Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ten Years, Zero Promise
"Aku di luar."
Serena mengernyit kecil. “Apa?”
“Aku melihat mobil Julian di depan restoran.”
Jantung Serena langsung turun begitu saja. Ia menoleh cepat ke arah jendela besar restoran. Dan benar saja. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dalam gelap malam, dengan Damien Knox berdiri di sampingnya.
Pria mengenakan mantel hitam panjang yang jatuh rapi membalut tubuh tingginya. Satu tangan berada di saku celana, sementara tangan lainnya memegang rokok yang tampak menyala samar di tengah dingin malam. Sempurna seperti biasa. Tetap tampak seperti pria yang tidak pernah bisa benar-benar dimiliki siapa pun.
Tatapan Serena bertemu dengan mata Damien dari balik kaca restoran. Sial, jantungnya masih berdetak lebih cepat. Serena membenci kenyataan itu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Ia bertanya pelan.
Damien mengembuskan asap rokok sebelum menjawab, “Menjemputmu.”
Serena hampir tertawa. Lucu sekali bagaimana Damien masih bersikap seolah pria itu memiliki hak atas Serena setelah menghancurkan hubungan mereka dengan begitu tenang.
“Kau tidak perlu melakukan itu lagi.”
“Aku tahu.”
Jawaban Damien terlalu cepat. Dan justru itu yang membuat dada Serena terasa semakin sesak. Karena Damien memang tahu bahwa ia sudah tidak punya hak.
Tetapi pria itu tetap datang. Tetap menghubunginya tengah malam. Tetap muncul di hidup Serena seolah perpisahan mereka tidak pernah benar-benar terjadi. Hubungan mereka memang berakhir. Namun Damien Knox tidak pernah benar-benar pergi.
Serena memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengambil tasnya dan berdiri. Tatapan beberapa pengunjung langsung mengikuti langkahnya saat ia berjalan keluar restoran. Serena sudah terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian untuk peduli.
Pintu kaca terbuka. Udara malam langsung menyentuh kulit bahunya yang terbuka. Damien menatapnya selama beberapa detik tanpa bicara. Tatapan itu lambat. Intens. Membuat Serena merasa seolah gaun hitam mahal yang dikenakannya mendadak tidak cukup untuk melindungi dirinya.
“Kau cantik,” gumam Damien.
Seperti biasa, Serena membenci dirinya sendiri karena masih terpengaruh oleh suara pria itu.
“Aku baru saja bertemu Julian,” ujar Serena, lirih.
“Aku tahu.”
Tentu saja Damien tahu. Pria itu selalu tahu segalanya.
Damien membuang puntung rokoknya ke aspal sebelum membuka pintu mobil untuk Serena, sesuatu yang masih dilakukannya bahkan setelah mereka putus. Kebiasaan kecil yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun justru hal-hal seperti itulah yang membuat Serena sulit melepaskannya.
“Apa dia memberitahumu?” tanya Damien setelah mobil mulai melaju membelah jalanan.
Serena menatap ke luar jendela. “Dia akan menikah.”
Hening beberapa detik sebelum Damien berkata pelan, “Aku minta maaf.”
Serena terkekeh kecil tanpa humor. “Untuk yang mana?”
Damien tidak langsung menjawab. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Serena menoleh perlahan ke arah pria di sampingnya. Wajah Damien Knox masih sama seperti saat pertama kali membuat Serena jatuh cinta bertahun-tahun lalu. Terlalu tampan, terlalu tenang, terlalu sulit dibaca. Pria itu tampak seperti seseorang yang dilahirkan untuk dicintai banyak orang, tapi tidak untuk memberikan cintanya dengan cara yang sama.
“Apa kau pernah mencintaiku?” tanya Serena tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar begitu saja sebelum ia sempat menahan.
Damien menegang nyaris tak terlihat, sementara mobil tetap melaju tenang di tengah malam, bermandikan sorot lampu-lampu kota yang bergerak samar di balik jendela.
Lama sekali sebelum Damien akhirnya menjawab. “Aku masih di sini, bukan?”
Lagi-lagi, Damien Knox memberikan jawaban yang terdengar seperti cinta tanpa pernah benar-benar mengatakannya.
Serena tertawa kecil. Pelan nyaris tak terdengar. “Itu bukan jawaban.”
Damien tidak membantah. Pria itu hanya memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu santai di dekat persneling. Jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, berkilau samar terkena cahaya.
Semua tentang Damien selalu terlihat mahal. Mobilnya. Jasnya. Cara bicaranya. Bahkan luka yang ia berikan terasa terlalu elegan untuk disebut menyakitkan.
“Apa kau ingin aku berbohong?” tanya Damien.
Serena menoleh cepat. Dan seperti biasa, pria itu tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidup orang lain. “Aku hanya ingin tahu bagian mana dari hubungan kita yang nyata.”
Damien terdiam cukup lama hingga Serena mulai menyesal telah bertanya. Lalu pria itu mengembuskan napas pelan. “Kau nyata.”
Jawaban itu membuat tenggorokan Serena terasa sesak. Karena Damien mengatakannya dengan tulus. Dan justru itu masalahnya.
Damien memang peduli padanya. Serena tahu itu. Damien mengingat jadwal pemotretannya lebih baik daripada manajernya sendiri. Damien tahu Serena tidak bisa tidur kalau hujan terlalu deras. Damien selalu datang setiap kali Serena mengalami serangan panik, bahkan tanpa diminta. Pria itu pernah memeluk Serena semalaman hanya karena Serena tiba-tiba terbangun sambil menangis akibat mimpi buruk tentang ibunya. Namun tetap saja, Damien memilih perempuan lain.
“Kau sangat mencintainya?” suara Serena nyaris hanya bisikan.
Tatapan Damien berubah samar. Untuk pertama kalinya malam itu, Serena melihat sesuatu yang jarang sekali muncul di wajah pria tersebut.
Keraguan.
“Atau mungkin,” lanjut Serena pelan, “aku hanya tidak cukup untuk membuatmu melupakannya?”
Rahang Damien kembali menegang. Mobil berhenti tepat di lampu merah. Untuk sesaat, tidak ada suara selain hujan tipis yang mulai jatuh di luar.
Kemudian Damien menoleh menatap Serena. Tatapan gelap itu terasa terlalu dalam. “Jangan membandingkan dirimu dengan siapapun.”
Serena tersenyum miring. “Lucu. Karena selama ini aku merasa sedang bersaing dengan seseorang yang bahkan tidak kukenal.”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju. Damien tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Namun Serena tahu. Hening Damien selalu lebih jujur daripada kata-katanya.
Mobil berhenti tepat di depan mansion Serena lewat tengah malam. Bangunan megah bergaya modern itu berdiri sunyi di kawasan elite, tersembunyi di balik pagar hitam tinggi dan deretan pohon maple yang basah oleh hujan. Cahaya lampu taman memantul samar di jalan setapak marmer menuju pintu utama, membuat rumah itu tampak lebih seperti hotel mewah dibanding tempat tinggal.
Damien membelikan mansion itu untuk Serena tiga tahun lalu. Tepat setelah wajah Serena muncul di billboard Times Square untuk pertama kalinya.
Saat itu Damien mengatakan:
“Aku ingin kau punya tempat yang pantas untukmu.”
Dan Serena yang bodoh menganggap kalimat itu terdengar seperti cinta.
“Aku bisa masuk sendiri,” ucap Serena pelan ketika mobil berhenti sempurna.
Namun Damien hanya mematikan mesin tanpa menjawab. Seperti biasa. Pria itu selalu mendengar Serena, tetapi hanya melakukan apa yang ia inginkan.
Hujan tipis turun saat mereka ke luar dari mobil. Damien segera melepas mantel dan menyampirkannya ke bahu Serena tanpa bertanya lebih dulu. Gerakan kecil yang terlalu familier.
Terlalu lembut untuk seseorang yang sudah pergi.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama mansion dalam diam yang terasa begitu dingin. Seolah sepuluh tahun terakhir belum benar-benar berakhir di antara mereka.
Sepuluh tahun.
Serena baru tujuh belas saat pertama kali mengenal Damien Knox. Saat itu hidupnya berantakan, penuh luka dan ketakutan, sementara Damien datang seperti sesuatu yang terlalu sempurna untuk disentuh. Putra keluarga Knox yang terkenal. Pewaris perusahaan otomotif terbesar di negara itu. Pria muda dengan masa depan yang sudah ditentukan sejak lahir. Entah bagaimana, Damien memilih Serena.
Memilih gadis miskin dengan trauma berantakan dan mata penuh kemarahan. Atau setidaknya, itulah yang selama ini Serena percayai.
Begitu mereka masuk ke dalam mansion, kehangatan langsung menyambut kulit putih Serena yang dingin. Ia melepas heels hitamnya di dekat tangga besar marmer sebelum berjalan menuju ruang keluarga yang luas.
Damien mengikuti di belakang tanpa suara. Seperti rumah itu masih menjadi tempatnya juga. Dan mungkin memang begitu.
Masih ada jam tangan Damien di salah satu laci kamar Serena. Jasnya di walk-in closet. Bahkan kopi favorit pria itu masih tersedia di dapur karena Serena belum tega membuang kebiasaan sepuluh tahun mereka begitu saja.
Serena menuangkan wine ke dalam gelas kristal dengan gerakan pelan.
“Apa kau tahu bagian paling menyedihkan dari semua ini?” tanyanya lirih.
Damien berdiri beberapa langkah di belakang Serena, membuka kancing mansetnya satu per satu.
“Apa?”
Serena tertawa kecil tanpa humor. “Aku masih berharap kau akan berubah pikiran.”
Hening.
Lalu langkah kaki Damien terdengar mendekat.
Pelan.
Tenang.
Berbahaya.
Serena memejamkan mata sesaat ketika pria itu berhenti tepat di belakang tubuhnya. Kehangatan Damien langsung terasa bahkan tanpa sentuhan. Dan sialnya, tubuh Serena masih mengingat semua itu.
Tangan Damien bergerak perlahan mengambil gelas wine dari jemari Serena sebelum meletakkannya kembali di meja. Pria itu menatap pantulan Serena di kaca besar depan mereka.
“Aku tidak pernah ingin menyakitimu.”
Kalimat itu terdengar tulus. Terlalu tulus.
Namun justru itu yang membuat Serena semakin membenci pria itu.
“Namun kau tetap melakukannya.”
Damien terdiam. Tatapannya turun pada bahu Serena yang terbuka, lalu tanpa sadar jemarinya menyibakkan rambut perempuan itu perlahan ke satu sisi.
Gerakan kecil, intens. Seolah Damien sudah terbiasa menyentuh Serena bahkan tanpa berpikir.
“Kau gemetar,” gumamnya pelan.
Serena hampir tertawa. Tentu saja ia gemetar. Damien Knox masih menyentuhnya seperti seseorang yang jatuh cinta. Dan itu jauh lebih menyakitkan dibanding kebencian.
“Apa kau memang mencintainya sebesar itu?” tanya Serena akhirnya.
Jemari Damien berhenti di leher Serena. Sunyi beberapa detik menyelimuti mereka.
Lalu pria itu menunduk sedikit, begitu dekat hingga Serena bisa merasakan napas yang hangat di kulitnya.
“Aku pernah mencoba melupakannya saat bersamamu.”
Kalimat itu langsung menghancurkan sesuatu dalam diri Serena.
Karena lagi-lagi, Damien Knox memberinya pengakuan yang terdengar seperti cinta dan penolakan dalam waktu bersamaan.
...----------------...
......To be continue......