NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Ada Harga, Ada Kualitas

Ia menoleh ke arah ruang kosong di depannya.

Sebuah panel antarmuka biru melayang diam di udara. Layar sistem itu tidak lagi terkurung di dalam benda persegi bernama ponsel. Benda itu mengikuti arah pandangannya layaknya hantu neon. Mengambang tanpa memedulikan gravitasi.

[Inventaris Dimensi]

Teks itu menyala pasif. Menunggu perintah.

Ia mendekati kasurnya, tumpukan kain bertumpuk satu sama lain dengan label masih tertempel jelas, membentuk sebuah gunung . Menuntut untuk dirapikan. Fais meraih tangannya pada tumpukan itu.

'Simpan'

Seketika, tumpukan itu lenyap. Tanpa jejak.

Napas Fais tertahan di kerongkongan.

Ia merogoh saku celana kainnya. Mengeluarkan dompet kulit usang miliknya. Ia menatap lekat-lekat dompet yang pinggirannya sudah mengelupas itu. Simpan.

Lenyap. Lenyap dalam senyap.

Matanya beralih ke ponsel mahal di atas meja kaca. Benda rapuh pembawa notifikasi sistem. Simpan.

Ponsel itu ikut lenyap.

Semuanya tertelan masuk ke dalam ruang hampa yang tidak bisa disentuh oleh hukum fisika mana pun. Fais memejamkan mata. Otaknya bekerja keras memanggil benda-benda itu kembali ke dunia nyata. Keluarkan. Semuanya.

Dalam hitungan persekian detik, ponsel, dompet, dan tumpukan belanjaan yang tak sempat ia rapikan. Bertumpuk berantakan menimpa karpet yang ada di ruangan itu.

Fais mundur selangkah. Tumit kakinya menabrak keras kaki sofa.

Gila. Kemampuan ini benar-benar gila.

Ia bukan lagi sekadar manusia yang menang lotre. Ia baru saja diubah menjadi brankas berjalan yang kebal hukum. ia bisa menyelundupkan apa saja. Senjata tajam. Barang ilegal bernilai triliunan. Bahkan menyembunyikan mayat.

Kemampuan ini terlalu berbahaya. Terlalu gelap untuk kapasitas mental seorang pria yang dulunya hanya tahu cara mengaduk semen dan makan nasi basi.

***

Teks di udara berkedip lagi. Menghentikan lamunan horornya. Sistem mengingatkan tagihan rutinnya. Sudah hari kedua sejak ia mendapatkan misi dasar ini.

[Ding!]

[Misi: Misi Harian...]

[- Lari 50 KM]

Fais menelan ludah paksa. Ludahnya terasa bergerigil menuruni tenggorokan.

Lima puluh kilometer. Itu setara jarak tempuh antar kota. Otot kakinya yang kurang gizi seharusnya robek parah hanya dengan membayangkan angka tersebut. Tulangnya bisa bergeser. Jantungnya bisa meledak.

Tapi ia tidak punya pilihan. Angka peluangnya butuh asupan.

Ia mengganti pakaiannya cepat. Mengenakan kaos oblong kusam dan celana training longgar sisa kehidupannya yang lama. Keluar dari pintu apartemennya. Menembus malam yang mulai merangkak dingin.

Jalanan aspal pusat kota terlihat lengang. Lampu jalan menyorot ke bawah, memantulkan warna oranye pucat yang terlihat seperti pesakitan.

Fais mulai memaksakan kakinya berlari.

Langkah pertamanya terasa kaku. Berat. Otaknya yang masih mengadaptasi kemiskinan langsung menjerit antisipasi. Fais mengira paru-parunya akan segera bocor dalam sepuluh menit pertama. Mengira tempurung lututnya akan remuk di kilometer ketiga. Ia sudah bersiap untuk memuntahkan isi lambungnya ke selokan.

Ia terus berlari. Terus bergerak. Lima kilometer. Sepuluh kilometer terlewati.

Keringat mulai merembes deras membasahi kerah kaosnya. Angin malam menampar wajahnya tanpa ampun. Terus menampar. Tapi ada yang aneh. Ada yang sangat janggal dari respon fisiknya.

Ia tidak tumbang.

Dua puluh kilometer. Tiga puluh kilometer.

Fais menunduk menatap sepasang kakinya sendiri yang bergerak membabi buta seperti mesin piston. Kiri. Kanan. Kiri. Kanan. Tidak ada jeda istirahat. Tidak ada getaran tanda kelelahan otot yang fatal. Kakinya menolak untuk mati rasa.

Napasnya. Napasnya jauh lebih mengerikan lagi.

Napas itu terlalu stabil. Udara malam masuk ke lubang hidungnya, memompa sangkar dadanya secara ritmis, lalu keluar lewat celah bibirnya dalam ketukan yang sempurna. Jantungnya tidak berontak memompa darah berlebih.

Stamina yang mengalir beringas di setiap serat ototnya terasa sangat abnormal. Seperti ada reaktor mesin uap kecil yang ditanam paksa di balik tulang belikatnya.

Ia bisa merasakan otot betisnya menegang, sedikit merobek jaringan tipis, lalu pulih dengan sendirinya dalam hitungan detik. Sel-sel tubuhnya membangun ulang jaringannya sendiri saat ia masih berlari membelah jalanan.

Fais tertawa sumbang. Tawa yang murni keluar dari keputusasaan campur kekaguman.

Tubuhnya sudah bukan miliknya yang lama. Lima tahun pengalaman tempur mematikan itu tidak hanya menjejalkan teknik kotor ke saraf otaknya. Hadiah itu merombak total anatomi selulernya. Membentuknya menjadi predator yang tidak butuh tidur.

Yang hampir menyerah dan hancur justru isi kepalanya.

Otaknya menangis minta berhenti. Bosan. Sangat bosan. Lelah melihat warna aspal yang sama berulang kali. Lelah bergerak tanpa tujuan masuk akal selain mengejar angka virtual di layar sistem. Fisiologisnya sanggup berlari melintasi negara, tapi psikologisnya masih rapuh layaknya gembel yang ketakutan.

Ia memaksa pikirannya bungkam. Menutup rapat akses keluhan itu.

Ia berlari. Terus berlari. Menyelesaikan sisa jarak kilometer terakhirnya seperti orang kesurupan yang kehilangan arah rumah.

Ketika ia kembali menjejakkan kaki di atas lantai ruang tamunya, langit di luar jendela kaca sudah mulai memucat. Sisa malam mulai mati dikikis fajar.

Kaosnya lepek total. Menempel lekat di kulit perutnya seperti lapisan plastik basah. Air menetes perlahan dari ujung rambutnya.

Layar transparan itu kembali menyapanya tanpa basa-basi.

[- Meditasi 1 Jam]

Fais tidak membantah. Ia menjatuhkan dirinya langsung di atas lantai kayu ruang tengah. Duduk bersila. Mengatur napasnya yang dengan cepat kembali normal tanpa perlu terengah-engah panjang.

Ia memejamkan mata rapat-rapat.

Awalnya, proses itu terasa seperti neraka. Neraka tanpa api yang kelewat sunyi.

Diam membatu di satu titik selama enam puluh menit tanpa melakukan apa pun. Otaknya memberontak keras. Ingatan tentang hutang rentenir, bau darah basi dari memori palsunya, kilatan bilah pisau lipat yang mengincar matanya, semuanya menabrak kasar dinding tengkoraknya. Tumpang tindih mencari perhatian.

Kulitnya gatal. Tangannya kejang ingin bergerak memukul sesuatu. Punggungnya pegal karena dipaksa menahan postur tulang belakang yang tegak.

Detik jam dinding seolah nyangkut di kerongkongan dunia. Waktu merangkak maju dengan sangat menyedihkan.

Tapi ia bertahan. Ia mengunci rahangnya kuat-kuat. Angka probabilitas keparat itu mendikte sisa nyawanya sekarang.

Menit demi menit berlalu lambat. Pemberontakan liar di kepalanya perlahan mulai kehabisan amunisi.

Sedikit demi sedikit, kegelapan di balik kelopak matanya berubah wujud. Tidak lagi berupa kilatan acak. Tidak lagi bising oleh suara jeritan jalanan.

Sensasi dingin merayap perlahan dari pangkal tengkuknya turun menyusuri ruas tulang ekor. Tarikan napasnya melambat tajam. Pikiran Fais mendadak menjadi jernih. Sangat jernih dan kosong. Seolah sebuah tangan raksasa tak kasat mata baru saja mengelap kaca buram di otaknya menggunakan alkohol kental.

Emosi liarnya mereda. Insting membunuhnya jinak sementara. Ketakutan akan kemiskinan menguap entah ke mana. Dalam kondisi ini, ia merasa sanggup membedah detail arah angin hanya dari suara debu yang jatuh ke karpet.

Satu jam penuh itu berakhir mulus tanpa ia sadari sama sekali.

Ia membuka kelopak matanya pelan. Tatapannya kini tajam. Tenang. Menusuk. Sangat berbeda dari Fais yang gelisah beberapa jam lalu.

Ia bangkit berdiri. Berjalan tenang menuju rak kayu di sudut ruangan. Matanya menangkap satu buku tebal bersampul keras sisa perabotan pemilik apartemen sebelumnya. Judulnya tidak penting. Ia tidak peduli isinya membahas filsafat atau mesin.

Fais membawa benda itu dan duduk kembali di atas sofa mahalnya. Membuka halaman pertama.

Membaca secara serius tidak pernah masuk dalam rutinitas hidupnya. Susunan huruf cetak yang rapat biasanya selalu membuat kepalanya berdenyut sakit dalam hitungan menit. Huruf-huruf itu sering kali terlihat seperti semut mati bagi orang yang putus sekolah.

Tapi pagi ini semuanya berbeda.

Efek meditasinya masih tersisa kuat menjangkar kewarasannya. Fokus matanya menancap seperti laser.

Matanya menyapu setiap baris kalimat dengan kecepatan tidak wajar. Tanpa hambatan. Informasi kompleks meresap masuk ke otaknya secara terstruktur dan rapi. Tidak ada satu pun deret kalimat yang harus ia baca ulang dua kali untuk memahaminya.

Ia membalik halaman. Membaliknya lagi.

Suara gesekan kertas kering yang beradu cepat menjadi satu-satunya melodi berulang di ruangan itu. Menggantikan bisingnya jalanan raya.

Bab demi bab ia lahap habis. Ratusan halaman selesai dikunyah matanya tepat saat cahaya matahari pagi sepenuhnya merobek tirai jendela kamarnya. Menerangi debu-debu yang menari di udara.

Ia menutup buku itu dengan satu gerakan pelan. Terdiam sejenak menyandarkan lehernya. Membiarkan otaknya memproses rak-rak informasi baru yang baru saja ia paksa masuk.

[Ding!]

Suara sintetik jernih itu mendenging masuk ke gendang telinganya. Layar biru mengambang muncul lagi tepat setengah meter di depan wajahnya. Memotong lamunan tenangnya.

[Misi Harian Selesai]

Layar berkedip ringan sesaat. Teks baru muncul menggantikan deret kalimat yang lama.

[Stored Probability +0,1%]

[Current: 0,2%]

Fais menatap lurus ke arah angka desimal itu lekat-lekat. Angka yang terlihat begitu kecil. Begitu kerdil. Angka yang baru saja ia bayar mahal menggunakan penyiksaan fisik dan mental semalaman suntuk tanpa jeda.

Angka yang begitu remeh, tapi menjadi satu-satunya jaminan yang menahan nyawanya agar tidak terlempar kembali ke jalanan kumuh.

Ia menyandarkan punggung lelahnya ke bantalan sofa. Menengadah pasrah menatap langit-langit apartemen yang dicat putih bersih.

Ia tertawa.

Tawa lelah yang sangat kering. Keluar dari pangkal tenggorokannya dengan susah payah seolah kehabisan udara.

"Ini benar-benar sistem monster..."

Layar biru itu tetap diam di tempatnya. Tidak memberikan bantahan sama sekali. Benda virtual itu tetap melayang angkuh di sana, terus mengawasi manusia malang yang baru saja ia tempa ulang.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!