Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Iriana!” bentak Deva keras sampai urat di lehernya terlihat menegang. Matanya melotot penuh amarah ke arah adiknya sendiri. “Apa hakmu ngusir Kartika dari rumah ini?!”
Suasana ruang tamu langsung membeku. Tidak ada suara siapa pun selama beberapa detik. Bahkan Delisa yang tadi merengek pun ikut diam karena kaget melihat Deva marah sebesar itu.
Iriana refleks mundur setengah langkah. Namun, wajahnya masih terlihat ketus. Sedangkan Bu Hania langsung mengerutkan dahi tidak suka melihat putranya membela Kartika di depan semua orang.
Deva bernapas berat. Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi terus dipancing. Ia lalu menoleh ke arah Kartika. Wajah istrinya terlihat dingin. Berbeda sekali dengan biasanya.
“Sayang,” suara Deva melembut. “Sekarang keluarga kita lagi kena musibah.”
Kartika hanya diam.
“Aku mohon ... terima dulu Iriana sama Delisa tinggal di sini sementara. Saat ini keluarga kita sedang mendapatkan musibah,” lanjut Deva hati-hati. “Aku harap kamu mau menerima Iriana di rumah ini. Kita upayakan agar rumahnya cepat dibangun kembali.”
Kartika tersenyum tipis, namun senyum itu terasa pahit. “Uang dari mana, Mas? Apa mereka punya uang untuk membangun rumah itu lagi?” tanyanya pelan.
Lagi-lagi semua orang di sana tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang berani menjawab. Karena enggak tahu kapan bisa membangun rumah itu lagi. Semua orang tahu selama ini yang selalu jadi penyelamat keluarga itu Deva.
Deva sendiri pun terdiam. Rumah itu terbakar karena kecerobohan Iriana. Sudah pasti tidak akan mendapatkan ganti rugi. Rumah itu juga tidak punya asuransi.
Pikiran Deva terasa semakin penuh. Dia benar-benar sadar keluarganya memang sedang berada dalam masalah keuangan besar. Selama ini ia selalu menutup mata. Selalu merasa semuanya bisa diselesaikan asal dirinya bekerja lebih keras.
Namun sekarang? Tabungannya habis. Cicilan rumah orang tuanya masih berjalan.
Cicilan rumah Gavin juga masih dibayar olehnya. Kalau dirinya lagi yang harus membangun rumah Iriana lagi, uangnya dari mana. Kepala Deva terasa pening.
Sementara itu Delisa yang duduk di pangkuan Bu Hania mulai merengek lagi sambil mengusap air mata. “Aku enggak mau tinggal di rumah nenek!” tangisnya lirih.
Iriana langsung memeluk anaknya. “Terus Delisa maunya tinggal di mana, Sayang?”
“Di siniiii ...,” jawab anak kecil itu sambil menunjuk Deva.
Bu Hania langsung menatap Kartika dengan senyum tipis penuh kemenangan. “Tuh kan.” Nada suaranya terdengar menyindir. “Delisa juga maunya tinggal di sini.”
Kartika menarik napas panjang, mendadak dadanya terasa sesak. Ia sebenarnya kasihan pada Delisa. Akan tetapi, tingkah laku dan perbuatannya sering rebutan dan mengajak berantem anak-anaknya.
Selain itu, Iriana juga suka bersikap semaunya. Ambil sesuatu tanpa bilang-bilang. Malas melakukan pekerjaan rumah. Maunya dilayani seperti majikan atau tuan rumah. Iriana juga terlalu sering membuat keributan dengan merendahkan orang lain.
Kartika tahu persis kalau tinggal serumah, rumah tangganya tidak akan tenang. Ia menoleh pelan ke arah Deva.
“Keputusan ada di tangan Mas sekarang.”
Deva langsung menatap istrinya.
Kartika tersenyum kecil. Namun, matanya mulai memerah menahan emosi. “Mas pilih mereka tinggal di sini,” suaranya mulai bergetar, “atau aku sama anak-anak pergi dari rumah ini.”
“Yang ....” Deva langsung panik.
Namun sebelum ia sempat bicara, Pak Dimas lebih dulu menyela. Pria tua itu berkata sambil menghela napas kesal karena tidak ada yang mau mengalah.
“Kartika, Jangan bikin suamimu bingung cuma gara-gara hal beginian.”
Kartika langsung menoleh. Hal beginian? Itu sangat fatal baginya. Perasaannya langsung panas.
“Apa susahnya sih nerima Iriana sementara waktu?” lanjut Pak Dimas.
Kenzie yang sejak tadi duduk sambil memainkan ponselnya akhirnya ikut bicara tanpa mengangkat kepala. “Kalau semuanya keras kepala, ya, enggak bakal selesai.” Nada suaranya datar. Seolah tidak peduli.
Ucapan yang mengejutkan keluar dari mulut Iriana. Wanita itu menyilangkan tangan di dada sambil melirik sinis ke arah Kartika.
“Kak Deva harus ingat,” katanya pelan tapi menusuk. Saudara selamanya adalah saudara. Tidak ada yang namanya mantan saudara.”
Tatapan Iriana sengaja diarahkan ke Kartika. “Kalau istri mah,” bibirnya tersenyum miring, “bisa jadi mantan.”
Ruangan langsung terasa makin panas. Kalingga sampai memeluk lengan mamanya pelan karena takut melihat suasana orang dewasa yang mulai menegangkan. Sedangkan Kaivan hanya diam di gendongan Kartika sambil memandang bingung.
Deva memejamkan mata kuat-kuat. Kepalanya benar-benar terasa mau pecah. Satu sisi adiknya baru kena musibah..Namun di sisi lain istrinya juga sudah terlalu lama terluka oleh keluarganya sendiri. Deva tahu itu.
Kartika tertawa kecil..Namun tawanya terdengar getir. “Udahlah, Mas,” katanya lirih. “Enggak usah bingung.”
Kartika menatap Deva lama sekali. Tatapan kecewa yang membuat dada Deva terasa diremas. “Aku dan anak-anak aja yang pergi.”
Jantung Deva langsung berdetak keras. Kartika berjalan menghampiri Kalingga dan Kaivan.
“Kakak ...,” panggilnya lembut sambil mengusap rambut putra sulungnya. “Adek ... kita pindah dari rumah ini, ya!”
Kalingga langsung mendongak kaget. Anak itu terlihat sedih. Karena ia suka rumah ini.
“Pindah ke mana, Ma?” Kalingga memegang tangan Kartika erat.
Kartika tersenyum lembut meski matanya mulai berkaca-kaca. “Ke tempat di mana seharusnya kita berada.”
Kaivan yang tidak mengerti apa-apa, hanya memeluk leher mamanya.
Sedangkan di belakang mereka, Bu Hania dan Iriana saling melirik diam-diam. Tatapan mereka terlihat puas. Seolah akhirnya berhasil memenangkan sesuatu.
Deva langsung melangkah mendekati istrinya. “Sayang, jangan ambil keputusan pas lagi emosi.”
Kartika mengangkat wajah menatap suaminya tajam. Dengan suara mulai bergetar dia berkata, “Mas tahu sendiri aku udah capek. Capek terus dihina. Selalu dianggap orang luar. Terus di minta selalu ngalah.”
Air mata Kartika mulai jatuh di pipinya. “Kalau Mas masih mau bertahan di sini sama keluarga Mas ....” Kartika menarik napas panjang, “aku enggak masalah.”
Deva langsung menegang.
“Tapi kalau Mas mau ikut aku, Mas harus siap berhenti terlibat sama semua masalah mereka,” lanjut Kartika dengan nada tegas.
Kalimat itu terasa seperti ultimatum. Deva benar-benar dihadapkan pada pilihan yang paling sulit dalam hidupnya. Ia membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar. Karena dirinya sendiri bingung.
Melihat Deva diam, senyum tipis muncul di bibir Iriana. “Sudahlah, Kak,” katanya santai. “Toh dia sendiri yang mau pergi.”
“Iya,” timpal Bu Hania cepat. “Itu pilihan yang dia buat sendiri.”
Kartika tertawa hambar mendengar itu. Karena itu lucu sekali, padahal sejak tadi merekalah yang terus menekannya.
Kartika akhirnya melangkah menuju pintu. Langkahnya mantap. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Ia sudah terlalu lelah bertahan.
“Sayang! Tunggu!” Deva langsung mengejar.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝