NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 – Dunia Baru yang Menekan

Suasana ruang makan berubah seketika.

Alya bisa merasakannya dengan jelas.

Sebelum telepon itu berdering, suasana memang terasa canggung dan dingin, tapi masih terkendali. Namun setelah Raka mendengar sesuatu dari ujung telepon, udara di sekitar pria itu terasa berbeda.

Lebih tajam.

Lebih berat.

“Pastikan dia tidak membuat masalah,” kata Raka dingin sebelum akhirnya menutup telepon.

Ia meletakkan ponselnya perlahan di atas meja.

Untuk beberapa detik, ruangan menjadi sangat sunyi.

Alya memperhatikan pria di depannya diam-diam.

Raka masih terlihat tenang di luar, tapi ada sesuatu di matanya kini. Ketegangan tipis yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Masalah pekerjaan?” tanya Alya hati-hati.

Raka menatapnya sekilas.

“Bukan.”

Jawaban singkat.

Namun kali ini Alya tidak langsung diam.

“Kalau begitu?”

Raka menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi.

“Mantan tunangan saya kembali ke Indonesia.”

Kalimat itu membuat Alya membeku sesaat.

*Mantan tunangan.*

Entah mengapa, kata itu terasa mengganggu.

Padahal seharusnya tidak.

Ini hanya pernikahan kontrak.

Kehidupan pribadi Raka bukan urusannya.

Tapi tetap saja… ada rasa aneh yang muncul di dadanya.

“Oh,” jawab Alya pendek.

Raka memperhatikannya beberapa detik.

“Anda terganggu?”

Alya langsung menggeleng cepat.

“Tentu tidak.”

“Bagus.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Dan entah mengapa membuat Alya sedikit kesal.

Ia menusuk makanannya pelan dengan garpu.

“Lagipula itu bukan urusan saya,” gumamnya.

Raka tidak menanggapi.

Namun Alya bisa merasakan tatapan pria itu sesaat lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya kembali fokus makan.

Makan malam berlanjut dalam keheningan.

Sampai akhirnya Alya menyerah mencoba memahami suasana aneh ini.

“Besok apa saya boleh ke rumah sakit?” tanyanya.

“Ya.”

Alya sedikit lega mendengar jawaban cepat itu.

“Saya ingin melihat ibu saya.”

“Sopir akan mengantar.”

Alya mengangguk pelan.

Meski hidupnya berubah drastis, setidaknya satu hal belum berubah—

Ibunya tetap prioritas utama.

Setelah makan malam selesai, Alya kembali ke kamarnya dengan tubuh dan pikiran yang lelah.

Begitu pintu tertutup, ia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Hari ini terasa terlalu panjang.

Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat.

Pernikahan.

Konferensi pers.

Rumah baru.

Dan sekarang—

Mantan tunangan Raka.

Alya menatap langit-langit kamar sambil mendesah panjang.

“Mengapa hidup saya jadi seperti drama…”

Ia memejamkan mata, tapi otaknya justru semakin sibuk.

Mantan tunangan.

Jika dipikir-pikir, pria seperti Raka tentu pernah memiliki hubungan serius sebelumnya.

Ia tampan.

Kaya.

Berkuasa.

Wanita mana yang tidak akan tertarik?

Lalu mengapa pertunangan itu gagal?

Dan mengapa kini wanita itu kembali?

Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi pikirannya tanpa izin.

Alya mendengus kesal pada dirinya sendiri.

“Itu bukan urusanku,” gumamnya pelan.

Ia membalikkan badan dan mencoba tidur.

Namun anehnya—

Wajah dingin Raka justru terus muncul di kepalanya.

---

Keesokan paginya, Alya terbangun lebih cepat.

Sinar matahari masuk melalui tirai besar kamarnya, membuat ruangan terasa jauh lebih hangat dibanding malam sebelumnya.

Untuk sesaat ia lupa di mana ia berada.

Sampai ia melihat interior kamar mewah itu lagi.

Dan semuanya kembali terasa nyata.

Ia bangun perlahan lalu berjalan menuju balkon.

Dari lantai dua, halaman rumah terlihat luas dan tenang. Air mancur kecil di tengah taman memantulkan cahaya pagi dengan indah.

Cantik.

Tapi tetap terasa asing.

Tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar.

“Masuk,” jawab Alya.

Mira masuk sambil tersenyum lembut.

“Selamat pagi. Sarapan sudah siap.”

Alya mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

Mira lalu meletakkan beberapa kotak kecil di atas meja.

“Apa itu?”

“Ponsel baru, kartu akses rumah, dan kartu rekening Anda.”

Alya mengernyit.

“Kartu rekening?”

“Itu dari Tuan Raka.”

Alya langsung membuka amplop kecil di sampingnya.

Matanya membesar saat melihat angka di dalam rekening itu.

Sangat besar.

Terlalu besar.

Jantungnya langsung berdebar cepat.

“Ini… terlalu banyak.”

“Itu sudah keputusan Tuan.”

Alya terdiam cukup lama.

Ia tahu ini bagian dari kontrak.

Tapi tetap saja, menerima uang sebanyak itu terasa aneh.

Seolah hidupnya benar-benar sedang dibeli.

“Operasi ibu Anda juga sudah dijadwalkan,” lanjut Mira pelan.

Alya langsung menoleh cepat.

“Apa?”

“Biaya rumah sakit sudah dilunasi tadi pagi.”

Mata Alya langsung membesar.

“Sudah… dibayar?”

Mira mengangguk.

“Tuan Raka mengurusnya sendiri.”

Untuk beberapa detik, Alya benar-benar kehilangan kata-kata.

Perasaannya campur aduk.

Lega.

Terkejut.

Dan entah mengapa… sedikit tersentuh.

Raka memang dingin.

Sulit dipahami.

Tapi pria itu menepati janjinya tanpa menunda.

Alya menunduk pelan.

“Terima kasih…”

Meski orang yang ia tuju bahkan tidak ada di ruangan itu.

---

Raka sudah berada di ruang makan saat Alya turun.

Pria itu sedang membaca koran bisnis sambil meminum kopi hitamnya.

Penampilannya pagi ini lebih santai—kemeja putih tanpa jas, lengan sedikit tergulung.

Dan anehnya…

Itu justru membuatnya terlihat lebih berbahaya.

“Pagi,” kata Alya pelan.

Raka mengangkat pandangan.

“Pagi.”

Alya duduk perlahan di kursinya.

Beberapa detik ia ragu.

Lalu akhirnya berkata—

“Terima kasih.”

Raka menatapnya.

“Untuk apa?”

“Biaya rumah sakit.”

“Sudah bagian dari kesepakatan.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun kali ini Alya tidak terlalu mempermasalahkannya.

Karena setidaknya pria ini benar-benar melakukan apa yang ia janjikan.

“Meski begitu… tetap terima kasih.”

Hening sebentar.

Lalu Raka menyesap kopinya sebelum berkata, “Hari ini Anda harus ikut dengan saya.”

Alya mengernyit.

“Ke mana?”

“Sebuah acara makan siang.”

“Acara bisnis?”

“Ya.”

Alya langsung terlihat tidak nyaman.

“Tapi saya tidak tahu apa-apa tentang dunia bisnis.”

“Anda tidak perlu tahu.”

“Lalu mengapa saya ikut?”

Raka menatapnya tenang.

“Karena Anda istri saya.”

Jawaban sederhana itu langsung membuat Alya terdiam.

Lagi.

Ia mulai menyadari bahwa mulai sekarang status itu akan selalu menjadi alasan untuk banyak hal.

“Apa saya harus bicara?”

“Sedikit.”

“Dan kalau saya salah bicara?”

“Jangan panik.”

Alya menghela napas panjang.

Betapa mudahnya pria ini bicara.

Ia bahkan masih belum terbiasa berada di rumah ini.

Dan sekarang harus ikut acara bisnis?

“Dunia Anda melelahkan,” gumam Alya pelan.

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Raka bergerak tipis lagi.

Sangat kecil.

Tapi Alya melihatnya.

Dan itu membuatnya sedikit terdiam.

Pria ini ternyata bisa berekspresi juga.

“Biasakan,” jawab Raka singkat.

---

Dua jam kemudian, Alya berdiri di depan cermin besar di kamarnya sambil menatap pantulan dirinya sendiri.

Ia hampir tidak mengenali wanita di depan sana.

Gaun krem elegan.

Rambut yang ditata rapi.

Riasan wajah tipis natural.

Semuanya membuatnya terlihat… berbeda.

“Apa ini benar-benar saya?” gumamnya.

Mira tersenyum dari belakang.

“Anda cantik.”

Alya tertawa kecil gugup.

“Rasanya seperti memakai hidup orang lain.”

Dan mungkin memang begitu.

Beberapa menit kemudian, Alya turun ke bawah.

Raka yang sedang berdiri dekat pintu masuk perlahan menoleh.

Dan untuk pertama kalinya—

Tatapan pria itu berhenti lebih lama dari biasanya.

Alya langsung sadar.

“Ada yang salah?”

Raka tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata—

“Tidak.”

Namun tatapannya belum berpindah.

Dan entah mengapa…

Hal itu membuat jantung Alya berdebar sedikit lebih cepat.

“Kalau begitu ayo cepat,” kata Alya dengan sedikit gugup.

Raka akhirnya berjalan mendekat.

Saat melewati Alya, pria itu berkata pelan—

“Jangan terlalu jauh dari saya nanti.”

Nada suaranya rendah.

Tenang.

Namun entah mengapa terdengar seperti peringatan.

Atau perlindungan.

Dan Alya belum sempat memahami maksudnya ketika mobil mereka mulai melaju menuju dunia baru yang semakin terasa menyesakkan.

Tanpa ia sadari—

Seseorang sedang menunggu kemunculannya di sana.

Dan orang itu…

akan menjadi awal masalah besar dalam pernikahan palsu mereka.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!