Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Yudha bersorak kegirangan dalam hati—gadis incarannya ini justru duduk tepat di sampingnya! Meski ia belum memulai aksinya, duduk sedekat ini jelas merupakan keuntungan strategis.
"Dek, kita bertemu lagi ya," sapa Yudha pada Wulan sambil menyeringai. Namun, di mata orang lain, senyumnya itu terlihat benar-benar mencurigakan.
"Siapa yang kamu panggil 'Adek'? Kamu saja tidak kelihatan lebih tua dariku," sahut Wulan dengan nada agak ketus, namun terselip sedikit rasa gugup.
"Ehem!" Tepat saat itu, Pak Dosen di depan kelas mulai berbicara.
Secara umum, dosen di universitas jauh lebih santai dibandingkan guru sekolah. Gaya bicara dan cara mereka mengelola mahasiswa pun berbeda; tidak ada lagi hukuman berdiri di depan kelas hanya karena masalah sepele. Namun, karena mereka semua baru saja melepas seragam putih abu-abu, rasa hormat terhadap pengajar masih mendarah daging. Seluruh kelas pun duduk tegak dengan raut serius saat melihat dosen mulai angkat bicara.
Dosen itu adalah seorang pria berusia awal empat puluhan, berkacamata, dan memancarkan aura intelektual yang kental. Penampilannya sangat rapi dan berwibawa.
Meski terlihat serius, ia berbicara dengan nada yang sangat lembut. Ia menatap para mahasiswa yang duduk kaku di bawahnya dan tersenyum ramah, "Santai saja semuanya. Ini sudah dunia perkuliahan. Kalian semua sudah dewasa. Hubungan kita sekarang berbeda dengan saat kalian masih di SMA. Meskipun saya pembimbing kalian, anggaplah saya sebagai teman."
Ia kemudian menuliskan nama dan nomor ponselnya di papan tulis. "Ini nama dan kontak saya. Kalian bisa menghubungi saya kapan saja jika memerlukan bantuan."
Sikap dosen yang bersahabat itu seketika mencairkan suasana. Ketegangan yang tadinya menyelimuti ruangan perlahan sirna.
"Nah! Hari ini saya juga akan memperkenalkan seorang dosen pembimbing kemahasiswaan yang akan mendampingi kalian selama empat tahun ke depan." Sambil berbicara, Pak Dosen melambai ke arah pintu kelas, dan seorang wanita muda yang cantik melangkah masuk.
"Halo semuanya, saya Yolanda, dosen pembimbing kalian untuk empat tahun ke depan. Panggil saja saya Kak Yola. Karena saya juga alumni kampus ini, anggap saja saya sebagai senior kalian sendiri. Jangan merasa sungkan ya. Jika kalian menghadapi kesulitan dalam hidup atau perkuliahan, silakan temui saya. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu kalian semua."
Kak Yola berbicara dengan penuh percaya diri dan pembawaan yang anggun. Suaranya terdengar merdu, selembut denting mutiara yang jatuh di atas piring giok. Sepasang mata besarnya berbinar seolah bisa bicara, membuat setiap mahasiswa yang melihatnya langsung merasa nyaman dan segan.
Melihat betapa mudanya dosen pembimbing mereka, mata Yudha langsung melakukan pengintaian cepat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia harus mengakui, dosen muda ini memiliki lekuk tubuh yang luar biasa—benar-benar proporsional dan menggoda, layaknya sebuah mahakarya! Yudha bahkan tidak tahan untuk tidak berfantasi liar sejenak.
"Hei! Apa dia lebih cantik dariku? Kenapa kamu menatapnya sampai tidak berkedip begitu?" bisik Wulan yang duduk di samping Yudha dengan nada sedikit kesal. Sepasang mata indahnya kini terpaku pada Yudha, satu-satunya pemuda tampan di Jurusan Akuntansi tersebut.
Dosen Pembimbing Akademik benar-benar tipe orang yang santai—atau mungkin tidak mau repot. Setelah memperkenalkan Yolanda, beliau langsung angkat kaki dan menghilang begitu saja. Selanjutnya, Kak Yola mengambil alih kelas dan menyapa semuanya: "Karena hari ini pertemuan pertama, ada baiknya kalian semua maju satu per satu untuk memperkenalkan diri. Ini supaya kalian bisa lebih cepat akrab dengan teman sekelas yang akan bersama kalian selama empat tahun ke depan."
Saran itu disambut riuh setuju oleh para mahasiswa. Satu demi satu, mereka naik ke depan kelas.
Yudha memperhatikan Mina. Gadis itu tampak sangat malu-malu saat gilirannya tiba. Namun, dengan dorongan lembut dari Yola, Mina akhirnya berhasil menyelesaikan perkenalannya meski wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Baru sekarang Yudha tahu kalau Mina aslinya berasal dari daerah di Jawa Tengah, tidak terlalu jauh dari kampung halamannya. Keluarga Mina tinggal di desa, dan mungkin karena merasa kesepian merantau jauh demi kuliah, mata gadis itu berkaca-kaca dan ia sempat terisak saat bercerita.
Yudha merasa sedikit canggung. Apa perlu sedramatis itu? pikirnya. Namun, melihat gadis-gadis di sekitarnya, mereka semua tampak sangat berempati. Hanya Wulan yang duduk di sampingnya yang terlihat cuek bebek, membuat Yudha mengernyit heran.
Saat giliran Wulan, ia hanya tersenyum manis dan mengatakan bahwa dia adalah warga lokal. Ia mengaku tinggal sendirian di sebuah rumah yang menurutnya sangat indah. Ia bahkan terang-terangan mengajak teman-temannya untuk mampir, bahkan menginap, karena ia merasa kesepian. Ia menjelaskan kalau orang tuanya tipe yang kurang bertanggung jawab dan sering bepergian meninggalkannya sendirian—nada bicaranya terdengar sangat penuh dendam.
Mendengar itu, Yudha membatin nakal, "Kira-kira dia bakal menyambutku tidak ya? Kalau iya, wah, bakal luar biasa."
Ketika tiba giliran Yudha untuk maju—sebagai satu-satunya pemuda tampan yang langka di Jurusan Akuntansi—lima puluh pasang mata gadis di kelas itu langsung tertuju padanya. Meski Yudha merasa wajahnya sudah setebal kulit badak, ia tetap tidak bisa menahan rona merah tipis yang muncul di pipinya.
Namun, ia tetap tersenyum karismatik dan menyapa, "Namaku Yudha. Mulai sekarang, kita semua adalah teman dan rekan sekelas. Kalau kalian butuh bantuan apa pun ke depannya, bilang saja padaku."
"Kapten, kalau aku pinjam uang... boleh tidak?" seorang gadis yang tampaknya cukup berani tiba-tiba menyahut sambil tertawa kecil.
Yudha: "..."
Setelah sesi perkenalan selesai, Kak Yola tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Untuk memudahkan koordinasi kelas, mari kita pilih pengurus kelas sekarang. Biar adil, pemilihan akan dilakukan lewat pemungutan suara internal Senin depan."
Yudha sebenarnya tidak terlalu peduli soal jabatan pengurus kelas. Tanpa jabatan, tanpa beban! Ia tidak mau masa-masa emasnya untuk berkencan terganggu oleh urusan administratif yang merepotkan. Namun, ketidakpedulian Yudha bukan berarti orang lain juga sama. Terpilih sebagai pengurus kelas di universitas biasanya adalah posisi yang diperebutkan. Berbeda dengan di sekolah menengah, pengurus kelas di kampus punya tanggung jawab dan keuntungan yang nyata.
Menjadi ketua kelas di universitas bisa membantu mengembangkan kemampuan organisasi, komunikasi, dan koordinasi. Selain itu, jabatan ini memberikan poin plus yang signifikan untuk evaluasi prestasi dan pengajuan beasiswa. Banyak juga yang mengincarnya demi memperluas jaringan dan mendapatkan akses informasi lebih cepat, karena informasi sering kali menjadi barang langka di lingkungan kampus.
"Yudha, aku mau mencalonkan diri jadi Ketua Kelas. Kamu harus pilih aku Senin depan!" Wulan yang duduk di samping Yudha tiba-tiba menyenggolnya, lalu mengepalkan tinju kecilnya seolah mengancam.