Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA YANG BERBAHAYA
Hari-hari berikutnya berlalu dalam keheningan yang terasa menyesakkan. Tidak ada kabar apa pun dari pihak lawan, tidak ada gerakan yang terlihat, tapi ketiadaan itu justru membuat hati semua orang makin tidak tenang. Mereka tahu, diamnya musuh bukan berarti mereka sudah berhenti, tapi justru pertanda bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu yang besar dan berbahaya.
Di dalam ruangan yang rapat dan tertutup, Raka, Gubernur William, dan orang-orang yang mereka percayai berkumpul untuk menyusun rencana. Berkas-berkas bukti yang mereka miliki sudah disusun rapi, sebagian disimpan di tempat yang aman dan tersembunyi, sebagian lagi dibuat salinannya dan disebarkan ke tempat-tempat yang tidak akan mudah ditemukan, supaya walaupun yang asli sampai hilang, kebenaran tetap bisa terungkap.
“Kita tidak bisa menunggu mereka datang menyerang kita lagi,” ucap Raka sambil menatap peta yang terbentang di meja di hadapan mereka. Tubuhnya masih terasa sakit, gerakannya masih terbatas, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh tekad.
“Mereka yang punya kekuasaan dan kesempatan untuk bergerak kapan saja dan di mana saja. Kalau kita hanya diam di sini, kita hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka.”
“Kau benar,” sahut Gubernur William.
“Tapi kita juga tidak bisa bertindak sembarangan. Mereka sudah terbiasa bersembunyi di balik kedok yang baik, dan mereka punya banyak orang yang percaya dan mendukung mereka. Kalau kita bertindak tanpa persiapan yang matang, kita malah yang akan dianggap sebagai orang yang bersalah, dan mereka yang akan terlihat sebagai korban.”
“Maka dari itu, kita harus melakukan dua hal sekaligus,” lanjut Raka.
“Yang pertama, kita harus mengumpulkan bukti-bukti tambahan dan mencari saksi-saksi yang bisa membenarkan semuanya. Yang kedua, kita harus membongkar kedok mereka di hadapan seluruh masyarakat, supaya orang-orang tahu siapa mereka sebenarnya. Kita tidak bisa hanya bertarung dengan kekuatan, tapi juga dengan kebenaran.”
Salah satu orang yang hadir di sana mengangkat tangan dan berbicara dengan nada ragu. “Tapi Tuan, orang-orang yang kita hadapi itu ada di posisi-posisi tinggi. Mereka yang memimpin, mereka yang membuat peraturan, mereka yang dipercaya oleh banyak orang. Bagaimana kita bisa membuat orang-orang percaya pada kita, sedangkan kita selama ini dikenal sebagai orang yang terlibat dalam hal-hal yang tidak baik?”
Ucapan itu membuat suasana menjadi hening sejenak. Memang itu adalah kenyataan yang sulit. Selama bertahun-tahun, baik Raka maupun orang-orang di sekitarnya dikenal sebagai pihak yang melanggar aturan, yang melakukan hal-hal yang dianggap salah. Sementara orang-orang yang sebenarnya bersalah itu selalu tampil sebagai orang yang bersih, jujur, dan terhormat. Tidak akan mudah untuk mengubah pandangan orang-orang yang sudah tertanam begitu lama.
“Karena itu, kita harus melakukan semuanya dengan cara yang benar,” seru Alana yang sejak tadi diam mendengarkan, kini membuka suara. Semua orang menoleh ke arahnya.
“Kita tidak bisa memaksakan kehendak, kita tidak bisa memaksa orang-orang percaya. Kita harus tunjukkan semuanya dengan bukti yang nyata, dengan perbuatan kita sendiri. Kita tunjukkan bahwa kita berjuang bukan untuk kekuasaan atau keuntungan, tapi untuk kebenaran dan keadilan. Dan lama-kelamaan, orang-orang akan melihatnya juga.” lanjutnya.
Ucapan gadis itu membuat banyak orang mengangguk setuju. Raka menatapnya dengan pandangan yang penuh kekaguman. Sejak peristiwa-peristiwa yang terjadi, Alana benar-benar berubah. Ia bukan lagi orang yang lemah dan pasif, tapi menjadi orang yang punya pendirian dan keberanian yang luar biasa. Dan itu semua membuat Raka makin yakin, bahwa ia tidak salah jatuh cinta pada orang ini.
“Baiklah, kalau begitu kita susun rencananya,” ucap Raka kemudian.
“Ada pertemuan besar yang akan diadakan beberapa hari lagi. Semua orang penting akan hadir di sana, termasuk orang-orang yang menjadi sasaran kita. Itu kesempatan yang sangat baik, karena semuanya akan berkumpul di satu tempat, dan kita bisa membongkar semuanya sekaligus di hadapan semua orang yang hadir.”
“Tapi itu juga berarti tempat itu akan dijaga sangat ketat,” tambah Gubernur William.
“Mereka pasti sudah bersiap-siap, dan mereka juga pasti sudah mengantisipasi kemungkinan kita akan datang ke sana. Itu akan menjadi tempat yang paling berbahaya untuk kita.” lanjutnya.
“Aku tahu itu,” jawab Raka. “Tapi itu juga satu-satunya kesempatan yang kita miliki. Kalau kita lewatkan, kita mungkin tidak akan pernah punya kesempatan yang sama lagi. Kita harus berani mengambil risiko ini.”
Mereka pun melanjutkan pembicaraan, menyusun rencana secara rinci, membahas segala kemungkinan dan persiapan yang harus dilakukan. Semua orang bekerja dengan giat, masing-masing diberi tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Tidak ada yang merasa dirinya lebih penting dari yang lain, karena mereka semua tahu, kesuksesan atau kegagalan rencana ini tergantung pada kerja sama mereka semua.
><><><><
Beberapa hari kemudian, semua persiapan sudah selesai. Semua bukti sudah disusun dan dibawa, orang-orang yang akan ikut serta sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Semua orang tahu, apa yang akan mereka lakukan ini adalah hal yang paling berbahaya yang pernah mereka lakukan, dan tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi nanti. Tapi mereka juga tahu, tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Saat hari yang ditentukan tiba, langit tampak gelap dan mendung, seolah-olah alam pun ikut merasakan ketegangan yang ada di hati semua orang. Raka berdiri di depan cermin, memeriksa penampilannya. Luka-lukanya sudah makin membaik, meski ia masih merasakan rasa sakit sesekali, tapi ia sudah bisa bergerak dengan baik seperti biasanya.
Alana datang dari belakang, berdiri di sampingnya dan menatap wajah orang yang dicintainya itu. Ada rasa khawatir yang mendalam di matanya, tapi juga ada keyakinan yang kuat.
“Kau yakin ini adalah jalan yang benar?” tanyanya pelan.
Raka menoleh dan menatapnya, lalu mengusap lembut pipi gadis itu. “Aku yakin. Dan aku juga yakin, apa pun yang terjadi nanti, semuanya akan berakhir dengan baik. Karena kita berjuang untuk hal yang benar, dan kebenaran tidak akan pernah kalah.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. “Tapi ada satu hal yang aku harap darimu. Kalau nanti ada hal yang tidak terduga terjadi, apapun itu... tolong jaga dirimu baik-baik. Itu adalah hal yang paling penting bagiku.”
Alana menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. “Jangan bicara seperti itu. Kita akan berjuang bersama, dan kita akan pulang bersama juga. Tidak ada yang akan tertinggal, tidak ada yang akan pergi duluan. Kita berjanji kan?”
Raka tersenyum tipis, lalu mencium kening Alana dengan lembut. “Ya, kita berjanji.”
Mereka berangkat menuju tempat pertemuan itu dengan hati-hati, membagi diri menjadi beberapa kelompok dan datang dari arah yang berbeda-beda, supaya tidak menarik perhatian. Tempat itu adalah gedung besar yang megah, yang biasanya digunakan untuk acara-acara penting dan resmi. Di dalamnya sudah berkumpul banyak orang, dari berbagai kalangan, dan di antara mereka ada orang-orang yang menjadi dalang dari semua peristiwa yang terjadi.
Mereka tampak tenang dan percaya diri, berbicara dan tertawa seolah tidak ada apa-apa yang sedang terjadi. Mereka masih tampil sebagai orang-orang yang baik dan terhormat, dan tidak ada satu pun dari orang-orang yang ada di sana yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Saat acara berlangsung dan puncaknya tiba, saat orang-orang penting itu berbicara di hadapan semua orang dan menyampaikan hal-hal yang terdengar muluk dan indah, tiba-tiba pintu di bagian belakang gedung terbuka lebar.
Semua orang menoleh ke arah itu, dan mereka melihat Raka, Gubernur William, dan orang-orang yang bersama mereka masuk dan berjalan perlahan menuju ke bagian depan. Suasana yang tadinya riuh dan ramai seketika menjadi sunyi senyap. Semua orang menatap mereka dengan pandangan yang beragam—ada yang terkejut, ada yang penasaran, ada juga yang menatap dengan pandangan yang tidak suka.
Orang-orang yang berdiri di panggung juga melihat kedatangan mereka. Wajah mereka yang tadinya ceria dan tenang seketika berubah menjadi tegang dan gelap. Tapi mereka segera menutupinya kembali, dan salah satu dari mereka, yang merupakan pemimpin di antara mereka, melangkah maju dan berbicara dengan suara yang keras dan tegas.
“Apa artinya ini? Apa yang kalian lakukan datang ke sini? Tempat ini adalah tempat acara resmi dan penting, bukan tempat untuk orang-orang yang tidak diundang!” serunya, nadanya terdengar seolah-olah ia yang benar dan mereka yang salah.
Raka berhenti melangkah, menatap orang itu dengan pandangan yang tenang tapi penuh kewibawaan. “Kami datang ke sini bukan untuk mengganggu acara, tapi untuk menyampaikan sesuatu yang penting, sesuatu yang harus diketahui oleh semua orang yang ada di sini.”
“Kalian tidak punya hak untuk berbicara di sini! Kalian adalah orang-orang yang sudah melakukan banyak kesalahan, yang telah melanggar aturan dan merugikan banyak orang! Bagaimana kalian bisa berani-beraninya datang ke sini dan berbicara seolah-olah kalian orang yang benar?!” bentak orang itu lagi, berusaha mempengaruhi pandangan orang-orang yang ada di sekitar.
“Memang aku tidak menyangkalnya,” jawab Raka dengan suara yang tenang dan jelas, sehingga bisa didengar oleh semua orang yang ada di sana.
“Aku memang pernah melakukan banyak hal yang salah, aku pernah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Tapi aku melakukannya karena aku tertipu, karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan sekarang aku sudah tahu, aku datang ke sini untuk mempertanggungjawabkan semuanya, dan juga untuk membongkar kejahatan yang jauh lebih besar dan lebih kejam dari apa yang pernah aku lakukan.” jelas Raka melanjutkan.
Ia lalu memberi isyarat, dan orang-orang di belakangnya mulai menampilkan bukti-bukti yang mereka miliki, menayangkannya di layar besar yang ada di ruangan itu, sehingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Ada dokumen-dokumen, catatan-catatan, rekaman pembicaraan, dan juga kesaksian dari orang-orang yang bersedia berbicara demi kebenaran.
Dan seiring semua itu ditampilkan, wajah orang-orang yang ada di panggung itu makin lama makin berubah. Mereka tadinya terlihat marah dan sombong, kini mulai terlihat cemas, takut, dan akhirnya dipenuhi amarah yang tidak bisa disembunyikan lagi. Sementara itu, orang-orang yang melihatnya makin lama makin terkejut, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka tidak menyangka bahwa orang-orang yang selama ini mereka hormati dan percayai ternyata melakukan hal-hal yang sekejam itu.
“Ini bohong! Semua ini rekayasa! Kalian membuat semuanya untuk menjatuhkan kami!” teriak salah satu dari mereka, tapi suaranya kini tidak lagi terdengar meyakinkan, malah terdengar seperti orang yang sedang panik dan tidak punya alasan lagi.
“Kalau ini bohong, coba jelaskan ini semua?” sahut Gubernur William yang juga melangkah maju.
“Semua ini ada buktinya, ada keterangannya, ada orang-orang yang bisa membenarkannya. Dan aku sendiri pun menjadi salah satu korban dari kebohongan dan rekayasa yang kalian buat. Aku juga pernah mempercayai kalian, aku juga pernah bekerja sama dengan kalian, karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sekarang aku sudah tahu, dan aku datang ke sini untuk membenarkan kesalahanku, dan untuk memastikan bahwa kalian mendapatkan apa yang pantas untuk kalian terima.”
Semua orang yang ada di ruangan itu kini menjadi kacau. Ada yang mulai percaya, ada yang masih ragu, ada juga yang tetap mempertahankan pendiriannya. Tapi yang jelas, pandangan mereka terhadap orang-orang yang ada di panggung itu sudah berubah sama sekali.
Melihat keadaan mulai tidak terkendali dan rahasia mereka sudah hampir terbongkar semuanya, orang-orang itu tahu bahwa mereka tidak bisa lagi menyembunyikan apa-apa. Dan mereka juga tidak mau menerima nasib yang menanti mereka, yaitu diadili dan dihukum atas semua kejahatan yang mereka lakukan.
Dengan isyarat rahasia, mereka memberi tanda pada orang-orang yang ada di sekitar mereka. Tiba-tiba, dari antara kerumunan orang, banyak orang yang bergerak dan mengeluarkan senjata mereka, mengarahkannya ke arah Raka dan orang-orang yang ada di sisinya.
Suasana yang tadinya penuh dengan ketegangan dan perdebatan, seketika berubah menjadi sangat berbahaya. Orang-orang yang tidak terlibat mulai berteriak dan berlari ketakutan, berusaha menyelamatkan diri dan menjauh dari tempat itu.
“Kalau kita harus jatuh, maka kalian juga harus ikut jatuh bersama kita!” seru orang yang menjadi pemimpin mereka, matanya menyala-nyala karena amarah dan keserakahan yang sudah tidak ada batasnya lagi.
“Kalian pikir kalian bisa membongkar semuanya dan hidup dengan tenang? Tidak akan pernah aku biarkan hal itu terjadi!”
“Kalian benar-benar sudah tidak punya rasa kemanusiaan lagi,” pungkas Raka dengan suara yang dingin dan penuh kekecewaan.
“Kalian rela membahayakan nyawa orang-orang yang tidak bersalah hanya demi menyelamatkan diri sendiri? Kalian memang tidak pantas untuk hidup di antara orang-orang yang beradab.”
“Kita tidak perlu mendengarkan omong kosongnya! Habisi mereka semuanya!” perintah orang itu.
Pertempuran pun kembali terjadi, tapi kali ini di tempat yang penuh dengan orang-orang biasa yang tidak bersalah. Raka dan orang-orang di sisinya tidak hanya harus melindungi diri mereka sendiri, tapi juga harus melindungi orang-orang yang ada di sekitar dari bahaya. Mereka bergerak dengan hati-hati, berusaha menahan serangan musuh tanpa menimbulkan korban yang tidak perlu.
Tapi musuh tidak berbuat hal yang sama. Mereka bergerak dengan sewenang-wenang, menyerang siapa saja yang menghalangi jalan mereka, tidak peduli apakah orang itu bersalah atau tidak. Mereka hanya punya satu tujuan: menghabisi nyawa Raka dan orang-orang yang bersamanya, serta menghancurkan semua bukti yang ada.
Di tengah kekacauan itu, salah satu dari orang-orang lawan melihat Alana yang sedang membantu orang-orang yang terjatuh dan terluka. Ia langsung mengarahkan senjatanya ke arah gadis itu, karena ia tahu betul bahwa Alana adalah titik terlemah bagi Raka.
Ia hendak menembak, tapi gerakannya itu terlihat oleh Raka. Tanpa memikirkan dirinya sendiri, Raka langsung berlari dan melompat menimpa Alana, menjatuhkan keduanya ke lantai tepat saat suara tembakan terdengar.
Peluru itu tidak mengenai Alana, tapi mengenai Raka tepat di bagian punggungnya. Rasa sakit yang luar biasa terasa seketika, dan darah segar mulai mengalir dan membasahi pakaiannya.
“RAKA!!” teriak Alana dengan suara yang memilukan, saat melihat apa yang terjadi.
Ia memeluk tubuh orang yang dicintainya itu, air matanya mengalir deras tanpa henti. Raka tersenyum lemah, meski wajahnya terlihat sangat kesakitan dan pucat pasi. Ia meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat.
“Aku... aku baik-baik saja... jangan menangis...” bisiknya dengan suara yang lemah dan terputus-putus.
“Kita... kita berhasil... semuanya sudah terbongkar...”
Sementara itu, melihat Raka terluka, orang-orang yang ada di sisinya makin berjuang dengan sekuat tenaga. Dan pada saat yang sama, pasukan keamanan yang sudah diberitahu sebelumnya juga datang dan mengepung gedung itu. Mereka datang dengan jumlah yang banyak, dan kini orang-orang yang berbuat jahat itu sudah benar-benar terdesak dan tidak ada jalan untuk lari lagi.
Melihat bahwa mereka sudah benar-benar tidak punya harapan lagi, dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi, orang-orang yang menjadi dalang itu tidak mau ditangkap hidup-hidup. Tapi sebelum mereka sempat melakukan hal yang merugikan diri mereka sendiri, mereka sudah berhasil ditahan dan dijinakkan. Akhirnya, mereka semua berhasil ditangkap dan diikat, dan tidak ada yang bisa lari lagi.
Kekacauan perlahan-lahan mulai mereda. Orang-orang yang terluka dirawat dan dibawa ke tempat yang aman. Orang-orang yang bersalah dibawa pergi untuk dipertanggungjawabkan atas semua perbuatan mereka. Dan Raka, yang masih terbaring lemah di lantai, segera dibawa untuk mendapatkan pertolongan.
Di dalam perjalanan, ia terus memegang tangan Alana, matanya tidak pernah lepas sedikit pun dari gadisnya.