Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Malam telah melarut di atas langit kota, namun kemeriahan di mansion Cavanaugh seolah belum meredup sepenuhnya. Meski begitu, di sayap utama bangunan megah itu, suasana terasa jauh lebih sunyi dan intim. Kamar pengantin mereka telah disulap menjadi sebuah tempat pemujaan yang sakral—ribuan kelopak mawar merah tua tersebar di atas lantai marmer dan ranjang king size yang dilapisi sutra terbaik. Aroma lilin aromaterapi sandalwood dan jasmine memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan.
Everest menutup pintu kamar dengan perlahan, menguncinya dari dalam. Ia melepas jas tuxedo-nya, menyisakan kemeja putih yang kini kancing atasnya sudah terbuka.
Di sudut ruangan, Liam telah terlelap dengan sangat pulas di dalam boks bayi kristal miliknya, dijaga oleh keamanan tingkat tinggi dan ketenangan yang belum pernah bayi itu rasakan sebelumnya.
Catherina berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman labirin keluarga Cavanaugh. Ia masih mengenakan gaun resepsi yang indah, namun bahunya tampak tegang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela—seorang wanita yang telah melewati badai, seorang ibu, dan kini kembali menjadi istri dari pria yang selalu menghuni mimpinya.
Everest melangkah mendekat, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet tebal. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Catherina dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
"Kenapa kau membeku seperti ini, Sayang?" bisik Everest, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran elektrik ke seluruh tubuh Catherina.
Catherina menarik napas panjang, namun suaranya terdengar gemetar. "Everest... aku hanya... aku merasa tidak pantas."
Everest menghentikan kecupan ringannya di leher Cathe. Ia memutar tubuh wanita itu agar menghadapnya. "Apa yang kau bicarakan? Kau adalah pengantin paling cantik yang pernah kulihat. Seluruh dunia iri padaku hari ini."
Catherina menunduk, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Tapi aku bukan Catherina yang dulu, Everest. Aku... aku pernah menjadi milik orang lain. Ada jejak pria lain di hidupku, di tubuhku... Aku merasa kotor untuk bersanding denganmu yang begitu sempurna."
Hening sejenak. Everest menatap Catherina dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya. Ia meraih dagu Catherina, memaksanya untuk menatap mata elangnya yang kini berkilat penuh tekad.
"Dengarkan aku baik-baik, Catherina Lawrence...atau sekarang, Catherina Cavanaugh," ucap Everest dengan nada yang sangat posesif namun lembut. "Tidak ada yang namanya 'milik orang lain'. Sejak malam pertama kita, jiwamu, tubuhmu, dan napasmu sudah kusegel sebagai milikku. Apa pun yang terjadi selama aku pergi, itu hanyalah sebuah kesalahan teknis dalam takdir kita."
Everest mengusap air mata di pipi Catherina dengan ibu jarinya. "Kau merasa ada jejaknya? Maka malam ini, aku akan menghapus semuanya. Aku akan menyentuh setiap inci kulitmu sampai kau lupa bahwa pernah ada tangan lain yang menyentuhmu. Aku akan mencium setiap sudut memorimu sampai nama pria itu terhapus sepenuhnya dari ingatanmu."
"Tapi Liam... dia lahir di saat aku—"
"Liam adalah putra kita," potong Everest tegas. "Dia adalah bukti bahwa meski kita terpisah jarak dan waktu, darahku tetap menemukan jalannya untuk kembali padamu. Dia bukan sisa-sisa masa lalumu yang pahit, dia adalah masa depan kita yang manis. Berhenti merasa tidak percaya diri, karena bagiku, kau tetaplah murni. Kau tetap bidadariku yang pernah kutinggalkan secara bodoh."
Everest mulai membuka ritsleting gaun Catherina dengan perlahan, gerakan jemarinya begitu telaten seolah sedang membuka kado yang sangat berharga. Gaun itu luruh ke lantai, menyisakan Catherina dalam balutan pakaian dalam renda yang sangat minim. Catherina mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan, namun Everest menahannya.
"Jangan sembunyikan apa pun dariku, Cathe. Aku ingin melihat setiap inci mahakarya milikku ini," gumam Everest.
Ia mengangkat Catherina ke dalam gendongannya dan membaringkannya di atas ranjang yang lembut. Everest menyusul di atasnya, mengunci tubuh Catherina dengan kekuatannya yang mendominasi. Pemujaan dimulai. Everest menciumi dahi, mata, hidung, hingga turun ke bibir Catherina dengan ciuman yang menuntut sekaligus melindungi.
"Kau tetap milikku dulu, sekarang, dan selamanya," bisik Everest di sela-sela ciumannya. "Aku akan memuja tubuh ini seperti aku memuja Tuhan. Tidak akan ada lagi bayangan Adrian, tidak akan ada lagi rasa sakit. Hanya ada aku... dan kau."
Malam itu menjadi saksi bagaimana Everest benar-benar membuktikan ucapannya. Setiap sentuhannya adalah penghapusan jejak. Setiap desahannya adalah klaim atas kedaulatan hatinya.
Everest tidak terburu-buru; ia menikmati setiap detik kembalinya Catherina ke dalam dekapan hangatnya. Ia membuat Catherina merasa diinginkan lebih dari apa pun di dunia ini.
Di tengah gairah yang membakar, Catherina akhirnya melepaskan seluruh bebannya. Ia menyadari bahwa Everest tidak peduli pada masa lalunya, karena bagi Everest, masa lalu itu hanyalah sebuah jeda panjang sebelum mereka benar-benar bersatu.
"Everest... aku mencintaimu," desah Catherina di tengah puncak penyatuan mereka.
"Aku lebih mencintaimu, Cathe. Terima kasih sudah kembali padaku. Terima kasih sudah menjaga Liam untukku," balas Everest, suaranya penuh dengan kepuasan dan cinta yang meluap.
Setelah badai gairah itu mereda, mereka berbaring berpelukan di bawah selimut sutra. Everest memeluk Catherina dengan erat, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita itu akan terbang pergi.
Di sudut kamar, Liam sesekali mengeluarkan suara gumanan kecil dalam tidurnya, menambah kehangatan keluarga kecil yang baru saja diresmikan oleh semesta.
"Liam putra kita, Cathe," bisik Everest sebelum mereka berdua jatuh terlelap. "Besok, dunia akan melihat keluarga Cavanaugh yang paling kuat yang pernah ada. Dan tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Malam pertama itu bukan hanya tentang penyatuan fisik, melainkan tentang penyembuhan luka dan penghapusan trauma.
Di balik pintu kamar yang terkunci, Catherina akhirnya menemukan kembali harga dirinya yang sempat hilang, terkubur di bawah pemujaan tak berujung dari seorang Everest Cavanaught.
Masa lalu telah mati, dan hari ini, sejarah baru telah ditulis dengan tinta emas atas nama cinta dan darah yang sama.