"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Otoritas
Senin pagi di Jakarta selalu memiliki aroma yang sama: campuran aspal basah sisa hujan semalam, asap knalpot yang menyesakkan dari arah Gatot Subroto, dan kecemasan kolektif ribuan pekerja yang berpacu dengan waktu. Namun, bagiku, Senin ini memiliki aroma yang berbeda. Ada wangi kebebasan yang samar di balik parfum citrus yang kupakai pagi ini—aroma yang memberiku kekuatan untuk melangkah masuk ke gedung SCBD dengan kepala tegak.
Aku memulai hari dengan sebuah ritual pembersihan. Sebelum berangkat, aku mengambil sebuah kotak kardus kecil yang sudah kusiapkan sejak akhir pekan. Di dalamnya, aku memasukkan sepasang sandal rumah berwarna biru tua milik Kaivan, sikat gigi cadangannya yang masih ada di gelas kamar mandi, dan sebuah jaket yang tertinggal di sandaran sofa sejak dua minggu lalu. Terakhir, aku meletakkan kunci cadangan apartemenku—kunci yang selama lima tahun ini ia pegang dengan anggapan bahwa ia bisa datang kapan saja ia butuh "tempat pulang".
Aku menutup kotak itu, merekatkannya dengan selotip, dan menitipkannya pada satpam lobi dengan pesan singkat: “Tolong berikan pada Pak Kaivan jika dia datang. Katakan padanya jangan naik ke atas lagi.”
Langkahku terasa ringan saat memasuki lift. Saat pintu terbuka di lantai lima belas, aku merasakan atmosfer yang sudah bergeser. Gosip di kantor ini bergerak lebih cepat daripada koneksi internetnya. Semua orang sudah tahu tentang keributan di pesta Bastian Adhitama, dan yang lebih penting, mereka tahu siapa yang keluar sebagai pemenang.
"Pagi, Rel. Eh, maksud saya... pagi, Bu Analis Senior," goda Maya saat aku melewati mejanya. Ia mengedipkan sebelah mata, namun ada binar bangga yang tulus di matanya.
"Pagi, May. Jangan mulai, ya," balasku sambil tersenyum tipis.
Aku menuju kubikelku, namun Pak Dimas sudah berdiri di depan ruangannya, memberikan isyarat agar aku mendekat.
"Arelia, masuk sebentar," panggilnya. Suaranya terdengar jauh lebih lunak daripada biasanya.
Di dalam ruangan Pak Dimas yang beraroma cerutu dan kertas lama, suasana terasa sangat formal namun penuh penghargaan. Beliau menyerahkan sebuah map biru—map yang biasanya hanya diberikan kepada para manajer senior saat penandatanganan proyek strategis.
"Kontrak dengan Adhitama Group sudah difinalisasi secara hukum pagi ini. Bastian Adhitama secara spesifik meminta poin tambahan dalam amandemen kontrak: seluruh alur komunikasi riset dan pengambilan keputusan strategis harus melalui persetujuanmu. Kaivan akan tetap ada di tim sebagai pelaksana operasional, tapi dia tidak lagi memiliki otoritas tanda tangan untuk laporan akhir," Pak Dimas menjelaskan dengan nada yang sangat serius.
"Saya mengerti, Pak."
"Ini posisi yang sulit, Arelia. Kaivan adalah rekanmu selama bertahun-tahun. Tapi di dunia ini, kompetensi harus berada di atas sentimen. Saya harap kamu bisa menjaga garis profesionalisme ini," tambahnya.
Aku mengangguk mantap. "Saya sudah menarik garis itu sejak lama, Pak. Sekarang saya hanya memperjelasnya."
Rapat koordinasi internal dimulai pukul sepuluh pagi. Seluruh tim riset junior sudah berkumpul di ruang rapat kaca. Aku duduk di kursi utama, tempat yang biasanya diisi oleh Kaivan dengan gaya santainya yang seringkali membuang waktu sepuluh menit hanya untuk menceritakan akhir pekannya yang "seru".
Pintu terbuka, dan Kaivan masuk. Ia terlihat lebih rapi dari Jumat malam, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di wajahnya. Ia berjalan menuju kursi di sebelahku—tempat yang biasanya ia duduki sebagai "pasangan emas" divisi ini.
"Maaf telat sedikit, tadi ada kendala di jalan..." ucapnya pelan, mencoba mencari mataku.
"Silakan duduk, Kaivan. Di sebelah Maya saja, kursinya sudah kami siapkan agar kamu bisa lebih fokus pada pendataan operasional," potongku dengan nada yang sangat datar, sambil menunjuk kursi di bagian tengah meja, bukan di sampingku.
Seluruh ruangan mendadak hening. Para junior menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan catatan mereka. Kaivan mematung selama beberapa detik, menatapku dengan sorot mata yang terluka dan tidak percaya, namun ia tidak punya pilihan selain menuruti perintahku di depan semua orang. Ia duduk dengan kaku, meletakkan laptopnya dengan suara dentum yang sedikit keras.
"Mari kita mulai," aku membuka laptopku dan menampilkan agenda di layar proyektor. "Fase pertama adalah audit vendor sektor C. Saya sudah membagi tugas. Maya akan menangani validasi lapangan, Dika di bagian tabulasi data. Untuk Kaivan, saya ingin kamu menangani administrasi kontrak dasar dan korespondensi logistik."
"Tunggu, Rel," Kaivan mengangkat tangan. "Administrasi kontrak? Itu kan tugas staf administrasi. Aku biasanya pegang negosiasi strategis untuk sektor C."
Aku menatapnya dengan tenang, membiarkan keheningan menggantung sesaat agar otoritas di ruangan ini semakin terasa. "Secara teknis, negosiasi strategis membutuhkan pemahaman data yang akurat. Mengingat kesalahan fatal yang kamu sampaikan di depan komisaris kemarin, saya tidak ingin mengambil risiko komunikasi lagi. Fokuslah pada administrasi agar kontrak hukum kita tidak ada yang meleset. Itu jauh lebih aman untuk posisimu saat ini."
Kata-kata itu seperti tamparan publik bagi Kaivan. Wajahnya memerah padam. Ia ingin mendebat, namun di depan junior yang biasanya mengaguminya, ia tidak ingin terlihat lebih memalukan lagi.
"Oke. Terserah kamu," gumamnya pelan.
Sepanjang rapat, aku memberikan instruksi dengan presisi yang mematikan. Aku tidak lagi bertanya "menurutmu bagaimana, Van?" seperti yang biasa kulakukan selama tujuh tahun ini hanya untuk menjaga egonya agar tidak tersinggung. Aku memberikan keputusan. Aku memberikan target. Aku adalah otoritas di sini.
Selesai rapat, saat semua orang sudah keluar, Kaivan menahan pintu. Ia menunggu sampai hanya ada kami berdua di ruangan itu.
"Kamu benar-benar ingin menghancurkanku, ya, Arelia?" suaranya rendah, penuh dengan amarah yang tertahan. "Kamu kasih aku tugas administrasi? Kamu tahu itu tugas paling membosankan di divisi ini."
"Itu tugas yang paling aman supaya kamu tidak perlu banyak berpikir, Kaivan. Kamu bilang kamu sedang sibuk mengurus Nadine yang kakinya terkilir, kan? Aku hanya memberimu ruang agar fokusmu tidak terbagi antara pekerjaan dan urusan domestikmu," balasku sambil merapikan kabel laptop.
"Jangan bawa-bawa Nadine ke sini!" ia membentak pelan.
"Lalu kenapa kamu membawa masalahmu dengan Nadine ke ruang rapat dewan direksi hari Jumat lalu?" aku balik bertanya, suaraku tetap tenang namun menusuk. "Profesionalitas itu bukan soal pakaian yang rapi, Van. Tapi soal otak yang ada di tempat yang seharusnya saat jam kerja. Aku sedang menyelamatkan kariermu. Kalau aku tidak memberikanmu tugas ini, Pak Dimas mungkin sudah memintamu keluar dari tim Adhitama sepenuhnya."
Kaivan terdiam. Ia baru menyadari bahwa posisinya benar-benar di ujung tanduk.
"Kotak barangmu sudah ada di satpam lobi. Kunci apartemenku ada di dalamnya. Mulai malam ini, jangan pernah datang ke tempatku lagi," tambahnya sebelum aku melangkah keluar.
Sore harinya, saat aku sedang meninjau laporan audit pertama, telepon di mejaku berdering. Panggilan internal dari resepsionis lobi.
"Halo, Bu Arelia. Ada tamu untuk Ibu di bawah. Namanya Ibu Nadine. Katanya ada urusan penting yang mendesak."
Jantungku berdegup satu kali dengan keras. Nadine? Untuk apa dia mencariku di kantor? Aku melirik ke arah meja Kaivan, pria itu sedang tidak ada di tempatnya—mungkin sedang meratapi nasibnya di pantri atau merokok di balkon luar.
"Suruh dia tunggu di kafe lobi. Saya akan turun," kataku.
Aku merapikan pakaianku, menarik napas panjang, dan berjalan menuju lift. Aku tidak tahu apa yang diinginkan wanita yang menjadi hantu dalam hubunganku dengan Kaivan ini, tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan menemuinya sebagai wanita yang merasa kalah.
Aku menemukannya duduk di pojok kafe lobi. Ia mengenakan terusan berwarna biru muda yang lembut, terlihat sangat kontras dengan setelan kerjaku yang tajam dan gelap. Ia tampak cantik, namun saat aku mendekat, aku bisa melihat gurat kecemasan di matanya.
"Terima kasih sudah mau menemui aku, Rel," ucap Nadine saat aku duduk di hadapannya.
"Ada apa, Nadine? Aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," kataku tanpa basa-basi.
Nadine meremas tas tangannya. "Ini soal Kaivan. Dia... dia bilang dia diturunkan jabatannya di proyek ini. Dia sangat hancur semalam. Dia datang ke tempatku dan terus-menerus bicara soal bagaimana kamu berubah menjadi orang asing."
Aku menyandarkan punggungku, menatapnya dengan pandangan menilai. "Lalu? Apa hubungannya denganku? Kaivan kehilangan jabatannya karena kinerjanya yang buruk, bukan karena aku ingin bermain drama."
"Aku tahu, Rel. Aku tahu dia salah. Tapi tolong... bisakah kamu kasih dia kesempatan lagi? Kaivan itu tipe pria yang butuh dukungan emosional. Dia nggak akan bisa jalan kalau nggak ada kamu yang membantunya di belakang layar," ucap Nadine dengan nada memohon yang membuatku ingin tertawa.
"Nadine, dengarkan aku baik-baik," aku memotongnya dengan nada yang sangat dingin. "Selama tujuh tahun, aku yang menjadi kaki bagi pria itu. Aku yang menopangnya sampai dia lupa caranya berdiri sendiri. Dan sekarang kamu kembali, kamu mengambil waktunya, kamu mengambil perhatiannya, tapi kamu ingin aku tetap menjadi penopang bebannya agar kamu bisa menikmati hasilnya tanpa repot?"
Wajah Nadine memucat.
"Jika kamu merasa dia hancur karena aku berhenti membantunya, itu artinya kamu yang harus belajar untuk menjadi penopang barunya," lanjutku. "Jangan datang padaku dan meminta budakmu kembali. Aku sudah berhenti dari pekerjaan itu."
Aku berdiri, menatapnya dari atas ke bawah. "Kalian sangat cocok. Dia pria yang senang lari dari tanggung jawab, dan kamu wanita yang senang dilayani. Nikmatilah satu sama lain. Tapi jangan pernah libatkan aku lagi dalam drama rumah tangga kalian yang menyedihkan ini."
Aku berbalik dan berjalan menuju lift tanpa menunggu jawabannya. Di dalam lift yang bergerak naik, aku merasa sangat bangga pada diriku sendiri. Aku baru saja menghadapi hantu masa laluku dan menyadari bahwa hantu itu tidak lagi memiliki kekuatan atas diriku.
Saat pintu lift terbuka di lantai lima belas, ponselku bergetar.
Bastian Adhitama: Saya baru saja melihat email koordinasi pertama darimu hari ini. Sangat rapi dan berwibawa. Ingin mendiskusikan poin vendor C besok pagi sambil sarapan? Saya akan lewat daerah apartemenmu jam tujuh.
Aku tersenyum. Bukan senyum penuh kemenangan yang jahat, tapi senyum penuh kedamaian.
Arelia: Tentu, Bastian. Saya tunggu di lobi jam tujuh tepat.
Aku kembali ke mejaku. Kaivan sudah ada di sana, ia tampak sedang menatap ponselnya dengan wajah tegang—mungkin baru saja mendapat pesan dari Nadine soal pertemuan tadi. Ia menoleh padaku saat aku duduk.
"Kamu bicara apa sama Nadine?" tanyanya dengan nada menuntut.
Aku menyalakan monitor komputerku, mengabaikan tatapannya sepenuhnya. "Bicara soal nilai, Kaivan. Sesuatu yang sepertinya tidak akan pernah kamu pahami selama kamu masih menganggap orang lain sebagai properti."
Aku mulai mengetik laporan. Kaivan terus bicara, namun suaranya hanya terdengar seperti dengung lalat yang tidak mengganggu di telingaku. Aku punya otoritas atas pekerjaanku, atas hidupku, dan atas hatiku sendiri.
Nyaris jadi kita? Tidak. Cerita itu sudah terbakar habis hari ini. Yang tersisa hanyalah aku, dengan jalan panjang nan cerah yang terbentang di hadapanku.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain