Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Bertemu mantan.
Esok harinya, Zinnia dan Darren berangkat menuju tempat pemakaman. Ia membawa buket Bunga mawar besar yang ia rangkai dan susun sendiri, kemudian ia taruh di atas makan Ibunda Rion. Suasana disana hening dan suram, dipenuhi orang-orang yang datang melayat dan memberikan belasungkawa.
Di tengah keramaian itu, Rion berdiri tegak di dekat liang lahat, tapi tubuhnya terlihat rapuh dan kosong, wajahnya pucat pasi, matanya merah bengkak habis menangis, tatapannya kosong tak fokus seolah jiwanya sudah ikut pergi bersama ibunya. Zinnia tak berani mendekat, ia hanya bisa menundukan kepala.
Sedangkan Darren langsung mendekati sahabatnya itu, menepuk bahunya, berusaha memberi semangat dan kekuatan. Mereka bicara sebentar agak jauh dari makan ibunya.
" Yang sabar ya bro.. Inget lo masih punya Darren pradikta sebagai sahabat, yang akan selalu ada kapanpun di butuhkan. " Ucap Darren menyemangati sambil menepuk pelan bahu sahabat lamanya itu.
Rion tak menjawab dia hanya mengangguk mengiyakan, kemudian dia bicara perlahan.
" Gimana soal hubungan kamu sama dia? " Tanya Rion kemudian.
" Baik-baik saja, hanya untuk saat ini. Dia masih belum membuka hatinya untuk orang lain, termasuk aku sendiri. " Jawab Darren apa adanya.
" Apapun itu. Tolong jaga dia. Tidak menutup kemungkinan jika dia akan membuka hatinya untuk mu, Darren. "
" Pasti. Tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya sepenuh hati. "
" Dan satu hal lagi, Jangan pernah kamu buat dia menangis. Karna jika itu terjadi, aku tak akan lagi rela dia denganmu.. Ingat itu baik-baik !! "
" Jangan khawatirkan soal Zinnia, sekarang fokuslah pada kebahagian mu sendiri, Bro.. Mungkin sudah saatnya kamu membuka hati untuk orang lain. "
Rion tak lagi mendengarkan ucapan sahabatnya itu, perlahan dia mundur dan pergi entah kemana seraya melambaikan tangan tanda perpisahan.
Sedangkan Zinnia masih berdiri di samping makan Ibunda Rion. Matanya tak lepas menatap sosok Rion, tapi kakinya berat sekali untuk melangkah maju. Dia mau mendekat, mau bilang turut berduka, mau bilang dia sedih, mau bilang dia ada disini tapi dia sadar posisinya sekarang apa. Dia bukan lagi siapa-siapa lagi, melainkan mantan pacar, orang yang sudah menyakitinya di masa lalu, orang yang yang membuatnya hancur bahkan sebelum ibunya pergi.
Darren nampak mulai mendekat Zinnia.
" Zinnia.. Kamu mau bicara sama Rion gak? Kalau mau aku temenin atau mungkin kamu butuh waktu untuk bicara berdua saja? " tanya Darren saat kembali mendekat, melihat gadisnya yang diam mematung.
Zinnia langsung menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca.
" Gak bisa... aku gak bisa... kita pulang aja ya... aku gak tahan disini..."
Darren melihat matanya yang mulai basah, dia mengerti, dia tahu seberapa berat hal itu untuk Zinnia.
" Ok. Kalau begitu kita pulang. "
Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka pamit dan meninggalkan tempat itu. Tapi saat mereka berbalik dan melangkah pergi, mata Rion menangkap sosok mereka. Dia melihat Darren berjalan di samping Zinnia, tangan lelaki itu melingkar lembut di pinggang gadisnya, melindungi, memegang erat, persis seperti yang dulu dia lakukan.
Dan di detik itu, rasa sakit di hatinya berlipat ganda, berkali-kali lipat lebih sakit dari rasa kehilangan ibunya. Dia kehilangan ibunya, tapi di saat yang sama dia juga kehilangan Zinnia, dua orang yang paling dia cintai dan jadi alasannya hidup justru pergi satu per satu, dan dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia berdiri disana sendirian, hancur sehancur-hancurnya, merasa jadi orang yang paling menderita di dunia ini.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Hidup kembali berjalan seperti biasa, Zinnia kembali jadi gadis ceria, manja dan bebas seperti dulu. Hari ini dia keluar jalan-jalan sendirian, berbelanja apa saja yang dia suka, memborong barang-barang baru yang ia incar.
Dan Saat jam makan siang tiba, perutnya mulai terasa keroncongan. Dia melihat di sebrang sana ada restoran favoritnya yang selalu dia kunjungi. dirinya langsung melangkah cepat, dan hendak mau masuk, tapi baru sampai di depan pintu, dia dihentikan oleh salah satu staf restoran.
" Maaf Nona, restoran kami tutup untuk sementara, setidaknya selama satu jam kedepan. Karna sudah di booking seorang tamu spesial. "
" HAH?! Tutup sementara? Yamg bener aja padahal aku udah laper banget nih. Siapa sih yang sembarangan Booking di jam makan? Ngeselin banget !! Pasti itu orang rakus banget. " gerutu Zinnia kesal, mulutnya langsung manyun.
" Tolong kasih tahu saya, siapa orang yang booking restoran ini. Aku mau ketemu orangnya! Bilang aja ada orang yang mau protes, suruh keluar sini! Gak ada akhlak banget tuh orang. "
Pelayan itu cuma tersenyum canggung, dan saat dia hendak akan menjawab. Tepat saat itulah sosok yang mereka bicarakan itu keluar dari dalam ruangan, berjalan pelan mendekat.
Dan begitu melihat wajah orang itu, kata-kata yang mau keluar dari mulut Zinnia langsung mati seketika.
Itu adalah RION...
Jantungnya berhenti berdetak sebentar, matanya membelalak kaget. Dia tak menyangka akan ketemu dia disini, apalagi dalam situasi begini. Refleks dia langsung memutar badan mau kabur, Tapi Rion lebih cepat. Dia melangkah dua kali saja sudah sampai di depan Zinnia, tangannya terulur dan menangkap pergelangan tangan gadis itu erat, menahan dia supaya tak bisa pergi.
Wajahnya datar sekali, dingin seperti es, tak ada ekspresi apapun, tapi tatapan matanya tajam menusuk, penuh dengan rasa yang tertahan entah itu marah, sakit, atau rindu.
" Katanya lapar, kenapa malah pergi?? " suaranya keluar rendah dan berat.
Zinnia menelan ludah, lalu mengangkat kepalanya, dan seperti biasa kalau dia gugup atau kesal, mulutnya langsung tajam dan nyelekit.
" Gak jadi lah!! Aku langsung kenyang begitu lihat muka kamu, tau gak?! Kayak menelan batu besar sekali hap ! berat banget. perutku langsung penuh seketika, jalan aja sampai susah saking beratnya !! " balasnya cepat, nadanya dibuat setegas mungkin padahal hatinya berdebar kencang. Raut wajahnya berusaha ia buat serius dan garang tapi yang terlihat malah lucu.
Di belakang mereka, para pelayan dan staf yang mendengar itu berusaha keras menahan tawa sampai bahunya gemetar. Ekspresi Zinnia lucu banget, mukanya dibuat serius dan galak, nadanya keras kayak marah besar, tapi sesekali gerakan wajahnya berubah-ubah tak terduga, membuat orang yang lihat mau nya tertawa terus. Tapi tak ada yang berani mengeluarkan suara sedikit pun, karena mereka melihat Rion hanya diam membisu, tak tahu apa yang ada di pikiran bos besar itu.
Rion tetap diam, matanya menatap tajam wajah gadis di depannya, lalu akhirnya dia membuka mulut dan bicara, nadanya tetap datar tapi ada nada menyindir yang terselip.
" Masuk aja kalau lapar. Tadi kamu sempat bilang kan, kalau orang yang booking restoran di siang bolong kayak gini pasti orang rakus kan? Nah ini orangnya, kamu mau protes langsung aja di depanku. "
Zinnia mendengus keras, menarik tangannya tapi gak lepas juga.
" Heh aku larat deh! Yang rakus kayaknya aku deh bukan kamu, soalnya baru lihat kamu aja aku kayak makan batu setengah tahu gak. Udah yah aku permisi, mau cari tempat lain aja! "
Dia berusaha menarik tangannya lagi, dan kali ini anehnya Rion melepaskannya.
Begitu bebas, Zinnia langsung memutar badan dan bergegas pergi secepat mungkin, tak mau tinggal sedetik lebih lama, tak mau lihat wajah mantan pacarnya itu lagi.
Dan saat sosok gadisnya menghilang di ujung jalan, senyum getir muncul di bibir Rion, dia menatap tempat dimana Zinnia berdiri tadi, bisikannya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
" Rakus ya? iya aku emang rakus... aku rakus karna pengen kamu kembali, tapi aku tahu... aku mungkin tak akan pernah bisa membuat kamu kembali, Zinnia.. "
***