Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Tepat setelah kumandang azan Dzuhur berakhir, suara mobil berhenti di depan pagar. Tak lama, Mbak Rita dan suaminya, Mas Jefri, melangkah masuk ke halaman bersama kedua anak mereka. Lilis dan adiknya Rafka.
Kirana, Tiara, Kenan, Zayn, dan Aira sudah berdiri di teras depan menyambut dengan wajah cerah. Tak lama, Yuda menyusul keluar dari dalam rumah. Namun, sosok Arka tidak tampak di sana.
"Loh, Bang Arka mana?" tanya Kenan pelan, namun tak sempat dijawab karena tamu sudah di depan mata. Ternyata, Arka harus mendadak pergi ke rumah barunya karena tukang perabotan baru saja mengabari akan mengantar furnitur siang itu juga.
"Halo Mbak. Mbak sehat?" sapa Kirana dengan hangat sambil merangkul Mbak Rita.
"Alhamdulillah sehat, Ra. Kamu apa kabar? Makin awet muda saja," jawab Mbak Rita.
Kirana dan Yuda bergantian menyapa Rita dan Mas Jefri dengan ramah.
"Ayo, Kak, Ken, sapa Tantenya. Ayo semuanya, salim sama Tante dan Om," perintah Kirana kepada anak-anaknya. Tiara, Kenan, Zayn, dan si kecil Aira pun maju satu per satu mencium tangan Rita dan Jefri dengan sopan.
Tak mau kalah, Mbak Rita juga menoleh ke arah anak-anaknya. "Lilis, Rafka, ayo salim dulu sama Om Yuda dan Tante Kirana."
Lilis dan Rafka pun melangkah maju, menyalami Yuda dan Kirana bergantian dengan penuh hormat.
"Wah, Rafka sudah makin tinggi ya, Mas Jef," puji Yuda.
"Iya, mas Yuda. Namanya juga anak laki-laki, cepat sekali gedenya," jawab Jefri sambil tertawa.
"Ayo, ayo, masuk dulu. Jangan lama-lama di teras, udara lagi panas begini," ajak Kirana sambil mempersilakan tamu-tamunya masuk ke ruang tamu yang sudah tertata rapi.
"Arka belum kelihatan ya? Tadi dia pamit sebentar karena ada tukang antar perabot ke rumah barunya. Mungkin sebentar lagi dia juga sampai ke sini."
Di ruang tamu, mereka larut dalam obrolan santai. Di salah satu sudut sofa, Tiara tampak asyik mengobrol dengan Lilis. Penampilan Lilis kini jauh berbeda; ia telah mantap mengenakan cadar sejak menempuh pendidikan di pesantren saat SMA dulu.
"Lis, kamu ada lowongan kerja nggak di tempat kamu ngajar?" tanya Tiara membuka percakapan.
Lilis menoleh, matanya yang teduh tampak tersenyum dari balik cadarnya. "Emang kamu mau ngajar anak TK, Ra?"
"Ya coba dulu. Siapa tahu cocok," jawab Tiara jujur.
"Aku coba tanya dulu nanti deh," ucap Lilis tulus.
Tiara menghela napas panjang, "Iya, aku juga udah bosan pengangguran terus. Meskipun di rumah bantu Ibu, tapi rasanya pengen punya kegiatan di luar juga."
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar berhenti di depan. Arka masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Begitu melihat tamu, ia langsung menghampiri dan salim pada Rita dan Jefri. Namun, langkahnya sempat tertahan sebentar. Matanya sedikit lama melihat pada sosok yang duduk di samping adiknya, Tiara. Ada rasa penasaran yang muncul melihat sosok bercadar yang tampak asing baginya itu.
Kirana yang melihat situasi segera mencairkan suasana. "Gimana kalau kita makan dulu? Kami tadi sudah masak banyak kebetulan."
"Aduh, merepotkan saja, Ra," sahut Mbak Rita merasa sungkan.
"Nggak apa-apa, Mbak. Ayo, semuanya ke meja makan," jawab Kirana ramah. Ia lalu menoleh ke arah anak-anaknya,
"Ayo Tiara, Bang Arka, bantuin Ibu."
Saat suasana dapur sedang sibuk menata piring ke nampan, Arka mendekati ibunya. Ia sedikit berbisik agar suaranya tidak terdengar sampai ke depan.
"Yang bercadar itu siapa, Bu?" tanya Arka penasaran.
Kirana menahan senyum sambil terus menyendok sayur. "Kamu nggak kenal, Bang? Itu Lilis loh."
"Hah? Lilis anaknya Tante Rita?" Arka tampak terkejut.
Baru saja Arka hendak mengangkat piring, tiba-tiba Lilis muncul di ambang pintu dapur dengan langkah yang sopan.
"Assalamualaikum, Tante. Ada yang bisa aku bantu nggak?" ucap Lilis dengan suara yang lembut.
Kirana sempat sedikit kaget namun langsung tersenyum lebar. "Aduh, eh... ponakan Tante. Ini, tolong taruh di sana piringnya," jawab Kirana sambil menyerahkan tumpukan piring bersih.
Lilis menerima piring itu dengan cekatan. Arka yang berdiri tepat di samping ibunya hanya bisa mematung sebentar, merasa canggung sekaligus kagum melihat perubahan drastis teman masa kecilnya itu.
......................
Malam harinya, suasana rumah sudah kembali tenang, namun tidak dengan hati Arka. Ia terus terjaga, membolak-balikkan badan di atas kasur, namun bayangan sosok bercadar yang duduk di samping Tiara tadi siang terus melintas di pikirannya. Ada rasa sesak yang aneh dan hal mengganjal yang tidak bisa ia jelaskan sendiri.
Tak tahan dengan kegelisahannya, Arka memutuskan turun ke bawah. Ia melihat ibunya sedang duduk santai di ruang tengah sambil melipat sisa taplak meja yang baru dicuci. Arka segera mendekat dan duduk di samping Kirana.
"Bu, Tante Rita tadi ngapain ke sini?" tanya Arka langsung tanpa basa-basi.
Kirana menoleh sekilas, tangannya masih sibuk melipat.
"Silaturahmi."
Arka menghela napas, merasa jawaban ibunya terlalu singkat. "Ya Arka tahu silaturahmi, tapi dalam rangka apa?"
"Oh, itu... Lilis sebentar lagi mau nikah. Sudah dikhitbah dia. Tadi Tante Rita sekalian mau kasih kabar dan minta doa restu."
Mendengar itu, Arka merasa seperti ada petir yang menyambar di siang bolong. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Hah? Apa?" seru Arka dengan suara yang sedikit meninggi karena kaget.
Kirana mengernyitkan dahi, merasa heran dengan reaksi putranya yang berlebihan. "Kamu kenapa sih, Bang? Kok kaget gitu? Kan bagus sudah ada yang melamarnya. Orangnya juga saleh, sepadanlah sama Lilis."
Arka hanya diam. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Ada rasa kecewa yang mendalam merayap di hatinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka bangkit dan berbalik menuju kamarnya dengan langkah gontai.
Arka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berbaring telentang, kedua tangannya terlipat di bawah kepala, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang putih bersih.
Keheningan malam itu justru membuat pikirannya semakin bising.
Hatinya terasa berdenyut nyeri. Kata-kata ibunya tadi sore seperti yang paling menyakitkan yang pernah ia terima. Lilis sudah dikhitbah.
Perlahan, memori lama menyeruak paksa. Arka teringat masa-masa SMA dulu, sesaat sebelum Lilis pergi ke pesantren. Arka pernah berpesan pada Lilis untuk menunggunya sampai dia lulus pendidikan kedokteran.
Itu adalah janji konyol masa remaja, janji yang mereka buat tanpa tahu betapa kejamnya waktu bisa memisahkan. Sejak hari itu, Lilis masuk pesantren Arka tenggelam dalam tumpukan buku kedokteran yang tebal di universitas. Komunikasi mereka putus total. Mereka benar-benar lost contact sampai sekarang. Arka pikir, janji itu akan abadi di hati Lilis, sama seperti abadi di hatinya.
"Apa aku sudah terlambat?" gumam Arka, suaranya parau menahan sesak.
"Apa aku terlalu lama?"
Arka memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghalau air mata yang mendesak keluar.
Lilis sudah menunggunya, mungkin sangat lama, sampai akhirnya rasa lelah membuatnya membuka hati untuk pria lain. Dan Arka, dokter baru yang malang ini, datang tepat saat janji itu sudah kedaluwarsa.