NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Menyembunyikan Motif

Halaman depan portal bisnis Kanal Satu memampang foto Shanaya. Ia berdiri di ujung lintasan gelap dengan kemeja putih dan celana hitam, dikelilingi model-model berkorset merah darah. Ulasan itu menguliti habis koleksi musim gugur Kesuma Mode.

Artikel Steven pagi itu satu kalimat pertamanya: 'Shanaya Kesuma bukan pewaris, ia penggantinya.'

Kalimat itu menggeser peta kekuatan Kesuma Group dalam semalam. Artikel tersebut tidak tayang di rubrik gaya hidup atau hiburan yang biasa mengulas koleksi baju musiman. Kanal Satu menaruhnya di rubrik bisnis utama, tepat di halaman depan portal berita digital mereka, bersanding dengan tajuk fluktuasi saham nasional.

Dinda meletakkan cangkir espreso di meja Shanaya. Tangan asistennya itu masih gemetar, kali ini karena euforia yang meluap.

"Mbak, saham kita naik empat poin pagi ini. Artikel Pak Steven dibagikan ratusan ribu kali lintas platform. Netizen mulai bikin perbandingan detail." Dinda menyodorkan tabletnya ke hadapan Shanaya, menggeser layar dengan cepat.

Shanaya menatap layar. Tulisan Steven tidak sekadar memuji. Pria itu menguliti malam *Fashion Week* dengan presisi seorang ahli bedah. Steven mendeskripsikan koleksi Anastasia sebagai "kain manis tanpa jiwa yang terjebak di tren tiga tahun lalu." Lalu, di paragraf berikutnya, ia mengangkat karya Shanaya sebagai "revolusi brutal yang mengembalikan Kesuma Mode ke puncak rantai fashion."

Layar tablet Dinda beralih menampilkan kolase foto tangkapan layar dari acara semalam. Di kiri, gaun sifon bunga milik Anastasia. Di kanan, jubah organza merah darah milik Shanaya.

Komentar publik mengalir liar, menelan habis narasi melankolis Anastasia.

*Yang kiri kayak baju bridesmaid biasa sih. Yang kanan bosnya.*

*Tunggu, desain Anastasia kok mirip banget sama siluet koleksi desainer luar musim lalu? Cek deh link ini. Plagiat part dua?*

*Pantes ditaruh di akhir acara. Karya Shanaya emang kelasnya beda. Grand finale abis. Kebanting banget itu yang maksa tampil duluan.*

Shanaya menyesap espresonya lambat-lambat. Rasa pahit kopi menyapu lidahnya. Opini publik berbalik menampar wajah Anastasia dengan telak. Narasi korban perundungan yang dibangun sepupunya itu hancur berantakan karena satu ulasan tajam dari media paling berkuasa di negara ini.

Publik kini tidak melihat Shanaya sebagai tiran penindas, melainkan sebagai visioner yang pantas memimpin. Investor benci drama picisan keluarga, tapi mereka memuja kompetensi. Dan Steven baru saja melegitimasi kompetensi Shanaya di mata para pemegang saham.

Ponsel Shanaya berdering. Ia menekan tombol panggil.

"Halo."

"Kamu sudah baca berita pagi ini?" Suara Steven terdengar dari seberang. Dingin, datar, dan tanpa intonasi bangga. Pria itu bicara seolah sedang membacakan laporan cuaca harian.

"Rubrik bisnis utama?" Shanaya memutar pena peraknya di sela jari. "Aku pikir kita sepakat buat promosi mode, bukan deklarasi perang keluarga Kesuma ke publik."

"Saya menulis fakta." Terdengar suara ketukan keyboard dari ujung telepon Steven. "Koleksi adik sepupumu itu barang daur ulang. Kalau saya taruh namamu di rubrik gaya hidup, kamu cuma jadi tukang jahit baju. Saya taruh kamu di rubrik bisnis, publik sadar kamu pemimpin Kesuma Mode yang sebenarnya. Kamu keberatan?"

Jemari Shanaya berhenti memutar pena. Pria ini terlalu tajam. Di kehidupan lalu, ketajaman Steven adalah pedang yang mengiris lehernya tanpa ampun. Sekarang, pedang itu membantai musuh-musuhnya. Ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dadanya. Pria ini melakukan jauh lebih banyak dari yang tertulis di kontrak hak siar mereka.

"Aku nggak suka berutang budi, Steven."

"Siapa yang bilang ini budi?" Steven mendengus pelan. "Kamu kasih saya rating tertinggi sepanjang sejarah siaran langsung Kanal Satu tadi malam. Semua mata tertuju pada layar stasiun TV saya. Saya kasih kamu kontrol opini publik pagi ini. Transaksi kita lunas."

"Cuma transaksi?"

"Jangan terlalu banyak berharap, Shanaya. Fokus saja bekerja dan terus hasilkan uang."

Sambungan terputus.

Shanaya menatap layar ponselnya yang mati. Matanya menyipit penuh perhitungan. Steven Aditya tidak pernah turun tangan langsung menulis opini editorial sejak tiga tahun lalu. Pria itu memiliki puluhan jurnalis senior untuk melakukan pekerjaan kotor itu. Kali ini, nama Steven terpampang jelas sebagai penulis tunggal. Pria itu menyembunyikan motif pelindungnya di balik tameng bisnis dan kata-kata kasar.

Di seberang kota, di sebuah apartemen mewah kawasan Sudirman, layar tablet hancur menghantam dinding marmer.

Anastasia berdiri dengan dada naik-turun. Napasnya memburu. Kemeja tidurnya kusut masai. Ujung rambutnya menempel pada dahi yang basah oleh keringat dingin.

"Berengsek!" teriaknya melengking.

Ia menendang serpihan kaca di lantai hingga kakinya tergores berdarah. Rasa perih itu tidak sebanding dengan amarah yang membakar kewarasannya.

Semua rencananya hancur berkeping-keping. Pagi ini, Tiara dan teman-teman sosialitanya mendadak bungkam. Anastasia sudah mencoba menelepon Tiara tiga kali, tapi panggilannya selalu ditolak. Tidak ada satu pun yang berani mengunggah foto teh kamomil atau kata-kata dukungan palsu lagi. Membela Anastasia sekarang sama saja dengan menentang arus utama yang diciptakan Kanal Satu. Tidak ada sosialita bodoh yang mau terseret ke dalam lubang skandal plagiat kedua kalinya.

Lebih buruk lagi, akun media sosial Kesuma Mode kini dibanjiri tuntutan klarifikasi. Publik mendesak Anastasia menjelaskan kemiripan desainnya dengan karya desainer luar negeri.

Anastasia menggigit ibu jarinya kuat-kuat. Matanya liar mencari jalan keluar di tengah ruang tamu yang berantakan. Ia menyambar ponselnya di atas sofa, mencari nama Alvian di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.

Satu nada sambung. Dua nada sambung. Panggilan dialihkan ke kotak suara.

Alvian menghindar. Pria itu selalu mencari jalan aman saat badai datang. Kemarin siang Alvian berjanji akan mengatur opini publik lewat jaringannya sendiri. Nyatanya, calon suami sepupunya itu tidak punya nyali berhadapan langsung dengan mesin media sebesar Steven Aditya.

"Kamu pikir kamu bisa lari, Al?" Anastasia mendesis tajam.

Jarinya mengetik pesan panjang berisi ancaman telanjang. Ia tahu rahasia Alvian. Ia tahu aliran dana yang pria itu putar diam-diam di belakang meja direksi dan proyek-proyek fiktif yang mereka rencanakan bersama. Anastasia menekan tombol kirim tanpa berpikir panjang.

Di ruang kerja Shanaya, ponsel hitam usang di dalam laci meja bergetar pendek.

Shanaya menarik laci itu. Layar menyala. Aplikasi pelacak yang ditanam Leo baru saja menangkap satu paket data baru. Leo telah menyadap jaringan komunikasi khusus yang biasa dipakai lingkaran dalam keluarga Kesuma dan meretas jalur apartemen Anastasia.

Shanaya menatap deretan teks yang muncul di layar dengan senyum puas.

Isinya sarat dengan kepanikan dan ancaman membuka rahasia keuangan curian. Umpan yang Shanaya tebar mulai digigit. Tikus-tikus itu mulai saling memangsa saat rumah mereka terbakar.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!