bisu yang tidak bisa dihapus hanya dengan sabun.

Agus berdiri di depan cermin kecil yang sudutnya sudah berjamur di dalam kamarnya yang pengap. Kemeja kotak-kotak biru tua yang kancingnya ia jahit sendiri semalam sudah melekat di tubuhnya. Kemeja itu sedikit kebesaran karena berat badannya turun drastis akibat kerja lembur belakangan ini, tapi setidaknya kemeja itu rapi karena sudah disetrika oleh ibu agus dengan setrika arang hingga licin dan mengeluarkan aroma khas pakaian yang dijemur di bawah matahari.

"Gus, ini ada uang sepuluh ribu lagi. Simpan di kantong kiri, buat jaga-jaga kalau kurang buat bayar parkir atau beli minum tambahan," ucap ibu agus sambil berdiri di ambang pintu kamar. Ibunya menatap Agus dengan binar mata bangga sekaligus sedih. Di mata seorang ibu, Agus terlihat sangat tampan hari ini, meskipun wajahnya tidak bisa menyembunyikan garis-garis kelelahan yang permanen.

"Tidak usah, Bu. Uang lembur kemarin masih ada sisa sedikit. Ibu pegang saja buat beli lauk Bapak nanti sore," tolak Agus halus. Ia tahu betapa berartinya sepuluh ribu itu bagi dapur mereka.

"Sudah, bawa saja. Laki-laki itu harus pegang uang lebih kalau sedang menemui perempuan. Biar hatimu tenang, tidak perlu bingung kalau ada pengeluaran mendadak," paksa ibunya sambil menyelipkan uang kertas kumal itu ke saku kemeja Agus.

Agus akhirnya mengalah dengan berat hati. Ia mencium tangan ibunya, lalu berpamitan pada ayahnya yang masih berbaring di kursi panjang ruang tengah. bapak agus hanya mampu mengangguk lemah dan memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Hati-hati di jalan, Gus. Jangan minder. Kamu laki-laki jujur, itu modal paling besar yang tidak semua orang punya," bisik bapak agus dengan suara karau.

Perjalanan menuju taman kota memakan waktu hampir satu jam dengan motor tua yang suaranya sangat bising. Sepanjang jalan, Agus berkali-kali membetulkan posisi kerah kemejanya yang terus tertiup angin kencang. Ia merasa semua orang di lampu merah sedang memperhatikannya memperhatikan knalpot motornya yang mengeluarkan asap tipis, atau memperhatikan sepatunya yang baru saja ia lem kemarin sore. Rasa rendah diri itu adalah musuh terbesar yang terus membisikkan kata pulang saja ke telinga Agus sebelum ia sampai di tempat tujuan.

Sesampainya di taman kota, Agus sengaja memilih area parkir yang paling pojok dan gelap, di bawah pohon beringin tua, agar motornya tidak terlalu mencolok di antara motor-motor baru milik pengunjung lain. Ia turun, merapikan rambutnya yang berantakan karena helm, dan berjalan perlahan menuju bangku taman di bawah pohon mahoni besar yang telah mereka sepakati dalam pesan singkat semalam.

Ia melihat jam di ponselnya yang layarnya retak. Pukul 15.55 WIB. Kurang lima menit lagi dari waktu yang dijanjikan.

Agus duduk dengan kaku di bangku kayu taman. Kedua tangannya diletakkan di atas lutut, mencoba menutupi bekas luka goresan besi di lengan bawahnya. Ia terus menatap ke arah pintu masuk taman dengan jantung yang berdegup sangat kencang, seolah-olah ia baru saja memikul sepuluh sak semen sekaligus ke lantai tiga tanpa berhenti. Setiap kali ada wanita berjilbab yang lewat, napasnya seolah tertahan di kerongkongan.

Tepat pukul empat sore, sebuah mobil sedan berwarna putih mutiara berhenti perlahan di depan gerbang taman. Seorang wanita turun dari pintu penumpang.

Agus langsung mengenalinya. Itu Nor Rahma.

Wanita itu mengenakan jilbab berwarna merah muda pucat yang senada dengan baju panjangnya yang sangat anggun. Pakaiannya terlihat sangat lembut, dari jenis kain berkualitas tinggi yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya. Rahma berjalan dengan langkah yang tenang dan percaya diri, matanya menyapu sekeliling taman hingga akhirnya tertuju pada bangku tempat Agus duduk sendirian.

Agus segera berdiri dengan gerakan yang kikuk. Ia merasa dunianya yang kasar seketika bertabrakan dengan dunia Rahma yang begitu bersih. Saat Rahma semakin dekat, Agus menyadari bahwa foto di aplikasi pencari jodoh itu sama sekali tidak bisa menggambarkan kecantikan aslinya. Rahma terlihat sangat segar, kulitnya cerah, dan aromanya... aromanya seperti perpaduan bunga lavender dan vanila, seketika menutupi bau asap knalpot dan aroma debu yang masih menempel di tubuh Agus.

"Mas Agus?" tanya Rahma lembut setelah berdiri tepat di depan bangku. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang membuat Agus lupa sejenak bagaimana caranya menyusun kalimat.

"Iya, saya Agus. Kamu... Rahma?" suara Agus terdengar sedikit bergetar, jauh lebih serak dari yang ia bayangkan.

"Iya, aku Rahma. Maaf ya kalau menunggu lama. Jalanan menuju ke sini tadi sedikit macet di perempatan besar," ucap Rahma sambil mengangguk sopan. Ia tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman, sebuah sikap yang membuat Agus merasa lega karena ia tidak perlu memperlihatkan telapak tangannya yang kasar dan penuh bekas goresan kepada wanita itu.

"Tidak apa-apa, saya juga baru sampai beberapa menit yang lalu," bohong Agus, padahal ia sudah duduk di sana hampir satu jam. "Silakan duduk, Rahma."

Mereka duduk di bangku taman itu dengan jarak yang cukup lebar, sekitar satu meter. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka selama beberapa saat. Agus merasa lidahnya kelu. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Di hadapannya, Rahma terlihat sangat tenang sambil meletakkan tas kecilnya di atas pangkuan, sementara Agus terus-menerus meremas ujung kemejanya di bawah meja taman.

"Ternyata Mas Agus aslinya lebih tinggi ya daripada yang terlihat di foto profil," canda Rahma untuk memecah kebekuan.

Agus tertawa kecil, tawa yang terdengar agak kering dan dipaksakan. "Mungkin karena di foto itu saya sedang duduk, jadi tidak terlalu kelihatan postur aslinya."

"Mas Agus ke sini naik motor yang parkir di sana tadi?" Rahma menunjuk ke arah deretan motor di kejauhan, meski ia tidak tahu pasti yang mana motor milik Agus.

"Iya, saya pakai motor tua itu. Satu-satunya kendaraan yang saya punya. Maaf kalau suaranya tadi terdengar sampai ke gerbang," jawab Agus jujur. Ia memutuskan untuk tidak menutupi apa pun lagi sejak menit pertama.

Rahma mengangguk-angguk kecil. Tatapannya tidak menunjukkan tanda-tanda ejekan atau keberatan, namun Agus tetap merasa gelisah. Ia melihat ke arah jalan setapak taman di mana banyak pedagang kaki lima berjualan makanan ringan dan minuman.

"Kamu... mau minum sesuatu? Di sana ada penjual es jeruk peras atau kopi botolan yang dingin. Maaf, saya tidak mengajakmu ke kafe modern di seberang jalan itu," kata Agus sambil menunjuk sebuah kedai kopi ternama yang terlihat sangat ramai dengan anak muda berpakaian modis dan mahal di seberang taman.

Rahma melihat ke arah kedai kopi itu sejenak, lalu kembali menatap Agus dengan binar mata yang ramah. "Es jeruk peras sepertinya lebih segar, Mas. Tidak perlu ke kafe, di sini udaranya lebih alami karena banyak pohon mahoni. Aku suka suasana terbuka seperti ini."

Agus berdiri dengan cepat, hampir menjatuhkan ponselnya dari saku. "Tunggu sebentar ya, saya belikan."

Ia berjalan menuju penjual es jeruk di pinggir taman. Saat merogoh sakunya, ia merasakan uang hasil lembur memikul besi tempo hari yang ia simpan dengan sangat hati-hati. Harga dua gelas es jeruk adalah lima belas ribu rupiah. Agus mengeluarkan uang dua puluh ribuan dan menunggu kembaliannya dengan sabar. Di kepalanya, ia terus menghitung sisa uangnya secara otomatis. Masih cukup untuk membeli bensin dan makan malam sederhana di rumah bersama ibu dan ayahnya.

Saat ia kembali membawa dua gelas plastik berisi es jeruk segar, ia melihat Rahma sedang memegang ponsel pintar keluaran terbaru yang sangat tipis. Wanita itu terlihat sedang membalas pesan dengan cepat, jari-jarinya yang lentik bergerak lincah di atas layar ponsel yang sangat mulus, sangat kontras dengan layar ponsel Agus yang memiliki retakan melintang.

"Ini es jeruknya," Agus menyerahkan satu gelas pada Rahma.

"Terima kasih banyak, Mas Agus," Rahma menerima gelas itu. Ia menyesapnya sedikit melalui sedotan. "Wah, segar sekali. Sudah lama aku tidak minum es jeruk pinggir jalan seperti ini. Terakhir mungkin waktu zaman kuliah dulu."

"Biasanya minum di tempat yang lebih mewah ya?" pancing Agus dengan nada rendah.

Rahma tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sedikit pahit. "Tuntutan lingkungan, Mas. Kalau sedang bertemu klien kantor atau teman-teman alumni, pilihannya selalu tempat-tempat yang 'estetik' kata mereka. Padahal sebenarnya aku sering merasa jenuh di sana. Terlalu banyak kepura-puraan yang harus dijaga agar terlihat mapan."

Kata "kepura-puraan" itu kembali menyentuh sisi sensitif dalam diri Agus. Ia menatap gelas es jeruk di tangannya sendiri, memperhatikan embun air yang mengalir di dinding plastik gelas itu. "Rahma, sejujurnya saya sangat gugup hari ini. Saya bahkan hampir membatalkan pertemuan ini tadi pagi."

"Kenapa begitu?" tanya Rahma sambil menoleh ke arah Agus.

"Saya takut kamu kecewa setelah melihat saya secara langsung. Saya hanya laki-laki lapangan yang setiap hari berteman dengan debu semen dan bau matahari. Pakaian terbaik yang saya pakai hari ini pun mungkin tidak ada harganya dibanding satu tas kecil yang kamu bawa itu."

Rahma terdiam cukup lama. Ia meletakkan gelas es jeruknya di samping tempat duduknya. Ia menatap Agus dengan tatapan yang sangat dalam dan serius, membuat Agus merasa tidak berdaya untuk menghindar.

"Mas Agus, aku datang ke taman ini bukan untuk melakukan penilaian pada harga pakaianmu," ucap Rahma dengan nada yang sangat tegas namun tetap terdengar lembut di telinga Agus. "Aku sudah bilang sejak kita masih mengobrol di aplikasi, aku mencari laki-laki yang punya harga diri dan mau berusaha jujur. Memakai kemeja yang rapi dan bersih seperti ini untuk menemuiku sudah menunjukkan bahwa kamu sangat menghargai pertemuan ini. Itu lebih dari cukup bagi aku saat ini."

Agus memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Rahma. "Tapi apakah itu cukup untuk masa depan kita, Rahma? Kamu wanita yang punya karier bagus, pendidikan tinggi, dan lingkungan yang terhormat. Sedangkan saya... untuk membeli obat batuk Bapak saya saja kadang saya harus berpikir dua kali apakah uangnya cukup untuk makan besok."

Rahma tidak langsung menjawab. Ia memandang ke arah anak-anak kecil yang sedang berlarian mengejar balon di tengah taman. "Masa depan itu bukan soal apa yang kita genggam hari ini, Mas. Tapi soal mau dibawa ke mana hidup ini. Orang tuaku memang berharap aku mendapatkan laki-laki yang sudah mapan dan jadi, tapi aku secara pribadi selalu percaya bahwa laki-laki yang mau berjuang dari titik terendah akan jauh lebih tahu cara menjaga dan menghargai apa yang ia miliki nanti."

Kalimat Rahma memberikan sedikit ruang napas bagi Agus yang sejak tadi merasa tercekik oleh rasa minder. Namun, sebagai laki-laki yang hidup di realita yang keras, ia tahu bahwa kenyataan tidak sesederhana kata-kata penyemangat. Ada mahar yang harus dikumpulkan, ada biaya pesta yang mungkin diinginkan keluarga besar Rahma, dan ada kebutuhan hidup pasca menikah yang tidak bisa dibayar hanya dengan janji manis.

"Orang tuamu... mereka pasti menginginkan bukti nyata sebelum mengizinkan laki-laki masuk ke hidupmu, kan?" tanya Agus pelan, suaranya nyaris tertelan suara bising kendaraan dari luar taman.

Rahma mengangguk perlahan. "Iya. Terutama Ayahku. Beliau orangnya sangat realistis karena dulu juga memulai semuanya dari bawah. Beliau ingin melihat calon menantunya punya usaha atau pekerjaan yang jelas arahnya. Beliau tidak ingin anaknya mengalami kesulitan ekonomi yang sama seperti masa lalunya. Itulah bukti yang aku maksud. Bukan harus kaya sekarang juga, tapi setidaknya tunjukkan padaku bahwa Mas Agus punya rencana nyata untuk keluar dari pekerjaan di gudang material itu."

Agus terdiam seribu bahasa. Keluar dari gudang material? Itu berarti ia harus mencari pekerjaan baru yang lebih layak atau membuka usaha sendiri. Namun, untuk memulai usaha, ia butuh modal. Sedangkan uang lemburnya saja selalu ludes untuk menutupi kebutuhan dapur orang tuanya dirumah.

Sore itu, mereka menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mengobrol tentang banyak hal. Rahma bercerita tentang tekanan di kantornya yang sering membuatnya stres, sementara Agus dengan hati-hati menceritakan mimpi-mimpinya yang selama ini terkubur di bawah tumpukan sak semen. Untuk sejenak, Agus merasa mereka adalah dua manusia yang setara. Namun, setiap kali Rahma melihat jam tangan bermerek di pergelangan tangannya, atau saat Agus merasakan dompetnya yang tipis di saku celana, kenyataan pahit itu kembali menghantamnya.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menyisakan warna jingga kemerahan yang memantul di layar ponsel Agus yang retak. Rahma berdiri, merapikan bajunya yang sama sekali tidak kusut. "Sudah sore sekali, Mas Agus. Aku harus segera pulang. Ayahku selalu khawatir kalau aku berada di luar rumah setelah magrib."

Agus ikut berdiri dengan sigap. "Terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk bertemu saya, Rahma. Maaf jika pertemuannya hanya bisa di tempat seperti ini."

"Terima kasih juga buat es jeruknya, Mas. Segar sekali. Aku tunggu kabarmu ya di pesan singkat nanti. Tolong pikirkan baik-baik soal rencana masa depan yang kita bicarakan tadi," ucap Rahma sambil tersenyum manis sebelum berbalik pergi.

Agus mengantar Rahma hanya sampai ke depan gerbang taman, ia tidak berani mendekat ke mobil putih itu. Ia melihat Rahma masuk ke dalam mobilnya yang mewah dan perlahan-lahan menghilang di tengah kemacetan jalan raya yang mulai padat. Agus berdiri terpaku di pinggir jalan, aromanya Rahma seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ia menunduk, melihat ke arah tangannya yang kasar, lalu melihat ke arah jalan raya.

Harapan itu sudah ada di depan mata, namun jalan menuju ke sana terasa seperti mendaki gunung batu tanpa alas kaki. Agus tahu, mulai besok pagi, hidupnya tidak akan lagi sama. Ia harus memilih, tetap menjadi kuli angkut semen selamanya, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjadi laki-laki yang layak berdiri di samping Nor Rahma.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!