Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Beberapa detik setelah duduk, suasana di meja itu masih dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Hanya suara sendok beradu dengan gelas dari meja lain yang terdengar samar.
Revano mengusap kembali sudut bibirnya yang masih terasa nyeri akibat pukulan tadi. Pria itu tetap berusaha tenang. Tatapannya jatuh pada Saga yang duduk bersandar dengan wajah dingin. Lalu dengan suara pelan, Revano akhirnya membuka percakapan,
“Gimana kabar lo selama ini?”
Saga tidak langsung menjawab. Ia hanya tertawa kecil sinis sambil menunduk memainkan gelas kopinya.
“Lucu juga,” gumamnya pelan.
Revano mengernyit.
“Apa?”
Tatapan Saga perlahan terangkat dan kali ini matanya benar-benar dingin.
“Orang yang nusuk gue dari belakang…” ucapnya lirih penuh sindiran, “masih sempat nanya kabar gue?"
Rahang Revano langsung menegang tetapi Saga belum selesai.
“Harusnya gue bangga ya?” lanjutnya sambil tersenyum miring. “Sahabat gue ternyata masih peduli.”
Nada suaranya terdengar santai. Tapi justru itu yang membuat setiap kata terasa lebih menusuk. Revano menarik napas pelan mencoba menahan emosinya.
“Saga…”
“Kenapa?” potong Saga cepat. “Mau bilang semua itu nggak seperti yang gue pikirin?”
Tatapan pria itu berubah semakin tajam.
“Karena yang gue lihat jelas banget malam itu.”
Revano terdiam.
Sementara Saga mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Gue datang ke kontrakan Sahira,” ucapnya pelan penuh tekanan. “Dan gue lihat sendiri lo meluk dia.”
Setiap kata yang keluar dari mulut Saga terdengar penuh luka yang belum sembuh.
“Dan setelahnya dia mutusin gue.”
Saga tertawa kecil hambar.
“Terus sekarang…” matanya menatap lurus Revano, “lo hidup bahagia sama dia dan anaknya.”
Kalimat terakhir itu membuat dada Revano terasa berat. Sebelum ia sempat menjawab Saga kembali mencibir kecil.
“Jadi jangan sok peduli sama keadaan gue, Rev.” Tatapan pria itu memerah penuh amarah terpendam.
“Karena hidup gue hancur gara-gara kalian.” Ucapan Saga barusan benar-benar membuat emosi Revano ikut terpancing.
Pria itu yang sejak tadi berusaha tenang akhirnya tertawa kecil penuh amarah.
“Lucu ya…” gumam Revano sambil menggeleng pelan.
Tatapan Saga langsung tajam.
“Apa?”
Revano menatap lurus ke mata pria di depannya.
“Lo bilang hidup lo hancur gara-gara gue sama Sahira?”
Rahangnya mengeras.
“Padahal justru lo yang hancurin hidup Sahira.”
Brak!
Tangan Saga langsung menghantam meja keras hingga gelas kopi bergetar.
“Apa maksud lo?!”
Beberapa pengunjung kembali menoleh ke arah mereka tetapi Revano tidak peduli. Tatapannya kini sama tajamnya dengan Saga.
“Gue kira…” ujarnya dingin penuh sindiran, “setelah lo lulus dari kedokteran, otak lo mulai berfungsi.”
Napas Saga langsung memburu.
“Ternyata nggak.”
Ucapan itu benar-benar menyulut emosi Saga. Pria itu langsung bangkit dari duduknya dengan wajah merah menahan amarah.
“Jangan ngomong muter-muter!” bentaknya. “Jelasin maksud lo sekarang!”
Revano ikut berdiri tatapan keduanya kini sama-sama dipenuhi emosi yang sudah tertahan bertahun-tahun.
“Lo pikir selama ini Sahira bahagia?” balas Revano keras. “Lo pikir dia sengaja ninggalin lo?!”
“Dia sendiri yang bilang dia benci sama gue!”
“Karena dia terpaksa!” Kalimat itu membuat Saga langsung diam sepersekian detik.
Namun hanya sesaat.
“Bullshit!” Saga tertawa kecil penuh amarah.
“Terpaksa sampai tidur sama sahabat gue sendiri?”
Revano langsung mengepalkan tangan.
“Jaga mulut lo, Saga!”
“Kenapa?” Saga melangkah mendekat tajam. “Sakit dengernya?”
Tatapan pria itu memerah.
“Gue lihat sendiri malam itu!”
“Dan lo nggak pernah mikir kenapa semua itu bisa terjadi?!” bentak Revano balik.
Saga terdiam, napas keduanya sama-sama kasar sekarang. Suasana warung mulai terasa mencekam. Bahkan, Kang Mamang mulai khawatir keduanya akan kembali baku hantam.
Sementara, Revano menatap Saga penuh emosi yang selama ini ia tahan sendiri. Karena selama lima tahun terakhir dia selalu diam menanggung semua kebencian Saga demi menjaga rahasia Sahira. Namun, malam ini kesabarannya mulai habis. Revano menatap Saga lekat-lekat. Tatapannya penuh emosi yang selama ini ia tahan sendiri.
Sementara, Saga masih berdiri dengan rahang mengeras dan napas berat. Suasana warung menjadi sangat sunyi. Bahkan, suara kendaraan di luar terasa samar sekarang. Lalu akhirnya Revano membuka suara pelan,
“Lo tahu kenapa Sahira mutusin lo dulu?”
Saga langsung mencibir.
“Karena dia milih lo.”
“Bukan,” Jawaban cepat itu membuat Saga sedikit terdiam.
Revano menghela napas panjang sebelum melanjutkan,
“Dia ninggalin lo karena dia tahu mimpi lo jadi dokter.”
Tatapan Saga berubah sedikit, Revano terus berbicara.
“Sehari sebelum kalian putus…” suaranya perlahan melemah, “orang tua lo datang nemuin Sahira.”
Kening Saga langsung berkerut.
“Mereka minta Sahira jauhin lo.”
“Apa?”
“Mereka bilang…” Revano tersenyum pahit, “anak pewaris Mahendra nggak boleh gagal cuma karena cinta-cintaan masa SMA.”
Saga langsung mengepalkan tangannya.
“Bohong,”
“Mereka bahkan nawarin uang ke Sahira.”
Sesaat kemudian Saga benar-benar diam. Tatapannya perlahan berubah tak percaya. Revano kembali melanjutkan,
“Tapi Sahira nolak.”
Saga menatap Revano tajam.
“Terus?”
“Terus dia milih pergi.”
Suara Revano terdengar berat sekarang.
“Karena dia takut lo ninggalin mimpi lo demi dia.”
“Bullshit…” gumam Saga pelan. Kali ini suaranya tidak setajam tadi. Revano tertawa hambar.
“Lo tahu gimana hancurnya dia waktu mutusin lo?”
Tatapan pria itu memerah menahan emosi.
“Dia nangis semalaman.”
“Cukup,”
“Tapi dia tetap nyuruh gue pura-pura jadi orang ketiga.”
Saga langsung menatap Revano tajam.
“Apa?”
“Dia sengaja bikin lo benci sama dia.”
Revano tersenyum pahit.
“Karena menurut dia, lebih gampang kalau lo marah dibanding lo nungguin dia.”
Keheningan panjang langsung memenuhi meja itu. Tatapan Saga mulai terlihat goyah. Namun, beberapa detik kemudian, emosinya kembali naik saat mengingat satu hal.
“Meskipun begitu…” ucapnya dingin, “lo nggak punya hak buat ngerebut dia dari gue.”
Revano diam.
Saga melanjutkan dengan suara yang mulai meninggi, “Apalagi sampai punya anak sama dia.”
Kalimat itu membuat Revano perlahan mengangkat wajah, tatapannya berubah rumit, lalu pria itu berkata pelan,
“Sepertinya…” Ia menatap lurus ke mata Saga.
“Lo yang lebih tahu Sahir anak siapa.”
Wajah Saga langsung berubah.
“Maksud lo apa?!” bentaknya keras.
Beberapa pengunjung kembali menoleh dan Revano tidak peduli. Tatapannya tetap tajam pada Saga.
“Lo benar-benar nggak ingat?” tanyanya pelan.
Saga terdiam.
“Atau pura-pura lupa?” Kalimat itu membuat kepala Saga terasa berdengung. Pikirannya langsung kacau. Namun, sebelum Saga sempat berpikir lebih jauh ponselnya tiba-tiba berdering keras.
Nama ibunya muncul di layar. Saga langsung mengangkatnya dengan napas tidak tenang.
“Halo?”
Suara panik Nyonya Tatih langsung terdengar dari seberang sana.
[Saga! Ayah kamu masuk rumah sakit!]
Wajah Saga langsung pucat.
“Apa?!”
[Cepat ke Rumah Sakit Kasih Ibu sekarang!]
Panggilan langsung terputus.
Saga buru-buru mengambil kunci mobilnya dengan wajah tegang. Tetapi, sebelum pergi, pria itu menoleh tajam pada Revano.
Tatapannya penuh kekacauan.
“Sampai kapanpun…” ucapnya dingin, “gue nggak akan pernah percaya omongan orang yang pernah mengkhianati gue.”
Revano tersenyum hambar.
“Gue nggak butuh lo percaya.”
Saga mengepalkan tangannya.
Namun, kalimat berikutnya dari Revano membuat dunia Saga seperti berhenti berputar.
“Tapi satu hal yang harus lo tahu…” Tatapan Revano menatapnya lurus tanpa ragu sedikit pun.
“Sahir itu anak lo.”
Napas Saga langsung tercekat tetapi Revano tetapi melanjutkan dengan suara berat,
“Gue sama Sahira nggak pernah main di belakang lo!" teriak Revano sembari menunjuk wajah Saga dengan emosi yang meluap.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.