Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Luna baru saja selesai makan. Makanan yang disediakan oleh mantan suaminya. Yang datang tepat ke depan rumahnya di jam makan siang. Lalu merasa sangat bosan. Karena terus berada di dalam kamar, tidak bekerja seperti biasa. Tapi semua ini dia lakukan bukan untuk menuruti perintah mantan suaminya. Dia hanya ingin benar-benar sembuh sebelum kembali bekerja.
Dan pria yang memerintahkannya untuk istirahat itu menghilang. Tidak terlihat lagi selama kurang lebih dua belas jam. Sungguh pria yang bertanggung jawab.
"Aku harus keluar!" ucapnya lalu memakai mantel besar untuk melindungi diri dari angin luar dan turun ke lobi. Melihat penjaga keamanan yang sedang bicara dengan resepsionis di lobi dan keluar dari pintu. Namun gentar ketika merasakan angin panas bercampur lembab yang membuat badannya kurang baik.
Ketika berbalik ingin masuk kembali ke dalam apartemen, sudut matanya menangkap kehadiran dua orang tua berdiri di dekat tiang. Keduanya tampak lemah dan tak berdaya. Ingin sekali Luna mengabaikannya tapi ... Dia tidak bisa.
Dia mendekat dan menanyakan keadaan kedua orang tua itu. Tak menyangka kemudian akan berada di dalam restoran. Sedang membeli makanan untuk mereka bertiga.
"Ini terlalu banyak" kata Nyonya Aida setelah mereka berkenalan tadi.
"Tidak apa-apa. Silahkan makan dan minum dulu. Nanti baru mencari putra Anda lagi"
"Benar. Yang penting makan dan minum dulu, aku sudah lapar dan haus!" ucap Tuan Budi dengan nada yang lebih kasar.
Keduanya sudah pasti lebih berumur daripada orang tua Luna. Tapi memiliki sifat yang sangat berbeda. Tuan Budi badannya besar dan tinggi, memiliki gaya bicara kasar. Nyonya Aida seperti kebalikannya, begitu lemah lembut dan anggun. Meski memakai baju dan tas lusuh, keduanya tidak tampak seperti gelandangan. Mungkin keduanya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan saja ketika mencari putra mereka.
"Apa saya perlu menambahkan buah?" tanya Luna sebelum memesan. Takut apa yang dipesannya tidak habis dimakan.
"Tidak perlu, ini sudah terlalu banyak. Hanya saja ... Kami tidak tahu harus melakukan apa setelah ini"
Nyonya Aida kemudian menceritakan semua yang terjadi hari ini. Luna berpikir ada yang disembunyikan keduanya karena ceritanya memiliki banyak kekurangan. Tapi sekarang, mereka hanya orang tua yang tidak tahu harus melakukan apa.
"Bagaimana kalau ke kantor polisi terdekat? Mungkin mereka bisa membantu Anda untuk pulang ke rumah"
Keduanya saling berpandangan lalu mendesah.
"Lebih baik kami mencari cara sendiri. Terima kasih atas semua makanannya. Nona ... "
"Luna. Nama saya Luna"
"Iya. Nona Luna. Terima kasih atas makanannya. Sebaiknya kami pergi sekarang"
Luna melihat keduanya bersiap untuk pergi ketika hatinya bergemuruh. Mereka bisa saja penipu yang akan mencuri barang. Mungkin juga komplotan perdagangan manusia yang akan menyerang Luna di malam hari. Membawanya ke negara asing atau bahkan membunuhnya.
Semua bisa terjadi kalau Luna melakukan niat yang terlintas dalam pikirannya. Tapi ... Dia tidak akan bisa tenang kalau membiarkan dua orang tua berdiri di depan gedung apartemen untuk waktu yang lama. Tanpa kejelasan kedatangan putra mereka.
"Tunggu!!"
Luna akan menyesali keputusannya.
"Anda berdua bisa istirahat di rumah saya. Kalau tidak keberatan" lanjutnya lalu berhadapan dengan senyum dua orang yang tulus.
"Mereka tidak memiliki identitas" kata penjaga keamanan yang melihat Luna membawa keduanya kembali ke gedung apartemen.
"Aku mengerti, tapi mereka membutuhkan tempat untuk istirahat" jawab Luna setengah memohon.
"Nona Luna, akan sangat berbahaya membawa orang asing ke dalam apartemen Anda. Dan itu akan membahayakan penghuni lain"
"Hanya satu hari, bagaimana? Besok mereka akan pergi"
"Anda yang menjamin mereka akan pergi besok pagi?"
"Iya"
Setelah mendengar janji Luna, penjaga keamanan apartemen menyetujui idenya untuk membawa dua orang tua asing itu ke dalam gedung apartemen. Ke kamar Luna lebih tepatnya. Tapi komentar pertama yang dia dapatkan setelah melakukan hal itu ternyata kurang menyenangkan.
"Kecil sekali tempat ini" komentar Tuan Budi begitu mengena di hati Luna.
"Sayang, hentikan! Ini adalah rumah yang cukup untuk seorang wanita tinggal sendiri. Kita yang mengganggu kenyamanan Nona Luna"
Luna hanya bisa tersenyum juga merasa sakit hati setelah mendengar hal itu. Lalu pasrah ketika melihat kedua orang tua itu menjelajahi kamar seluas 23 meter itu.
"Maaf jika saya harus mengecewakan Anda, tapi besok ... " belum selesai Luna menjelaskan, Nyonya Aida menyela.
"Apa aku boleh menggunakan kamar mandi mu. Aku sudah menahannya sejak tadi"
"Tentu saja" jawab Luna menunjukkan kamar mandinya. Sedangkan Tuan Budi masih melihat-lihat jendela dan pintu.
"Jendela ini terlalu tipis. Dan keamanan pintunya terlalu rapuh untuk ditinggali seorang wanita sendirian sepertimu. Kau harus mengajukan penggantian peralatan keamanan pada pemilik gedung. Juga tambah lapisan kain penutup jendela ini. Kain tipis ini tidak bisa menghalau sinar lampu dari dalam. Orang luar tahu gerakmu di rumah setiap kali menyalakan lampu"
"Hemm? Baiklah, saya akan menggantinya nanti"
"Kamar mandi mu sungguh nyaman sekali" ujar Nyonya Aida yang baru keluar dari kamar mandi.
Baru saja Luna ingin membalas, Tuan Budi berjalan ke arah istrinya.
"Sayang, apa kau sudah segar sekarang?" tanya Tuan Budi pada istrinya. Lalu memeluk Nyonya Aida dan menyesap udara sekitar mereka seakan mereka hanya berdua saja di ruangan ini. Entah kenapa, perilaku Tuan Budi mengingatkan Luna pada seseorang.
"Sudah, waktunya kau membersihkan diri sekarang. Dan jangan lupa membersihkan semuanya setelah kau selesai"
"Baiklah"
"Pria! Kau harus mengarahkan langkah mereka. Selalu!"
Luna tersenyum pada pernyataan Nyonya Aida. Mengingat mantan suaminya yang harus selalu disuruh untuk melakukan sesuatu. Atau Arya hanya akan duduk di depan komputer sepanjang hari.
"Iya, begitulah"
"Kau pernah menjalin hubungan?"
"Hemm, menikah sebenarnya. Tapi sudah berpisah"
"Ohh, kenapa?"
Sungguh lugas dan tidak menahan diri.
"Dia ... Berselingkuh"
"Apa? Ada orang yang berselingkuh dari wanita secantik dirimu? Dia pasti sudah gila.
Sepertinya Luna setuju pada hal itu. Mantan suaminya memang sudah gila.
"Iya. Benar. Tapi Nyonya, ada yang harus saya bicarakan dengan Anda tentang ... "
"Masalah kami menginap disini?"
"Benar. Saya tidak bisa memberikan tempat untuk besok. Apakah ada seseorang yang Anda kenal disini?"
"Tenang saja, anak nakal itu pasti sudah kembali hari ini dan akan menampung kami. Kau tidak perlu khawatir tentang hal itu" jawab Nyonya Aida dengan tenang. Seakan yakin putranya yang katanya pemilik gedung ini benar-benar akan datang menjemput mereka.
"Apa Anda yakin?"
"Iya. Bahkan aku yakin dia sudah ada di pesawat yang mengarah kemari sekarang. Mungkin menyimpan kemarahan yang akan diluapkannya pada kami nanti. Setelah mengetahui orang tuanya pergi sendiri untuk menemukan menantu mereka yang tak pernah dikenalkan"
Menantu yang tak pernah dikenalkan oleh putra mereka? Sungguh putra yang gila, pikir Luna. Tidak mengerti kalau putra gila yang dimaksud adalah mantan suaminya.
tahi