apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pukul 19.42. Mobil Arion meluncur mulus membelah jalanan Jakarta.
Di kursi penumpang, Saga masih meringkuk dengan jaket Arion yang kebesaran. Pipinya sembab bekas tidur di restoran Edwin tadi.
“Ion,” panggilnya pelan. “Aga malu banget tadi. Edwin serem. Tatapannya kayak mau nelan Aga hidup-hidup.”
Arion melirik sebentar, tangan kanannya lepas dari setir untuk mengusap kepala Saga. “Sudah nggak apa-apa. Ada aku.”
“Tapi kenapa Rasya bilang Aga punya kekasih? Terus Ion dateng beneran jadi kekasih Aga?” Saga mengerutkan kening. “Aga bingung. Kita kan...”
“Kita apa?” Arion menahan senyum. Lampu merah. Ia menoleh penuh.
Saga gigit bibir. “Kita... nggak jelas. Lima tahun Aga manggil Ion, Ion manggil Aga. Tapi nggak pernah jadian. Nggak pernah nembak. Tiba-tiba tadi Ion bilang ‘kekasihku’ di depan Edwin.”
Lampu hijau. Mobil jalan lagi.
Arion diam lama. Hanya suara AC dan detak sein yang terdengar.
“Aga,” ucapnya akhirnya. “Aku nggak suka lihat kamu ketakutan. Edwin itu obsesi. Dia nggak akan berhenti kalau nggak dikasih batas jelas.”
“Jadi Ion... bohong?” Suara Saga melemah.
Arion menepi sebentar di bahu jalan. Mesin masih menyala. Ia buka seatbelt, lalu menarik Saga ke pelukannya.
“Aku nggak bohong, Aga.” Bibirnya di puncak kepala Saga. “Aku mau jadi kekasih kamu. Dari dulu. Cuma kamu yang nggak pernah minta kepastian.”
Saga mendongak. Mata bulatnya berkaca. “Aga takut. Aga udah punya tiga anak. Rasya CEO, Revan sama Langit SMA. Kalau Aga pacaran, nanti mereka gimana? Nanti Ion gimana? Aga imut tapi Aga ribet...”
“Stt.” Arion mengecup keningnya. “Kamu nggak ribet. Anak kamu posesif karena sayang. Dan aku...” Ia menatap Saga lurus. “Aku mau ribetnya kamu. Mau ngadepin Rasya, Revan, Langit. Mau nemenin kamu kemah besok sama Langit juga kalau dibolehin.”
Saga terisak, tapi senyum. “Ion gombal.”
“Biarin.” Arion mengusap air mata Saga dengan ibu jari. “Jadi malam ini, di apartemen, kita perjelas semuanya. Mau?”
Saga mengangguk cepat. “Mau. Aga mau jadi pacarnya Ion. Resmi. Nggak ngambang lagi.”
Arion tersenyum lega. Ia kembali menyetir. “Bagus. Karena Rasya, Revan, Langit udah sepakat di grup. Malam ini kamu hak asuh aku.”
“Hah? Kapan mereka rapat?!”
“Tadi. Pas kamu tidur di restoran.” Arion menyerahkan ponselnya.
Di grup ‘Papanya Kita’:
Rasya: Om Ion, titip Papa semalem. Jangan bikin nangis.
Revan: Titip Papa. Kalo Papa laper malem-malem, beliin ayam mentai.
Langit: Om Ion, kalo Papa ngerengek minta gendong, gendong aja. Kami ikhlas.
Arion: Siap, Komandan.
Saga membaca itu sambil menutup mulut. “ANAK-ANAK AGA...”
“Sudah gede,” kata Arion. “Dan mereka tau Papanya butuh bahagia juga.”
Apartemen Skyline, 20.15.
Baru masuk, Saga langsung ditarik ke sofa. Arion mengurungnya dengan dua lengan.
“Jadi,” bisik Arion. Napasnya di leher Saga. “Mulai malam ini, Aga pacarnya Ion?”
Saga merah. Tangannya meremas kemeja Arion. “I-iya... tapi Ion janji ya?”
“Apa?”
“Jangan bosen. Jangan pergi. Jangan... jangan kalah sama Edwin.”
Arion tertawa pelan. “Nggak akan. Aga punya Ion. Ion punya Aga. Edwin lewat.”
Saga memejamkan mata, lalu mengalungkan tangan ke leher Arion. “Kalau gitu... Ion boleh cium Aga sekarang. Sebagai tanda resmi.”
Detik berikutnya, bibir Arion turun. Lembut. Menghargai. Tidak menuntut.
Di luar, Jakarta gemerlap. Di dalam, Saga akhirnya punya kepastian.
Sementara itu, di markas gengnya, Rasya menatap CCTV apartemen Arion yang sengaja dia pasang diam-diam.
Di layar, Papanya sedang dicium.
Rasya menyesap kopi. Mengetik di grup.
Rasya: Status: Aman. Papa sudah diculik secara sah.
Revan: NICE.
Langit: Besok jemput Papa buat kemah ya. Titip salam buat Om Ion.
Malam itu, Saga tidur di dada Arion. Tanpa mimpi buruk. Tanpa Edwin.
Hanya ada “Ion” dan “Aga”.