NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Belas

"Satu malam tanpa kendali mengubah segalanya dan saat pagi datang, Hana hanya punya dua pilihan: mengingat atau melupakan selamanya.”

Pagi datang tanpa permisi.

Sinar matahari menyelinap masuk lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Hana. Hangat, tapi terasa mengganggu. Ia mengerjap pelan, alisnya berkerut saat kesadarannya mulai kembali satu per satu. Kepalanya berat. Sedikit berdenyut.

Hana mengerang pelan, mengangkat tangannya untuk menutup wajah dari cahaya. Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar membuka mata.

Matanya menatap langit-langit kamar. Bukan … ini bukan langit-langit kamar hotelnya.

Keningnya semakin berkerut. Ia menoleh pelan ke kanan lalu membeku. Seorang pria terbaring di sampingnya.

Napas Hana langsung tercekat. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga terasa menyakitkan.

“Apa yang …?” suaranya nyaris tak terdengar.

Ia buru-buru menarik selimut, menutup tubuhnya sendiri dengan refleks. Pandangannya jatuh lagi ke pria itu. Wajahnya tenang. Tertidur lelap, seolah tidak ada beban apa pun di dunia ini.

Hana menelan ludah. Ingatannya berusaha dipaksa kembali. Fragmen-fragmen malam tadi muncul—bar, minuman, rasa pusing, seseorang yang menahannya saat hampir jatuh. Dan pria ini. Hana memejamkan mata sejenak, napasnya bergetar.

“Apa yang telah aku lakukan …,” bisiknya lirih.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Bukan hanya karena situasi ini, tapi juga karena kenyataan bahwa ia kehilangan kendali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu apa yang benar-benar terjadi sepenuhnya.

Perlahan, sangat hati-hati, Hana menyingkirkan selimut. Ia turun dari ranjang tanpa suara, menahan napas agar tidak membangunkan pria itu.

Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia sedikit terhuyung, tapi berhasil menyeimbangkan diri.

Hana melihat pakaiannya tergeletak rapi di kursi. Ia segera mengambilnya, mengenakannya dengan gerakan cepat namun tetap berhati-hati. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan rambutnya.

Sekali lagi, ia menoleh ke arah ranjang. Pria itu masih tertidur. Hana menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Wajahnya tegas. Tampan. Terlihat berbeda dari pria-pria yang biasa ia temui. Tapi itu tidak mengubah apa pun. Ia tidak mengenalnya. Dan itu cukup untuk membuat Hana mundur.

Tanpa suara, ia meraih tasnya. Kakinya melangkah pelan menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca tipis, takut pecah kapan saja.

Tangannya menyentuh gagang pintu. Sekali lagi, ia berhenti. Menoleh. Lalu tanpa kata, tanpa jejak, Hana membuka pintu itu dan pergi.

Beberapa saat kemudian, kamar itu masih sunyi. Sampai akhirnya, pria di atas ranjang itu bergerak pelan.

Arsaka mengerjap. Alisnya sedikit berkerut saat cahaya matahari mengganggu tidurnya. Ia menghela napas panjang, lalu membuka mata perlahan.

Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya kembali. Ia menatap langit-langit. Lalu memiringkan kepala ke samping.

Arsaka terkejut karena tempat itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Alisnya langsung mengernyit. Ia bangkit setengah duduk, melihat ke sekeliling kamar.

“Hmm .…”

Ia mengusap wajahnya, mencoba mengingat. Malam tadi … bar … seorang perempuan yang mengaku bernama Hana. Matanya langsung terbuka lebih lebar.

Arsaka segera bangkit dari ranjang. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi, membuka pintunya. Kosong, tak ada siapa-siapa.

Ia keluar lagi, mengecek sudut ruangan lain. Tidak ada tas. Tidak ada jejak selain dirinya sendiri. Perempuan itu benar-benar sudah pergi.

Arsaka berhenti di tengah kamar, lalu menghela napas pelan. Ia berjalan kembali ke ranjang dan duduk di tepinya.

Pikirannya mulai menyusun ulang kejadian semalam. Perempuan itu … Hana.

Wajahnya muncul jelas di benaknya. Cantik. Tapi bukan sekadar cantik. Ada sesuatu yang berbeda. Lembut. Rapuh. Dan entah kenapa … jujur, wanita itu bukan tipe wanita yang biasa “disediakan” untuknya.

Alis Arsaka kembali berkerut. “Kenapa dia pergi tanpa meminta bayaran?” gumamnya pelan. Itu yang paling aneh.

Semua yang diatur oleh rekan kerjanya selalu jelas. Tidak pernah ada yang pergi begitu saja. Selalu ada maksud. Selalu ada kesepakatan, meski tak pernah diucapkan langsung. Tapi perempuan ini, tidak meminta apa pun. Bahkan tidak meninggalkan apa pun.

Arsaka menghela napas lagi, lebih dalam kali ini. Ada rasa ganjil yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang mengganggu pikirannya lebih dari yang seharusnya. Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkannya terlalu lama.

Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitnya, sedikit membantu meredakan pikirannya yang masih berantakan.

Beberapa waktu kemudian, Arsaka sudah duduk di restoran hotel.

Meja sarapan telah terisi. Rekan-rekan kerjanya sudah lebih dulu datang. Suasana santai, obrolan ringan, tawa kecil sesekali terdengar. Namun Arsaka tidak terlalu fokus.

Ia mengambil makanan secukupnya. Mulai makan, meski pikirannya masih sesekali kembali ke pagi tadi.

Sampai akhirnya, salah satu rekannya membuka suara.

“Maaf, Pak Arsaka.”

Arsaka menoleh sedikit, tanpa benar-benar mengangkat kepala.

“Saya … tidak berhasil mencarikan wanita yang cocok untuk Anda semalam,” lanjut pria itu, terdengar agak canggung. “Saya tidak berani memberikan wanita sembarangan.”

Gerakan tangan Arsaka langsung berhenti. Sendok yang ia pegang menggantung di udara beberapa detik.

“Apa?” tanyanya singkat.

“Saya pikir … lebih baik tidak ada daripada salah,” tambah rekannya cepat. “Saya tidak ingin mengecewakan Anda dengan pilihan yang tidak tepat.”

Arsaka menatapnya sekarang. Tatapannya tajam. Lalu perlahan ia menarik napas.

Jadi ... tidak ada yang diatur? Tidak ada yang disiapkan? Lalu siapa Hana?

Ia kembali duduk bersandar, pikirannya langsung berputar cepat. Wajah Hana muncul lagi. Sendirian di bar. Tatapan kosong.

Cara ia hampir jatuh. Cara ia menyebut namanya dengan suara pelan. Dan cara ia pergi tanpa jejak. Arsaka mengusap dagunya pelan, matanya sedikit menyipit.

“Kalau begitu …,” gumamnya dalam hati. "Siapa dia sebenarnya Hana? Wanita baik-baik yang tersesat di tempat yang salah? Atau memang bagian dari dunia itu, hanya saja berbeda?

Dan kalau memang ia bagian dari dunia malam, kenapa ia pergi tanpa meminta apa pun?

Pertanyaan itu menggantung di kepalanya. Tidak terjawab. Dan justru semakin mengusik.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!