Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Pagi di hutan selalu datang tanpa suara.
Tidak ada hiruk pikuk. Tidak ada langkah kaki manusia. Hanya cahaya matahari yang perlahan menembus sela-sela dedaunan, jatuh lembut di tanah yang masih basah oleh embun.
Di tengah hutan itu, berdiri sebuah gubuk kecil-sederhana, hampir seperti bagian dari alam itu sendiri.
Di depan gubuk, seorang anak kecil duduk bersila di atas tanah.
Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kantuk, dan kedua matanya tertutup rapat... meski alisnya berkerut.
"Tidak bisa..."
Ia membuka satu mata, lalu menghela napas panjang.
"Aku sudah diam sejak tadi, tapi tidak ada apa-apa."
Di depannya, duduk seorang pria berjubah putih dengan posisi yang sama, tenang tanpa goyah sedikit pun.
Purus membuka matanya perlahan.
"Kau terlalu ingin berhasil."
Anak itu-Grachius-langsung membuka kedua matanya.
"Tentu saja! Kalau aku tidak berhasil, aku harus ulang lagi dari awal, kan?"
Purus tidak menjawab.
Ia hanya menatap Grachius beberapa saat, lalu mengangkat tangannya pelan.
"Dengarkan."
Grachius mengerutkan kening.
"Apa?"
"Bukan dengan telinga."
Sunyi.
Awalnya, Grachius ingin protes. Tapi melihat ekspresi Purus yang serius... ia menutup kembali matanya, meski dengan sedikit kesal.
Hening menyelimuti mereka.
Detik berlalu.
Lalu menit.
Grachius mulai gelisah.
Kakinya ingin bergerak. Tangannya ingin menggaruk. Pikirannya melompat ke mana-mana-dari rasa lapar, ke rasa bosan, lalu kembali ke rasa kesal.
"Ini membosankan..." gumamnya pelan.
"Karena kau masih mendengarkan dirimu sendiri."
Suara Purus tenang, tapi tepat.
Grachius terdiam.
"Maksudnya?"
"Dunia tidak pernah diam," lanjut Purus. "Kau yang terlalu berisik."
Kalimat itu membuat Grachius sedikit bingung... tapi ia mencoba lagi.
Ia menarik napas.
Pelan.
Lalu menghembuskannya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Perlahan... sesuatu berubah.
Bukan dunia di luar.
Tapi dirinya.
Suara daun yang tertiup angin mulai terasa... lebih jelas. Suara serangga, gemerisik ranting, bahkan detak jantungnya sendiri.
Grachius tidak membuka mata.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin membuka mata.
"Aku... mendengar sesuatu," katanya pelan.
"Bukan mendengar," jawab Purus. "Kau mulai menyadari."
Beberapa saat kemudian, Purus kembali berbicara.
"Sekarang, rasakan."
Grachius mengerutkan alis.
"Apa lagi?"
"Energi."
Grachius mengangkat kedua tangannya, lalu menatapnya.
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Karena kau mencarinya dengan mata."
Purus mengulurkan tangannya... lalu dengan lembut menyentuh dada Grachius.
"Tutup matamu."
Grachius menurut.
"Tarik napas... dan jangan lepaskan perhatianmu dari dalam dirimu sendiri."
Grachius menarik napas dalam.
Untuk beberapa saat, tidak ada apa-apa.
Lalu...
Ada sesuatu.
Hangat.
Kecil... tapi nyata.
"Ada... sesuatu," bisiknya.
"Jangan dikejar," kata Purus. "Biarkan ia bergerak."
Grachius mencoba.
Perasaan hangat itu perlahan bergerak... mengikuti napasnya.
Naik.
Turun.
Seperti gelombang kecil di dalam tubuhnya.
Ia tersenyum.
"Aku bisa merasakannya!"
"Bagus."
Namun suara Purus tetap datar.
"Kini, jangan kehilangan itu."
Beberapa menit berlalu.
Keringat mulai muncul di dahi Grachius.
Menjaga sesuatu yang tidak terlihat... ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.
Perasaan hangat itu mulai goyah.
Menghilang.
Lalu muncul lagi.
"Aku... hampir kehilangan..."
"Itu wajar."
Purus berdiri perlahan.
"Kau baru saja menyentuh dasar dari energi dalam."
Grachius membuka mata, napasnya sedikit terengah.
"Itu melelahkan..."
"Karena kau memaksanya."
Purus berjalan beberapa langkah, lalu menatap ke arah hutan yang luas.
"Ada satu hal lagi."
Grachius langsung duduk tegak.
"Apa itu?"
Purus tidak langsung menjawab.
Ia menatap jauh ke depan, seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia biasa.
"Fatum."
Grachius mengedip.
"Fatum?"
"Jalan."
"Jalan ke mana?"
"Ke segala sesuatu."
Grachius semakin bingung.
Purus kembali menatapnya.
"Setiap makhluk berjalan di jalannya masing-masing. Tidak selalu lurus. Tidak selalu benar."
"Kalau begitu... bisa salah?"
"Bisa."
"Kalau salah?"
Purus terdiam sejenak.
Lalu menjawab dengan tenang:
"Semua jalan tetap mengarah ke suatu tempat. Bahkan yang salah sekalipun."
Grachius memiringkan kepalanya.
"Itu terdengar aneh..."
"Itu karena kau masih melihat tujuan," kata Purus. "Bukan perjalanan."
Angin berhembus pelan.
Daun-daun berguguran.
Grachius menatap tanah di depannya.
"Kalau begitu... jalan ku apa?"
Purus tidak langsung menjawab.
Matanya menatap Grachius dalam-dalam.
Seolah mencoba melihat sesuatu yang bahkan belum terjadi.
"Belum saatnya kau tahu."
Grachius cemberut.
"Kenapa semua harus 'belum saatnya'..."
Purus berbalik, berjalan kembali ke arah gubuk.
"Karena jika kau tahu terlalu cepat... kau mungkin tidak akan memilih jalan itu."
Grachius terdiam.
Ia tidak sepenuhnya mengerti.
Tapi... kata-kata itu terasa penting.
Ia menutup matanya sekali lagi.
Mencoba merasakan kembali kehangatan kecil di dalam dirinya.
Kali ini... lebih pelan.
Lebih sabar.
Dan untuk pertama kalinya-
Grachius tidak terburu-buru.
Di dalam dirinya, sesuatu yang kecil... mulai tumbuh.
Sesuatu yang tidak terlihat.
Namun suatu hari nanti-
akan cukup kuat untuk mengguncang langit.