Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Takhta Pasir dan Pertemuan Garis Darah yang Tercecer
Langit di atas **Kota Kekaisaran Pasir** tidak lagi berwarna merah, melainkan emas pekat akibat pantulan dari kubah-kubah istana yang dilapisi logam mulia. Kota ini adalah puncak peradaban di Benua Pasir Merah, sebuah benteng raksasa yang dibangun di atas titik temu garis ley dimensi. Di tengah kota, berdiri **Gerbang Transendensi**, sebuah struktur melingkar setinggi seratus meter yang terus berdenyut dengan energi ruang angkasa, menunggu kunci atau kekuatan yang cukup besar untuk membukanya.
**Wang Jian** mendarat di gerbang utama kota dengan dentuman yang menggetarkan fondasi benteng. Kehadirannya tidak lagi bisa disembunyikan. Aura **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 2** bercampur dengan tekanan **Fisik Naga Primordial** menyapu jalanan kota seperti badai yang tak terlihat. Rakyat sipil jatuh berlutut, sementara para prajurit penjaga merasa jantung mereka seolah diremas oleh cakar raksasa.
"Aku adalah Wang Jian," suaranya menggelegar, diperkuat oleh **Qi Badai Plasma**. "Aku datang untuk Gerbang Transendensi. Buka jalan, atau aku akan meratakan kota ini menjadi debu!"
### **Pertarungan Pembuka: Empat Jenderal Langit**
Dari puncak menara pengawas, empat sosok melesat turun dan mendarat dalam formasi pengepungan di sekeliling Jian. Mereka adalah **Empat Jenderal Langit**, pelindung abadi kekaisaran:
**Jenderal Kalsifer (Api):** Membawa pedang raksasa yang membara.
**Jenderal Zephyr (Udara):** Memegang sepasang belati yang bergetar dengan frekuensi tinggi.
**Jenderal Obsidian (Tanah):** Tubuhnya sebesar golem, dilapisi pelindung batu hitam.
**Jenderal Hydro (Cair):** Sosok misterius yang tubuhnya tampak seperti air yang terus mengalir.
Semua berada di **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 3 hingga 5**.
"Cukup, Pemberontak!" raung Jenderal Kalsifer. "Kau mungkin telah melampaui batas manusia, tapi di hadapan hukum kekaisaran, kau hanyalah kerikil!"
Pertempuran pecah dalam sekejap. Jenderal Zephyr menghilang dalam sapuan angin, muncul di belakang Jian dengan tusukan belati yang mampu membelah baja. Namun, Jian bahkan tidak menoleh. Sisik naga hitam transparan muncul di kulitnya, menahan belati itu hingga patah.
"Terlalu lambat," bisik Jian.
Ia menghentakkan kakinya, mengaktifkan **Domain Gravitasi Naga**. Seketika, area dalam radius lima puluh meter tertekan ke bawah. Jenderal Obsidian yang biasanya kuat kini terpaksa berlutut, tulang-tulangnya mulai berderit.
"**Napas Naga Plasma!**"
Jian membuka mulutnya, melepaskan semburan energi putih ungu yang sangat panas. Jenderal Hydro mencoba membentuk perisai air raksasa, namun air itu menguap seketika menjadi uap panas yang justru melukai rekan-rekannya sendiri.
Dalam sepuluh langkah, Jian telah memukul mundur empat jenderal terkuat benua itu. Ia bukan lagi bertarung sebagai manusia; ia bertarung sebagai predator puncak.
### **Interupsi Tak Terduga: Darah dari Masa Lalu**
Tepat saat Jian hendak melayangkan pukulan pemungkas ke arah Jenderal Kalsifer, sebuah serangan pedang yang sangat familiar menangkis tinjunya. Serangan itu tidak mengandung haus darah, melainkan teknik **Sembilan Putaran Angin** yang murni—versi yang jauh lebih halus daripada yang pernah Jian lihat di Benua Tengah.
Tiga orang pemuda melangkah maju dari balik barisan prajurit. Mereka mengenakan jubah sutra putih dengan sulaman naga emas, wajah mereka memiliki kemiripan yang mencolok dengan Jian, terutama pada bagian mata yang tajam.
"Hentikan, Kakak!" teriak salah satu dari mereka, pemuda dengan rambut yang diikat rapi bernama **Wang Lei**.
Jian mengernyit, menarik kembali auranya sedikit. "Siapa kalian? Bagaimana kalian tahu teknik klan Wang?"
Pemuda kedua, yang tampak lebih tenang bernama **Wang Han**, melangkah maju. "Kami adalah putra dari **Istri Ketiga Ayahanda Wang Tian**. Kami dikirim ke benua ini bertahun-tahun lalu untuk mengamankan jalur dimensi sebelum kau bahkan lahir. Kami adalah saudaramu."
Jian terdiam sejenak. Ingatannya tentang Wang Tian, ayahnya, sangatlah dingin. Ia tahu ayahnya memiliki banyak istri, namun ia tidak menyangka bahwa keturunan dari istri ketiga—yang dikabarkan menghilang—ternyata membangun kekuatan di Benua Pasir Merah.
"Saudara?" Jian tertawa getir, tawa yang mengandung kilatan listrik. "Di mana kalian saat aku diseret ke Jurang Arwah? Di mana kalian saat aku hampir mati di tangan Leluhur?"
"Kami tidak tahu keberadaanmu hingga kau menghancurkan Kota Karat," sahut pemuda ketiga, **Wang Chen**, dengan nada menyesal. "Ibu kami dikhianati oleh istri pertama, sama sepertimu. Kami dibuang ke sini untuk mati, namun kami bertahan dan menjadi penasihat rahasia kekaisaran. Kami di sini bukan untuk menghentikanmu mencapai Gerbang, tapi untuk memperingatkanmu."
### **Fakta Pahit Tentang Gerbang Transendensi**
Wang Lei mendekat ke arah Jian, mengabaikan tatapan tajam para Jenderal Langit yang kini terluka. "Gerbang itu tidak bisa dibuka hanya dengan kekuatan, Jian. Ia membutuhkan **Kunci Darah Naga** yang lengkap. Darahmu sudah murni, tapi kau butuh harmonisasi dari tiga garis keturunan Wang untuk menstabilkan portalnya."
"Dan ada satu hal lagi," tambah Wang Han dengan wajah serius. "Leluhur Wang Sui-Ren... dia belum mati sepenuhnya. Sebagian dari kesadarannya telah menyeberang ke Benua Mistis melalui celah dimensi yang tercipta saat pertempuranmu. Dia sedang menunggu di sisi lain, merasuki otoritas di sana untuk menjemput istrimu, Meiling."
Mendengar nama Meiling, aura Jian kembali meledak, menghancurkan ubin emas di bawah kakinya. "Jika itu benar, maka aku tidak punya waktu untuk reuni keluarga. Bantu aku membuka gerbang ini, atau aku akan menghancurkannya!"
Ketiga saudaranya saling pandang, lalu mengangguk. Mereka bukan lagi musuh; mereka adalah korban dari garis keturunan yang sama, disatukan oleh dendam terhadap pria yang sama.
"Kami akan memberikan darah kami untuk menstabilkan portal," ucap Wang Lei. "Tapi ingat, Jian... Benua Mistis adalah tempat di mana hukum alam tidak berlaku. Di sana, kau bukan lagi naga... kau adalah buronan para dewa."
### **Upacara Pembukaan: Retaknya Langit**
Jian bersama ketiga saudaranya berdiri di depan Gerbang Transendensi. Empat Jenderal Langit, yang menyadari bahwa Wang Jian adalah satu-satunya harapan untuk membersihkan korupsi dimensi yang mengancam benua mereka, akhirnya mundur dan memberikan jalan.
Jian menusukkan tombaknya ke pusat gerbang, sementara Wang Lei, Han, dan Chen meletakkan tangan mereka di sisi pilar. Perpaduan antara **Qi Plasma Naga** milik Jian dan **Qi Angin Murni** ketiga saudaranya menciptakan resonansi yang memekakkan telinga.
*KRAAAKKKKKK!*
Gerbang Transendensi mulai berputar. Cahaya ungu tua bercampur emas meledak keluar, menciptakan lubang hitam di tengah kota. Tekanan dimensi yang keluar begitu kuat hingga bangunan di sekitar gerbang mulai terangkat ke udara.
"Pergilah, Jian!" teriak Wang Lei di tengah badai energi. "Temukan Meiling, dan hancurkan sisa-sisa Leluhur! Kami akan menjaga gerbang ini agar tetap terbuka dari sisi ini!"
Jian menatap ketiga saudaranya untuk terakhir kalinya. "Jika aku kembali, kita akan minum arak di atas reruntuhan istana Leluhur."
Tanpa ragu, Jian melompat ke dalam pusat lubang hitam tersebut. Tubuhnya diselimuti oleh sisik naga hitam sepenuhnya saat ia menembus batas antar-dunia, melesat menuju Benua Mistis untuk merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
### **Status Kultivasi Akhir - Bab 24:**
* **Nama:** Wang Jian
* **Ranah Kultivasi:** **Kristalisasi Inti Bintang 2** (Puncak - Siap menerobos akibat stimulasi Kunci Darah).
* **Fisik:** **Tubuh Inkarnasi Naga Primordial** (Sempurna).
* **Sekutu Baru:** Wang Lei, Wang Han, Wang Chen (Saudara tiri, praktisi Kristalisasi Inti).
* **Tujuan Utama:** **Benua Mistis - Kuil Cahaya Abadi.**
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.