NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU MALAM YANG SALAH

BAB 3 — SATU MALAM YANG SALAH

Telapak tangan Arsen terasa hangat dan kokoh saat menggenggam jemari Keisha erat. Genggaman itu memberikan rasa aman sekaligus menuntunnya tanpa ragu.

Mereka berjalan menyusuri keramaian di dalam klub tanpa banyak bicara. Di sekeliling mereka, orang-orang masih tertawa terbahak-bahak, menari liar, dan tenggelam dalam euforia malam. Namun bagi Keisha, semua suara itu perlahan memudar, menjadi seperti suara latar yang semakin lama semakin jauh dan samar.

Fokus pandangannya hanya tertuju pada satu hal.

Pria yang berjalan di depannya.

Arsen melangkah dengan tenang dan penuh wibawa, seolah ia memang terlahir untuk menjadi pusat perhatian. Beberapa orang menoleh saat mereka lewat, tapi pria itu sama sekali tak peduli. Ia seolah tak melihat siapa pun selain gadis yang tangannya ia genggam.

Sementara Keisha? Jantungnya justru berdegup semakin kencang, bercampur rasa gugup yang luar biasa.

“Kalau masih ragu, kita bisa berhenti di sini.”

Suara Arsen terdengar jelas, namun ia tidak menoleh ke belakang.

Keisha terdiam. Ia menatap punggung lebar pria itu, lalu menelan ludah yang terasa berat di tenggorokannya.

“Aku enggak bilang ragu,” jawabnya pelan namun tegas.

“Tubuhmu bilang begitu,” balas Arsen santai. “Kaku sekali.”

Keisha mendengus kecil, kesal sekaligus kagum karena pria itu bisa membacanya dengan begitu mudah. “Sok tahu banget sih.”

Arsen menoleh sekilas ke arahnya, dan sudut bibirnya yang tegas itu terangkat membentuk senyum tipis yang sangat menggoda.

“Aku memang tahu.”

Jantung Keisha seakan meleleh mendengarnya.

 

Udara malam di luar gedung terasa jauh lebih dingin dan segar, kontras dengan suasana panas di dalam tadi. Suara klakson dan deru kendaraan terdengar samar di jalan raya, sementara lampu-lampu kota berkilauan indah bagaikan lautan cahaya yang membentang luas di kejauhan.

Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di hadapan mereka. Pintu belakang terbuka otomatis, dan seorang sopir berpakaian rapi turun untuk membukakan pintu bagi mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Mata Keisha membelalak sedikit.

“Kamu... bawa sopir?” tanyanya tak percaya.

“Aneh?”

“Sedikit.” Keisha mengerutkan hidung. “Kan lebih bebas kalau nyetir sendiri.”

Arsen menatapnya datar, namun ada kilat humor di matanya. “Naik.”

Nada bicara itu terdengar seperti perintah yang halus. Seharusnya itu terdengar menyebalkan dan arogan.

Tapi entah kenapa, justru membuat lutut Keisha terasa lemas dan tak berdaya.

Dengan hati yang berdebar kencang, ia masuk ke dalam kabin mobil yang luas dan dingin karena AC. Arsen duduk tepat di sampingnya.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, dunia luar seakan terputus. Suasana di dalam menjadi hening.

Terlalu hening.

Keisha memalingkan wajah ke arah jendela, berpura-pura sibuk memperhatikan lampu jalan yang lewat, berusaha terlihat tenang. Padahal ia bisa merasakan keberadaan pria di sampingnya begitu kuat dan nyata. Aroma parfum khasnya memenuhi seluruh ruang sempit itu, memabukkan indra penciumannya.

“Takut?” tanya Arsen tiba-tiba, memecahkan keheningan.

“Enggak.”

“Kamu bohong.”

“Aku cuma... belum pernah begini,” akunya akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

“Pergi dengan pria asing?”

Keisha menoleh, menatap sisi wajah profil pria itu dengan perasaan campur aduk. “Kalau tahu asing, kenapa aku ikut sampai sejauh ini?”

Arsen menoleh perlahan, menatap matanya lekat-lekat.

“Karena kamu penasaran.”

“Pede banget ya,” cibir Keisha, meski pipinya mulai memanas.

Arsen mendekatkan wajahnya sedikit, cukup untuk membuat jarak mereka nyaris tak bersisa.

“Dan karena... kamu juga menginginkannya.”

Napas Keisha tercekat di tenggorokan. Ia tak bisa menjawab, tak bisa membantah. Karena ucapan pria itu seratus persen benar.

Ia buru-buru memalingkan wajah lagi, menyembunyikan kegugupannya. Arsen hanya terkekeh pelan melihat reaksi gadis itu.

 

Hotel yang mereka datangi berdiri megah dan menjulang tinggi di pusat kota.

Begitu melangkah masuk, Keisha langsung terpana. Lobi yang sangat luas dengan lampu-lampu kristal raksasa yang bergantung tinggi, lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya, dan aroma wewangian mewah yang tercium di setiap sudut.

Yang paling membuat Keisha bertanya-tanya adalah respon para staf hotel. Mereka semua langsung menunduk hormat dengan sopan begitu melihat Arsen, seolah mereka sangat mengenal pria ini.

Pria ini sebenarnya siapa? Pikirnya berkecamuk.

Namun sebelum sempat bertanya, Arsen sudah menuntunnya berjalan cepat menuju sebuah lift privat yang eksklusif.

Pintu lift tertutup rapat.

Suara dengungan mesin terdengar pelan saat kabin mulai bergerak naik.

Kini mereka benar-benar hanya berdua di ruangan kecil itu.

Detak jantung Keisha terdengar begitu keras, hingga ia yakin Arsen pasti bisa mendengarnya.

Arsen berbalik badan, kini berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan.

“Kamu masih punya waktu untuk berubah pikiran,” ucap pria itu pelan, suaranya rendah dan bergetar.

Keisha menatap manik mata gelap itu, tenggelam di dalamnya.

“Aku tahu.”

“Tapi?” Arsen mendesak, menunggu kepastian.

Keisha tak menjawab dengan kata-kata.

Tangannya bergerak sendiri, seakan memiliki kehendak sendiri. Jari-jemarinya meraih kerah kemeja Arsen, lalu menariknya sedikit ke bawah, mendekatkan wajah mereka.

Mata pria itu berubah seketika. Tatapannya yang tadi tenang kini berubah menjadi tajam dan gelap, membara dengan api hasrat.

“Berbahaya,” gumamnya parau.

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu mulai begini... sekarang aku enggak mau mundur.”

Ting.

Bel lift berbunyi pelan, menandakan mereka sudah sampai.

Pintu terbuka, dan tanpa menunggu lagi, Arsen menggenggam tangan Keisha erat, menariknya keluar menuju koridor yang sepi dan mewah.

 

Begitu pintu kamar hotel tertutup dan terkunci dari dalam, dunia seakan berhenti berputar.

Keisha bahkan belum sempat memperhatikan detail kamar yang begitu luas dan mewah itu, ketika tiba-tiba tubuhnya didorong perlahan namun pasti hingga punggungnya menempel pada dinding di dekat pintu.

Arsen berdiri menaunginya, kedua tangannya menahan dinding di sisi kanan dan kiri kepala Keisha, memagari gadis itu agar tak bisa ke mana-mana.

Pandangannya jatuh lurus ke bibir Keisha, membuat gadis itu merasa seolah sedang ditatap oleh predator yang siap menerkam mangsanya.

“Terakhir kali,” bisik Arsen, napasnya hangat menerpa wajah Keisha.

Keisha mengernyit bingung. “Apa?”

“Kesempatan terakhir buat bilang tidak. Setelah ini, aku tidak akan mau mendengarnya.”

Keisha menahan napas, seluruh tubuhnya terasa tegang namun juga hangat. Ia menatap mata pria itu dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa.

Lalu ia berbisik pelan, nyaris tak terdengar,

“Aku enggak mau bilang tidak.”

Itu adalah kode yang ditunggu.

Arsen langsung menciumnya.

Ciuman yang dalam, panas, dan penuh penekanan. Seolah ia sudah menahan hasrat ini sejak lama.

Tubuh Keisha menegang sesaat karena kaget, namun tak lama kemudian melemas sepenuhnya di bawah sentuhan pria itu. Dunia di sekitarnya berputar, kakinya terasa lemas seolah tak memiliki tulang, dan ia hanya bisa bergantung pada bahu Arsen untuk tetap berdiri.

Tangannya refleks mencengkeram bahu lebar pria itu.

Arsen mengangkat wajahnya perlahan, memberi kesempatan pada mereka untuk bernapas, namun matanya masih menatapnya dengan intens.

“Masih mau lanjut?” tanyanya sekali lagi, memberikan pilihan terakhir.

Keisha hanya bisa mengangguk kecil, wajahnya memerah padam karena malu dan gairah.

Arsen tersenyum tipis, lalu kembali membawanya masuk lebih dalam ke kamar, menuju ranjang besar yang terbentang rapi.

Dan malam itu... berubah menjadi sesuatu yang jauh melampaui segala imajinasi Keisha.

 

Ia belajar bagaimana sebuah sentuhan bisa membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Bagaimana bisikan-bisikan rendah di telinga bisa membuat napasnya berantakan tak beraturan.

Bagaimana pria bernama Arsen itu bisa terlihat begitu dingin dan menyeramkan di luar, namun bisa menyentuhnya dengan kesabaran dan kelembutan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Malam itu tak ada janji manis.

Tak ada kata-kata cinta yang diucapkan.

Tak ada ikatan apa pun.

Hanya ada dua orang asing yang tenggelam dalam kehangatan satu sama lain, terhanyut dalam malam yang berlalu begitu cepat, namun terasa begitu panjang dan berkesan.

 

Saat fajar mulai menyelinap tipis membelah tirai jendela, menyinari ruangan dengan cahaya keemasan yang redup, Keisha perlahan membuka matanya.

Seluruh tubuhnya terasa pegal dan lelah, namun ada rasa nyeri yang anehnya terasa nikmat. Kepalanya terasa sedikit berat, mungkin efek minuman atau juga karena kelelahan semalam.

Dan saat ia bergerak, ia sadar bahwa kepalanya sedang bersandar di dada bidang yang telanjang.

Dada Arsen.

Pria itu masih terlelap.

Keisha mengangkat wajahnya, menatap wajah tampan itu dari jarak sangat dekat.

Sungguh aneh. Wajah Arsen saat tidur terlihat jauh lebih tenang. Garis rahangnya yang biasanya terlihat tegas dan tajam kini terlihat lebih lunak. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es dan mengintimidasi, kini tertutup rapat.

Pria yang baru dikenalnya kurang dari dua puluh empat jam ini... terasa begitu dekat, namun di saat yang sama juga terasa begitu jauh dan asing.

Keisha perlahan menarik selimut, menyelimuti tubuhnya yang telanjang, lalu duduk di tepi ranjang.

Rasa dingin pagi menyentuh kulitnya, namun yang lebih menusuk adalah rasa malu yang tiba-tiba menyerang.

Bersamaan dengan rasa takut yang menjalar di ulu hati.

Apa yang baru saja ia lakukan?

Ia, Keisha yang selama ini dikenal sebagai gadis penurut, pintar, dan selalu berhati-hati dalam setiap langkah... baru saja menyerahkan malam pertamanya, menyerahkan dirinya, pada seorang pria yang bahkan tidak ia kenal siapa sebenarnya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai meraih pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya satu per satu.

Saat ia sedang sibuk merapikan anak rambutnya yang berantakan, sebuah suara berat dan serak terdengar dari belakangnya, membuatnya tersentak kaget.

“Mau kabur?”

Keisha menoleh cepat.

Arsen sudah bangun. Ia bersandar pada kepala ranjang, satu tangannya diletakkan di belakang kepala, menatap Keisha dengan tatapan mengantuk namun tetap tajam.

“Aku... aku harus pulang,” jawab Keisha terbata-bata. “Orang tuaku pasti khawatir.”

Arsen diam beberapa detik, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip.

Lalu ia bangkit duduk, memperlihatkan tubuh atletisnya yang sempurna.

“Ke sini.”

“Apa?”

“Ke sini. Ke sampingku.”

Nada suaranya rendah, tenang, namun memiliki kekuatan yang sulit untuk ditolak.

Dengan langkah ragu, Keisha mendekat kembali ke tepi ranjang.

Arsen mengulurkan tangannya, menarik pergelangan tangan gadis itu hingga ia terduduk di sampingnya. Dengan gerakan perlahan, pria itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Keisha, membiarkan jari-jarinya menyapu lembut pipi gadis itu.

Gerakan yang sangat sederhana, namun cukup membuat jantung Keisha berantakan kembali.

“Jangan pasang wajah seperti habis melakukan kesalahan besar,” ujar Arsen pelan.

Keisha menunduk, tak berani menatap mata itu.

“Aku enggak tahu harus pasang wajah seperti apa. Bingung.”

Arsen menatapnya lama, seolah sedang mencerna setiap ekspresi di wajah gadis itu.

Lalu ia berkata, suaranya terdengar serak namun lembut,

“Kalau begitu... pakai wajah yang akan membuatku ingin melihatmu lagi.”

Keisha membeku.

“Apa?”

Namun Arsen tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya menyeringai tipis, lalu melepaskan tangannya dari wajah Keisha.

“Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan menahanmu di sini seharian penuh.”

Wajah Keisha seketika memanas bak terbakar.

Ia buru-buru berdiri, meraih tasnya, dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Tepat sebelum melangkah keluar, ia menoleh ke belakang sekali lagi.

Arsen masih berada di sana, menatapnya dari atas ranjang.

Dan di detik itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Keisha sungguh berharap bahwa pertemuan singkat ini bukanlah akhir.

Namun ia belum tahu...

Bahwa malam itu tidak hanya meninggalkan kenangan manis dan rasa malu.

Malam itu akan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!