Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 17
Lagi-lagi Cwen menjadi sasaran empuk kejahilan temannya saat bu Sindy masuk kelas, membuat Cwen berusaha keras umtuk tidak membalas keusilan teman-temannya itu, lagi pula tidak parah seperti saat sebelumnya, Jadi Cwen biarkan saja, walaupun rasanya sangat ingin membalas temannya satu persatu.
Tapi begitu teman laki-lakinya menarik ikatan rambut Cwen yang dipangan, bahkan sampai ikat rambutnya terlepas dan membuat rambutnya terurai sedikit berantakan. Belum lagi laki-lakinya itu langsung menjambak rambut Cwen yang sudah begitu kuat sembari cekikikan dengan teman sebangkunya yang lain. Cwen berbalik dan menatap marah teman laki-lakinya itu, lalu tanpa mengatakan apapun, Cwen membalas dengan menjambak rambut laki-laki itu yang sedikit gondrong karena rambunya belum di pangkas.
“Aaaaa sakit," teriak laki-laki bertubuh sedikit gempal itu, ia menangis karena kepalanya benar-benar sakit. Cwen menjambaknya begitu kuat, bahkan sampai membuat beberapa helai rambut rontok.
Sindy yang sedang menulis sebuah materi di papan tulis langsung berbalik begitu mendengar suara teriakan diikuti oleh suara tangisan seorang anak laki-laki.
Tatapan sindy langsung tertuju kepada Cwen yang masih menghadap belakang, berhadapan dengan anak laki-laki yang sedang menangis itu.
Air wajah Sindy langsung berubah keruh melihat siapa yang membuat keributan di kelasnya itu. Beberapa anak-anak yang lain langsung diam menahan tawa, memang itu tujuan mereka, membuat Cwen kesal saat pelajaran bu Sindy agar Cwen terkena marah oleh guru matematika itu, karena hanya bi Sindy lah yang paling mudah marah, apalagi bu Sindy sudah sering sekali memarahi Cwen saat di kelas, membuat semuanya begitu mudah.
“CWEN,”
Bu Sindy menatap marah kearah Cwen yang masih belum sadar jika bu Sindy sudah melangkah mendekat ke arahnya.
Cwen berbalik dan menatap bu Sindy dengan tatapan bersalah, ia lupa jika sedang berjar matematika, Cwen terlalu terbawa emosi sampai ia kebablasan membalas perbuatan temannya itu.
“Kamu apakah Nabil, hah?”tanya bu Sindy menatap tajam Cwen yang langsung menunduk, tidak berani menatap wajah cantik yang sedang di penuhi amarah itu.
“Maaf bu, Cwen marah sama Nabil,”lirih Cwen mengakui kesalahannya.
“Kamu ini memang pada dasarnya anak nakal dan susah diatur, selalu saja membuat masalah saat kelas sedang berlangsung, kamu mau di keluarkan dari kelas, hah?”
Cwen menggelengkan kepalanya, mamanya akan marah jika sampai di keluarkan dari kelas saat pembelajaran berlangsung, Cwen tidak mau.
“Kalau tidak mau, kenapa kamu selalu membuat masalah saat kelas berlangsung?”bu sindy masih juga belum merendahkan suaranya, kemarahannya masih belum reda.
“Apa semua anak seperti kamu selalu membuat masalah di kelas, kamu lihat teman-temanmu yang lain, mereja serius ingin belajar dan kamu malah membuat keributan,”
“Jangan bersikap tinggi hanya kamu memiliki wajah luar negeri Cwen, rambut dan warna kulitmu bukanlah hal yang harus kamu banggakan, jika kamu memang tidak bisa mengikuti aturan di sekolah ini, pergi saja kamu luar negri, di sana kamu bisa berbuat sesukamu, tapi jangan di sekolah ini, apalagi di dalam kelasku,”
Cwen mengepalkan kedua tangannya, ia tidak terima ketika rambut dan warna kulitnya di hina, mama dan pak gurunya saja memuji jika dirinya cantik dengan rambut pirangnya, sedangkan bu Sindy seenaknya menghina fisik yang bahkan Cwen juga tidak pernah meminta di lahirkan dalam keadaan seperti ini.
Cwen mengangkat wajahnya dan menatap gurunya itu dengan tatapan tidak suka.
“Memangnya kenapa kalau Cwen memiliki kulit dan warna rambut yang seperti ini? Cwen tetap cantik kok dengan rambut Cwen yang berbeda dari teman-teman yang lain, pak guru dan mama saja bahkan memuji Cwen kalau Cwen sangat cantik dengan warna rambut Cwen yang terlihat indah,"
Sindy semakin marah karena Cwen malah membalas ucapannya, seharusnya Cwen diam saja, kerena Sindy tipikal guru yang tidak suka ketika dia sedang memarahi seorang murid lalu di bantah bahkan selalu menjawab ucapannya.
“Kamu tau siapa yang sedang kamu ajak bicara, Cwen? Kamu tahu siapa yang sedang berdiri di depan kamu Cwen?”tanya Sindy masih berusaha agar tidak bermain tangan denagn Cwen.
Cwen mengangguk, tapi tidak lagi menunduk, untuk kali ini Cwen tidak mau terus-terusan di salahkan oleh bu Sindy, lagi pula Cwen tidak akan membuat temannya menangis jika mereka tidak jahil duluan kepada dirinya.
“Keluar, keluar kamu dari kelas saya, sekarang!” perintah Sindy menunjuk pintu dengan tangan kirinya.
Cwen menggeleng, ia tidak mau keluar dari kelas, Cwen tidak mau membuat mamanya marah dan sedih melihat Cwen yang tidak belajar dan malah mendapatkan hukuman dengan berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai.
“KELUAR CWEN!”bentak Sindy, ia benar-benar emosi melihat Cwen, rasanya Sindy ingin bermain tangan, tapi dia juga tidak ingin mendapatkan masalah dari sekolah, jadilah ia melampiaskan kemarahannya dengan membentak dan berteriak kepada Cwen.
“Kenapa bu guru suka sekali berteriak kepada Cwen? Kenapa bu guru tidak pernah mau tahu kenapa Cwen membuat teman-teman menangis? Kenapa bu guru selalu saja menyalahkan Cwen, padahal Cwen tidak akan membuat teman-teman Cwen menangis jika saja teman-teman tidak lebih dulu jahil kepada Cwen.
“Kenapa bu guru tidak pernah mau tahu alasan Cwen menjadi nakal, Cwen tidak nakal bu guru, teman-teman Cwen yang nakal, Cwen bahkan tidak berani mengajak teman-teman berbincang-bincang, cwen tidak punya keberanian sebesar itu untuk berteman dengan teman-teman Cwen, jadi mana mungkin Cwen membuat teman-teman nangis bu guru,”
Di detik itu runtuh lah pertahan Cwen, gadis berambut pirang itu menangis, di hadapan gurunya juga di hadapan teman-temannya, dan untuk pertama kalinya mereka semua melihat Cwen menangis, karena selama ini Cwen tidak pernah mau menangis di hadapan teman-temannya,
“Kenapa selalu Cwen yang bu guru salahkan?” lirih Cwen.
Hening. Suasana kelas yang awalnya sedikit ribut karena suara bisik-bisik menjadi hening.
Sindy yang awalnya masih sangat marah kepada Cwen pun mendadak diam, bibirnya menjadi kelu untuk mengeluarkan satu patah kata. Kata-kata yang ingin ia keluarkan mendadak tersangkut di tenggorokkan, tatapannya jadi sendu.
Cwen benar. Kenapa ia hanya terus menyalahkan anak itu? Kenapa dirinya tidak pernah bertanya alasan kenapa Cwen selalu membuat keributan di dalam kelasnya? Kenapa dirinya malah lebih dulu tersulut emosi dan membentak Cwen, gadis yang masih berumur 7 tahun itu. Kenapa juga dia tidak bertanya baik-baik dulu? Kenapa harus langsung meninggikan suaranya saat bertanya? Semua itu sama sekali tidak bisa Sindy jawab.
“Bu guru tidak pernah tahu seberapa kesalnya Cwen kepada teman-teman saat mereka merobek buku-buku tugas milik Cwen dan membuangnya ke tempat sampah, bu guru tidak pernah tahu bagaimana sedihnya Cwen ketika krayon dan pensil warna Cwen satu-satunya di patahkan oleh teman-teman, bu guru tidak tahu kenapa hari ini Cwen menjambak rambut Nabil, bu guru tidak pernah tahu alasan Cwen melakukan itu semua kepada teman-teman Cwen,”
Sindy semakin terdiam, tubuhnya menjadi sangat kaku, tidak bisa ia gerakkan sama sekali.
“Bu guru tidak pernah tahu bagaimana perasaan Cwen saat bu guru memarahi dan juga membentak Cwen di depan teman-teman Cwen.”
seru ceritanya