NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Baru

Suasana kamar terasa begitu tenang, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang mendengung halus. Shakira duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi Zidan. Rambutnya yang panjang sudah ia cepol ke atas, menampakkan leher jenjang dan pundak yang tampak kaku karena seharian membungkuk di depan laptop.

Zidan, dengan telaten, menekan otot-otot bahu Shakira. Tangannya yang biasa memegang kunci pas ternyata memiliki sentuhan yang cukup ahli. Tekanan jempolnya terasa pas, meredakan urat-urat saraf Shakira yang sempat tegang karena urusan metodologi penelitian yang rumit.

"Gimana? Enak?" tanya Zidan. Suaranya rendah, terdengar lebih kalem dari biasanya.

Shakira memejamkan mata, menikmati sensasi rileks yang merambat ke seluruh tubuhnya. "Iya... pas banget. Makasih, Dan."

Gerakan tangan Zidan tiba-tiba terhenti. Ia tidak menjauhkan tangannya, namun tekanannya menghilang. Zidan menghela napas panjang yang terdengar cukup dramatis di telinga Shakira.

"Kenapa berhenti? Belum selesai tahu," protes Shakira tanpa menoleh.

"Jangan panggil dan-den-dan-den dong, Ra. Aku berasa kayak temen bengkel kamu kalau dipanggil begitu," keluh Zidan. Ia sedikit memajukan duduknya agar lebih dekat dengan punggung Shakira.

Shakira mengernyit, sedikit menolehkan kepalanya. "Ya terus apa? Kamu kan emang namanya Zidan Ardiansyah. Masa aku panggil Ardi? Itu kan nama Papa."

"Ya jangan panggil nama aja," Zidan kembali memijat, tapi kali ini gerakannya lebih lambat. "Panggil... Mas, gitu. Bisa kan?"

Shakira langsung menegang. Matanya membelalak menatap gorden kamar yang tertutup. "A-apa?!"

"Mas Zidan. Coba, Sayang, aku mau denger gimana suaranya kalau kamu panggil aku 'Mas'. Pasti tingkat kegantengan aku langsung naik seribu persen," ujar Zidan dengan nada bicara yang mulai kembali tengil.

"Apa sih! Nggak! Aku nggak mau. Geli tahu nggak!" tolak Shakira cepat. Wajahnya mulai terasa panas. Bayangan memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas' terasa sangat asing dan terlalu... intim untuknya yang selama ini terbiasa bicara blak-blakan.

"Harus mau. Ayo dong, Sayang. Ini kan salah satu bentuk menghargai suami. Masa sama temen manggil lo-gue, sama suami manggil nama doang? Aku ini kepala keluarga loh," Zidan mulai melakukan diplomasi andalannya. Ia menghentikan pijatannya lagi, kali ini ia melingkarkan tangannya di pinggang Shakira, menyandarkan dagunya di pundak gadis itu.

"Zidan, lepasin! Jangan modus!"

"Nggak bakal lepas sebelum kamu panggil aku 'Mas'. Satu kali aja, biar aku semangat kerja besok pagi."

Shakira menggigit bibir bawahnya. Ia melirik ke arah pintu, berharap ada keajaiban yang menyelamatkannya, tapi nihil. Zidan tetap bergeming di pundaknya, menanti dengan sabar.

"M-mas..." bisik Shakira sangat pelan. Nyaris seperti desisan angin.

Zidan sengaja memasang wajah bingung, ia mendekatkan telinganya ke bibir Shakira. "Ha? Apa? Aku nggak denger, Sayang. Tiba-tiba budeg ini kuping, kayaknya kemasukan knalpot."

"Kamu sengaja ya!" bentak Shakira gemas.

"Beneran nggak denger. Ayo, yang jelas. Mas... siapa?"

Shakira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan harga dirinya yang mulai terkikis. "Mas Zi... dan..."

Zidan tertawa kecil, hembusan napasnya mengenai leher Shakira, membuat gadis itu merinding. "Kok ada spasinya sih? Kayak ngetik skripsi aja pake spasi segala. Lebih jelas, Sayang. Yang lembut, yang tulus dari hati."

"Banyak maunya," gumam Shakira pelan, hampir tak terdengar.

"Aku denger loh ya," sahut Zidan. "Ayo, satu kali lagi. Yang bener. Mas Zidan."

Shakira memejamkan mata rapat-rapat, meremas sprei di bawah tangannya. "Mas Zidan... udah kan? Puas?!"

Zidan langsung melepaskan pelukannya dan bersorak kecil seolah baru saja memenangkan balapan motor. Ia kembali memijat pundak Shakira, kali ini dengan semangat yang berkali-kali lipat.

"Puas banget! Duh, rasanya kayak dapet oli mesin kualitas paling mahal sedunia. Suara kamu pas manggil 'Mas' itu ternyata merdu banget ya, Ra. Bikin adem hati," puji Zidan tanpa henti.

Shakira hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam sempurna. "Udah, lanjutin pijitnya. Jangan banyak omong lagi."

"Siap, Istriku. Apapun buat kamu, Mas Zidan siap laksanakan," Zidan menekankan kata 'Mas' dengan penuh penekanan, sengaja ingin menggoda Shakira lagi.

"Sekali lagi kamu bahas itu, aku panggil kamu 'Om' ya!" ancam Shakira.

"Eits, jangan dong. Mas aja udah cukup. Nanti kalau Om, dikiranya aku gula-gula kamu," Zidan terkekeh. Ia menyelesaikan pijatannya dengan sebuah tepukan ringan di bahu Shakira. "Udah selesai. Pundaknya udah nggak kaku lagi kan?"

Shakira menggerakkan bahunya perlahan. Memang terasa jauh lebih ringan. "Iya, makasih."

"Sama-sama. Sekarang tidur, yuk? Udah malem. Besok aku anter bimbingan lagi jam delapan kan?" Zidan menarik selimut, bersiap untuk berbaring.

Shakira mengangguk, ia ikut naik ke ranjang. Namun, saat tangannya hendak meraih guling pembatas yang tadi sore sempat terjatuh ke lantai, tangan Zidan lebih dulu menangkap guling itu dan menaruhnya di ujung kaki.

"E-eh? Kok ditaruh di sana?" tanya Shakira bingung.

"Tadi kan kamu udah panggil 'Mas'. Jadi gulingnya istirahat dulu malam ini di bawah. Anggap aja ini bonus karena kamu udah jadi istri yang penurut," Zidan mengedipkan sebelah matanya, lalu ia merentangkan lengannya, memberi isyarat agar Shakira mendekat. "Sini, Mas Zidan peluk. Biar tidurnya makin nyenyak, biar mimpinya soal wisuda terus."

Shakira terdiam sejenak. Gengsinya masih ada, tapi kenyamanan yang ia rasakan dalam pelukan Zidan semalam terlalu sulit untuk dilupakan. Perlahan, ia menggeser tubuhnya dan masuk ke dalam dekapan Zidan.

"Jangan modus ya, Mas," ucap Shakira pelan, masih merasa sedikit aneh menyebut panggilan itu.

Zidan tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang penuh kemenangan sekaligus kasih sayang. Ia mengecup puncak kepala Shakira dengan lembut. "Enggak, cuma mau jagain kamu dari tikus khayalan kamu itu. Selamat tidur, Sayang."

"Tidur, Mas..."

Malam itu, sekat di antara mereka benar-benar hilang. Di balik ketengilan Zidan dan judesnya Shakira, panggilan sederhana itu ternyata menjadi jembatan yang meruntuhkan tembok tinggi yang selama ini memisahkan mereka. Dan bagi Zidan, suara lembut Shakira saat memanggil namanya adalah melodi terindah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.

***

Suasana pagi di kediaman Ardiansyah selalu terasa hangat, namun pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Aroma tumisan pakcoy bawang putih yang gurih bersaing dengan wangi tempe tepung yang baru saja diangkat dari penggorengan. Shakira, dengan rambut yang disisir rapi dan wajah yang tampak lebih segar, sibuk menata piring-piring di meja makan.

Papa Ardi dan Mama sudah duduk di posisi masing-masing, sementara Zidan baru saja bergabung setelah mencuci tangan. Ia menarik kursi tepat di samping Shakira, seperti biasa, mencari posisi terdekat dengan istrinya.

"Wah, pakcoy bawang putih! Favorit Papa ini. Menantu Papa memang paling tahu selera orang tua," puji Papa Ardi sambil menyendok sayuran hijau yang masih renyah itu.

"Iya, Pa. Shakira sengaja bikin yang simpel aja pagi ini," jawab Shakira sambil memberikan piring berisi nasi hangat kepada Zidan.

Zidan menerima piring itu dengan senyum lebar. Ia melirik Shakira yang tampak sangat telaten melayaninya. "Sayang, kamu abis ini kuliah jam berapa?" tanya Zidan sambil mulai menyendok tempe tepung yang masih hangat.

"Jam sembilan," jawab Shakira singkat tanpa menoleh, ia sibuk menuangkan teh untuk mertuanya.

"Ehem." Zidan berdehem cukup keras, membuat Papa dan Mama serentak menoleh.

Shakira mengerutkan kening, ia meletakkan teko teh dan menatap Zidan dengan tatapan bertanya-tanya. "Kenapa sih? Keselek?"

"Apa sih Dan?" lanjut Shakira ketus karena Zidan hanya diam sambil menaik-turunkan alisnya.

Zidan menghentikan kunyahannya, ia menaruh sendoknya sejenak dan menatap Shakira dengan tatapan menuntut. "Mas Zidan."

Shakira terdiam sejenak. Ia melirik Papa dan Mama yang kini sedang menahan tawa sambil pura-pura sibuk dengan makanan mereka. Wajah Shakira mendadak terasa panas, teringat janjinya semalam di tepi ranjang.

"Iya, iya... Mas Zidan. Suami aku," ucap Shakira dengan nada pasrah, namun kalimat terakhirnya diucapkan dengan suara yang sedikit lebih lembut.

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Zidan. Kata "Suami aku" yang keluar dari bibir Shakira terasa seperti ledakan kembang api di dalam kepalanya. Jantung Zidan seketika berdisko dengan tempo yang sangat liar. Ia yang biasanya ahli menggoda, tiba-tiba merasa lidahnya kelu dan tangannya sedikit gemetar.

Ia tidak menyangka Shakira akan menambahkan embel-embel "suami aku" di depan orang tuanya. Itu adalah serangan balik yang sangat mematikan bagi seorang Zidan Ardiansyah.

"Kamu kenapa? Kok bengong?" tanya Shakira bingung melihat Zidan yang tiba-tiba mematung dengan wajah yang mulai berubah warna menjadi merah padam.

"Hah? Engga... engga apa-apa. Cuman laper aja," jawab Zidan asal, ia segera menyuapkan nasi dalam porsi besar ke mulutnya untuk menutupi kegugupannya.

"Laper? Kok pipi kamu merah banget, Mas? Kamu demam ya?" Shakira tampak cemas. Ia meletakkan telapak tangannya di meja, lalu secara alami bergerak ingin menyentuh kening Zidan untuk mengecek suhunya.

"Eh, nggak usah pegang-pegang!" Zidan dengan cepat menepis tangan Shakira sebelum jari-jari lembut itu menyentuh kulitnya. Ia merasa jika Shakira menyentuhnya sekarang, jantungnya mungkin benar-benar akan melompat keluar dari dadanya.

Shakira tersentak. Ia menarik kembali tangannya dengan wajah yang kini berubah menjadi jengkel. "Dih, nggak jelas banget! Orang mau ngecek juga. Dasar Mas Karatan!"

Zidan hampir tersedak mendengar panggilan baru itu. "Apa? Mas Karatan? Sembarangan! Ganteng-ganteng gini dibilang karatan."

"Ya lagian aneh. Tadi minta dipanggil Mas, pas dipanggil malah kayak orang kebakaran jenggot. Terus sekarang dipegang nggak mau. Maunya apa sih?" gerutu Shakira sambil mulai menyantap sarapannya sendiri dengan kasar.

Papa Ardi tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Zidan itu bukan demam, Ra. Dia itu shock denger kamu panggil 'Suami aku'. Biasanya kan dia yang agresif, sekarang kena skakmat sama kamu."

"Papa!" protes Zidan dengan wajah yang semakin merah.

Mama ikut menimpali sambil tersenyum menggoda. "Sudah-sudah, habiskan sarapannya. Zidan, kalau sudah selesai langsung panaskan motor, anter Shakira. Jangan sampai menantu Mama telat gara-gara kamu kelamaan 'disko' jantungnya."

Zidan mendengus, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat anjlok. "Siapa juga yang disko jantungnya. Orang emang panas ini udaranya, Ma. Kipas anginnya kurang kenceng."

"Halah, alasan. Bilang aja baper," sindir Shakira sambil melirik Zidan dengan sudut matanya. Ada rasa puas tersendiri di hati Shakira melihat pria yang biasanya selalu membuatnya malu, kini justru berbalik berada di posisi yang sama.

Zidan tidak membalas. Ia fokus menghabiskan nasi gorengnya dengan cepat, meski pikirannya masih memutar ulang suara Shakira saat menyebut "Mas Zidan, suami aku". Kata-kata itu terasa jauh lebih manis daripada gula manapun di dunia.

Setelah selesai, Zidan bangkit berdiri dan mengambil kunci motornya. "Ayo berangkat. Keburu macet."

"Sabar napas dulu kek, Mas Karatan. Baru juga suapan terakhir," omel Shakira, namun ia tetap bangkit dan berpamitan pada Papa dan Mama.

Saat berjalan menuju motor, Zidan berjalan lebih dulu di depan Shakira. Ia berusaha menormalkan napasnya. Ternyata, ditaklukkan oleh kata-kata manis dari istri sendiri jauh lebih mendebarkan daripada menghadapi kerusakan mesin mobil paling rumit sekalipun.

"Mas!" panggil Shakira saat mereka sampai di samping motor.

"Apa lagi?" sahut Zidan sambil memakai helm, mencoba bersikap cuek.

"Jaketnya mana? Katanya tadi dingin, sekarang panas. Aku nggak mau masuk angin ya," ujar Shakira sambil menunjuk jaket denim Zidan yang tersampir di stang.

Zidan memberikan jaket itu tanpa kata, namun tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Shakira. Seketika, getaran itu muncul lagi. Zidan segera membuang muka.

"Pake cepet. Aku tunggu di depan gerbang," ujar Zidan sambil menghidupkan mesin motornya yang menderu.

Shakira menatap punggung suaminya dengan senyum kecil. "Lucu juga kalau dia lagi salting begini," bisiknya pelan sebelum naik ke boncengan.

Meskipun disebut "Mas Karatan", Zidan tahu bahwa sebutan itu adalah tanda bahwa hubungan mereka sudah masuk ke tahap yang lebih "berbahaya"—tahap di mana hati mereka sudah mulai saling memiliki, satu baut dan satu mur pada satu waktu.

1
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!