NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Matematika Sihir

Hadelon meletakkan kapur sihirnya, membiarkan debu putih menempel di jemarinya. Ia melangkah mendekati Sellia, menatap wajah gadis itu dengan pandangan tak percaya sekaligus rindu yang mendalam.

​"Wah... rambutmu," gumam Hadelon pelan, suaranya melembut. "Merah muda yang sangat cantik, persis seperti ibumu. Aku ingat terakhir kali bertemu denganmu, kau masih berusia dua tahun. Kau sangat kecil sampai-sampai bisa duduk di telapak tanganku."

​Hadelon tersenyum tipis, mencoba menghidupkan kembali kenangan lama. "Maafkan pamanmu ini. Karena aku mengajar di akademi ini dan terobsesi dengan riset, aku jadi sangat sibuk dan tak sempat lagi berkunjung ke kediaman Hastelle. Aku hanya bisa mengirimkan surat sesekali. Omong-omong bagaimana kabar ibumu? Apakah dia masih suka menanam bunga mawar putih di taman belakang?"

​Mendengar pertanyaan itu, Sellia terdiam seketika. Kepalanya menunduk dalam, tangannya yang masih memegang liontin biru itu gemetar hebat. Ia tidak sanggup mengeluarkan suara, namun air mata mulai jatuh satu per satu, membasahi lantai kayu ruangan kerja paman tersebut.

​Hadelon membeku. Melihat respons Sellia yang datang tiba-tiba dengan pakaian lusuh dan air mata yang tak terbendung, ia seolah tersambar petir. Sebagai seorang profesor yang cerdas, ia langsung menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Tidak mungkin seorang putri Count menempuh perjalanan sejauh ini dengan penampilan seperti pengungsi jika semuanya baik-baik saja.

​Menyadari situasi ini sangat pribadi dan sensitif, Hadelon segera menoleh ke arah pemandu yang masih berdiri di ambang pintu.

​"Kau, pergilah," perintah Hadelon dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah. "Tutup pintunya dan pastikan tidak ada yang mengganggu kami selama satu jam ke depan. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk asisten risetku."

​Pemandu itu membungkuk cepat dan segera menutup pintu rapat-rapat. Klik. Suara kunci pintu otomatis yang digerakkan oleh sihir terdengar, memberikan privasi penuh bagi mereka.

​Hadelon menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Sellia dan menepuk bahunya pelan. "Duduklah dulu, Nak. Kau juga, Nona berambut pirang. Aku akan menyiapkan teh hangat."

​Luvya hanya mengangguk pelan dan duduk di salah satu kursi kayu yang penuh dengan tumpukan buku. Matanya tetap melirik ke arah papan tulis yang berisi soal matematika tadi, lalu beralih ke wajah Hadelon yang kini tampak sangat cemas.

Hedelon bergerak dengan tenang meski raut wajahnya tegang, menyeduh dua cangkir teh yang mengeluarkan uap beraroma herbal menenangkan. Ia meletakkannya di depan Sellia dan Luvya.

​"Minumlah. Teh ini mengandung sedikit ekstrak tanaman Mana-Core, bisa membantu memulihkan stamina dan menenangkan saraf kalian yang tegang," ucap Hedelon pelan.

​Sellia menyesap teh itu dengan tangan gemetar. Kehangatan cairan itu seolah memberinya kekuatan untuk akhirnya membuka suara. Dengan suara serak, Sellia menceritakan segalanya. Mulai dari surat kematian ayahnya di medan perang, kobaran api yang melahap kediaman Hastelle, hingga bisikan terakhir ibunya yang memaksanya lari ke Hanberg.

​"Ibu... Ibu terjebak di dalam," bisik Sellia dengan isak tangis yang tertahan. "Aku tidak bisa melakukan apa pun selain menuruti perintahnya untuk menemui Paman."

​Hedelon terdiam, jemarinya meremas pinggiran meja kerjanya hingga memutih. Ia membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit merosot, namun di balik lensa itu, terpancar aura kemarahan dan kesedihan yang amat dalam.

​"Duke Vounwad," gumam Hedelon dengan nada rendah yang sarat akan kebencian. "Terakhir paman membaca di surat kabar, dia memang sedang melakukan ekspansi besar-besaran ke wilayah barat, termasuk wilayah kalian. Dasar orang keparat! Tidak habis-habisnya dia memeras kekuasaan dan menumpahkan darah demi ambisinya yang menjijikkan."

​Mendengar nama ayahnya disebut dengan hinaan sesadis itu, Luvya merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Ia refleks menggenggam cangkir tehnya lebih erat, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya.

​Gila... dendamnya, batin Luvya ngeri.

​Jika Hedelon tahu bahwa gadis berambut pirang yang duduk di depannya ini adalah putri kandung dari orang keparat yang ia maki-maki, Luvya yakin teh hangat ini bisa berubah menjadi racun dalam sekejap. Identitasnya benar-benar sebuah bom waktu di ruangan ini.

​Luvya hanya bisa menunduk sedalam mungkin, membiarkan tudung mantelnya membayangi wajahnya. Ia harus tetap menjadi 'Luvya si anak buangan' agar bisa bertahan di bawah atap yang sama dengan orang yang sangat membenci darah Vounwad.

​"Lalu..." Hedelon kini mengalihkan pandangannya tajam ke arah Luvya, membuat jantung Luvya seolah berhenti berdetak. "Siapa gadis yang bersamamu ini, Sellia? Dia tidak terlihat seperti pelayan dari rumahmu."

Sellia meletakkan cangkirnya, lalu menatap Hedelon dengan tulus. "Dia temanku, Paman. Kami bertemu di perjalanan. Jika bukan karena bantuannya, mungkin aku tidak akan sampai ke sini dengan selamat."

​Mendengar pembelaan Sellia, Luvya menarik napas panjang. Ia harus berakting sealami mungkin sekarang. Dengan raut wajah yang dibuat sedikit redup dan penuh keraguan, Luvya memberanikan diri menatap Hedelon.

​"Namaku Luvya, Profesor," ucapnya dengan nada suara yang bergetar pelan. "Aku... aku tidak punya tempat kembali. Orang tuaku membuangku karena dianggap tidak berguna. Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi selain mengikuti Sellia ke sini."

​Hedelon terdiam sejenak, menatap Luvya dari balik kacamatanya. Keheningan itu terasa mencekam bagi Luvya, seolah sang Profesor sedang membedah kejujurannya. Namun, tak lama kemudian, Hedelon menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat lelah dan penuh kekecewaan terhadap dunia.

​"Lagi-lagi orang dewasa selalu bertindak kejam hingga anak-anak yang harus menanggung imbasnya," gumam Hedelon sambil memijat keningnya. Kemarahannya pada Duke Vounwad sepertinya meluas menjadi rasa muak pada ketidakadilan secara umum.

​"Dibuang, ya?" Hedelon bergumam sendiri. "Dunia ini memang sedang sakit. Para penguasa sibuk berperang dan merampas wilayah, sementara mereka yang lemah dibiarkan terlunta-lunta di jalanan."

​Ia menatap Luvya dengan tatapan yang jauh lebih lunak dari sebelumnya. "Karena kau sudah menjaga keponakanku, aku tidak akan mengusirmu. Kalian berdua aman di sini untuk sementara waktu. Akademi ini memiliki asrama khusus untuk kerabat staf dan tamu penting. Aku akan mengurus izin tinggal kalian agar tidak ada penjaga yang berani macam-macam."

​Luvya menunduk dalam, bukan hanya karena lega, tapi juga untuk menyembunyikan kilatan matanya. Berhasil, batinnya. Identitas Luvya Vounwad terkubur untuk sementara di bawah label anak buangan.

​"Terima kasih banyak, Profesor," ucap Luvya dengan nada penuh haru yang sangat meyakinkan.

​Hedelon bangkit berdiri, kembali ke papan tulisnya yang penuh coretan angka. "Sekarang, kalian istirahatlah di ruang dalam. Ada kamar kecil di balik rak buku itu. Aku harus menyelesaikan perhitungan ini sebelum rapat dewan profesor sore nanti. Jika rumus ini tidak stabil, aku tidak bisa membuka akses ke laboratorium tanaman sihir."

​Luvya melirik papan tulis itu sekali lagi. Soal matematika yang dianggap masalah besar oleh Hedelon itu seolah memanggil-manggil jiwanya sebagai Lily.

Hedelon tampak frustrasi, ia kembali memunggungi mereka dan mulai mencakar-cakarkan kapurnya ke papan tulis. "Kenapa hasilnya selalu negatif? Jika variabel Mana ditekan oleh tekanan atmosfer di angka ini, seharusnya hasilnya konvergen!" gumamnya nyaris gila.

​Sellia yang masih lemas hanya bisa menatap pamannya dengan bingung. Namun, Luvya merasa gatal. Instingnya sebagai Lily, sang juara olimpiade matematika, mendidih melihat kesalahan fatal yang ada di depan matanya.

​Luvya bangkit dari kursinya. Tanpa sadar, ia berjalan mendekati papan tulis itu.

​"Profesor," panggil Luvya pelan.

​"Jangan sekarang, Nak. Aku sedang sibuk dengan masalah yang sangat rumit," sahut Hedelon tanpa menoleh.

​"Anda melakukan kesalahan di baris ketiga," ucap Luvya dengan nada datar namun penuh keyakinan.

​Hedelon berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan, menatap Luvya dengan alis terangkat. "Kesalahan? Ini adalah kalkulasi sihir tingkat tinggi, Luvya. Kau bahkan mungkin belum pernah belajar aljabar dasar."

​Luvya tidak membalas dengan kata-kata. Ia mengambil sepotong kapur kecil yang tergeletak di meja, lalu berdiri di samping Hedelon. Dengan gerakan cepat dan presisi, ia melingkari satu variabel di baris ketiga.

​"Di sini. Anda menggunakan substitusi langsung untuk tekanan atmosfer, padahal di Hanberg yang tinggi ini, tekanannya berbeda. Anda harus menggunakan logaritma natural untuk menyeimbangkannya," jelas Luvya.

​Tangan Luvya menari di papan tulis. Ia menghapus sebagian rumus Hedelon yang berantakan dan menggantinya dengan deretan angka yang jauh lebih rapi dan logis.

Luvya menyederhanakan persamaan kuadrat yang tadi membuat Hedelon pusing. Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, Luvya menuliskan hasil akhirnya dengan garis bawah yang tegas.

​"Jika Anda memasukkan nilai ini ke dalam koefisien pertumbuhan tanaman sihir, hasilnya tidak akan negatif lagi. Hasilnya akan stabil," ucap Luvya sambil meletakkan kapur itu kembali.

​Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Sellia melongo, tidak mengerti apa yang baru saja dilakukan temannya. Namun, reaksi Hedelon jauh lebih dramatis. Ia mendekatkan wajahnya ke papan tulis, matanya membelalak lebar di balik kacamata.

​Ia menghitung ulang di dalam kepalanya. Satu detik, dua detik, lima detik.

​"Astaga!" Hedelon berteriak, suaranya gemetar. "Logaritma, bagaimana kau bisa memikirkan fungsi transenden seperti ini? Dan metode penyederhanaan ini sangat jenius!"

​Hedelon menatap Luvya seolah melihat monster atau dewa yang menyamar. "Siapa kau sebenarnya, Luvya? Anak buangan dari desa mana yang bisa memecahkan kalkulasi Menara Sihir kelas tiga hanya dengan sekali lihat?"

​Luvya tersentak, baru sadar kalau dia baru saja melakukan hal yang terlalu mencolok. Ia segera menunduk, mencoba mengembalikan aktingnya.

​"Ibuku dulu suka mengajari angka-angka aneh padaku sebelum dia meninggal," bohong Luvya dengan cepat. "Aku hanya mengingat apa yang dia katakan. Maaf jika aku lancang, Profesor."

​Hedelon menggeleng kuat. "Lancang? Kau baru saja menyelamatkan risetku selama tiga bulan!"

​Hedelon menatap papan tulis itu lagi, lalu menatap Luvya dengan binar mata yang berbeda.

Bukan lagi rasa iba pada anak buangan, melainkan rasa hormat pada seorang jenius. Luvya tahu, sekarang posisinya di Akademi ini sudah lebih dari sekadar tamu. Dia baru saja membuktikan bahwa dirinya sangat berguna.

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!