Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Merasa gemetar
Tok... Tok...
Nayra berjalan kearah pintu, tanpa rasa ingin tahu siapa yang datang, Nayra langsung membuka pintu itu perlahan.
"Apa benar ini rumah saudari Nayra Anindita, nama saya Johan... saya dari PT. Finance Niaga," kata pria berbadan tegap dan berotot, tidak lain dia adalah seorang debt collector.
Senyum yang tadi terlihat di bibir Nayra kini seketika memudar. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya seketika dingin.
"I-iya, saya sendiri. Ada apa ya?" tanya Nayra.
Johan memberikan surat yang berisi tagihan. Nayra mengambilnya dengan tangan yang gemetar.
"Kapan mau bayar utangnya?" tanya Johan dengan nada sedikit ketus.
"Sa-saya pasti bayar ko Pak, hanya saja hari ini saya belum ada uangnya," kata Nayra gugup. "Tapi saya pasti bayar," sambung Nayra cepat.
Johan memperhatikan Nayra dengan tatapan tajam. "Oke, saya tunggu 3 hari dari sekarang. Kalau anda belum bisa bayar, saya akan kembali menagih," ujarnya.
Nayra tidak bisa berkata-kata lagi dia hanya mengangguk. Setelah Johan pergi, dengan cepat dia menutup pintu itu. Kakinya mendadak lemas dan kepalanya seketika sakit.
"Astaga, aku harus gimana? Uang dari mana aku harus membayar tagihan ini," kata Nayra sambil memperhatikan jumlah angka yang ada di kertas itu.
"Mas Angga pasti marah banget, kenapa jadi begini sih," gumamnya.
Nayra mondar mandir ruang tamu, dia berharap ada jalan keluar untuk masalahnya. Seketika ia sedang berpikir, ketukan pintu terdengar lagi.
"Astaga, siapa lagi sih!" ucapnya, tersentak kaget.
Dia berdiri dan berjalan membukakan pintu itu, di sana terlihat seorang gadis yang mulai beranjak remaja, memakai seragam merah putih.
"Raya," ucap Nayra, karena merasa lega.
"Mama kenapa sih, liat aku seperti liat hantu," kata Raya, anak pertama Nayra.
Dia masuk setelah mencium tangan Ibunya. Lalu dia duduk di ruang tamu. Setelah menutup pintu Nayra duduk di sebelah anaknya itu.
"Kamu itu hampir buat Mama jantungan," ujarnya, sambil mengelus rambut putrinya.
Raya menatap Ibunya penuh tanya, "memangnya ada apa sih Ma?" tanya Raya.
Nayra hanya tersenyum dan enggan untuk menjawab. Karena baginya ini adalah urusannya, anaknya tidak perlu tahu.
"Nggak apa-apa, ya sudah ganti baju sana. Setelah itu makan, mama sudah masak makanan kesukaan kamu." Nayra berdiri dan berjalan menuju dapur.
Sedangkan Raya hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Di meja makan Nayra terus terdiam, dia hanya memikirkan bagaimana dia bisa membayar hutang-hutang itu tanpa suaminya tahu seperti sebelumnya.
Raya yang baru saja selesai berganti baju, lalu duduk di seberang Ibunya. Mata Raya terus tertuju pada wajah Ibunya.
"Mama kenapa sih?" tanyanya penasaran.
Nayra tersenyum kearah putrinya, "nggak ko, Mama nggak apa-apa. Kamu makan aja ya."
Raya menarik kursi lalu duduk, tapi dia masih tidak percaya jika Ibunya baik-baik saja.
"Pasti Mama begini, karena ayah ya?" ucapnya.
Nayra tersentak kaget mendengar ucapan putrinya. "Kamu ko bicara seperti itu?"
"Iya karena selama ini, yang aku tahu ayah selalu marah sama mama. Ayah selalu bentak-bentak Mama," ucap Raya dengan suara bergetar.
Nayra terdiam dan merasa dadanya sesak, anak seusia Raya harus menyaksikan perlakuan yang tidak baik dari seorang ayahnya. Ayah yang seharusnya bisa menjadi figur yang baik.
"Sudah, sebaiknya kamu makan. Mama baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir," balas Nayra sambil tersenyum dan mengusap punggung tangan anaknya.
Nayra meninggalkan Raya makan sendiri di meja makan, karena ia tidak bisa menahan lagi tangisnya. Seketika tangis itu pecah saat ia masuk ke dalam kamar.
"Ya Tuhan, kenapa bisa Raya berkata seperti itu tentang ayahnya sendiri," gumamnya masih terus terisak.
Jam berputar lebih cepat, kini senja mulai terlihat dan terdengar suara motor yang sangat Nayra kenal di depan rumahnya.
Dengan cepat ia membukakan pintu itu. Ia menyambut suaminya yang baru saja pulang dengan senyuman. Sebelum Nayra mencium punggung tangan suaminya, anaknya yang bungsu berlari ke arah pria yang bernama Angga itu.
"Ayah," teriak si bungsu yang bernama Alea.
Angga langsung memeluk Alea. "Kamu udah makan sayang," kata Angga sambil berjongkok.
"Sudah Yah," jawabnya.
Angga menciumi pipi putrinya yang berusia 3 tahun itu dengan penuh kasih sayang. Nayra hanya mengikutinya dari belakang.
Saat Angga ingin mandi Alea pergi ke kamar Raya. Nayra seperti biasa menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya yang sudah di nikahinya selama 15 tahun itu.
Beberapa menit kemudian Angga keluar dari kamar mandi, dan setelah memakai pakaian. Nayra mulai mendekatinya.
"Mas, aku sudah masak. Apa kamu tidak ingin makan dulu?" tanya Nayra dengan lembut.
Angga bukan menjawab ucapan Raya, dia justru memainkan ponselnya. Raya hanya menghela napas dan tidak berani bertanya lagi.
Raya masih duduk di sampingnya, pada akhirnya Angga menoleh kearahnya.
"Ya sudah kita makan, tadi aku kirim laporan dulu ke kantor. Takut lupa," katanya.
Saat Angga sudah mulai bangkit Nayra meminta ijin untuk ke toilet dulu. Angga masih berdiri di dekat ranjang. Dia melihat batrei ponselnya tersisa 15%, lalu ia mencari charger di dalam laci dan melihat ada selembar kertas yang tadi di berikan oleh Johan.
Angga memperhatikan surat itu sejenak lalu membukanya. Dan betapa terkejutnya Angga setelah membaca isinya, ternyata itu adalah tagihan dari pinjaman online.
Seketika Angga berteriak, "Nayra..."
Nayra buru-buru keluar dari kamar mandi, dan dia melihat wajah suaminya sudah memerah. Angga langsung melempar ketas itu ke wajah istrinya.
"Apa ini!" bentak Angga.
Nayra tersentak saat kertas itu mengenai pipinya, lalu jatuh ke lantai. Napasnya tercekat. Ia menunduk, tak berani langsung menatap wajah suaminya.
"Itu… itu aku bisa jelasin, Mas," suaranya pelan, hampir tak terdengar.
"Jelasin apa lagi?!" bentak Angga, suaranya meninggi. "Kamu ngutang? Pinjaman online? Sejak kapan kamu jadi kayak gini, Nayra!"
Tangan Nayra gemetar. Ia menggenggam ujung bajunya erat-erat. "Aku… kepepet, Mas. Waktu itu Alea sakit, terus uang belanja juga kurang. Aku pikir bisa nutup dulu, nanti aku bayar pelan-pelan..."
"Pelan-pelan?" potong Angga tajam. "Kamu pikir ini main-main? Ini bunga jalan terus! Kamu ngerti nggak sih!"
Suasana kamar mendadak terasa sempit. Udara seperti menekan dada Nayra hingga sesak.
"Aku nggak mau kamu pusing, Mas… makanya aku nggak bilang," ucap Nayra dengan suara bergetar.
Angga tertawa sinis. "Nggak mau aku pusing? Atau kamu yang nggak mau disalahin?"
Nayra terdiam. Air matanya mulai menggenang, tapi ia tahan sekuat tenaga.
"Aku kerja tiap hari, banting tulang buat keluarga ini!" lanjut Angga. "Tapi kamu? Diam-diam bikin masalah begini!"
"Maaf, Mas…" lirih Nayra. "Aku bener-bener nggak ada pilihan waktu itu…"
"Alasan!" Angga membentak lagi, kali ini lebih keras.
Di luar kamar, Raya yang sejak tadi berdiri di balik pintu hanya bisa menutup mulutnya. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia sudah terlalu sering mendengar nada seperti itu.
Sementara di dalam, Nayra akhirnya tak sanggup menahan tangisnya.
"Aku juga capek, Mas…" katanya pelan, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam suaranya. "Aku juga manusia…"
Angga terdiam sesaat, tak menyangka jawaban itu.
"Aku urus rumah, urus anak, mikirin semuanya sendirian…" lanjut Nayra, air matanya terus mengalir. "Tiap hari aku takut… takut uang nggak cukup, takut anak-anak kenapa-kenapa… tapi aku nggak pernah cerita, karena aku juga takut sama kamu…"
Kalimat terakhir itu menggantung di udara, hening sesaat. Untuk pertama kalinya, Angga tidak langsung membentak. Tatapannya berubah, meski amarah masih tersisa.
"Apa maksud kamu… takut sama aku?" tanyanya, nadanya lebih rendah, tapi tetap tegang.
Nayra menunduk dalam. "Aku takut tiap kamu marah…" jawabnya jujur. "Takut kamu bentak, dan takut anak-anak dengar."
Di luar, Raya tak kuat lagi. Ia membuka pintu perlahan. "Udah, Yah…" suaranya lirih tapi tegas.
Keduanya menoleh.
Raya berdiri di ambang pintu, matanya merah. "Ayah jangan marah terus sama Mama…" katanya sambil menangis. "Aku nggak suka lihat Mama nangis."
Ruangan itu kembali sunyi.
Alea yang kecil ikut muncul di belakang kakaknya, memegang baju Raya dengan wajah bingung.
"Ayah marah lagi ya?" ucapnya polos.
Seperti tersambar sesuatu, Angga membeku. Tatapannya berpindah dari Nayra, dan ke kedua anaknya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan hanya masalah… tapi dampaknya. Tangannya yang tadi mengepal perlahan mengendur.
Nayra masih menangis pelan, sementara Raya memeluk adiknya. Dan di tengah keheningan itu, Angga berdiri tanpa kata, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri.
semangat, lanjut thoor😄👍