Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Kecelakaan
"Untuk apa Mama datang?" di tengah kepanikan itu terdengar suara Emir, membuat Davina melihat melihat ke arah pintu kerja putranya.
"Memang salah jika seorang ibu ingin datang melihat keadaan putranya?" tanya Davina.
"Tidak perlu berbicara panjang lebar di sini. Ayo masuk ke ruanganku jika ingin berbicara!" ajak Emir tidak ingin basa-basi dengan ibu kandungnya itu.
"Tidak perlu. Mama ingin mengajak kamu makan siang," ajak Davina.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," sahut Emir.
"Mama akan menunggu di sini," jawab Davina keras kepala.
Ayana harus berada di situasi ibu dan anak yang tampak berdebat dengan suara mereka tidak terlalu kencang.
"Baiklah. Ayo!" Emir tidak punya pilihan lain menuruti permintaan dari Davina.
"Ayo Ayana!" ajak Davina.
"Ma...!" tegur Emir.
"Kenapa? bukankah Sekretaris kamu memang selalu ikut ke manapun kamu pergi, baik makan dan hal lainnya dan lagi pula saat ini wanita yang duduk di sini itu bukan Sekretaris kamu lagi dan bukankah dia istri kamu, kamu tidak ingin mengajaknya untuk ikut makan?" tanya Davina.
"Bu, saya harus mengerjakan beberapa dokumen yang belum selesai," sahut Ayana menjawab.
"Kamu tidak ingin makan siang bersama saya?" tanya Davina dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ayo!" ajak Emir mau tidak mau istrinya harus ikut.
Davina tersenyum dan sementara Ayana tidak punya pilihan lain dengan menghela nafas dan mengikuti majikannya itu. Emir juga lebih baik mengajak istrinya daripada ibunya itu terus saja mengeraskan suaranya membuat orang-orang bertanya.
*****
Akhirnya Ayana bersama dengan Emir dan juga Davina makan bersama di salah satu Restaurant mewah di pusat kota yang tidak jauh dari perusahaan.
Makana mereka sudah diantarkan pelayan, mereka bertiga bahkan sudah mulai menikmati pesanan masing -masing.
Davina sembari makan sembari melihat bagaimana Emir yang duduk bersebelahan dengan Ayana. Ternyata di manapun itu kebiasaan selalu saja Ayana.
Sebelum Emir, menikmati soup yang dia pesan. Ayana terlebih dahulu memeras jeruk nipis dan juga menaruh sedikit cabai pada mangkuk sup tersebut, sepertinya sesuai dengan selera Emir.
Hal itu membuat Davina mengendus dengan tersenyum miring.
"Jadi ini yang membuat kamu memilih untuk yakin menikah dengan Sekretaris kamu?" tanya Davina membuat Emir mengangkat kepala.
Ibunya itu menatap dirinya penuh arti. Ayana serba salah dan hanya bisa menghela nafas.
"Sepertinya kamu beli satu dapat dua," lanjut Davina.
"Maksud Mama?" tanya Emir.
"Lihatlah kamu bukan hanya mendapatkan Sekretaris yang mengurus pekerjaan, tapi juga mengurus diri kamu, itu artinya kamu memperkerjakan Sekretaris kamu 24 jam tanpa henti," ucap Davina.
"Mama ingin bicara apa sebenarnya?" tanya Emir.
"Apa salahnya Mama bertanya seperti itu kepada kamu?" tanya Emir.
"Bukankah apa yang Mama katakan benar, jika kamu menikah dengan Ayana untuk memanfaatkannya dalam dunia pekerjaan, selain menjadi Sekretaris dan juga bahkan menjadi pengasuh untuk kamu," sahut Davina.
"Ma..." tegur Emir.
"Ayana, kamu jelas tahu jika Emir memiliki hubungan dengan kekasihnya yang tidak bisa berjalan itu? Lalu apa kamu tidak apa-apa jika setiap hari harus menemani suami kamu menemui kekasih bayangan yang saya sudah pasti tahu bahwa dia tidak mengetahui bahwa kalian menikah, kamu tidak masalah sama sekali dengan hal itu?" tanya Davina.
Ayana terdiam mendengar pernyataan dari ibu mertuanya itu.
"Kamu jelas sudah mempertimbangkan sebelum menikah dengan Emir, bukan? Hati-hati akan makan hati," ucap Davina mengingatkan terdengar begitu sinis.
"Sudah cukup. Ma!" tegas Emir sampai menghentikan makan dengan suara dentingan sendok cukup keras.
"Jika Mama mengajak makan siang untuk membicarakan hal tidak jelas seperti ini, maka lain kali tidak akan ada makan siang lagi," ucap Emir.
"Kamu selalu saja seperti ini Emir, membatasi diri kamu untuk tidak berbicara dengan Mama. Kamu pikir tidak ada seorang ibu yang tidak kecewa dengan pilihan putranya, menikah tanpa sepengetahuan ibu kandungnya, ibu yang melahirkan kamu harus mengetahui bahwa kamu sudah menikah dari Oma. Kamu tidak menganggap saya sebagai ibu kamu, tidak pernah melibatkan saya dalam hal apapun dan termasuk dalam hal besar yang terjadi dalam hidup kamu!" tegas Davina.
"Kenapa Mama menginginkan aku harus melibatkan segala hal dalam hidupku dengan Mama, lalu apa dulu Mama pernah peduli?" tanya Emir.
"Kamu terus mengungkit masa lalu, tanpa mengerti dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya!" tegas Davina.
"Cukup semuanya!" tegas Emir berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo kembali!" ajak Emir.
"Saya masih ingin bicara empat mata dengan kamu!" tegas Davina.
Ayana yang tadi hampir saja berdiri tidak jadi berdiri.
"Kamu berumah tangga dan bekerja dengan saya. Saya yang menentukan semuanya!" tegas Emir.
Ayana benar-benar bingung harus mematuhi perintah siapa di depannya itu adalah ibu mertuanya dan pria yang berdiri di sebelahnya itu adalah suaminya dan juga bosnya.
"Emir kamu membicarakan masalah rumah tangga, Mama ingin mendengar rumah tangga seperti apa yang akan kamu jalani bersama Ayana. Hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi dalam rumah tangga kalian, wanitanya akan menyerah atau prianya yang tidak bisa mengendalikan diri," ucap Davina.
Emir sudah tidak ingin mendengar apapun yang dikatakan ibunya memegang tangan Ayana dan menarik paksa untuk meninggalkan tempat tersebut membuat Ayana tidak punya pilihan lain dan mengikuti atasan.
Davina juga tidak menghentikan hanya melihat kepergian putra dan menantunya itu dengan nafas naik turun. Davina masih punya rasa malu diperhatikan orang-orang yang Restaurant itu.
*****
Emir berada di mobil dan mengambil alih untuk menyetir dengan kecepatan yang tidak terkendali. Ayana yang duduk di sebelahnya cukup panas sebentar sebentar melihat ke Emir.
Mungkin Emir terpancing emosi, dengan semua yang di katakan Davina dengan menyudutkan dirinya dan terlebih Ayana dilibatkan atas semuanya dan begitu Tiara.
Dratt-dratt-dratt.
Ponsel Emir bergetar membuat pria dalam pengaruh emosi itu melihat panggilan masuk dari kekasihnya Tiara.
Emir tidak mengangkat hanya membiarkan saja bergetar dan semakin ponsel itu tidak bisa diam semakin mobil itu melaju kencang.
"Pak...." lirih Ayana mencoba untuk menenangkan agar Emir bisa mengendalikan diri.
Ternyata tidak ada yang bisa dia lakukan, selain menyetir dengan kencang dan bahkan menyalip beberapa truk besar di depannya. Ayana seperti menaiki roller coaster dengan taruhan nyawa.
"Ya Allah bagaimana ini, bagaimana jika terjadi sesuatu pada kami," batin Ayana panik.
Sampai mobil besar itu melaju tidak kalah kencangnya berlawanan arah Emir. Mata Emir melotot saat melihat truk tersebut semakin dekat.
"Pak awas!" teriak Ayana.
Emir dengan cepat membanting setir mobil ke kiri, naasnya mobil itu menabrak pembatas jalan yang kuat Ayana menyilangkan tangannya.
Tin-tin-tin-tin-tin.
Suara klakson terus berbunyi dari mobil Emir yang kecepatan semakin tidak terkendali dengan menabrak apa saja yang ada di depannya.
Bersambung...