Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA PENUNGGUAN DAN KEBENARAN YANG MENJADI NYATA
Perjalanan menuju tempat perawatan terasa begitu panjang dan mencekam. Selama di jalan, Raka masih dalam keadaan sadar tapi kondisinya makin melemah. Darah terus mengalir meski lukanya sudah dibalut sekuat tenaga, dan napasnya terasa makin pendek serta terengah-engah. Tapi tangannya tidak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Alana, seolah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan dan tidak menyerah pada keadaan.
Alana duduk di sampingnya, tidak berhenti menangis dan memanggil-manggil namanya. Ia merasa hatinya terasa sakit sekali, seolah luka yang ada di tubuh Raka itu juga ia rasakan sendiri. Ia takut, sangat takut kalau orang yang paling ia cintai ini akan pergi meninggalkannya selamanya.
“Tahanlah, Raka... kumohon tahanlah... kita sudah hampir sampai, sebentar lagi kau akan sembuh... kumohon jangan tinggalkan aku...” bisik Alana berulang kali, suaranya sudah parau dan hampir tidak terdengar lagi.
Raka menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang kabur, tapi senyum kecil tidak pernah hilang dari bibirnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap membuka matanya, tidak mau melewatkan satu detik pun untuk melihat orang yang ada di hadapannya ini.
“Jangan menangis... air matamu... itu membuat hatiku terasa sakit...” bisiknya dengan suara yang sangat lemah.
“Aku janji... aku tidak akan pergi... aku masih ada di sini... bersamamu...”
Sesampainya di tempat perawatan, Raka segera dibawa masuk dan ditangani oleh para tenaga medis. Pintu ruangan tempat ia dirawat tertutup rapat, dan Alana harus menunggu di luar sana bersama Gubernur William dan orang-orang yang lain. Waktu terasa berjalan begitu lambat, setiap detik terasa seperti berjam-jam lamanya. Alana berjalan mondar-mandir di depan pintu, hatinya berdebar kencang, dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk—rasa takut, cemas, harapan, dan juga penyesalan.
Ia terus berdoa, memohon pada apa pun dan siapa pun yang bisa didengarnya, supaya Raka diberi keselamatan dan kesempatan untuk sembuh kembali. Ia baru saja menemukan arti dari hidupnya, baru saja mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, dan ia tidak sanggup kehilangan semuanya begitu saja.
><><><><
Sementara itu, di luar sana, peristiwa yang baru saja terjadi itu sudah menyebar ke mana-mana. Berita-berita tersebar dengan cepat, baik dari mulut ke mulut maupun melalui berbagai media. Seluruh masyarakat kota menjadi gempar, tidak ada yang menyangka bahwa hal-hal yang begitu mengerikan itu ternyata benar-benar terjadi, dan orang-orang yang mereka percayai selama ini ternyata adalah orang-orang yang paling jahat dan kejam.
Awalnya banyak yang tidak percaya, banyak yang merasa ini semua hanyalah rekayasa belaka. Tapi seiring berjalannya waktu, bukti-bukti yang ada semakin banyak terungkap, saksi-saksi yang bersedia berbicara juga makin bertambah, dan perlahan-lahan semuanya menjadi jelas dan nyata. Orang-orang mulai melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, dan pandangan mereka terhadap segala hal pun berubah sama sekali.
Orang-orang yang dulu dianggap pahlawan dan teladan kini dipandang dengan pandangan yang penuh kebencian dan kekecewaan. Sedangkan Raka dan orang-orang yang bersamanya, yang selama ini dianggap sebagai orang-orang yang salah dan berbahaya, kini dipandang dengan pandangan yang berbeda. Mereka diakui sebagai orang-orang yang berani membongkar kejahatan, orang-orang yang berjuang demi kebenaran dan keadilan, meski mereka juga pernah melakukan kesalahan di masa lalu.
Gubernur William juga menjadi sorotan. Banyak yang memujinya karena berani mengakui kesalahannya dan berusaha memperbaikinya, tapi ada juga yang masih menyalahkannya karena pernah ikut serta dalam segala hal itu meski tanpa disadari. Tapi baginya, hal-hal itu tidak lagi penting. Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan putrinya dan juga keadaan orang yang telah berkorban begitu banyak untuk mereka semua.
><><><><
Beberapa hari berlalu, tapi pintu ruangan tempat Raka dirawat masih belum juga terbuka. Alana tidak pernah beranjak dari tempat itu, ia hanya duduk di depan pintu, menunggu dan menunggu, tidak mau makan dan tidak mau tidur dengan tenang. Wajahnya menjadi pucat dan kurus, matanya terlihat sayu karena tidak cukup istirahat, tapi ia tidak peduli dengan keadaannya sendiri. Yang ada di pikirannya hanyalah keadaan orang yang ada di balik pintu itu.
Hingga pada hari keempat, pintu itu akhirnya terbuka. Dokter yang merawat Raka keluar dengan wajah yang lelah tapi juga terlihat lega.
Begitu melihatnya, Alana langsung berdiri dan berlari mendekat, hatinya berdebar kencang menunggu kabar yang akan disampaikan.
“Bagaimana? Bagaimana keadaannya? Apakah ia selamat? Apakah ia akan sembuh?” tanya Alana dengan tergesa-gesa, suaranya bergetar karena rasa cemas yang memuncak.
Dokter itu mengangguk perlahan, lalu tersenyum kecil. “Syukurlah, nyawanya selamat. Lukanya cukup parah, dan ia kehilangan banyak darah, tapi untungnya tidak mengenai bagian yang paling penting. Ia melewati masa kritisnya dengan selamat. Tapi ia masih sangat lemah, dan butuh waktu yang lama serta perawatan yang baik untuk bisa pulih kembali seperti semula.”
Mendengar kabar itu, rasanya beban yang seberat gunung seketika terangkat dari dada Alana. Air matanya kembali mengalir, tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terkira. Ia merasa seolah-olah ia baru saja mendapatkan kembali hidupnya sendiri.
“Terima kasih... terima kasih banyak, Dokter...” katanya dengan suara yang terputus-putus karena terharu.
“Ia bisa bertahan sampai sejauh ini juga karena keinginannya sendiri yang sangat kuat,” tambah dokter itu.
“Selama ia dalam keadaan tidak sadar, ia terus memanggil namamu. Sepertinya kau adalah alasan terbesarnya untuk tetap berjuang dan bertahan hidup.” lanjutnya.
Alana tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis dan tersenyum bersamaan. Ia segera masuk ke dalam ruangan itu, dan melihat Raka terbaring di tempat tidur, masih pucat dan lemah, tapi napasnya sudah teratur dan terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Ia berjalan mendekat dan duduk di samping tempat tidur, lalu memegang tangan orang itu dengan lembut. Tidak lama kemudian, mata Raka perlahan-lahan terbuka. Pandangannya masih kabur, tapi begitu ia melihat wajah Alana di hadapannya, senyumnya langsung terukir di bibirnya.
“Kau... kau ada di sini...” bisiknya dengan suara yang masih lemah.
“Ya, aku ada di sini. Aku tidak akan ke mana-mana lagi,” jawab Alana sambil menangis bahagia.
“Kau sudah selamat, Raka... kau sudah selamat...”
“Aku bilang kan... aku tidak akan pergi ke mana pun...” seru Raka dan matanya memandang wajah gadis itu dengan pandangan yang penuh kasih sayang.
“Dan... semuanya sudah berakhir? Semuanya sudah selesai?”
“Ya, semuanya sudah berakhir. Semua kebenaran sudah terungkap, orang-orang yang bersalah sudah mendapatkan apa yang pantas untuk mereka terima. Dan kita... kita sudah bebas sekarang,” jawab Alana dengan lembut.
Raka mengangguk perlahan, lalu menatap langit-langit ruangan dengan pandangan yang lega. “Akhirnya... akhirnya aku bisa merasa tenang juga. Selama bertahun-tahun aku hidup dengan rasa sakit dan kebencian, dan sekarang semuanya sudah berlalu. Rasanya seperti aku baru saja terlahir kembali, hidup di dunia yang baru, yang bersih dari kebohongan dan kegelapan.”
Ia lalu menoleh kembali ke arah Alana, dan menggenggam tangan gadis itu lebih erat. “Dan semuanya itu... semuanya itu terjadi karena ada kau di sisiku. Kalau bukan karena kau, aku mungkin masih akan hidup dalam kegelapan, atau mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Terima kasih, Alana... terima kasih telah datang ke dalam hidupku, terima kasih telah membuatku menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.”
Alana menggeleng cepat, lalu mencium tangan Raka dengan lembut. “Jangan katakan seperti itu. Aku juga yang harus berterima kasih padamu. Kau juga telah mengubah hidupku, kau telah membuatku mengerti banyak hal yang tidak akan pernah aku mengerti sebelumnya. Kita berdua saling melengkapi, Raka. Kita sama-sama berubah, sama-sama tumbuh, dan itu semua karena kita bersama-sama.”
><><><><
Beberapa minggu kemudian, keadaan Raka makin membaik. Ia sudah bisa berjalan dan bergerak seperti biasa, meski masih harus berhati-hati dan tidak boleh terlalu lelah. Ia juga sudah mulai menjalani proses untuk mempertanggungjawabkan segala kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu. Berkat kerja sama dan bukti-bukti yang ada, serta kenyataan bahwa sebagian besar perbuatannya itu terjadi karena ia tertipu dan dimanfaatkan, serta karena ia telah berusaha memperbaiki semuanya, hukumannya menjadi lebih ringan dari yang seharusnya. Ia hanya diwajibkan untuk melakukan pekerjaan sosial dan memulihkan kerusakan yang pernah ia timbulkan, bukan dipenjarakan seperti yang banyak orang duga.
Gubernur William juga melakukan hal yang sama. Ia juga mengakui segala kesalahannya dan mempertanggungjawabkan semuanya. Karena ia juga menjadi korban dan telah berusaha menebus kesalahannya, serta karena jasa-jasanya selama ini untuk masyarakat, ia juga mendapatkan perlakuan yang layak. Ia mengundurkan diri dari jabatannya, dan memilih untuk bekerja membantu masyarakat dan membangun kembali apa yang telah rusak.
Kehidupan perlahan-lahan mulai kembali tenang dan teratur. Kota yang dulunya dipenuhi dengan perselisihan, ketidakpercayaan, dan kebohongan, kini mulai berubah menjadi tempat yang lebih baik. Orang-orang mulai hidup dengan lebih jujur dan saling menghormati, karena mereka sudah melihat sendiri apa yang akan terjadi kalau kebohongan dan kejahatan dibiarkan terus ada.
Tapi meski semuanya sudah terlihat damai dan baik, Raka dan orang-orang yang dekat dengannya masih tetap waspada. Mereka tahu, meski orang-orang yang menjadi dalang utama sudah tertangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, pasti masih ada orang-orang yang tersisa, orang-orang yang terlibat dan merasa dirugikan, yang masih menaruh dendam dan keinginan untuk membalas. Mereka tahu, mereka tidak akan pernah benar-benar bebas dari segala bahaya dan gangguan.
Dan benar saja, beberapa bulan kemudian, ketika keadaan sudah benar-benar terlihat tenang dan damai, dan semua orang merasa bahwa semuanya sudah benar-benar berakhir, muncul lagi kabar yang membuat mereka sadar bahwa perjuangan mereka belum sepenuhnya selesai.
><><><><
Suatu hari, saat Raka dan Alana sedang berjalan-jalan di taman, menikmati kebersamaan mereka yang sudah jarang bisa mereka dapatkan selama ini, salah satu orang kepercayaan Raka datang dengan wajah yang kembali serius dan khawatir.
Ia mendekat dan berbicara dengan nada yang rendah supaya tidak ada orang lain yang mendengar.
“Ada kabar baru, Tuan. Kami mendapatkan informasi bahwa ada sekelompok orang yang dulunya bekerja untuk orang-orang yang sudah ditangkap itu, yang berhasil melarikan diri dan bersembunyi selama ini. Mereka merasa bahwa kalian semua adalah penyebab dari apa yang menimpa tuan mereka, dan mereka berniat untuk membalas dendam. Mereka sudah merencanakan sesuatu, dan mereka sudah mulai bergerak.”
Mendengar kabar itu, wajah Raka dan Alana sama-sama berubah. Mereka sama-sama tahu, bahwa kedamaian yang mereka rasakan ini ternyata belum benar-benar sempurna. Bahwa masih ada bahaya yang mengintip, masih ada hal-hal yang harus mereka hadapi dan selesaikan.
Raka menatap Alana, dan ia melihat bahwa gadis itu tidak terlihat takut seperti dulu. Ia hanya menatapnya dengan pandangan yang tegas dan tenang, seolah-olah ia sudah siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Raka tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan Alana dengan erat.
“Sepertinya... perjalanan kita belum benar-benar selesai ya?” katanya dengan nada yang tenang.
Alana juga tersenyum, lalu mengangguk perlahan.
“Ya, belum selesai. Tapi tidak apa-apa. Kita sudah melewati begitu banyak hal sulit dan berbahaya bersama-sama, dan kita selalu bisa mengatasinya. Selama kita bersama-sama, tidak ada yang tidak bisa kita hadapi. Kita akan menghadapinya lagi, seperti yang selalu kita lakukan selama ini.”
“Benar sekali,” ujar Raka. “Dan kali ini pun, kita akan melewatinya juga. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, tidak ada yang bisa menghancurkan apa yang sudah kita bangun. Kita akan terus berjuang, sampai benar-benar tidak ada lagi yang mengancam kedamaian dan kebahagiaan kita.”
Mereka berdua saling menatap, dan di dalam pandangan mereka terlihat keyakinan dan kekuatan yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh apa pun dan siapa pun. Mereka tahu, apa pun yang akan terjadi nanti, mereka akan menghadapinya bersama-sama. Dan dengan begitu, mereka tahu bahwa mereka akan selalu bisa melewatinya dengan selamat.
Perjalanan mereka memang belum berakhir. Masih ada hal-hal yang harus dihadapi, masih ada hal-hal yang harus diselesaikan. Tapi mereka tidak takut lagi. Karena mereka sudah memiliki satu sama lain, dan itu adalah hal yang paling berharga dan paling kuat yang mereka miliki. Dan dengan itu, mereka tahu bahwa mereka akan selalu bisa bertahan, apa pun yang akan terjadi di masa depan.