Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tega! 01
"Tega kamu Mas, kamu tega memperlakukan aku kayak gini? Apa salahku Mas, apa salahku ke kamu sampai kamu tega menyakiti aku kayak gini?'
Tangis Arimbi pecah. Hari ini tepat tujuh tahun usia pernikahannya dengan Amar Subagyo. Bukan hadiah manis yang ia terima, bukan juga sebuket bunga lili kesukaannya, akan tetapi sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
Amar, suaminya yang ia sangat hormati dan juga dicintai ternyata memiliki wanita lain. Tak hanya sekedar wanita idaman lain, akan tetapi istri tersembunyi.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka sudah punya seorang anak perempuan yang usianya satu setengah tahun.
Dunia Arimbi seketika luluh lantah, dadanya sesak, hatinya sakit dan bahkan dia merasa bahwa tak mampu lagi untuk berdiri.
Sedangkan Amar, pria itu membisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Tatapannya juga bukannya menyesal, melainkan acuh tak acuh.
"Kalau kamu udah nggak cinta sama aku, kalau kamu udah nggak ingin aku jadi istrimu, kenapa nggak kamu kembalikan saja aku ke orang tuaku?Kenapa harus nyakitin aku kayak gini, Mas? Kenapa?"
Arimbi berteriak. Marah, sedih, sakit, kecewa, itulah perasaannya sekarang. Suami yang begitu dia andalkan, pria yang ia anggap rumah itu, ternyata menyakitinya sedalam ini.
"Dan, katanya kamu nggak pengen punya anak dulu karena kita masih sama-sama muda. Kamu bilang kayak gitu karena katanya kita lagi merintis usaha. Bahkan sampai semua keluargamu mengatakan bahwa aku mandul. Tapi ini apa, ini apa Mas? Kamu punya anak dengan perempuan lain? Sehina itu kah aku di matamu sampai kamu nggak mau aku melahirkan anakmu? Terus kenapa, kenapa kamu nikahin aku hah!"
Arimbi benar-benar lepas kontrol. Dia mengucapkan semuanya tersebut sambil menarik baju Amar.
Namun lagi-lagi Amar hanya diam, dia diam seribu bahasa melihat istrinya histeris.
Mungkin hatinya sudah mati terhadap Arimbi. Dan mungkin hatinya sudah terpatri kepada selingkuhannya.
"Baiklah, baiklah kalau itu yang kamu mau Mas. Kamu nggak akan bicara kan, oke kalau gitu. Sekarang apa mau kamu? Pasti kamu mau cerai kan sama aku? Oke lakukan, tapi aku nggak akan mau ngajuin ke pengadilan. Silakan kamu yang ngajuin. Lalu perusahaan, mari bagi dua perusahaan itu."
"Mana bisa gitu? Itu perusahaan sepenuhnya punya aku! Aku yang memajukan perusahaan itu sampai sebesar sekarang."
Akhirnya Amar bicara juga dan Arimbi hanya menyeringai. Arimbi menghapus air matanya yang dirasa percuma untuk ia tumpahkan.
"Haaaah kamu bari buka mulut pas aku nyinggung soal perusahaan. Memang benar bahwa itu adalah kamu yang membesarkan. Tapi jangan lupa Mas, ada sebagian harta ku di sana. Harta yang ku berikan hasil menjual tanah yang orang tuaku berikan. Dan jangan lupa, aku adalah direktur di sana. Jika kita cerai, aku akan meminta bagian dari perusahaan itu sesuai hukum harta gono-gini. Inget ya Mas, bahwa FA Express (FAE) adalah perusahaan yang kita dirikan bersama setelah kita menikah. Jadi jangan serakah dan culas. Sekarang, pergi dari rumah ini! Atau kamu malah mau ngusir aku? Nggak masalah, baik aku yang akan pergi."
Arimbi meraih hijab instannya. Sekarang rasanya dia tak bisa menunjukkan rambutnya kepada Amar. Hubungan yang sudah akan berakhir itu, membuat Arimbi memantapkan hati untuk menganggap Amar bukan lagi suaminya meski belum ada kata talak dari pria itu.
Arimbi masuk ke kamarnya, dia mengambil koper memasukkan semua baju dan juga barang berharga miliknya. Dua buah koper besar dan sebuah dufle bag ia bawa dari dalam kamar.
Amar bergeming, melihat Arimbi melintas di depannya dengan semua barang-barang itu tak membuat ia bergerak. Hati Amar benar-benar sudah mati. Atau mungkin dia sudah tak punya hati.
Klak
Brummm
Arimbi meninggalkan rumah yang sudah 7 tahun ditempatinya. Ia tidak pernah mengira bahwa ia akan melakukan ini juga.
Hiks hiks Aaaah
Tangis Arimbi pecah lagi, dan kali ini lebih keras dari pada tadi. Hatinya yang amat sangat sakit membuatnya tak lagi mampu menahannya.
Tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, Arimbi yang sadar bahwa saat ini emosinya tengah tidak stabil memilih untuk menepi. Dia meluapkan semua rasanya itu dengan menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan.
Drtzzzz
Ponselnya berdering. Arimbi melirik sekilas ke arah ponsel itu. Nomor Amar yang masih belum ia ganti di buku teleponnya dengan nama 'suamiku' membuatnya geram sendiri. Alhasil Arimbi langsung mengganti dengan nama tanpa embel-embel apapun saat itu juga.
Drtzzz
Lagi, ponselnya kembali berdering. Tapi kali ini bukan dari Amar melainkan dari sang klien.
Arimbi sebenarnya tidak ingin menjawabnya sekarang ini. Akan tetapi ia harus tetap profesional dengan pekerjaannya. Meski sebenarnya sekarang ini sudah tidak berada di jam operasional.
Pukul sepuluh malam, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat, namun Arimbi masih berkutat dengan kemalangan yang menimpa rumah tangganya. Lalu sekarang, dia pun harus mengerjakan pekerjaan dadakan.
"Selamat malam, Bu. Saya Ibnu dari AbChia Design (ACD). Mohon maaf mengganggu waktu Bu Arimbi malam-malam begini. Saya ingin menanyakan paket yang kami kirimkan. Paket tersebut amat penting dan sedang ditunggu oleh si penerima. sudah tiga hari ini paket milik kami tidak bergerak dan statusnya ada di gudang hub Jakarta. Kira-kira kapan kami akan mendapatkan paket kami. Saya menghubungi Bu Arimbi karena kami sudah bekerja sama dengan FAE selama setahun belakangan ini. Kami percaya penuh dengan FAE, hanya saja kali ini terlalu lama. Meski paket itu bersifat pribadi, tapi itu adalah paket urgent."
Arimbi mengucapkan istigfar dengan lirih, rasanya sungguh lelah saat ini. Ingin rasanya dia berteriak terhadap orang yang menghubunginya itu. Ia ingin berkata, "Gue capek!! Please jangan dulu ngomong apa-apa. Gue butuh sendiri, gue butuh tenang!" Ya Arimbi ingin berkata demikian. Namun tentu saja itu semua hanya sebatas angannya saja.
Bagaimanapun yang namanya urusan pribadi tak boleh dilibatkan dalam urusan pekerjaan. Mau sebutek apapun isi kepalanya saat ini, Arimbi harus bisa melakukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Mohon maaf Pak Ibnu, saya sungguh merasa menyesal mendengar hal tersebut. Saya akan langsung memeriksanya saat ini juga. Dan saya akan memberikan jaminan barang sampai sesuai dengan estimasi pengiriman. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Pak Bhumi. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Baik Bu Arimbi, terimakasih untuk follow-up nya. Saya akan sampaikan hal tersebut kepada Pak Bhumi. Kami tunggu kabar baiknya. Mohon maaf mengganggu waktu Anda malam-malam begini. Terimakasih dan selamat malam."
Haaaah
Arimbi menghela nafasnya panjang. Dia juga memejamkan matanya sejenak. Air mata yang masih terasa basah di mata dan pipi itu segera ia singkirkan. Ada hal yang lebih penting untuk saat ini yakni tentang pekerjaan.
"Baiklah, selesaikan malam ini juga karena esok, urusannya udah lain. Mas Amar, aku tunggu surat pengadilan darimu karena aku nggak akan pernah ngajuin tuntutan lebih dulu."
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik
ngapain kamu datang
asal kamu tau bentar lagi juga amar jadi gembel🤣🤣