NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: PERJALANAN PULANG DAN PENGHADANG DI TENGAH JALAN

​Setelah memenangkan turnamen dan membersihkan namanya dari fitnah keji Klan Ye, Ye Xuan segera berkemas. Ia menolak semua tawaran jamuan makan malam mewah dari kaisar dan undangan mengajar di Akademi Kekaisaran. Di pikirannya hanya ada satu: Gunung, ubi, dan ikan asin.

​"Tuan Putri, terima kasih atas garamnya. Ini benar-benar hadiah terbaik," ucap Ye Xuan sambil menepuk peti kecil di gerobaknya dengan sayang.

​Putri Ling menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Senior Ye, apakah Anda benar-benar tidak ingin tinggal? Kekaisaran bisa membangunkan istana untuk Anda."

​Ye Xuan tertawa kecil, mengira sang putri sedang bercanda. "Istana? Terlalu luas untuk disapu, Tuan Putri. Saya lebih suka gubuk saya yang bocor kalau hujan. Mari, Nona Lin, Nona Jian, kita pulang!"

​Rombongan kecil itu berangkat meninggalkan gerbang Ibu Kota saat fajar menyingsing. Namun, ketenaran Ye Xuan telah menciptakan duri di hati seseorang. Master Ling, ahli teknologi yang pingsan karena malu di Bab 10, tidak bisa menerima kekalahannya. Baginya, ubi bakar Ye Xuan adalah penghinaan terhadap ilmu pengetahuan yang ia tekuni seumur hidup.

​Saat rombongan Ye Xuan melewati Lembah Kabut Sunyi, sebuah jalur sempit yang diapit tebing tinggi, suasana mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Tidak ada kicauan burung, tidak ada desir angin.

​"Berhenti," bisik Jian Chengyue, tangannya secara insting memegang gagang pedangnya. "Ada niat membunuh yang sangat dingin di depan."

​Ye Xuan mengerem gerobaknya, wajahnya seketika pucat. Waduh, apa aku kena tilang karena gerobakku tidak punya plat nomor? batinnya ketakutan.

​Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul belasan sosok berjubah perak metalik. Di tengah mereka berdiri Master Ling, yang kini tidak lagi terlihat seperti ahli yang dihormati, melainkan seperti orang gila dengan mata merah penuh kebencian. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung logam besar yang memancarkan percikan listrik statis.

​"Ye Xuan! Hari ini aku akan membuktikan bahwa 'Inovasi Bambu' milikmu hanyalah keberuntungan belaka!" teriak Master Ling histeris. "Aku telah menyewa Pasukan Bayaran Logam Surgawi untuk memusnahkanmu dan mengambil rahasia 'Minyak Goreng' ajaibmu itu!"

​Ye Xuan menelan ludah. Ia melihat ke sekeliling. Tebing tinggi, jalan sempit, dan belasan pembunuh bayaran dengan senjata modern (versi dunia kultivasi).

​"Master Ling, dengar... ubi itu benar-benar hanya ubi," Ye Xuan mencoba menjelaskan dengan tangan terbuka. "Minyak itu juga cuma dari biji bunga di belakang rumah. Kalau Anda mau, saya bisa beri resepnya, tapi tolong jangan pakai acara hadang-menghadang begini. Saya mau pulang bikin makan malam."

​"Bohong! Kau ingin menyimpan rahasia keabadian itu sendiri!" Master Ling memberi komando. "Serang! Hancurkan gerobaknya, ambil minyaknya!"

​Para pembunuh bayaran itu bergerak serentak. Mereka tidak menggunakan pedang, melainkan Meriam Tangan Berdenyut yang menembakkan bola-bola energi logam yang sangat padat.

​DUM! DUM! DUM!

​Bola energi itu melesat ke arah Ye Xuan. Dalam kepanikannya, Ye Xuan secara refleks mengambil sebuah Wajan Penggorengan besar yang ia beli di pasar Ibu Kota (ia berencana menggunakannya untuk menggoreng ubi gula).

​"Jangan sentuh ubi-ubiku!" teriak Ye Xuan sambil mengayunkan wajan itu seperti tameng.

​Wajan itu terbuat dari besi biasa, namun karena Ye Xuan sering menggunakannya untuk memasak hasil bumi yang penuh energi spiritual, wajan itu telah mengalami "Transformasi Material" menjadi benda yang sanggup memantulkan Hukum Alam.

​TANG! TANG! TANG!

​Suara benturan itu terdengar seperti lonceng raksasa. Bola energi dari meriam logam Master Ling memantul kembali ke arah penembaknya dengan kecepatan dua kali lipat. Para pembunuh bayaran itu terlempar ke belakang, senjata mereka hancur berkeping-keping hanya karena hantaman "alat dapur" Ye Xuan.

​Master Ling melongo. "Wajan? Kau menangkis Meriam Logam Surgawiku dengan wajan?!"

​Ye Xuan, yang menyadari bahwa wajannya sangat kuat, mulai merasa sedikit berani (atau lebih tepatnya, sangat kesal karena gerobaknya nyaris terkena ledakan). Ia melangkah maju, memegang wajannya dengan pose seorang koki profesional yang sedang marah.

​"Dengar, Pak Tua sombong," suara Ye Xuan mendalam, memicu aura tekanan yang membuat Master Ling jatuh berlutut karena sesak napas. "Ilmu pengetahuan itu untuk menolong orang, bukan untuk menyewa pembunuh. Kau kalah di turnamen karena kau tidak memasukkan 'hati' ke dalam karyamu. Kau hanya memikirkan ego."

​Ye Xuan mengayunkan wajannya sekali lagi, menciptakan gelombang udara yang menyapu kabut di lembah tersebut sekaligus menerbangkan Master Ling dan kawan-kawannya sejauh beberapa kilometer hingga menghilang dari pandangan.

​"Hah... capek juga," Ye Xuan mengusap dahi, lalu memeriksa peti garamnya. "Untung tidak tumpah. Ayo Nona-nona, perjalanan masih jauh."

​Lin Meier dan Jian Chengyue hanya bisa saling pandang dengan mulut terbuka. Mereka baru saja melihat salah satu pasukan bayaran termahal di benua itu disapu bersih dengan sebuah wajan penggorengan.

​"Senior... wajan itu... apakah itu Artefak Suci Tingkat Sembilan?" tanya Jian Chengyue gemetar.

​Ye Xuan menatap wajannya yang berminyak. "Bukan, ini diskon 20% di toko kelontong kemarin. Katanya anti-lengket, ternyata benar juga, tidak ada serangan yang lengket di sini."

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!