Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Koridor Akademi Starfell berubah kacau dalam hitungan detik.
Jeritan murid terdengar di mana-mana. Pecahan kaca berserakan di lantai marmer. Mana hitam memenuhi udara seperti asap beracun.
Dan di tengah semua kekacauan itu… Freya Valencia Vane sedang berdiri membeku sambil memegang Crimson Valkyrie dengan kedua tangan gemetar.
"YA TUHAN… YA TUHAN… YA TUHAN…"
"Berhenti panik."
"AKU LAGI LIAT MONSTER BENERAN LHO INI."
Monster bayangan di depan mereka meraung keras.
Tubuhnya besar dan tidak berbentuk sempurna, seperti kumpulan asap hitam yang dipaksa menjadi manusia. Mana hitam bocor dari tubuhnya terus-menerus.
Dan yang paling menyeramkan adalah matanya. Merah menyala seperti sedang kelaparan.
Makhluk itu menggeram ke arah Zevian yang menahan cakarnya.
CLAAANG.
Soulblade hitam milik Zevian memercikkan api biru gelap saat menahan serangan monster.
Aura dingin pria itu langsung memenuhi koridor.
"Semua murid mundur!" perintahnya tajam.
Para murid langsung panik berlari.
Aria buru-buru membantu seorang murid perempuan yang tadi jatuh.
Sedangkan Ares…
DOR.
Peluru mana hitam keemasan menghantam bahu monster.
BOOOOM.
Tubuh monster terpental menghantam dinding.
Namun beberapa detik kemudian… tubuhnya kembali bergerak.
Freya langsung membelalak.
"LAH? GAK MATI?"
"Karena semua menyerang bagian yang salah," ujar Crimson Valkyrie datar.
Freya langsung panik dalam hati.
'EMANG ADA BAGIAN BENARNYA?'
"Inti mananya ada di dada."
'KENAPA BARU BILANG?'
Monster itu kembali meraung sebelum melesat cepat. Kali ini menuju… Freya.
"AAAAAAH..."
Freya refleks mengangkat pedangnya.
BOOOOM.
Api merah meledak liar dari Crimson Valkyrie. Ledakan panas menyapu koridor. Monster itu mundur beberapa langkah. Namun Freya sendiri hampir jatuh karena dorongan mana.
"Keseimbanganmu buruk sekali," komentar Crimson Valkyrie.
'AKU LAGI MAU MATI WOI.'
Ares langsung bergerak mendekat.
"Freya."
DOR.
DOR.
Dua peluru mana menghantam monster bertubi-tubi.
Sedangkan Zevian melesat dari sisi lain.
SWOOOSH.
Soulblade hitamnya menebas cepat.
Untuk sepersekian detik… tubuh monster terbelah dua. Namun bayangan hitam itu kembali menyatu.
Seluruh koridor langsung hening.
"Regenerasi?" gumam Ares.
Tatapan Zevian menjadi lebih dingin. "Ini bukan monster biasa."
Freya langsung ingin menangis. 'Kenapa hari pertamaku lawan monster langsung boss battle?'
Crimson Valkyrie mendadak bersinar hangat. "Tenang."
Freya sedikit membeku. Suara artefaknya terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya.
"Kau tidak sendiri."
BLUSH.
Freya langsung kena emotional damage. '...Kamu tiba-tiba baik banget kenapa?'
"Karena kalau kau mati, aku ikut malu."
'BATAL TERHARU.'
Monster itu kembali bergerak. Mana hitam mulai memenuhi koridor lebih banyak.
Dan saat itulah Aria maju. Aurora Hymn bersinar terang di tangannya. Cahaya emas lembut menyelimuti udara. Kontras sekali dengan mana hitam monster itu.
Aria menarik napas kecil. Lalu…
WHISSH.
Panah cahaya melesat lurus. Dan saat mengenai tubuh monster…
SSSHHH.
Asap hitam mulai menguap. Monster itu meraung kesakitan.
"Itu berhasil." seru Freya.
Zevian langsung menyadari sesuatu. "Mana suci melemahkan corruption."
Ares menyeringai kecil. "Kalau begitu tinggal kita bakar habis."
Freya langsung menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa kedengarannya aku yang bakal kerja keras?"
"Karena apimu paling efektif," jawab Crimson Valkyrie.
'KAMU PIHAK MANA SIH?'
Monster itu tiba-tiba mengaum keras.
BOOOOM.
Mana hitam meledak ke seluruh koridor. Beberapa lampu sihir pecah. Freya refleks menutup wajah. Dan dalam sepersekian detik… monster itu sudah berada tepat di depannya.
Mata merahnya menyala liar. Cakarnya turun cepat. Freya membeku. Namun…
CLAAANG.
Soulblade hitam Zevian menahan serangan itu. Aura dinginnya langsung menyapu udara.
"Fokus," katanya rendah.
Jantung Freya berdetak aneh. 'YA TUHAN MALE LEAD NYA TERLALU KEREN.'
Namun sebelum Freya sempat melamun lebih jauh…
"Kalau kau terus bengong, kau benar-benar akan mati," ujar Crimson Valkyrie.
'AKU TAHU.'
"Salurkan manamu."
Freya menggenggam pedangnya lebih erat. Tangannya masih gemetar. Namun kali ini… dia mencoba mendengarkan.
Panas mana mulai mengalir dari tubuhnya. Api merah perlahan muncul di sekitar Crimson Valkyrie.
"Bagus," gumam artefaknya.
Freya menelan ludah.
"Aria!" panggil Zevian.
Aria langsung mengangguk. Aurora Hymn kembali bersinar. Cahaya emas mengelilingi api merah milik Freya.
Dan untuk pertama kalinya… kedua mana itu menyatu.
BOOOOM.
Api merah berubah menjadi merah keemasan. Seluruh koridor langsung terang.
Profesor Rowan yang baru datang langsung membelalak. "Resonansi…"
Langka sekali.
Freya sendiri bengong. "Eh?"
"Sekarang serang," kata Crimson Valkyrie.
'AKU?'
"Kalau tidak sekarang, monster itu akan pulih lagi."
Freya langsung menelan ludah.
Monster itu kembali bergerak. Dan kali ini… Freya maju.
Meski lututnya masih gemetar. Meski jantungnya hampir copot. Namun dia tetap maju.
"AAAAAAAH..."
SWOOOOSH.
Crimson Valkyrie menebas lurus. Api merah keemasan meledak. Dan untuk pertama kalinya… Monster itu menjerit.
Tubuh hitamnya retak. Mana corruption mulai hancur sedikit demi sedikit.
Ares langsung memanfaatkan kesempatan.
DOR.
Peluru mana menghantam inti hitam di dada monster.
BOOOOOM.
Ledakan besar mengguncang koridor. Monster itu meraung keras. Dan tepat sebelum tubuhnya hancur… Makhluk itu menoleh ke arah Freya.
Mata merahnya menyala. Lalu suara parau terdengar.
"The Crimson Flame…"
Hening.
Freya membeku. "…Hah?"
Namun sebelum siapa pun sempat memahami maksudnya… tubuh monster itu meledak menjadi abu hitam.
Sunyi langsung memenuhi koridor.
Asap perlahan menghilang. Freya berdiri diam sambil megap-megap. Tangannya masih gemetar. Dan entah kenapa… bulu kuduknya merinding. Karena monster itu tadi… seolah mengenalnya.
Beberapa menit kemudian, seluruh area akademi langsung dipenuhi guru dan ksatria penjaga.
Para murid digiring kembali ke aula utama. Suasana jauh lebih tegang dibanding sebelumnya.
Profesor Rowan berdiri di depan seluruh murid dengan wajah serius. "Akademi resmi ditutup sementara sampai investigasi selesai."
Keributan langsung pecah. "Ditutup?"
"Monster tadi apa sebenarnya?"
"Apa kita aman?"
Profesor Rowan mengetukkan tongkatnya keras.
TUK.
"Tenang...!"
Suasana langsung diam lagi.
Tatapan pria tua itu tajam. "Mulai malam ini, seluruh murid wajib tinggal di asrama akademi sampai situasi terkendali."
Freya langsung membeku. '…Hah?'
Padahal biasanya sebagian murid, termasuk Freya, lebih sering pulang ke rumah masing-masing meskipun mereka memiliki kamar di asrama akademi untuk keadaan tertentu.
Dan sekarang… keadaan tertentu itu datang.
"Tapi barangku di rumah…" gumam Freya lemas.
Ares tertawa kecil. "Wajahmu seperti kehilangan masa depan."
"SKINCARE-KU MASIH DI RUMAH."
Aria langsung panik. "K-Kalau mau aku bisa meminjamkan punyaku…"
Freya langsung memegang tangan Aria haru. "Aria… kamu benar-benar malaikat ya? Menikahlah dengan kakakku agar kita tetap bisa bersama."
"Hah?"
"Haish... Sudahlah jangan dipikirkan."
Zevian yang berdiri tidak jauh dari mereka diam memperhatikan Freya.
Aneh. Di tengah situasi seperti ini… gadis itu masih bisa mengeluh soal skincare dan apa tadi? Meminta Aria menikah dengan kakaknya?
Dan entah kenapa… itu justru membuatnya terlihat lebih manusiawi. Lebih hidup. Berbeda jauh dari Freya lama yang hanya peduli harga diri dan status bangsawan.
"Semua murid segera menuju asrama masing-masing," lanjut Profesor Rowan. "Jangan berkeliaran malam ini."
Kalimat terakhir itu terdengar jauh lebih serius.
Dan Freya langsung punya firasat buruk.