"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Satu
Semburat cahaya fajar yang baru saja menyentuh permukaan Telaga Teratai Imortal di sisi selatan Desa Jinan menciptakan pendaran cahaya yang begitu jernih, seolah-olah ribuan kristal cair sedang menari di atas air. Di tengah telaga tersebut, Pohon Kehendak yang baru saja tumbuh dari sisa-sisa energi sistem kini telah mencapai ketinggian lima meter. Cabang-cabang kristalnya yang transparan tidak lagi hanya memancarkan cahaya pelangi, tetapi juga mulai menumbuhkan buah-buah kecil berbentuk bulat sempurna yang beraroma seperti perpaduan antara roti panggang hangat dan madu hutan. Setiap kali angin sepoi-sepoi berhembus, daun-daun kristal itu berdenting, menciptakan simfoni alam yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa jiwanya dibasuh oleh ketenangan yang absolut.
Di teras Kedai Teh Kedamaian, Zhou Ji Ran sedang duduk bersandar dengan sangat rileks. Kakinya diselonjorkan ke atas pagar kayu, sementara tangannya memegang sebuah piring kecil berisi potongan keju lembut yang baru saja selesai diproses oleh Suan Ji dan Wu Tie semalam. Di sampingnya, sebuah cangkir teh tanah liat mengeluarkan uap tipis yang membawa aroma melati. Ia mengambil sepotong keju, meletakkannya di atas lidah, dan membiarkan rasa gurih yang kompleks itu meleleh perlahan.
"Suan Ji benar-benar memiliki bakat dalam hal presisi fermentasi," gumam Zhou Ji Ran. "Jika dia tahu cara ini sejak dulu, mungkin dia tidak akan terlalu pusing dengan angka-angka takdir yang membosankan itu."
Di kejauhan, di lereng bukit bagian barat, Jenderal Lu Xing terlihat sedang menggiring kawanan kambing gunung bintang kembali ke kandang setelah sesi merumput pagi. Kambing-kambing itu tampak sangat sehat, bulu putih mereka berkilau seolah-olah ditenun dari cahaya bulan. Lu Xing, yang kini sudah sangat terbiasa dengan tongkat gembalanya, sesekali bersiul untuk mengarahkan seekor kambing yang mencoba memisahkan diri dari rombongan.
"Lu Xing! Pastikan kambing-kambing itu segera diberikan minum air dari saluran irigasi yang sudah dicampur esensi teratai salju! Aku melihat kadar kalsium dalam susu mereka sedikit menurun nol koma sekian persen pagi ini!" teriak Suan Ji dari jendela paviliun susu. Sang mantan Auditor Kosmik itu kini tampak sangat terobsesi dengan kualitas produk diary desanya.
"Aku tahu, Suan Ji! Kau sudah mengatakannya sepuluh kali sejak fajar tadi!" balas Lu Xing sambil melambaikan tangannya dengan malas.
Di sisi lain halaman, Shen Nong, Sang Pengawas Benih Asal, sedang berlutut di depan sebuah petak tanah percobaan. Ia sedang mengamati dengan sangat teliti pertumbuhan tanaman sawi jenis baru yang benihnya ia ambil dari menara kura-kura raksasanya. Sawi ini memiliki urat-urat daun yang bersinar redup di malam hari dan konon bisa memberikan efek regenerasi instan bagi siapa pun yang memakannya dalam keadaan segar.
"Luar biasa... tanah ini benar-benar telah melampaui batas realitas," bisik Shen Nong. "Gui Xu di bawah sana bekerja dengan sangat efektif. Dia mengubah residu kehampaan menjadi nutrisi yang paling murni. Aku belum pernah melihat benih asal ini tumbuh dengan kegembiraan sebesar ini di tempat lain."
Lin Xiaoqi berjalan mendekati Zhou Ji Ran sambil membawa nampan berisi roti gandum madu yang baru saja keluar dari oven Chen Long. "Tuan, sarapan sudah siap. Nona Bai Ling dan Su Ruo juga sedang membantu menyiapkan meja besar di restoran. Mereka bilang hari ini adalah hari yang spesial karena Pohon Kehendak mulai berbuah."
"Hari spesial, ya?" Zhou Ji Ran mengambil sepotong roti, mencelupkannya ke dalam selai melati. "Di sini, setiap hari adalah hari yang spesial selama aku tidak perlu menghadapi monster yang berisik. Tapi, Xiaoqi, aku merasakan ada getaran yang tidak enak dari arah hutan timur. Seperti ada sekelompok lalat yang sedang mencari tumpukan gula."
Lin Xiaoqi mengerutkan kening, ia menatap ke arah hutan timur yang tampak tenang. "Lalat? Apakah maksud Tuan ada tamu tidak diundang lagi?"
"Bukan sekadar tamu. Mereka adalah 'Kolektor'," jawab Zhou Ji Ran. Matanya yang malas tiba-tiba menjadi sangat tajam sesaat, menembus lapisan ruang menuju perbatasan desa. "Orang-orang yang menghabiskan hidup mereka untuk mengumpulkan hal-hal langka hanya untuk dipamerkan dalam koleksi mereka yang berdebu. Mereka mencium aroma Pohon Kehendak dan keju buatan Suan Ji."
Hanya berselang beberapa menit setelah Zhou Ji Ran berbicara, udara di sekitar perbatasan timur desa mulai bergetar. Suara dengung yang sangat tinggi—seperti suara ribuan sayap serangga—mulai terdengar makin nyaring. Dari balik pepohonan bambu yang rimbun, muncul tiga buah kapal terbang berbentuk cakram perak yang permukaannya dipenuhi dengan sensor-sensor optik yang terus berkedip merah. Kapal-kapal ini tidak membawa meriam, melainkan membawa jaring-jaring energi transparan dan alat penghisap molekul yang sangat besar.
Ini adalah armada dari "Sekte Kolektor Inti", sebuah kelompok pemburu harta karun lintas dimensi yang sangat kaya dan sangat egois. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian yang terbuat dari jalinan serat logam cair, melayang turun dari kapal induknya. Namanya adalah Yan Jiu, seorang ahli yang terobsesi dengan pengumpulan 'Anomali Hidup' di seluruh multisemesta. Di matanya, Desa Jinan bukanlah sebuah pemukiman, melainkan sebuah laboratorium alam yang penuh dengan spesimen berharga.
"Luar biasa... detektor saya tidak berbohong," suara Yan Jiu terdengar sangat kering, seperti suara gesekan logam. Ia mendarat di pinggir sungai, mengamati jembatan logam abadi Huo Fen dengan tatapan penuh nafsu keserakahan. "Logam Abadi yang ditempa dengan Inti Matahari... Padi Surgawi tingkat murni... dan pohon kristal itu... ini adalah penemuan abad ini!"
Zhou Ji Ran berdiri dari kursi goyangnya, ia berjalan perlahan menuju gerbang desa, masih memegang roti gandumnya. "Dengar, Tuan Berbaju Logam. Kau baru saja mendarat di atas rumput yang baru saja dirapikan oleh Mo Ye. Dan mesin-mesin piringanmu itu mengeluarkan suara yang sangat menjengkelkan, membuat kambing-kambing Lu Xing merasa stres. Bisakah kau matikan mesinmu dan bicara dengan nada yang lebih manusiawi?"
Yan Jiu menoleh ke arah Zhou Ji Ran, ia menyesuaikan lensa di mata kirinya yang bisa memindai tingkat kekuatan seseorang. Lensa itu berkedip-kedip hijau, menunjukkan angka nol yang absolut untuk Zhou Ji Ran. "Ah, seorang warga lokal. Dengar, manusia fana. Saya adalah Yan Jiu dari Sekte Kolektor Inti. Saya datang untuk menawarkan kesepakatan yang tidak bisa kau tolak. Kami akan mengambil seluruh desa ini, memindahkannya ke dalam kapsul dimensi kami untuk dilestarikan, dan sebagai gantinya, aku akan memberimu satu planet subur di wilayah yang aman di mana kau bisa bertani seumur hidupmu tanpa gangguan."
Zhou Ji Ran tertawa kecil, ia menyuapkan potongan roti terakhirnya. "Memindahkan desaku ke dalam kapsul? Kau pikir ini adalah pajangan rak bukumu? Aku tidak tertarik dengan planet barumu. Aku sudah punya semua yang aku butuhkan di sini. Sekarang, sebaiknya kau pergi sebelum asisten-asistanku kehilangan kesabaran."
Yan Jiu tersenyum dingin. "Kesabaran adalah kemewahan bagi mereka yang lemah. Jika kau tidak mau bekerja sama, maka kami akan menggunakan 'Protokol Ekstraksi'. Kami akan menghisap seluruh esensi dari tempat ini, termasuk jiwa-jiwa yang menghuninya, dan membiarkan tempat ini menjadi gurun pasir yang mati."
Ia mengangkat tangannya, memberikan sinyal pada kapal-kapalnya di langit. Ketiga cakram perak itu mulai memancarkan sinar ungu yang sangat pekat ke arah pusat desa. Sinar itu adalah "Sinar Disintegrasi Selektif" yang bisa memisahkan esensi spiritual dari materi fisik. Tanaman-tanaman di ladang mulai terlihat gemetar, dan energi di Telaga Teratai mulai bergejolak hebat.
Huo Fen yang sedang berada di jembatan seketika berteriak marah. "Beraninya kau mencoba menghisap energi jembatanku! Aku akan melelehkan cakram perakmu itu menjadi panci dapur!"
Huo Fen melompat ke udara, palu tempa barunya memancarkan panas yang luar biasa. Ia menghantamkan palunya ke arah salah satu cakram perak. Namun, cakram tersebut memiliki perisai energi yang sangat licin, membuat serangan Huo Fen melesat ke samping tanpa memberikan dampak berarti.
"Teknologi Kolektor kami telah melampaui teknik penempaan kunomu, Pandai Besi!" ejek Yan Jiu.
Zhou Ji Ran menghela napas, ia melihat bagaimana kekacauan mulai merusak kedamaian paginya. Ia menoleh ke arah Suan Ji yang sedang memegang sebuah cetakan keju baru. "Suan Ji, apakah kau punya beberapa potong keju keras yang tidak terpakai?"
Suan Ji bingung, namun ia segera mengambil dua bongkah keju yang sudah sangat keras karena proses pengeringan yang berlebih. "Ini, Tuan. Ini sebenarnya adalah kegagalan produksi, teksturnya terlalu padat seperti batu."
"Sempurna," ucap Zhou Ji Ran.
Ia mengambil salah satu bongkah keju keras itu. Dengan gerakan yang sangat santai, seolah-olah ia sedang melemparkan makanan ke arah anjing peliharaan, Zhou Ji Ran melemparkan keju tersebut ke arah cakram perak terbesar di langit.
Keju itu terbang dengan lintasan melengkung yang sangat sederhana. Namun, saat keju itu bersentuhan dengan perisai energi kapal, terjadi sebuah anomali fisika yang sangat mengerikan. Keju yang mengandung esensi dari Padi Surgawi dan energi teratai salju itu seketika berinteraksi dengan frekuensi perisai kapal. Alih-alih meledak, keju itu justru menyerap seluruh perisai energi tersebut dan menjadikannya sebagai "kulit" pelindung baru bagi dirinya sendiri, sementara kapal tersebut seketika kehilangan seluruh daya pertahanannya.
*Krak!*
Bongkahan keju itu menembus lapisan logam kapal perak tersebut seolah-olah itu adalah kertas tipis. Kapal induk Kolektor itu seketika mati total, mesin-mesinnya mengeluarkan asap hitam, dan ia jatuh bergedebuk di tengah rawa-rawa timur, tepat di samping kura-kura raksasa Shen Nong.
"Apa?! Kapal indukku dilumpuhkan oleh... sepotong keju?!" Yan Jiu berteriak dengan suara yang hampir melengking karena terkejut.
Dua kapal lainnya mencoba menembakkan laser ke arah Zhou Ji Ran, namun Mo Ye sudah bergerak lebih cepat. Ia menggunakan gunting tamannya untuk "memangkas" berkas laser tersebut di udara. Setiap tembakan laser yang datang dipotongnya menjadi potongan-potongan energi kecil yang tidak berbahaya, yang kemudian jatuh ke tanah dan diserap oleh Gui Xu sebagai pupuk tambahan.
"Parameter serangan: Tidak Efisien. Memerlukan pemangkasan lebih lanjut," ucap Mo Ye dengan suara datar sambil terus bergerak di antara pepohonan.
Zhou Ji Ran berjalan mendekati Yan Jiu yang kini mulai gemetar ketakutan. "Kau bilang kau suka mengoleksi hal-hal unik, bukan? Kebetulan sekali, aku sedang mencari cara untuk membangun sistem pemantauan cuaca dan hama otomatis di seluruh penjuru desa agar aku tidak perlu sering-sering berkeliling. Sensor-sensor di kapalmu itu tampaknya sangat canggih."
Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya ke arah Yan Jiu. Seketika, pakaian logam cair sang kolektor menyusut dan berubah menjadi seragam teknisi berwarna biru tua dengan banyak saku untuk menyimpan obeng dan tang. Alat penghisap molekul di kapal-kapalnya berubah menjadi kamera pemantau burung dan sensor kelembapan tanah yang sangat presisi.
"Mulai hari ini, kau dan seluruh awak kapalmu adalah Tim Pemeliharaan Teknologi dan Sensor Desa Jinan," perintah Zhou Ji Ran mutlak. "Tugasmu adalah memasang sistem sensor di setiap sudut ladang padi dan kebun anggur agar kita bisa memantau pertumbuhan tanaman secara real-time dari Kedai Teh. Jika aku melihat ada satu ulat bulu yang terlewat oleh sensormu, aku akan memintamu untuk menghitung jumlah atom di seluruh butiran pasir sungai kita menggunakan mata telanjang."
Yan Jiu merasakan seluruh basis kultivasi 'Koleksi'-nya kini telah diubah fungsinya menjadi kemampuan teknis murni. Ia menatap kapalnya yang kini sedang dikerjakan oleh prajurit zirah emas untuk dijadikan menara pemantau cuaca. "Saya... saya mengerti, Tuan Zhou. Data adalah segalanya... saya akan memastikan tidak ada satu ulat pun yang lolos."
Sore harinya, pemandangan di Desa Jinan kembali ke normalitas yang surreal, namun dengan peningkatan teknologi yang signifikan. Yan Jiu dan anak buahnya terlihat sedang memanjat tiang-tiang kayu, memasang perangkat kecil berbentuk piringan perak yang bisa memancarkan hologram laporan cuaca setiap satu jam sekali. Penduduk desa sangat terkesan; mereka kini bisa tahu kapan hujan akan turun hanya dengan melihat ke arah menara sensor di bukit.
Qian Fugui sangat senang dengan kehadiran Yan Jiu. "Tuan Kolektor! Dengan sensor pelacakanmu ini, gerobak logistikku tidak akan pernah lagi tersesat di kabut pegunungan! Efisiensi pengiriman kita akan naik dua ratus persen!"
Yan Jiu yang sedang memegang obeng hanya bisa mendengus pelan. "Panggil aku Teknisi Yan. Dan jangan sentuh kabel sensor itu, atau kau akan terkena sengatan energi statis yang bisa membuat rambutmu berdiri selama tiga hari."
Di Kedai Teh Kedamaian, Zhou Ji Ran kembali duduk santai di kursi goyangnya. Di depannya, sebuah layar hologram kecil menampilkan grafik pertumbuhan sawi primadonanya. "Nah, ini baru namanya hidup modern yang santai. Aku tidak perlu lagi bangun tengah malam hanya untuk memastikan air irigasi mengalir dengan benar."
Lin Xiaoqi membawakannya secangkir teh baru. "Tuan benar-benar luar biasa. Setiap orang yang datang dengan niat jahat, pada akhirnya justru membuat desa kita semakin maju."
"Itu karena mereka memiliki keahlian yang terbuang percuma di dunia luar sana, Xiaoqi. Di sini, setiap bakat memiliki tempatnya di tanah," jawab Zhou Ji Ran.
Namun, di tengah kepuasannya, ia melihat ke arah Pohon Kehendak di telaga. Salah satu buah kristalnya telah matang dan jatuh ke permukaan air. Saat buah itu menyentuh air, ia tidak tenggelam, melainkan berubah menjadi sebuah perahu kecil yang sangat indah yang bergerak sendiri mengikuti keinginan orang yang menaikinya.
"Pohon itu mulai menghasilkan alat transportasi," gumam Zhou Ji Ran. "Sepertinya Bai Ling tidak perlu lagi mendayung perahu kayu yang berat itu untuk merawat teratai."
Malam mulai turun menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu lampion kini menyala secara otomatis berkat sensor cahaya yang dipasang oleh tim Yan Jiu. Pendaran cahaya dari menara-menara sensor di bukit memberikan suasana futuristik yang aneh namun indah, menyatu dengan aura magis dari Pohon Memori.
Zhou Ji Ran berdiri di jendela kamarnya, menatap ke arah bintang-bintang. Ia merasakan bahwa riak yang ia ciptakan di multisemesta kini telah menjadi sebuah badai besar. Hilangnya armada kolektor ini pasti akan memancing perhatian dari "Sekte Pengetahuan Abadi" atau mungkin "Konsorsium Dimensi Utama". Namun baginya, semua itu hanyalah gelombang tamu yang akan membawa peralatan baru bagi kemajuan desanya.
"Selama mereka membawa sesuatu yang berguna, aku akan selalu punya tempat untuk mereka," bisik Zhou Ji Ran pada kegelapan malam.
Ia berbaring di tempat tidurnya, merasakan kehangatan dari rumah kayu yang kini telah diperkuat oleh struktur arsitektur Gong Sun dan sistem keamanan sensor Yan Jiu. Ia tidak lagi merindukan peperangan bintang atau tahta multisemesta. Di sini, ia memiliki segalanya yang ia butuhkan: tanah yang subur, orang-orang yang tulus, dan kedamaian yang ia menangkan dengan cara yang paling sederhana.
Di bawah tanah, Gui Xu terus mengolah limbah dengan rajin. Di atas tanah, para mantan penguasa dunia sedang belajar cara mencintai kehidupan yang nyata. Dan di pusat semuanya, sang petani legenda tersenyum dalam tidurnya, memimpikan panen raya berikutnya yang akan dirayakan dengan keju terbaik dan teh teratai salju yang paling segar.
Perjalanan tanpa instruksi ini terus berlanjut, selangkah demi selangkah, di atas tanah Jinan yang kini menjadi pusat dari segala keajaiban. Dan bagi Zhou Ji Ran, inilah satu-satunya cara hidup yang benar-benar layak ia jalani hingga langkah terakhirnya nanti. Kehidupan memang benar-benar luar biasa, jauh melampaui statistik dan angka yang pernah ia kuasai dulu.
Fajar berikutnya akan segera tiba, membawa tantangan baru dan keajaiban baru bagi sang petani legenda. Dan ia akan selalu siap menyambutnya dengan cangkul di tangan dan teh pahit di meja. Semuanya berjalan sesuai rencana hidupnya yang sederhana namun luar biasa.
"Selamat malam, dunia yang berisik. Terima kasih atas sensor cuacanya," gumam Zhou Ji Ran sebelum ia benar-benar terlelap dalam pelukan malam yang penuh dengan aroma melati dan teknologi yang sudah dijinakkan.
Satu hari lagi telah berakhir di Desa Jinan. Sebuah hari yang dipenuhi dengan drama teknologi dimensi, keajaiban pertumbuhan, dan tawa di balik kerja keras. Sang mantan pemilik sistem telah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam penaklukan, melainkan dalam kemampuan untuk menumbuhkan sesuatu yang baru dari sisa-sisa kehancuran. Dan di Desa Jinan, kehidupan adalah satu-satunya hukum yang tidak bisa dihapus oleh sensor atau senjata manapun. Segalanya berjalan dengan perlahan, penuh makna, dan sangat memuaskan di bawah bimbingan sang penguasa yang hanya ingin menjadi manusia biasa yang bahagia.
Malam semakin larut, dan di bawah sinar rembulan yang jernih, sang petani legenda terus bermimpi tentang masa depan yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Sebuah masa depan yang tidak ditentukan oleh sistem, melainkan ditentukan oleh rasa syukur dan kasih sayang pada bumi yang ia injak setiap hari. Kehidupan ini memang sangat indah. Tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun, ia telah mengubah wajah multisemesta, satu benih dan satu sensor pada satu waktu.
Pagi esok akan membawa lebih banyak cerita, dan Zhou Ji Ran akan siap untuk menjadikannya bagian dari legenda hidup desanya. Semuanya berjalan perlahan, menuju kedamaian abadi yang ia dambakan. Kehidupan di Desa Jinan adalah sebuah lagu syukur yang tak akan pernah berakhir, selama sang penjaga masih berdiri di sana dengan cangkul di tangannya.
gak balik jadi orang2ngan sawah soalnya..🤣🤣