Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Rahasia di Balik Kacamata Cupu
Napas Rama seakan tercekat di tenggorokan. Jantungnya berpacu lebih cepat dari mesin motor modifikasinya saat dipacu di putaran tertinggi. Di depannya, cewek berjilbab ungu itu tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan yang bikin darah Rama mendidih tapi di saat yang sama sukses bikin nyalinya ciut perlahan. Di sekolah ini, Rama adalah dewa. Nggak ada yang berani nentang dia, guru pun sungkan. Tapi cewek di depannya ini menatapnya seolah Rama cuma remah-remah rempeyek yang gampang disapu.
"Maksud lo apa?" Rama mencoba mengelak, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya paling nerd yang bisa dia buat. Suaranya dibikin selembut dan sekaku mungkin, persis anak olimpiade yang lagi ditanya soal fisika. "Balapan? Ngaco lo. Gue dari semalam di rumah, ngerjain soal simulasi ujian."
Cewek itu mendecih pelan. Dia melangkah makin dekat, memangkas jarak sampai aroma melati yang samar-samar kembali menusuk hidung Rama. Aroma yang sama persis kayak semalam di aspal bypass Bukit Selatan.
"Lo pikir gue bego?" Cewek itu mencondongkan wajahnya sedikit, matanya yang bulat menajam menatap manik mata Rama di balik lensa. "Suara lo emang sengaja dibikin beda. Baju lo rapi banget kayak sales asuransi. Tapi luka goresan di siku lo itu... plester yang lo pakai itu nggak bisa nutupin semuanya, Bos. Dan satu lagi..."
Cewek itu merogoh saku rok abunya yang panjang, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna perak yang familiar. Sebuah korek api logam custom dengan ukiran tengkorak dan inisial 'R'.
Mata Rama melotot, tubuhnya kaku. Itu korek kesayangannya yang hilang semalam setelah dia jatuh bergulingan nyelamatin nyawa cewek ini!
"Ketinggalan di aspal pas lo guling-guling heboh nyelamatin gue," lanjut cewek itu dengan nada santai, seolah dia lagi ngomongin cuaca hari ini, bukan ngomongin rahasia paling gelap milik anak emas SMA Taruna Citra. "Gue tadinya mau buang benda rongsok ini. Tapi pas gue lihat tadi lo jalan di koridor... postur lo, cara jalan lo, tegap bahu lo pas nggak ada guru yang lihat. Mirip banget sama si berandal semalam. Dan pas lo nengok kaget tadi... bingo. Ternyata tebakan gue akurat seratus persen."
Skakmat. Rama nggak bisa ngelak lagi. Dia celingak-celuk ke kanan kiri koridor dengan panik yang berusaha ditutupi. Untung aja jam istirahat bikin area mading ini agak sepi, anak-anak pada sibuk ngantre siomay Mang Udin di kantin atau mojok di belakang sekolah.
Rama menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Detik itu juga, wajah cupunya perlahan luntur. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya berubah jadi setajam elang. Posturnya yang tadi agak membungkuk kini tegap menantang. Aura 'Bos Jalanan' seketika menguar dari dirinya, merobek topeng si anak baik-baik, kontras banget sama seragam rapi yang dia pakai.
"Apa mau lo?" desis Rama, suaranya berubah berat dan serak, balik ke suara aslinya kalau lagi nongkrong di bengkel Sakti Jaya. "Lo mau laporin gue ke guru BK? Ke Kepsek? Silakan aja. Bukti lo cuma korek api bodong yang bisa dibeli di pinggir jalan."
"Oh, gue nggak minat main lapor-laporan. Kurang seru," cewek itu memutar-mutar korek logam itu di jarinya dengan santai. "Nama gue Nayla. Dan gue anak baru di sini, pindahan dari kota sebelah. Kebetulan, gue lagi butuh... 'babu' buat ngebantu gue adaptasi di sekolah yang isinya anak-anak sok suci ini."
Rama melongo, amarahnya makin naik ke ubun-ubun. "Babu?! Lo gila ya? Gue? Rama Arsya Anta, lo jadiin babu?"
"Ya kalau lo nggak mau nggak apa-apa sih," Nayla mengangkat bahu santai, memasukkan kembali korek itu ke saku roknya. "Gue tinggal pasang pengumuman di mading ini. 'Dicari: Ketua klub sains teladan yang ternyata nyambi jadi anak motor jamet dan hobi taruhan nyawa tiap malam'. Kayaknya bakal viral deh di satu Yogyakerto sebelum jam pulang sekolah."
"Anjir, lo..." Rama mengumpat tertahan, tangannya mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Baru kali ini ada cewek—atau siapapun itu—yang berani ngancem dia di kandangnya sendiri. Biasanya orang pada nunduk kalau ketemu dia. Entah nunduk segan karena dia anak emas kesayangan guru, atau nunduk takut karena dia bos geng motor tak terkalahkan. Tapi Nayla ini? Dia malah nantangin balik dengan wajah tanpa dosa.
"Gimana, Bos? Deal?" tantang Nayla sambil menaikkan satu alisnya, senyum tipis terukir di bibirnya.
Belum sempat Rama menjawab dan mengeluarkan makian andalannya, sebuah suara cempreng memecah ketegangan di antara mereka.
"Nayla! Ya ampun gue nyariin lo dari tadi keliling sekolah, tahunya lo mojok di sini."
Seorang cewek bertubuh mungil dengan rambut dikepang dua berlari menghampiri mereka. Namanya Siska, salah satu anak ekskul mading yang terkenal paling kepo dan biang gosip seantero sekolah. Siska langsung ngerem mendadak begitu lihat siapa yang lagi berdiri berhadapan sama teman barunya.
"Eh? Kak Rama?" Siska menatap Rama dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan. "Lagi ngobrol sama Nayla ya, Kak? Nayla ini anak baru di kelasku lho. Kak Rama lagi bantu jelasin letak fasilitas sekolah ya? Ya ampun, ketua angkatan kita emang baik dan care banget!"
Rama langsung berdehem keras. Dalam hitungan sepersekian detik, ekspresi wajahnya berubah total 180 derajat. Senyum sopan, canggung, khas anak teladan kembali terpasang manis di wajah tampannya. Bahunya kembali rileks agak membungkuk, dan dia membetulkan letak kacamatanya dengan gaya kaku yang dibuat-buat.
"Eh, iya, Dek Siska. Tadi kakak cuma kebetulan lewat mau ke perpustakaan, terus lihat dia kayak lagi bingung nyari ruang guru. Jadi kakak bantu arahin sebentar biar nggak nyasar," jawab Rama dengan nada lembut dan ramah, bikin Siska makin meleleh dan senyum-senyum sendiri.
Nayla yang melihat transformasi instan itu dari jarak dekat cuma bisa melongo jijik. Dia sampai pura-pura batuk menahan tawa sekaligus mual. Sinting nih cowok, kepribadian ganda apa gimana? Bakat banget ikut casting sinetron azab, batin Nayla merinding ngeri.
"Ya udah, Kak. Aku bawa Nayla ke kantin dulu ya, takut kehabisan bakso. Makasih banyak lho Kak Rama udah ramah banget sama anak baru," pamit Siska antusias sambil narik lengan Nayla dengan heboh.
Nayla ngikut aja ditarik, tapi sebelum dia benar-benar berbelok pergi meninggalkan area mading, dia menoleh ke belakang, menatap Rama tepat di matanya. Gadis berjilbab ungu itu menggerakkan bibirnya tanpa suara, membentuk sebuah kalimat ancaman yang sukses bikin bulu kuduk Rama berdiri tegak.
Urusan kita belum selesai, Babu.
Begitu dua cewek itu menghilang di belokan koridor, tubuh Rama langsung melemas. Dia nyender ke tembok dingin, mijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Kepalanya mendadak pusing tujuh keliling.
Tanpa basa-basi, Rama setengah berlari menuju toilet cowok di ujung lorong. Untung suasana lagi sepi. Dia langsung menuju wastafel, menyalakan kran air deras-deras, dan membasuh wajahnya kuat-kuat. Sensasi dingin air sedikit meredakan panas yang mendidih di kepalanya. Dia mencengkeram tepi wastafel keramik itu keras-keras, menatap pantulan dirinya di cermin berembun. Kacamata berbingkai hitam, rambut klimis yang sekarang sedikit basah di bagian depan, kemeja putih tanpa noda setitik pun.
"Sial... sial... sial!" makinya pada bayangan di cermin, suaranya menggema di dalam toilet yang sepi.
Kalau sampai rahasia ini bocor ke telinga ayahnya, tamat sudah riwayatnya. Ayahnya bukan tipe orang tua yang bisa diajak kompromi atau diskusi dari hati ke hati. Kesalahan kecil saja bisa bikin semua akses kebebasannya dicabut dan dikurung, apalagi kalau ketahuan jadi berandal jalanan yang hobi taruhan nyawa di aspal tiap malam. Ekspektasi tinggi keluarganya adalah rantai tak kasat mata yang mencekiknya setiap hari. Jalanan malam Wana Asri adalah satu-satunya tempat dia bisa bernapas bebas sebagai dirinya sendiri. Kalau Nayla sampai menghancurkan keseimbangan kedua dunianya ini, Rama nggak tahu lagi harus hidup sebagai apa.
Dengan tangan masih sedikit gemetar menahan amarah bercampur panik, Rama ngeluarin HP-nya dari saku celana. Dia langsung nge-dial nomor Galang dengan tergesa-gesa. Panggilannya baru nyambung di dering kelima, disambut suara berisik dentingan besi dan musik dangdut koplo dari bengkel.
"Halo, Bos? Tumben jam segini nelpon. Kangen lo sama gue? Atau mau bolos bareng?" sapa Galang dengan nada bercanda tanpa beban.
"Lang, kumpulin anak-anak nanti sore di markas biasa. Nggak usah bawa motor buat balap, ini urusan beda," desis Rama pelan sambil celingak-celuk nengok ke pintu toilet, memastikan nggak ada guru atau murid lain yang masuk.
"Wah, ada apaan nih? Musuh semalam ngajak ribut lagi di kawasan kita?" suara Galang langsung berubah serius, ketawanya hilang.
"Bukan," Rama menarik napas panjang, menatap kosong ke arah genangan air di wastafel. "Ini lebih bahaya dari musuh semalam, Lang. Rahasia gue... kayaknya udah bocor."
Di seberang sana, Galang terdiam sejenak. Suara dangdut koplo sayup-sayup terdengar dimatikan. "Bocor gimana maksud lo, Ram? Ada yang tahu kalau lo... "
"Iya. Ada yang tahu kalau Rama si anak emas kebanggaan sekolah ini adalah bos The Ghost." Rama menggertakkan giginya menahan geram. "Dan parahnya lagi... yang tahu itu cewek jilbab ungu yang mau gue tabrak semalam. Dan parahnya kuadrat... dia sekolah di tempat yang sama kayak gue, Lang!"
Terdengar suara kunci inggris jatuh membentur lantai semen dari seberang telepon, disusul umpatan kebun binatang khas Galang yang panjang lebar.
Rama langsung mematikan sambungan secara sepihak. Dia menunduk menatap sepatunya yang mengkilap tanpa debu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Rama merasa kehilangan kendali total. Lintasan jalanan yang biasanya bisa dia kuasai dengan mudah dan lincah, kini terasa licin, gelap, dan mengancam nyawanya.
Dan yang bikin dia makin gila setengah mati, kenapa di tengah rasa panik, terancam, dan marahnya ini... wangi melati cewek sialan itu masih aja nempel kuat di kepalanya? Rama mengacak-acak rambut klimisnya frustrasi. Rem blong di hatinya benar-benar sudah terjadi, dan dia benci mengakuinya.