NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Pagi itu, aku sedang meminum embun dari daun pinus saat sebuah sapu lidi meluncur deras ke arah tenggorokanku. Aku tidak berbalik. Tubuhku bergerak sendiri, bergeser tiga inci ke kanan. Sapu itu menghantam batu di belakangku hingga patah menjadi dua.

"Terlalu lambat, Qinar," suara Ki Kusumo terdengar dari balik kabut.

Aku baru saja akan berdiri, tapi sebuah tendangan menyapu kakiku. Aku melompat, berputar di udara, dan mendarat dengan tenang. Tanpa peringatan, Ki Kusumo menyerang dengan rentetan pukulan yang sangat cepat. Ini sudah terjadi selama tiga hari terakhir. Sejak aku menaklukkan Si Hitam, kakek tua itu tidak membiarkanku bernapas. Dia menyerang saat aku sedang makan, saat aku sedang berlatih meditasi, bahkan saat aku tertidur lelap di malam hari.

"Kau bilang kita akan turun gunung, Ki! Kenapa malah mengajakku berkelahi terus?" teriakku sambil menepis pukulannya.

"Dunia luar tidak akan memberitahumu kapan mereka akan membunuhmu!" Ki Kusumo membalas dengan pukulan keras ke arah rusukku. "Di kerajaan sana, tidak ada bel tanda mulai pertandingan. Jika kau lengah sedetik saja, kepalamu akan lepas."

Aku menahan pukulannya dengan telapak tangan, merasakan getaran energi Level 6 yang liar. Ki Kusumo memang tidak berniat membunuh, tapi serangannya dirancang untuk mencari celah terkecil dari pertahananku. Dia memanfaatkan setiap jengkal tanah, setiap hembusan angin, dan setiap detik kelemahanku.

Malam harinya, saat aku baru saja memejamkan mata di samping Si Hitam, sebuah lemparan belati kayu mengenai bahuku. Aku terbangun dengan insting yang tajam, menangkap bayangan Ki Kusumo yang melompat dari dahan pohon.

"Tidurmu terlalu nyenyak, Bocah!" teriaknya.

Aku langsung melesat, membalas dengan tebasan energi yang sengaja kukurangi kekuatannya agar tidak merusak hutan. Kami bertarung di bawah cahaya bulan. Gerakanku yang tadinya kaku kini sangat luwes. Aku tidak lagi berpikir untuk memukul, aku membiarkan Inti Sejatiku yang mengambil alih. Setiap kali dia menyerang, tubuhku bereaksi seperti air yang menghindari batu.

"Jangan hanya menangkis!" Ki Kusumo menendang dadaku.

Aku terhempas ke belakang, tapi di udara aku memutar tubuh dan mendarat dengan kedua tangan. "Kalau begitu, bersiaplah, Ki!"

Aku melepaskan Manifestasi Qi-ku. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengikat. Aku membentuk jaring energi tak kasat mata yang menjebak pergerakan Ki Kusumo. Dia tertegun saat sadar langkah kakinya tidak bisa maju.

"Sekarang!" aku berlari ke arahnya. Aku tidak memukulnya, tapi aku menghentikan kepalan tanganku tepat satu sentimeter di depan hidungnya. Napas petirku membuat rambut-rambut putihnya berdiri tegak karena statis.

Ki Kusumo terdiam. Dia menatap kepalan tanganku, lalu perlahan menurunkan senjatanya. Senyum tipis muncul di wajahnya yang kotor karena debu pertarungan.

"Kau belajar dengan cepat," ujarnya rendah. "Kau sudah bisa mengendalikan nafsu untuk menghancurkan. Kau sudah tahu kapan harus menyerang dan kapan harus menahan diri."

Dia memasukkan sapu lidinya ke balik ikat pinggang. "Sudah cukup. Kita berangkat sekarang."

"Sekarang? Ini masih tengah malam," kataku sambil menyeka keringat di dahiku.

"Lebih baik. Jika kita turun saat fajar, orang-orang di pasar bawah akan melihat kita. Aku ingin kau turun gunung tanpa menyisakan jejak sedikit pun."

Aku mengangguk. Aku memandang Si Hitam yang sedang meringkuk di dekat tebing. Dia menatapku dengan sedih, tahu bahwa sahabatnya akan pergi. Aku berjalan mendekatinya, mengusap bulunya yang kasar untuk terakhir kali. "Jaga tempat ini, Hitam. Suatu hari nanti, aku akan kembali."

Si Hitam mengeluarkan suara lenguhan rendah yang dalam.

Aku berbalik mengikuti Ki Kusumo menuju jalan setapak yang menurun tajam. Sembilan tahun aku terkunci di puncak ini. Tubuhku sudah bukan lagi milik bocah sembilan tahun yang lemah; otot sumsum berlianku siap menanggung beban dunia, dan Inti Sejatiku siap untuk menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalan.

"Ki," panggilku saat kami mencapai batas hutan pinus.

"Apa lagi?"

"Setelah ini, ke mana kita akan pergi?"

Ki Kusumo menunjuk ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, tersembunyi di balik lembah yang berkabut. "Ke Gerbang Utara. Di sana, rahasia tentang siapa sebenarnya dirimu akan mulai terungkap. Bersiaplah, Qinar. Dunia luar tidak akan menyambutmu dengan tangan terbuka."

Aku menarik napas dalam, merasakan udara yang mulai berubah menjadi lebih hangat dan berbau asap kayu dari pemukiman manusia. Perjalanan panjangku baru saja dimulai. Aku tidak lagi takut pada apa pun, karena aku sudah memiliki kekuatan untuk menghadapi semuanya.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!